
BAB 16
Luna dan Terra kembali dari pasar. Mereka terkejut melihat sebuah kantung plastik berisi bubur daging di atas meja makan rumah mereka.
"Bubur? Siapa yang meletakkannya di sini?" Terra mengintip ke dalam kantung plastik.
"Eh? Bubur apa?"
"Ini bubur daging..."
KLIP
Hening.
"Pasti Drake!" seru keduanya serempak.
Luna mendekati meja makan sedangkan Terra buru-buru mengeluarkan isinya. Ia paling suka bubur yang dibawakan Drake untuk mereka. Entah mengapa, rasanya jauh lebih enak jika Drake yang membawakannya dibanding beli sendiri.
Apakah karena gratisan? hehehe.
"Kapan dia datang? Kita tidak melihatnya keluar dari rumah kita kan?"
"Iya. Aku tidak melihatnya."
SRET
"Wuahh.. Rasanya sudah lama sekali,,,," Terra mulai membuka tutup wadah bubur tersebut dan mengeluarkan sendok yang sudah sepaket dengannya.
"He em. Mungkin dia pergi sesaat sebelum kita datang," Luna menghirup wangi bubur dari sendoknya kemudian perlahan mulai menyuapkan bubur daging ke dalam mulutnya.
"Hmmm.. seperti biasanya. Ini sangat lezat!" pekik Terra.
Luna mengangguk setuju.
"Eh, aku akan mengucapkan terima kasih padanya lebih dulu," katanya.
"Ya. Cepat ucapkan."
Disambarnya ponsel yang ada di atas meja. Kemudian dengan cepat diketiknya beberapa baris kata.
TRING
Drake menoleh saat ponselnya berdering. Ia yang sedang tiduran di kasurnya itu pun melihat pesan dari Luna.
"Hei,, terima kasih bubur dagingnya. Kami sedang menikmatinya sekarang," Drake membaca dengan suara keras, pesan dari Luna tersebut.
Ia pun tersenyum dan membalas pesan. Namun sebuah suara yang jelek tiba-tiba mengganggunya.
"Kau kuno sekali. Gadis jaman sekarang tidak ada yang suka dibelikan bubur daging seperti, itu oleh seorang pria, mereka lebih suka pria-pria itu memberi mereka coklat atau cincin emas."
Drake menghentikan gerakan jarinya yang tengah mengetik pesan, "Gadis mana yang kau maksud? Luna dan Terra itu pengecualian. Mereka sangat menyukai bubur daging itu sejak dulu."
"Halah, mereka hanya bersandiwara di depanmu," F5 banyak bicara.
"Berisik. Bisa diam tidak?"
"Hehe,, bagaimana, ya? Wujudku mulut semua, tentu saja aku akan terus bicara."
"Sekali lagi buka mulut, akan ku sumpal mulutmu menggunakan kaos kakiku," Drake duduk dan melepas kaos kakinya yang belum dicuci sejak kemarin.
"Apa? K kaos kaki?"
"Ya. Jadi bicaralah seperlunya jika tidak ingin merasakan kaos kakiku. Aku tidak mau mendengar ocehanmu lagi."
•••••••
TRUK
Suatu hari di siang hari yang terik, Drake baru saja pulang membeli makan siangnya. Ia terkejut melihat seseorang berdiri di depan pintu rumahnya.
Begitu melihat Drake datang, Pitt langsung meninju kepala adiknya itu dengan emosi hingga kantung plastik berisi makanan yang dibeli Drake jatuh dan tumpah ke tanah.
"Apa maksudmu mengatakan itu pada Eloise! Kau pasti punya niat tersembunyi kan?!" tanya Pitt tanpa basa-basi.
__ADS_1
Drake tentu saja tidak tahu menahu apa yang sedang dimaksud Pitt.
"Aisshh, brengsek! Kenapa datang-datang langsung memukulku?" Drake menyeka darah dari mulut dan hidungnya.
"Kenapa kau berbohong dan mengatakan pada Eloise bahwa sebenarnya aku adalah anak pungut? Apa yang sedang kau rencanakan di belakangku?" Pitt mendekati Drake dan mencengkeram kerah baju Drake.
"Dengar! Aku tidak akan termakan oleh cerita karanganmu. Aku yakin, kau melakukan itu agar ayah memberikan semua aset kekayaannya hanya padamu. Tapi aku tidak akan menyerah."
Pitt menarik kerah baju Drake cukup dekat dengan dirinya sehingga ia bicara tepat di depan muka Drake.
"Jangan pikir setelah kau menceritakan semua cerita bohong pada Eloise, kau bisa mengusirku begitu saja dari perusahaan dengan posisiku sekarang. Tidak! Aku akan mengambil alih semua milik ayah karena akulah putra kandung dan putra kesayangannya!"
Drake menyingkirkan tangan Pitt dari kerah bajunya dan mendorong tubuh pria itu dari hadapannya sambil meludahkan angin ke kiri.
"Puih! Ambil saja. Aku tidak peduli soal itu. Ayah atau ibu? Sejak dulu mereka tidak pernah benar-benar menjadi orang tuaku. Kalau kau menginginkan perusahaan ayah, kau bisa jaga mereka dengan baik karena mereka satu-satunya aset berhargamu."
"Kau yakin?"
Drake hanya diam dan melangkah pergi. Rasa lapar yang sejak tadi mengganggunya berganti dengan rasa kesal.
"Ingat ucapanmu! Kau tidak menginginkan aset ayah!!!!"
Drake meninggalkan Pitt begitu saja tanpa menolehnya kembali. Begitu juga Pitt yang langsung pergi mengendarai mobilnya. Sejak dulu, situasi diantara mereka memanglah selalu panas. Tidak ada kasih sayang antar adik kakak yang terlintas.
BRAK
Pintu yang tidak bersalah itu menjadi pelampiasan Drake. Ia meninjunya dengan keras sampai punggung tangannya terluka.
Drake benar-benar kesal dengan situasi yang ada dalam hidupnya. Anak adopsi itu dengan terang-terangan mengincar harta ayahnya. Akan tetapi, dirinya juga tidak ingin melakukan sesuatu untuk melindungi aset berharga milik ayahnya.
Ia tidak akan ikut campur sebab selama ini ayahnya berbuat buruk dan menyakiti hatinya. Bahkan saat Drake memberikan darahnya karena sang ayah terancam kematian, sang ayah pun tidak ingin melihat dirinya.
"Haiss! Dasar pria tua. Lihatlah, kau memanjakan anak yang justru akan mencekikmu di masa yang akan datang."
Saat itu, Drake tidak menyadari bahwa sedari tadi, dirinya sedang diawasi seseorang dari jauh. Orang itu merasa kasihan dengan garis nasib Drake yang diliputi kesedihan.
TRING
Drake meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya sebab ada sebuah pesan masuk. Rupanya dari Lulu. Gadis itu mengatakan akan datang ke rumahnya dalam lima menit.
Drake celingukan. Ia pun kelabakan merapikan ruang tamunya. Ada beberapa gelas kopi dan bungkus makanan ringan sisa semalam.
TING TUNG
Suara bel berdering.
"Dia sudah datang? Cepat sekali?" Drake yang memegangi dua gelas di tangan kanan kirinya itu menoleh panik.
Dengan sedikit berlari, ia meletakkan gelas-gelas itu ke bak cuci dan buru-buru memasukkan bungkus cemilan ringan kosong yang berantakan ke tempat sampah.
"T tunggu sebentar!" serunya sambil menyedot sisa kotoran dengan vacum pembersih.
TAP TAP TAP
GLABRUK
O Oohh,, Sial!
Drake jatuh tersandung karpet ketika buru-buru berlari untuk membukakan pintu. Lututnya yang terbuka karena model celananya, terantuk tepian meja kacanya sehingga mendapat luka.
"Aduuh,, sshh! Sakit sekali. Kenapa harus jatuh sih?"
Untuk bangun, ia meraih dan berpegangan pada kursi sofanya. Sejenak ia duduk dan memeriksa lukanya.
"Ah, gampang lah. Tidak usah diobati sekarang," katanya berdiri kembali dan mendekati pintu.
CKLEK!
Begitu pintu dibukanya, Lulu menyapa dengan ceria, "Siang kak. Apa aku mengganggumu?"
"Eh,, nggak sih."
"Kalau begitu, apa aku boleh masuk?" Lulu menolehkan kepalanya ke dalam rumah Drake.
__ADS_1
"Iya. Silahkan."
Drake menutup pintu sambil mempersilahkan Lulu masuk.
"Apa kau libur, hari ini?"
"Em, iya."
"Ooh.. begitu ya,,"
"He-em.. hehe."
Dinyalakannya kipas angin yang ada di ruang tamunya agar Lulu tidak merasa gerah.
"Cuaca sedang panas, jadi tidak masalah kan kalau aku menyalakan kipas angin?"
"Tentu," Lulu tersenyum. "Ohya, ini untukmu kak," ternyata Lulu membawa makanan untuk Drake.
"Eh? Apa ini?" tanyanya.
"Sedikit makanan untukmu."
"Wah, kau repot-repot membeli makanan untukku? Terima kasih kalau begitu. Ngomong-ngomong, maaf ya, rumahku berantakan. Hehe,,"
"Tidak apa. Aku juga kadang begitu."
Drake mengusap kepalanya karena malu, karena itu ia mengalihkan pembicaraan dengan menawari Lulu minum.
"Em, kau mau minum apa?"
"Apa saja."
"Apa saja, ya? Baiklah..."
Lulu terus saja memperhatikan punggung tangan Drake yang memiliki luka saat memukul pintu tadi. Kemudian ada luka baru juga di lututnya. Lulu terus memperhatikannya.
"Tunggu? Kakak terluka!" Lulu meraih tangan kanan Drake.
"Ehh?" Drake kaget.
"Aku bantu ambilkan obat, ya. Di mana kotak P3Knya?" Lulu berlari masuk ke ruang lain.
"I itu,, ada di kamarku,,"
"Baiklah. Aku ambil, ya.."
Karena tidak juga ketemu, Lulu bertanya pada Drake dari dalam kamar, "Aku tidak melihatnya. Kakak simpan di mana?"
"Di....laci lemari."
SRET
"Eh? Tidak ada??"
"Benarkah? Apa di lemari atas, ya?"
Drake muncul dan berdiri di tengah pintu, ia menahan diri agar tidak berdekatan dengan seorang gadis di dalam kamar.
"Tidak apa, Lulu. Aku rasa, ini akan baik-baik saja setelah aku membasuhnya dengan air. Aku juga tidak merasa sakit lagi," kata Drake berbalik menuju kamar mandi.
Melihat Drake pergi membasuh lukanya dengan air, Lulu pun mengikutinya.
"S sedang apa kau di sini?" tanya Drake kaget saat Lulu mengikutinya ke kamar mandi.
"Untuk membantu kakak."
"Eheheh,, tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Kau tunggu saja di luar, oke?" ucapnya salah tingkah.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG....