
BAB 69
Walaupun sadar betul semua pengakuan Luna pada ayahnya bohong, Drake hanya bisa menunduk diam. Baru beberapa minggu ia menjalin hubungan dengan Lulu. Dan ia amat senang dengan hubungan itu. Tapi sekarang ini ia harus menghadapi masalah yang tidak seharusnya ia terima.
Namun di lain pihak, ia pernah berjanji pada Luna, bahwa dirinya akan memasang badan paling depan untuk melindunginya.
"Kalian harus menikah secepatnya. Anak itu butuh akta kelahiran dengan nama ayah sahnya," kata pak Gibson.
Drake langsung menoleh. Ia belum memikirkan rencana sejauh itu. Jika semua ini terjadi saat ia masih mencintai Luna, mungkin itu kesempatan yang menggembirakan untuk dirinya.
Tetapi semua sudah berubah, ia menunduk lesu membayangkan seseorang yang ia nikahi bukanlah Lulu. Tatapannya pun kosong dan tidak berani mengomentari sepatah katapun perihal keinginan pak Gibson.
Bahkan saat Terra dan ayah Luna pergi meninggalkannya, Drake masih saja diam melamun.
Tinggallah ia berdua bersama Luna. Selang beberapa detik saja, wanita itu bergegas datang padanya untuk mengusap luka berdarah di hidung Drake.
"A aku akan membersihkan darah di wajahmu, Drake,," ucapnya takut-takut.
GYUUT
Sebelum tangan Luna sampai padanya, Drake menepis tangan tersebut lebih dulu.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Drake sambil tetap menunduk tanpa menoleh pada Luna sedikitpun.
"Maafkan aku, Drake. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jadi, aku terpaksa berbohong pada ayah tentangmu," Luna buru-buru meminta maaf.
"Lalu, bagaimana dengan Alan? Apa dia bebas dari kesalahannya begitu saja?" Drake tidak mau menatap Luna.
"Dia tidak mau mengakui anak ini. Aku bingung. Aku harus bagaimana? Kasihan anakku, dia akan lahir tanpa ayahnya. Jika itu terjadi, selama hidupnya pasti akan menjadi bahan ejekan teman-temannya," Luna menangis.
"Lalu bagaimana denganku? Kau membunuh masa depanku demi menyelamatkan masa depan anakmu..."
"Hik,, hik,, aku tahu aku salah, Drake. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku mohon, bantu aku kali ini saja, ya? Aku berjanji padamu. Aku,, Aku akan membayar hutangku padamu di kehidupanku yang akan datang. Atau,,, atau mari lakukan ini sampai anakku lahir. Setelah itu, aku akan melepaskanmu. Itu saja,, Ya???" Luna menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk memohon.
Drake menangis tanpa suara dan menutupi mukanya dengan telapak tangan kanan.
"Aku mengerti posisimu karena kau temanku, Luna. Tapi kenapa kau tidak meminta bantuanku untuk menyelesaikan urusan dengan Alan dan justru mengarang cerita seperti ini? Tidakkah kau tahu? Aku memiliki kehidupan yang ingin ku perjuangkan?"
DEG
Luna mengangkat dagunya dan melihat Drake amat payah menahan air matanya. Baru kali ini ia melihat pria kuat itu menangis.
"Maaf Drake... Aku tidak punya pilihan lain," sesal Luna.
SRUK
Tanpa melihat pada Luna, Drake yang teramat kecewa dengan keputusan Luna itu pun pergi ke kamarnya. Ia menutup pintu dengan cepat dan melangkah dengan kesal.
Tampak sekali dadanya naik turun sebab menahan marah. Berapa kali pula ia terdengar menghembuskan nafas dengan kasar.
TING KELINTING TUNG TING
Drake meraih ponselnya yang berdering, sebab Lulu menelepon. Meski tak dapat mendengar percakapan diantara dirinya dan keluarga Luna, namun ia yakin betul Lulu sudah melihat semuanya dari jauh.
"Drake,, apa kau baik-baik saja?"
"Maafkan aku Lulu..."
"Kenapa tiba-tiba minta maaf?"
"Sesuatu yang besar terjadi. Aku akan menemuimu nanti dan menceritakan semuanya setelah pikiranku agak tenang."
"Hmm. Baiklah. Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak."
Usai Drake menutup telepon darinya, Lulu mengingat kembali mimpinya semalam. Ia melihat seorang pengantin dengan gaun putih bunga-bunga berdiri bersama seorang pria.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak, ya? Kenapa tiba-tiba aku teringat mimpi malam itu?"
"Kenapa? Apa ada masalah?" roh coklat muncul di sisi Lulu secara tiba-tiba.
"Ah?? tidak, entahlah."
"Lalu apa yang terjadi di rumah pacarmu tadi? Kenapa dia diam saja saat ditampar dua kali oleh pria itu?"
"Aku juga tidak tahu. Semakin keras usahaku dalam mencari jawaban, semakin pusing kepalaku," jawabnya.
"Apa kau mau kami menguping di rumah itu?" usul biru.
"Heh? Menguping itu tidak baik."
"Lalu mau bagaimana lagi?"
"Kita tunggu saja Drake datang. Aku percaya dia pasti akan datang menemuiku secepatnya."
"Kau amat percaya padanya? Bagaimana kalau tiba-tiba dia berselingkuh dan menikah dengan wanita lain?"
"Heh! Jangan asal bicara, dong. Aku yakin dia tidak akan melakukan hal itu."
"Kau terlalu percaya diri, adik. Jika dilihat dari pengalamanku selama ini, semua orang tampan itu tidak ada yang setia. Mereka suka berganti-ganti pasangan dan mempermainkan perasaan wanita."
"Merah... bisakah kau memberiku semangat? Kenapa kau malah membuatku tidak percaya diri?" Lulu jadi sebal.
"Eh? Hehehe.. maaf."
•••••••
Dua hari kemudian, pak Gibson bersama Drake dan Luna pergi ke rumah sakit bersalin tempat Luna memeriksakan kandungan.
__ADS_1
"Apa dia suamimu?" tanya dokter sambil memeriksa kondisi janin di rahim Luna.
"I iya..."
"Selamat, kalian memiliki seorang putri yang menunggu untuk dilahirkan."
"Cucuku seorang putri?" pak Gibson terharu.
"Benar, tuan. Cucu anda perempuan. Lihat,, ini adalah alat kelam*n bayi yang menunjukkan dia perempuan."
Dokter memberi tanda berputar-putar pada tangkapan layar USGnya agar pak Gibson dan Drake bisa melihat dengan jelas.
"Namun,, ada baiknya jika suami lebih memperhatikan kegiatan dan asupan gizi sang istri. Jika saya perhatikan, kandungan putri anda ini lemah. Jika nyonya Luna kelelahan atau stres sedikit saja, sesuatu yang buruk bisa mengancam keselamatan sang bayi. Jadi usahakan anda menjaga istri anda dengan baik," kata dokter.
DEG
Drake memperhatikan layar alat USG. Dia bisa melihat jelas bentuk bayi di sana. Bahkan sekilas ia merasakan bahwa dirinya dan bayi Luna seperti baru saja bertemu mata.
"Baik," jawab Drake seadanya.
"Jadi dokter, sudah berapa bulan usia kehamilan putriku?"
"Lima bulan lebih dua minggu."
SRUT
Drake berdiri dan keluar begitu saja dari ruang dokter. Ia merasa kepalanya akan pecah saat itu juga.
"Tahan emosimu kalau tidak ingin sisi hitam muncul," F5 bicara dalam mode batin.
"Aku tidak bisa menahan semua ini,,, aku merasa amat gila,,," gumam Drake frustasi.
SRET
Tiba-tiba saja pak Gibson muncul dan menarik kerah baju Drake. Ia begitu kesal pada sikap Drake yang tidak peduli.
"Apa yang kau pikirkan? Bisa-bisanya kau kabur begitu saja saat dokter sedang menjelaskan kondisi putrimu? Bereskan semua kekacauan yang kau buat dan jangan bermain-main atau berperilaku sesuka hatimu!"
Karena Drake tidak menjawab dan hanya diam menundukkan kepala, pak Gibson pun melepas cengkeramannya dengan sedikit dorongan.
"Ayah akan menyiapkan pernikahan kalian lusa. Jadi bersiaplah!"
"Apa???"
SRAK
"Ayo pulang naik taksi saja. Ayah tidak ingin melihatnya terlalu lama."
"Iya, baik ayah."
Setelah memastikan Luna dan ayahnya pergi menumpang taksi, Drake bergegas menemui Lulu. Ia berniat menceritakan semua hal yang sedang ia alami saat itu padanya.
Akibatnya, ia mengalami kecelakaan karena tidak melihat lampu lalu lintas merah yang sedang menyala. Tanpa diduga tanpa dinyana, dari arah samping kanannya melaju kencang sebuah truk kontainer yang membawa muatan semen.
Truk itu menubruk mobilnya sampai terbalik dan memutar menabrak dinding kaca sebuah restaurant.
PRAAANNGGGG
KRASAAAKKK
Kecelakaan di siang hari bolong itu pun menarik perhatian semua orang. Beruntungnya, sedang ada patroli polisi di daerah tersebut. Hingga ia langsung diselamatkan.
•••••
NIT
NIT
NIT
Karena Drake tak sadarkan diri cukup lama, perawat mengambil ponselnya untuk keperluan menelepon kerabat.
"Ya.. Halo?"
"Halo, nona. Apa kau keluarga Drake?"
"I iya. Ada apa, ya? Kenapa kau memegang ponselnya? Di mana Drake?"
"Begini, nona. Orang yang kau sebut itu, sekarang ada di rumah sakit. Bisakah anda datang kemari untuk mengisi data pasien?"
SRAK
Tanpa melanjutkan obrolan, Lulu segera menyiapkan diri dan berlari keluar menuju rumah sakit yang disebutkan.
••••••
Hosh hosh hosh...
Lulu amat cemas. Ia sangat menyesali kemampuannya yang terbatas dan tidak bisa melihat masa depan dirinya dan Drake.
Sepanjang perjalanan, ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Dan begitu sampai di halaman parkir rumah sakit tempat Drake dirawat, ia melempar sepedanya begitu saja lalu berlari terburu-buru mencari ruangan tempat Drake dirawat. Disibaknya satu persatu tirai penutup di bangsal umum.
"Drake... di mana kau?"
"Maaf, apa nona seseorang yang baru saja kami hubungi?"
__ADS_1
"Iya benar! Aku keluarga Drake. Apa dia baik-baik saja?? Di mana dia??" tanya Lulu cemas dan gelisah.
"Dia ada di sana, nona."
"Baik, terima kasih."
Tanpa membuang waktu lagi, Lulu menghampiri tempat Drake dirawat. Namun ia berhenti berlari karena seorang dokter sedang memeriksanya. Namun beberapa detik kemudian, ia mendekat karena mengenali siapa dokter yang tengah memeriksa Drake.
Dia wanita itu! Wanita yang pernah datang ke rumah Drake!
"Apa dia baik-baik saja?" Lulu bertanya cemas.
Peony menoleh dan mengenali Lulu. Ia mengangguk pelan, "Akhirnya kau datang,,,,,"
"Apakah dia sungguh baik-baik saja?" Lulu mendekat dan menggenggam tangan kiri Drake.
"Entah ini keajaiban atau mukjizat, dia telah melewati masa kritisnya. Bahkan kata saksi, walaupun mobilnya terguling dan rusak cukup parah, dia tidak terlalu banyak mengeluarkan darah."
"Sungguh? Syukurlah.."
"Saat ini, dia sedang tidak sadarkan diri. Mungkin butuh waktu beberapa hari untuknya sadar kembali. Jangan khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya sadar. Kau bisa tetap di sini dan jaga dia baik-baik."
"Baiklah, terima kasih."
"Ya. Kalau begitu, aku akan kembali bekerja. Jika sesuatu terjadi, panggil saja perawat."
"Baik.."
Setelah Peony melangkah pergi meninggalkannya, didekatinya Drake dengan perasaan khawatir.
"Drake. Ada apa denganmu? Apa kau akan kehilangan nyawa lagi seperti waktu itu?" Lulu amat sedih dan mulai menangis.
Ia menggenggam tangan Drake begitu erat sambil bersandar di dadanya sampai tidak sadar kalau kekasihnya itu membuka mata.
"Kenapa kau menangis??"
Lulu terkejut, "Ahh?? Kau masih hidup?"
"Hmm,, kenapa?"
"Syukurlah. Tapi,,, W wanita itu bilang, kau sedang tidak sadarkan diri akibat kecelakaan itu dan akan siuman setelah satu minggu."
"Xixixi... kau lupa siapa pacarmu?"
"Ahh??"
"Bukankah aku sudah pernah mati sekali? Kenapa kau sangat khawatir, hmm??"
"Lantas,, apa itu artinya kau akan hidup kembali meski mengalami kecelakaan tragis beberapa kali??"
Drake meringis. Kemudian duduk dan memeluk Lulu erat. Dengan nafasnya yang sedikit sesak, ia meminta maaf pada sang kekasih.
"Maafkan aku, Lulu. Sepertinya mulai besok aku tidak bisa menemuimu dengan leluasa."
"Apa ini karena masalah dengan pria di rumahmu kemarin itu?"
"Yaaah,,," Drake diam dan menyusun kata-katanya.
Alih-alih memaksa Drake untuk segera menceritakan masalahnya, ia justru mencoba mengerti dan menunggu sampai Drake mengatakannya sendiri.
"Sebenarnya, saat ini Luna sedang mengandung."
"Apa??? Apakah??"
"Tidak, bukan aku. Itu anak Alan," Drake menunduk lesu.
"Lalu, kenapa malam itu kau ditampar? Apa hubungannya denganmu?"
"Ayah Luna mengira aku yang melakukannya."
"B Bagaimana bisa??"
"Alan sudah menikah dan tidak mau bertanggung jawab. Jadi Luna tidak punya pilihan lain selain menyebut namaku sebagai ayah dari anaknya."
"Jadi? Maksudmu, kau mau menggantikan posisinya? Kenapa, Drake? Aku pikir, kau berkata serius saat mengajakku menikah kemarin,,," Lulu tidak ingin percaya.
"Apa sekarang kau akan menarik ucapanmu dan menikah dengan Luna?" lanjutnya.
Melihat Drake diam dan tidak bisa memberi jawaban, Lulu menarik diri dari hadapannya. Ia berpaling dan beranjak pergi.
SRET
Drake menarik tubuh Lulu dan memeluknya kembali. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Tolong percaya padaku. Sekalipun aku menanggung beban dan tanggung jawab orang lain untuk menikahi Luna, hati dan tubuhku ini akan tetap menjadi milikmu."
"Itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa??"
"Aku. Alih-alih menjadi pasangan suami istri sungguhan, aku hanya akan menjadi suami Luna sampai bayi itu lahir."
Drake melepas pelukannya dan memegangi lengan Lulu dengan kedua tangannya. Dengan mata yang sedikit merah, ia menatap gadisnya dengan penuh keyakinan.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG......