
BAB 34
Mereka berdua menggandeng Joy mengikuti Lulu untuk menyerahkan uang yang berhasil ia kumpulkan pada panitia.
Begitu Lulu sedang bicara pada panitia seniornya, Drake dan Terra duduk di sebuah bangku dengan meja kecil yang tersedia di sana. Sedangkan Joy dan Pican masih berdiri memperhatikan keramaian.
"Kita makan dulu saja. Kau mau makan apa, Yaya?" tanya Drake.
"Itu,," Joy menunjuk sebuah penjual ubi manis panggang.
"Ubi manis?"
"Iya."
"Baiklah, tunggu di sini sebentar."
"Tunggu, biar aku saja yang pergi," Drake hendak pergi, namun Terra menawarkan dirinya sendiri yang akan pergi.
"Baiklah."
Drake duduk kembali sambil mengawasi situasi. Ia juga memperhatikan Pican yang terus saja menggoda Joy.
"Issh. Dasar buaya kecil," gumamnya gemas sambil mengorek telinga.
Sebenarnya sih tidak ada kotoran di telinganya, hanya saja ia menyukai sensasi geli saat ia mengoreknya.
Ketika Lulu datang, gadis itu membawa tiga buah botol jus home made. Sambil membukakan botol minuman beling untuk Joy, ia bertanya.
"Di mana Terra?"
"Bibi Terra sedang membeli ubi manis," jawab Joy.
"Ooohh.. Ini minumlah."
"Terima kasih."
Lulu duduk dan melirik ke arah Drake. Ia memperhatikan wajah Drake yang tampak putih cerah di bawah sinar matahari. Penampilan biasa saja itu justru mampu membuat Lulu terpesona.
"Kalau ku lihat, luka lebam di wajah kakak sudah baikan, ya," katanya.
"Hmm.." Drake mengangguk sambil tangannya begerak meraih minuman jusnya.
"Biar aku saja," Lulu membukakan sebotol untuk Drake.
TRUK TRUK
"Ini kak.."
"Terima kasih."
Saat Drake meneguk minumannya, lagi-lagi Lulu meliriknya diam-diam. Ia mengamati cara Drake minum. Manik lehernya yang naik turun dan kemilauan keringat yang mengalir dari dahi dan leher itu terlihat seksi di mata Lulu.
KLIP
Drake menoleh karena merasa diawasi. Dan ia menemukan bahwa Lulu sedang memperhatikannya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Drake heran.
"Eh, tidak ada apa-apa," Lulu jadi salah tingkah.
Ia yang gugup pun meraih botol minumnya dan meneguk jusnya buru-buru.
"UHUK! UHUK!"
Lulu tersedak minuman jusnya sampai wajahnya memerah. Melihat itu, Drake merasa kasihan dan menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Drake seraya menepuk-nepuk punggung gadis itu.
Lulu mengangguk sambil menarik nafas perlahan, "Hmm, aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku pikir kau terpesona oleh ketampananku hingga tersedak seperti tadi, hik hik hik ¹,," canda Drake begitu santai tanpa beban. Ia bahkan kembali duduk dan meringis di hadapan Lulu.
Lulu melotot. Entah mengapa, candaan dari mulut Drake itu benar-benar tepat sekali.
"Eh,, itu..." Lulu menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
KLIP
Drake melihat Joy menatapnya bergantian dengan Lulu, "Apa! Kenapa??"
Joy menggeleng sambil meringis, "Tidak ada apa-apa, xixixi."
Terra kembali membawa kantong kertas berwarna coklat berisi ubi panggang manis yang ia beli.
"Huuff,, lama sekali, ya?"
"Iya," jawab Joy.
"Hmm," jawab Drake hampir bersamaan dengan Joy.
__ADS_1
"Iya, kan? Soalnya, panjang sekali antreannya. Kemungkinan, bau harum manis yang menyebar ke sekitar lah yang membuatnya banyak pembeli. Nah, sekarang coba cicipi."
Dengan semangat dan mulut yang tersenyum lebar, Joy dan Pican mengulurkan tangannya untuk menerima ubi manis dari tangan Terra. Namun siapa sangka, Terra justru memberikannya pada Drake terlebih dahulu.
"Ayo. Cobalah.." ucap Terra sambil menyuapkan ubi manis panggang yang ada di tangannya pada Drake.
NGAAAAK NGAAAK NGAAAK...
(suara gagak garing)
Joy dan Pican menatap Terra dengan wajah yang merengut karena kecewa.
"Eh, ada apa?" tanyanya tanpa sadar.
Drake yang menerima ubi dari tangan Terra pun tersenyum seraya meletakkan ubinya ke atas meja. Kemudian, diraihnya ubi lain dari dalam kantong kertas.
Setelah membagi dua ubi yang ia ambil itu, Drake meniupnya sebentar lalu ia ulurkan pada Joy dan Pican.
"Huuff.. ayo makan bersama-sama,," ucapnya.
"Ehehehe,,, Terima kasih, paman,," Joy menanggapi pemberian itu dengan gembira.
Akhirnya, mereka menikmati ubi panggang manis itu bersama-sama. Rasa ubinya yang sudah manis itu semakin lezat setelah ditambah siraman madu dan mentega.
"Oh tidak, aku harus pulang sekarang! Aku lupa kalau nenekku memintaku untuk membelikan daun bawang setelah selesai membeli permen.." tiba-tiba Pican teringat sesuatu.
"Nah loh.." sahut Terra.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, paman, Yaya."
"Ya. Cepat pergi sana."
"Sampai jumpa lagi, da daaaahh!" Pican terburu-buru pergi.
Pada akhirnya, mereka berempat menghabiskan waktu siang mereka untuk menikmati dan berusaha membeli apa yang ada di sana. Terra membeli beberapa buku dan aksesoris. Sedangkan Drake membelikan apa yang Joy mau.
Wah, sudah seperti ayah Joy saja dia.
•••••••
TREK
Lulu menyandarkan biolanya ke kursi yang ada di halaman rumahnya. Sambil membuang nafas pelan, ia duduk di samping Drake yang tengah menatap langit cerah.
Sore itu, Drake mengantarkannya pulang ke rumah setelah sebelumnya mereka mengantarkan Terra pulang terlebih dahulu karena ada keperluan.
"Sepertinya mau hujan. Lihat awan itu, dia membawa banyak air di dalamnya.
Baru saja Drake memberi penilaiannya, bahwa tidak mungkin juga hujan turun di saat cuaca secerah itu, tiba-tiba saja hujan benar-benar datang dengan derasnya.
SHAAAAASSSHH!
"Wuaah! Hujan!" seru Joy.
"Eh?? Benar hujan?????" Drake melongo.
Ia merasa takjub dengan perkiraan Lulu yang terdengar sangat akurat.
"Waahh, Lulu. Kalau tidak terjadi secara kebetulan, aku pasti akan menyebutmu sebagai peramal hebat. Pas sekali loh tadi,,, kau bicara soal hujan dan sekarang hujan benar-benar turun!"
Drake menyerongkan bokongnya ke samping dan duduk menopangkan tangan ke dagu sambil menatap Lulu dengan tatapan mengagumi. Bahkan ada sedikit senyuman di bibirnya yang akhirnya membuat Lulu tersipu.
"Eh,, itu..."
Wah, wah, wah!
Drake tidak menyadari bahwa sikapnya tersebut membuat gadis yang ditatapnya itu jadi salah tingkah dengan wajahnya yang memerah.
Ditambah lagi saat itu, hanya tersisa mereka berdua sebagai orang dewasa, suasana mendadak jadi sangat syahdu. Hanya dengan bertatapan mata, jantung Lulu berdegup sangat cepat.
"Perasaan apa ini? Mengapa jantungku seakan berteriak kencang dan berusaha meloncat keluar.."
Lulu membatin soal perasaan yang ada di hatinya. Apakah itu cinta?
"Bibi Lulu, bolehkah aku melihat taman bunga kita?" Joy tiba-tiba datang dan mengganggu.
"Eh,, tentu saja. Pergilah," pikiran Lulu buyar.
"Asiiikk!"
Joy berlari senang sambil bermain di bawah guyuran air hujan. Ia tidak menyadari bahwa baru saja mengganggu konsentrasi Lulu.
"Hey, jangan hujan-hujanan! Aku tidak mau merawatmu jika kau sakit," seru Drake sambil menoleh. Perhatiannya teralihkan.
"Tenang saja, paman! Aku tidak akan sakit hanya karena air hujan!" balas Joy.
"Hiss, anak ini. Susah sekali dikasih tahu," Drake menyilangkan tangannya sambil mengganti posisi duduknya dengan bersandar di sandaran kursi.
Lulu pun sama. Ia membuang muka dan mencoba mengatur detak jantungnya, "A apa kau mau minum sesuatu yang hangat, kak?"
"Hmm, tunggu. Sebenarnya aku minum banyak tadi. Ditambah, sekarang hujan. Aku jadi kebelet pipis. Apa aku boleh menumpang ke toilet?"
__ADS_1
"Boleh saja. Ayo aku temani," jawab Lulu.
"Eh buset, kau mau menemaniku,, ke toilet?" Drake salah paham.
"Ah, itu,, bukan menemani yang seperti itu,, maksudku aku akan menunjukkan padamu di mana toiletnya," jawab Lulu salah tingkah.
"Oh iya baiklah, hehe."
Hanya beberapa menit setelahnya, Drake keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Lulu sedang mencuci tangan. Kebetulan, lengan bajunya dicincing sampai ke siku.
GLEK
Ada bekas guratan merah keunguan di pergelangan tangan Lulu.
"Eh?? Tanganmu??" Drake tidak sengaja melihat bekas luka seperti luka cengkeraman kuat.
Dan karena Drake tiba-tiba muncul di belakangnya, Lulu segera menurunkan lengan bajunya kembali.
"Ah, kakak sudah selesai?"
"Hmm. Ituuu, pergelangan tanganmu. Apa seseorang menyakitimu?"
"T tidak. Ini hanya luka kecil kok."
"Benarkah? Coba ku lihat.." Drake mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh tangan Lulu untuk memberi pertolongan jika itu luka yang serius.
Namun, reaksi Lulu yang berlebihan membuat Drake berpikir macam-macam. Apakah ada seseorang yang menyakitinya? Jika ada, ia akan membuat perhitungan dengan orang tersebut.
"Tidak perlu, tidak perlu, kak. Sungguh. Aku baik-baik saja," Lulu benar-benar ketakutan dan berusaha untuk menyembunyikan tangan kirinya ke belakang tubuhnya.
Dahi Drake mengkerut. Ia merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan Lulu. Tapi karena Lulu tidak mengijinkannya untuk memeriksa luka tersebut, Drake tidak mau memaksa.
"Ya sudah. Tapi kalau kau merasa membutuhkan bantuanku, kau boleh mengatakannya secara langsung."
Lulu mengangguk.
•••••
Pukul 18.00
Karena hujan sudah reda, Drake berpamitan pulang. Meski begitu, langit masih menyisakan awan-awan mendung sepanjang perjalanan mereka pulang.
"Hatchihh!!" Joy bersin dan terlihat kedinginan.
"Kau kedinginan?"
Joy mengangguk dan tidak bersuara. Wajahnya tampak lesu.
"Haah, siapa yang tadi bilang tidak akan sakit saat berlari hujan-hujanan?" Drake menghela nafas dan menggerutu.
Begitu sampai rumah, Drake menggendong Joy masuk ke dalam. Anak itu jadi lebih pendiam saat tidak enak badan.
Dan seperti seorang ayah, Drake langsung mengganti pakaian Joy lalu mengantarnya tidur di tempat tidur. Ia bahkan membuatkan minuman jahe hangat untuknya.
"Minum jahe hangat, ya. Biar badanmu tidak menggigil kedinginan," kata Drake sambil membantu Joy duduk.
SRUPUT
"Minuman apa ini?"
"Jahe."
"Huwek,, rasanya pedas sekali."
"Kalau manis namanya sirup."
"Tambahkan gula sedikit, bisa kan paman?"
"Ini sudah ada gulanya. Kalau kemanisan mengurangi manfaat dari jahe itu sendiri," jawab Drake.
"Tapi...."
"Sudah minum saja," Drake memaksa Joy untuk minum.
Karena takut dimarahi Drake, Joy menurut saja meski ia kewalahan saat meneguk minuman yang menurutnya tidak enak dan tidak manis.
Ternyata, Drake yang tidak begitu suka manis itu membuat minuman jahe dengan sedikit gula. Berbeda dengan Joy yang memang menyukai minuman rasa manis.
Dan malam itu, setelah ia memberikan minuman jahe pada Joy, ia meminta anak kecil itu untuk tidur. Dibetulkannya selimut yang dikenakan Joy sampai sebatas leher.
"Sekarang tidurlah. Setelah istirahat malam ini, besok kau akan sehat kembali."
"Terima kasih, paman."
"Hmm."
...----------------...
Hallo pembaca setia,, jangan lupa like dulu sebelum keluar dari novelku yaa,,😁👍🏻
__ADS_1
¹) hik hik hik, suara tawa khas Drake