
BAB 48
Perjalanan menuju sungai Wiaz ternyata cukup jauh juga. Mereka harus keluar kota untuk sampai di tempat itu. Bahkan, lokasinya pun sedikit memasuki wilayah hutan belantara. Sebab, sungai Wiaz terletak di wilayah terpencil.
Arthur menelepon Lulu dan meminta maaf karena tidak bisa mengirim rekan-rekan timnya ke sana. Bahkan ketuanya yang berkuasa di bagian investigasi pun sedang mengurus kasus pembunuhan penting lain. Sehingga mau tidak mau, pikiran Arthur jadi ke sana kemari.
"Drake, aku minta maaf karena tidak bisa membantumu. Tapi aku sebisa mungkin akan datang jika kau memanggilku datang," katanya.
"Aku mengerti. Patuhi saja perintah ketuamu, Arthur. Aku akan memanggilmu jika aku memerlukannya," sahut Drake.
"Baiklah. Aku sungguh minta maaf padamu."
"Hmm."
Begitu panggilan ditutup, mereka pun memfokuskan diri pada jalan yang sedang mereka lewati. Pepohonan rindang di kanan kiri membuat bulu kuduk Lulu merinding.
"Kau yakin ini jalannya?" tanyanya pada Drake.
"Seingatku sih, begitu."
Mereka pun terdiam. Lulu melanjutkan obrolannya, "Ngomong-ngomong, apa sejak tadi kau tidak sadar?"
"Sadar? Tentang apa?" Drake menoleh sebentar.
"Aku tidak lagi memanggilmu kakak."
"Ooh."
"Eh? Hanya Ooh??" Lulu menirukan cara bicara Drake.
"Aku mendengarnya. Tapi, itu tidak masalah. Kau bisa memanggilku apa saja," jawab Drake sambil terus memperhatikan jalan.
Suasana menjadi hening kembali. Sesekali Lulu memperhatikan Drake yang sedang serius sembari tersenyum.
"Bahkan, sedang menyetir pun wajahnya tetap tampan, yah..."
Batin Lulu.
"Apa kau sangat khawatir?"
"Tentu saja. Aku akan menyelamatkan teman-teman bagaimanapun caranya," jawab Drake.
Begitu akhirnya mereka melihat sungai, rumah tua itu pun juga tampak dengan sendirinya. Drake memarkirkan mobilnya jauh dari tempat yang mereka datangi.
Sambil mengendap-endap, ia dan Lulu berjalan ke halaman samping rumah. Perlahan-lahan mendekati jendela dan mengintip dari sana.
"Itu mereka," bisik Lulu.
"Ya. Untungnya, Samuel belum melakukan sesuatu pada mereka.
Dari luar jendela, Drake dan Lulu melihat Luna dan Terra yang sedang terikat dan duduk di lantai serta dijaga beberapa anak buah Samuel. Hanya Joy yang dibiarkan begitu saja tanpa ikatan di tangannya. Namun, anak itu tampak ketakutan dengan keadaan yang ia hadapi itu.
Di sebuah meja dalam ruangan tersebut, terdapat selembar kertas dan tinta cap. Rupanya Samuel meminta Joy untuk menyerahkan cap jarinya pada sebuah berkas pengalihan hak waris.
Samuel sendiri tengah duduk dengan santai menunggu Joy menentukan pilihannya. Ia mengepulkan asap rokok sambil menatap Joy lekat-lekat.
"Apa kau masih bingung? Mungkin aku harus memberi sedikit... semangat padamu."
Samuel memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menyeret keluar Luna dan Terra.
"Mau apa kalian? Lepaskan aku!" pekik Terra.
"Cih! Dasar pengecut! Kalian hanya berani pada wanita dan anak-anak," Luna merasa sangat jengkel.
"Hahaha, wanita yang cukup berani. Cambuk mereka tujuh puluh kali. Aku yakin, bocah ini akan menyerahkan cap jarinya."
"Tunggu! Jangan lakukan itu, paman. Aku akan memberikan cap jariku. Tapi berjanjilah untuk tidak menyakiti mereka," Joy berkata dengan berani.
"Anak pintar. Baiklah, aku berjanji padamu. Lagipula aku memang tidak berniat menyakiti kalian," kata Samuel sambil mematikan api rokoknya dengan cara menekan-nekankannya ke atas meja.
Melihat hal itu, Drake buru-buru menyusun rencana di dalam otaknya. Bahwa ia harus menghentikan waktu untuk membebaskan teman-temannya. Jika ia bisa menghentikan waktu hanya selama lima menit, maka ia harus bergegas dengan cepat.
"Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain!" gumamnya.
"Pilihan apa?"
"Tunggu saja di sini."
Drake melangkah menuju pintu masuk sambil menjentikkan jarinya. Seketika, waktu terhenti sesuai rencana Drake. Setelah waktu terhenti, Drake berlari masuk dan mendekati meja tempat Joy hendak mengecap jarinya.
Dengan cepat, dipindahnya Joy ke luar agar anak itu mudah berlari saat nanti ia meneriakkan perintah.
"Apa kau mau melakukan aksi heroik ini sendiri?" tanya Lulu mengagetkan.
__ADS_1
"Eh, buset?? Lulu? K kau bisa bergerak di dalam dimensi yang ku ciptakan?" Drake mendelik saking kagetnya.
"Jadi ini dimensi buatanmu?" Lulu memperhatikan suasana sekitar yang semua warnanya menjadi memudar sedikit keabu-abuan.
"Penjelasannya nanti saja. Cepat bantu aku melepas tali ikatan Terra sebelum waktunya habis," ucapnya seraya mendekati Luna dan dilepasnya ikatan pada tangannya.
"Baik."
SRAT..
SRET..
Setelah ia dan Lulu berhasil melepas ikatan kedua gadis itu, Drake menggerakkan kedua tangannya untuk membawa Luna dan Terra dengan kekuatan ajaib tangannya, keluar dari rumah tua tersebut.
"Cepat siapkan mobil," Drake melempar kunci mobilnya pada Lulu.
"Siap!"
Lulu berlari keluar menuju mobil Drake untuk menyalakan mesin mobil. Ia butuh waktu untuk mencapai lokasi mobil yang mereka sembunyikan agak jauh dari rumah tua.
Tepat saat Drake berhasil membawa teman-temannya keluar, waktu yang berhenti pulih kembali. Terra, Luna dan Joy pun kebingungan.
"Drake?"
"Paman?"
Tanya mereka bersamaan.
"Sejak kapan kau datang? Kenapa kita tiba-tiba juga ada di sini? Bukankah...??"
"Sudah jangan banyak bicara, ayo kabur!" perintah Drake.
Semuanya menganggukkan kepala dan berlari bersama Drake menuju mobilnya.
Di lain pihak, tentu saja Samuel dan anak buahnya heboh saat mereka kehilangan Joy dan kedua gadis yang mereka tawan.
"Di mana mereka!! Cepat cari!!" teriak Samuel.
Ketika anak buah Samuel bergerak keluar dari rumah tua, salah seorang melihat Drake yang membawa lari para tawanan.
"Hey! Berhenti kau!!" panggil salah seorang yang melihat Drake lari bersama tawanan mereka itu.
"Kalian lari lebih dulu," perintah Drake.
"Tapi..."
Luna, Terra dan Joy mengangguk dan lari lebih dulu menuju jalan yang ditunjukkan Drake.
Karena teman-temannya sudah pergi, Saatnya Drake bermain. Ia mengayunkan tangannya dari arah kanan ke kiri seolah sedang menebas sesuatu. Maka, saat itu juga berjatuhanlah orang-orang Samuel seakan mereka tersandung sesuatu yang tak kasat mata.
"Aduh!!"
"Aduhh!!"
Setelah mendapat serangan gaib dari Drake, mereka masih bisa berdiri dan melanjutkan pengejaran. Tentu saja Drake memberi mereka kejutan yang lebih menyenangkan.
Dengan senyum jahilnya, Drake menyentil satu persatu orang-orang itu hingga berterbangan ke atas atap rumah tua. Bahkan ada beberapa yang tersangkut ke atas pohon yang tanpa dedaunan itu.
Untuk Samuel sendiri, Drake meraih tali yang sempat digunakan untuk mengikat Luna dan Terra. Kemudian diikatnya paman Joy itu dengan kuatnya.
Lepas itu, ia juga mengambil surat perjanjian yang dibawa Samuel keluar. Kemudian ia mendekati pria yang terus mencoba melepas tali ikatannya.
PLAK
Drake menempeleng pipi Samuel dengan kencang. Kemudian ia mencengkeram kerah baju Samuel.
"Berjanjilah kalau kau tidak akan mengganggu kehidupan Joy lagi. Dan serahkan semua yang sudah seharusnya menjadi miliknya."
"Tidak. Sejak awal, itu semua adalah milikku. Kenapa kau ikut campur urusan diantara kami berdua???!!" Samuel berteriak kesal dan membenturkan dahinya ke hidung Drake.
DUKK!
"Haiss!!" Drake mengusap hidungnya yang berdarah.
Darah??
Siapa sangka, karena bau darah segar yang keluar dari hidung Drake, makhluk lain yang hidup di dalam tubuh Drake itu mulai bangun. Seketika itu juga mata Drake jadi menghitam.
PLAK
Drake mendaratkan tamparannya kembali. Kali ini semakin keras dan menyakitkan sampai gigi Samuel ada yang mencolot lepas.
"Lakukan jika kau masih ingin hidup," ancam Drake seraya menyentuh dagu Samuel.
"Cuih!! Siapa kau sebenarnya? Berani sekali mengancamku seperti itu?" Samuel kelewat batas. Ia meludahi wajah Drake hingga membuatnya marah.
__ADS_1
GRAOOOO!!!!
Separuh wajah Drake tiba-tiba saja berubah menjadi kepala monster berwarna merah darah dengan gigi-gigi yang tajam dan tak beraturan.
"Apa sekarang kau mengerti?!!" tanya makhluk yang menguasai Drake.
Samuel yang terkejut dan ketakutan setengah mati itu mengangguk dengan cepat. Ia sampai terkencing di celana karena tidak bisa melarikan diri dari sana.
"Me me mengerti! Aku mengerti!!" Samuel sampai tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan Drake.
Matanya yang sudah mendelik lebar itu hampir saja meloncat keluar saat lidah ungu dari dalam mulut monster itu menjulur dan menjilat-jilat wajahnya. Tak pelik, Samuel pun berteriak histeris karena mengira ia akan disantap makhluk mengerikan yang ada di hadapannya itu.
"Toloongg!! Tolooooongggg!! Tolong selamatkan aku!!" teriak Samuel hingga ia jatuh pingsan.
Melihat mangsanya pingsan, makhluk itu masuk kembali ke dalam tubuh Drake sehingga wajah Drake juga kembali seperti semula.
•••••
SLAP
Drake menggelengkan kepalanya karena merasa pening. Baru saja, ia seperti merasakan suatu aura yang berbeda. Seperti saat ia melihat Zigo yang terperosok ke dalam lubang pengairan.
"Apa kau pusing?"
Drake terkejut mendengar suara F5.
"Apa itu kau, kawan?" tanya Drake senang.
"Hehehe, ya. Apa kau merindukanku?"
"Tentu saja. Sejak kau diam, aku kesulitan berkomunikasi denganmu. Kenapa kau diam saja akhir-akhir ini? Bahkan aku tidak mengerti, kenapa kau membuatku melahap anjing jenis maltipoo itu?"
Hening.
"Hey, mengapa diam saja?"
"Sebenarnya aku memiliki sesuatu yang belum ku ceritakan padamu."
"Kalau begitu katakan sekarang."
"Baiklah. Sebenarnya, selama ribuan tahun yang lalu, aku memiliki dua kepribadian. Yaitu sisi gelap dan putih. Aku yang sedang bicara denganmu ini adalah aku sisi yang putih. Dan yang baru-baru ini bangun dan membuatmu bingung itu adalah aku yang hitam."
Drake terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa makhluk aneh dalam dirinya memiliki kepribadian yang bertolak belakang.
"Maksudmu, kau baik dan satunya lagi, jahat??"
"Ya. Seingatku, sudah lama sekali sisi gelapku ini tidur. Entah mengapa ia bisa bangkit lagi dan berhasil menggantikanku beberapa kali."
"Lalu, bagaimana caranya agar kau tetap berada di sisiku dan membuatnya tidur lagi?"
"Tidak ada cara apapun."
"Sungguh?"
"Jika kau marah atau merasakan sakit yang amat sangat dalam hatimu, bisa jadi ia akan bangun dan menggantikanku lagi."
"Konyol! Ini benar-benar konyol," Drake menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya. Aku sangat menyesal karena baru sekarang memberitahumu."
"Jadi, apakah dia bangkit saat aku menyatakan perasaan pada Luna?"
"Mungkin. Tapi aku curiga, masih ada faktor lain yang membuatnya bangun dan menginginkan posisiku."
Tepat setelah F5 menyelesaikan ucapannya, Lulu datang dengan mobilnya.
"Ayo naik!"
"Cepat paman! Sebelum mereka men,-" teriak Joy cemas namun berubah jadi bengong karena melihat beberapa anak buah Samuel tersangkut di atap dan pohon.
Drake meringis dan berjalan menghampiri mobilnya, "Sudah aman. Ayo pulang."
"Biar aku yang menyetir."
"Tidak perlu, biar aku saja."
"Baiklah," Lulu pun menggeser posisinya ke samping kemudi karena Drake akan menyetir.
"Ayo jalan."
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....