
BAB 73
Lulu menutup hidungnya dengan sapu tangan agar tidak terlalu banyak menghirup gas dari pengharum ruangan. Sedangkan Drake memeriksa rakitan bom yang terikat di sekeliling koper dengan sangat hati-hati.
"Apa aku harus memotong kabel merah seperti di film-film?" tanyanya pada F5.
"Sepertinya begitu. Aku tidak tahu banyak soal apapun yang dibuat manusia."
"Tunggu Drake, sepertinya kita dapat masalah karena kabelnya merah semua," Lulu tercengang.
"Kau benar. Ini cukup merepotkan."
"Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana jika bomnya tiba-tiba meledak?" pekik Lulu.
Karena diburu waktu, Drake meraih koper hitam dengan gembok merah yang ada di atas ranjang itu. Tepat ketika menyentuhnya, Drake merasakan sesuatu.
Seketika itu juga, ia dapat melihat kejadian yang terjadi di tempat itu sebelumnya. Seorang pria berambut pirang memasukkan seorang wanita yang tengah pingsan ke dalam koper.
Drake melihat bahwa pria itu sempat tertawa saat merakit bomnya. Lalu pergi membawa tas si wanita.
"Sial. Aku harus bagaimana untuk menyelamatkan wanita yang ada di dalam koper?"
"Wa wanita? Dari mana kau tahu yang ada di dalam adalah seorang wanita?"
"Aku melihatnya barusan. Kejadian sebelum kita datang," jawab Drake masih tertegun.
Sambil meraba kawat yang semuanya berwarna merah, Drake berusaha memikirkan jalan keluar. Sebentar lagi waktu akan kembali seperti sedia kala. Ia harus bertindak cepat dan tidak gegabah.
TRAK
Setelah membuat keputusan, Drake memotong kawat yang melingkari koper. Bagaimanapun juga, ia harus menyingkirkan bom waktu itu lebih dulu.
"Dengar, Lulu. Aku hanya bisa bertahan tujuh menit lagi untuk menghentikan waktu. Jika waktu telah kembali seperti semula, aku takut bom ini juga akan kembali bekerja. Jadi, aku butuh bantuanmu untuk mengurus masalah di sini."
"Apa bom itu tetap akan meledak?"
GLEK!
"Aku tidak tahu. Untuk berjaga-jaga sebelum terjadi sesuatu yang merugikan semua orang, aku akan menyingkirkan bom ini sejauh mungkin dari sini," Drake bergegas membuka jendela.
"Tunggu! Kau mau ke mana?"
"Mungkin akan ku bawa bom ini ke tengah laut."
Lulu amat mencemaskan Drake, ia tidak bisa membiarkannya pergi sendiri menghadapi bahaya. Tapi....
"Buka semua jendela untuk mengeluarkan sisa gas pengharum ruangan. Jika ada sesuatu yang terjadi, kau bisa minta tolong pada Arthur," kata Drake yang tiba-tiba saja melompat turun dari sana dan membawa bom rakit itu pergi dengannya.
"Drake!!" Lulu berteriak sebab kaget melihat Drake melompat turun begitu saja dari jendela.
Cepat-cepat ia melongok ke bawah untuk melihat Drake. Namun ia amat bersyukur, Drake melompat ke bawah seperti kucing. Bahkan kekasihnya itu tidak jatuh sama sekali dan langsung berlari begitu mendarat ke tanah.
Untuk sesaat Lulu terkesima, matanya berkaca-kaca karena syok, "Ya Tuhan, Drake. Untuk sekali ini aku merasa bersyukur karena makhluk itu ada bersamamu."
Dan karena ia ingat pesan Drake, dibukanya semua jendela di kamar itu. Lalu ia membuka koper dengan amat hati-hati.
Benar seperti kata Drake. Ada seorang wanita yang disembunyikan di dalam. Untungnya, wanita itu masih bernafas!
"Sepertinya, aku benar-benar harus membawanya ke rumah sakit. Dia butuh perawatan karena terlalu lama berada di dalam koper. Baiklah, mari tunggu menit ke tujuh. Lalu telepon Arthur untuk meminta bantuan," Lulu menatap jarum jam yang berhenti. Ia mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi Arthur jika waktu sudah kembali.
•••••••
Karena dikejar waktu, Drake menyetir mobilnya seperti orang kesetanan. Untung saja saat itu waktu sedang ia hentikan sehingga ia bebas melaju di jalanan tanpa gangguan meski ia mengebut.
Tiga menit lagi ia sampai di pantai kaca. Lokasi yang paling dekat dengan posisinya. Saat itu, Drake benar-benar berada di ujung tanduk. Jika saja ia tidak bisa lagi menahan hentinya waktu, dan waktu kembali tepat saat ia belum sampai ke tengah laut, maka saat itulah ia akan meledak bersama bom yang ia bawa.
KRASAK
Suara ban mobil yang menginjak pasir pantai saat Drake memutar mobilnya dan mengerem mendadak. Ia terkejut saat dilihatnya pantai yang ramai pengunjung di sepertiga malam tersebut. Rupanya, sedang ada syuting sebuah acara film yang dibintangi para artis besar.
__ADS_1
Hampir saja ia menubruk kerumunan orang yang sedang syuting namun mematung sebab berhentinya waktu saat itu.
00.00.10
Karena tidak banyak waktu yang tersisa, dengan terburu-buru ia berlari keluar dari mobil sambil menjinjing bom yang ia bawa tadi. Dan tanpa berpikir panjang, ia berlari sekencang mungkin menuju pinggiran pantai kemudian melempar bom dengan sekuat tenaga ke arah air.
Tepat saat waktu kembali berjalan, bom itu jatuh ke atas air. Namun tidak meledak meski waktu sudah habis.
Drake yang cemas karena waktu sudah kembali berjalan dan semua orang di tempat itu sudah sadar, bergerak dengan cepat menghampiri bom yang baru saja ia lempar untuk memeriksanya kembali.
"Apa yang terjadi? Apa ini hanya candaan?" Drake sedikit bingung saat melihat waktu pada bom rakit itu sudah berhenti namun tidak terjadi apa-apa.
Tanpa ia sadari, tiga orang pemuda tengah memperhatikannya karena masuk ke area syuting.
"Hey, lihat pria itu. Ngapain dia di sini? Memangnya dia tahu kalau kita sedang syuting film? Mengapa dia datang pada jam sepi pengunjung? Mencurigakan sekali. Apa dia penguntit?"
"Sepertinya bukan. Aku melihatnya melempar sesuatu ke laut dengan terburu-buru."
"Membuang sesuatu?"
"Iya. Tapi dia mengambilnya lagi loh. Lihatlah," kata pemuda yang lain.
"Sungguh??"
Tiga pemuda itu terheran-heran dan bersiap menghampiri Drake. Tepat saat Drake tengah memungut dan memeriksa waktu di bom rakit yang sudah berhenti itu, tiba-tiba saja layar waktu pada bom menyala kembali.
Rupanya, bom rakitan itu memiliki waktu ganda. Dan yang kedua kalinya ini adalah ancaman sesungguhnya. Dengan waktu tersisa hanya lima detik.
"Ah?? Ini jebakan!" pekik Drake terkejut.
Ia melempar bom rakit ke udara sekali lagi sambil berbalik dan meneriaki ketiga pemuda yang sedang menghampirinya.
"Lari! Ada bom!"
Belum sempat Drake berlari menjauh, bom tersebut meledak dengan kerasnya.
DHUEERRRRR!!
"Evakuasi diri. Ada ledakan di sana!" seru orang-orang dari kru syuting.
Para artis dan kru film show yang mendengar dan melihat ledakan itu pun berhamburan menjauh sambil berteriak. Namun, tiga kru muda yang melihat Drake berada di dekat ledakan bom dan terpental jatuh karenanya itu pun berteriak satu sama lain.
"Aisah! Ledakan apa itu?" seorang dari tiga pemuda bangkit dari tiarapnya.
"Sepertinya pria yang tadi itu menemukan bom di tempat lain dan membuangnya di sini. Sekarang aku paham kenapa dia tadi terburu-buru dan tampak membuang sesuatu," sahut yang lain.
"Iya. Itu lebih logis sih. Tapi lihat! Pria itu sepertinya terkena ledakan!" kata salah satu orang yang melihat Drake jatuh tertelungkup.
"Iya kau benar! Cepat selamatkan dia!" timpal yang lain.
Ketika tiga sekawan itu sampai di tempat Drake jatuh tadi, mereka tidak menemukan seorang pun di sana.
"Di mana orang itu? Bukannya tadi ada di sini?"
"Entahlah. Melihat tak ada seseorang pun di sini. Sepertinya dia sudah pergi. Lihat, ada darah yang tercecer di bebatuan. Mungkinkah orang itu terluka akibat ledakan tadi?"
"Mungkin saja. Lihat di sana," seorang menunjuk ke arah Drake yang sedang berjalan tertatih menuju mobilnya.
Melihat seorang pria berjalan dengan luka di tangan dan kakinya seperti itu, ketiga pemuda yang hendak menolong Drake jadi terbengong.
Sebab, mereka menyaksikan bagaimana Drake yang semula terluka cukup parah dan berdarah-darah dan sebenarnya tidak mungkin untuk berjalan itu justru berhasil melangkah menuju mobilnya meski tertatih-tatih. Bahkan mereka melihat bagaimana tubuh Drake perlahan sembuh.
"A apa-apaan itu? Apa kalian melihat yang barusan itu??" tanya seseorang yang mematung bengong.
"Yyyah,, aku melihatnya. Bagaimana pria itu bisa berjalan dan sembuh dari luka berdarah seperti itu dengan sendirinya??" satu dari yang lain juga melongo kaku.
"A apakah dia semacam alien seperti yang di film-film?" satunya lagi berpikir tentang film yang sedang ia tonton.
Pada saat ketiga pemuda itu terheran-heran, Drake sudah masuk kembali ke dalam mobil. Ia pergi tanpa mengetahui ada tiga orang anak muda yang baru saja melihat keanehan pada dirinya.
__ADS_1
Setelah mobil Drake meninggalkan lokasi pantai, tiga sekawan itu sadar dengan sepenuhnya.
"Dia pasti vampir!"
"Vampir dari pantatmu. Jaman sekarang mana ada vampir.."
"Iya, kau kebanyakan nonton film."
"Tapi dalam buku karya Stephenie Meyer yang terkenal itu, ciri vampir memang seperti itu, bukan? Setiap mempunyai luka pasti sembuh dengan sendirinya."
"Kau gila."
"Ini memang gila, bung. Seandainya aku merekam kejadian itu dan menayangkannya di Qiutube. Pasti akan banyak penonton.."
"Sayangnya tidak. Kenapa tadi kita tidak mengejar pria itu saja. Barangkali kita bisa melihat keajaiban lainnya di tempat lain."
"Iya juga. Aih.. Ini membuatku penasaran. Siapa sebenarnya pria itu. Apa dia dari planet lain? Atau dia semacam wolferine di dunia nyata?"
••••••
Di dalam mobil, Drake menyetir dengan mata yang seakan mengantuk. Kelopak mata atasnya terasa amat berat ia buka.
Rupanya, ia sedang berada di tengah-tengah keadaan yang memaksanya untuk bertahan dan menyerah secara bersamaaan. Karena ada F5 di dalam tubuhnya, Drake memilih bertahan dan berusaha untuk tetap hidup.
Tubuh yang sedang berangsur sembuh itu menutup kembali luka yang berdarah-darah dengan sempurna.
Dihentikannya mobil yang ia kendarai itu di pinggir jalan untuk mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Kemudian, ia teringat pada Lulu yang ia tinggalkan untuk mengurus masalah di hotel.
Maka, diteleponnya Lulu untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Belum juga ia menekan tombol, Lulu menelepon lebih dulu.
"Drake,, apa kau baik-baik saja??" suara di seberang tampak amat cemas.
"Hmm. Aku baik-baik saja. Sebenarnya aku baru mau menghubungimu, tapi ternyata kau lebih dulu menelepon," jawabnya.
"Tidak masalah. Aku senang kau baik-baik saja di sana. Apa semua berjalan dengan lancar? Bagaimana dengan bomnya? Apa itu benar-benar meledak?"
"Ya, semua berjalan lancar di sini. Bagaimana denganmu? Apa benar ada seorang wanita di dalam koper?"
"Ya. Benar seperti ucapanmu. Seorang wanita muda disekap di dalam koper. Ia pingsan dan sekarang ada di Bellevia of Hospital.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
••••••
SLIP
Drake berhenti berlari saat melihat Lulu duduk sendirian di ruang tunggu. Begitu ia melangkah mendekatinya, gadis itu menoleh dan buru-buru menghampirinya sambil manangis haru.
"Syukurlah kau baik-baik saja," katanya seraya memeluk Drake.
"Apa aku membuatmu takut?"
Lulu mengangguk. Ia amat takut jika Drake ikut meledak bersama bom yang dibawanya.
"Lain kali, apa kita tetap akan peduli jika ada penglihatan seperti ini?" ia bertanya sambil menengadahkan kepalanya menatap Drake.
"Hmm, tentu saja. Bukankah itu tujuan Tuhan memberi kita kelebihan?"
Lulu tersenyum mendengar jawaban dari kekasihnya. Tidak ia sangka, Drake begitu peduli pada keselamatan orang lain. Karena itu, dipeluknya lebih erat pria yang berbeda tujuh tahun lebih tua darinya itu.
Karena Lulu tampak amat mencemaskannya, Drake mengusap punggungnya dengan lembut dan menenangkan, "Tidak apa. Selama F5 masih di dalam tubuhku, selama itu pula dia akan menjagaku."
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....