HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
TERJEBAK


__ADS_3

BAB 68


Drake yang sedang bertamu di rumah Lulu itu tiba-tiba merasakan kupingnya gatal. Maka seperti biasanya, ia mengorek telinganya dengan jari kelingking.


"Seseorang pasti sedang membicarakanku," gumamnya.


"Kenapa? Kupingmu gatal?" tanya Lulu seraya meletakkan gelas minum Drake.


"Hmm."


"Menurut mitos sih begitu, tapi entah kebenarannya."


Drake meneguk habis minuman coklatnya yang hangat.


"Apakah enak?"


Drake mengangguk sambil meletakkan gelasnya kembali.


"Oh ya. Apa kabar dengan Luna? Apa dia sudah sehat?"


"Sepertinya butuh waktu sedikit lama. Dia putus dengan tunangannya beberapa waktu lalu."


"Putus?"


"Hmm. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa putus."


"Kepercayaan."


"Apa?"


"Biasanya, hubungan asmara antara dua orang manusia itu awalnya didasari rasa saling percaya. Seperti kita berdua. Aku mempercayaimu dan kau juga percaya padaku."


"Aah, benar. Satu-satunya orang yang bisa ku percaya adalah dirimu. Selain itu, kau juga menyimpan rahasiaku sebagaimana pula aku menyimpan rahasiamu."


"Hmm,, kita sama-sama punya rahasia besar, bukan?" Lulu tersenyum menampakkan giginya.


Drake merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, "Aku masih penasaran, kenapa F5 hanya tunduk pada darah emas?"


"Entahlah.. Aku juga tidak tahu masalah itu.." Lulu menoleh pada Drake.


"Seandainya darah emas tidak ada di dalam dirimu, aku tidak yakin kita berdua bisa sedekat ini," Drake mengangkat tangan kanannya dan ia jadikan bantalan kepala.


GYUUTT


Lulu duduk di samping Drake. Ia memperhatikan kekasihnya dengan penuh cinta.


"Tidak yakin?"


Drake menoleh dan membetulkan posisi badannya sambil meraih kedua tangan Lulu. Lantas ia menatap lekat mata coklat Lulu kemudian ia menuturkan sesuatu.


"Menurut F5, aku tidak akan pernah bisa bersentuhan fisik dengan wanita manapun. Jika saja aku memaksa berciuman atau melakukan sesuatu yang lebih intim dengan seseorang, maka aku akan pingsan atau sesuatu yang lebih mengerikan akan terjadi padaku."


"Terjadi sesuatu? Kalau begitu, apa karena darah emasku ini kau tetap baik-baik saja setelah menciumku?"


"Sepertinya begitu. Aku mencoba membuktikannya beberapa kali denganmu. Tapi aku tetap baik-baik saja."


SRET


Lulu memperhatikan Drake dengan seksama. Meski pada dasarnya ia seorang gadis yang lugu dan pemalu, namun di hadapan Drake, ia bisa berubah menjadi rubah betina kapanpun juga.


"Ayo coba lakukan sesuatu yang lebih panas untuk mengetesnya," Lulu mencondongkan tubuhnya ke arah Drake.


"P panas?"


"Hmm,, Mari kita lihat, sejauh mana batasanmu."


Tanpa persetujuan lagi, Lulu menubruk Drake dan memagut bibirnya dengan berhasrat. Lambat laun, suara nafas keduanya terdengar semakin berat saja.


Dengan posisi tubuhnya yang berada di atas Drake, Lulu dengan leluasa mengusap semua bagian tubuh kekasihnya tersebut.


"Ssshh, Lulu..." Drake menengadahkan kepalanya saat Lulu menciumi lehernya.


"Bagaimana, apa kau merasa akan pingsan?" tanya Lulu disela-sela kegiatannya.


"Ya. Sepertinya aku akan pingsan,," sahut Drake dengan suara parau.


"Sungguh?"


"Yaaahh....Aku bisa pingsan jika kau terus mencium dan menggerayangiku seperti ini," lanjut Drake keringatan.


Malam itu, Lulu sedikit berani dari sebelum-sebelumnya. Ia menggerayangi setiap tempat tanpa terkecuali hingga Drake belingsatan.


"Begitu, ya?"


"Yaaah.. kau membuatku sesak nafas," Drake sampai merem melek merasakan sentuhan tangan Lulu.


"Benarkah?" Lulu hendak menyingkir dari tubuh Drake namun ditariknya kembali gadis itu.


E EIIHH???


Kemudian Drake membalikkan posisi sehingga kini Lulu ada di bawah. Ia pun mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada bibir gadis itu sambil tersenyum-senyum.


"Eh? Ihihihi...." Lulu tertawa ringan saat menerima ciuman bertubi-tubi seperti itu.


Kedua tangannya pun mencoba mendorong bibir Drake darinya dengan candaan mesra. Meski usianya terpaut jauh dengan Drake, namun ia tidak takut sedikitpun menghadapi situasi panas seperti saat itu.


Saat Drake memegangi pinggang Lulu dengan sedikit rem*san, dengan perlahan pula ia menurunkan ciumannya ke belahan dada Lulu. Kemudian ia bertanya sesuatu pada gadisnya sebab apa yang ia rasakan saat itu.

__ADS_1


"Apa kau ingin menikah?"


"Eh? Menikah?"


"Hmm. Mengingat usiaku sekarang, aku ingin hubungan ini berakhir dengan pernikahan."


"Emm... Mau saja sih, tapi apa tidak terlalu cepat jika membicarakan pernikahan sekarang?" jawab Lulu.


"Kenapa? Apa kau tidak ingin menikah denganku?"


"Bukan begitu,,,,"


"Aah, sepertinya kau masih ragu."


Drake menarik diri dari atas Lulu dan kembali seperti semula saat belum terjadi apa-apa. Ia membiarkan begitu saja tiga dari atas kancing bajunya yang sempat dilepas oleh gadis itu. Kemudian ia meraih gelas Lulu yang masih ada minumannya.


"GLEK.. GLEK.. GLEK.."


"Apa kau haus?"


"Hmm, badanku terasa amat panas. Sepertinya aku butuh air dingin."


"Kalau begitu biar aku ambilkan lebih dulu," Lulu bangkit dan membuka kulkas.


Drake benar-benar kehausan. Ia sadar betul apa yang baru saja ia lakukan bersama Lulu. Sepertinya memang tidak ada gejala atau efek samping berlebihan saat ia bersentuhan dengan Lulu seperti tadi.


Hanya saja, sebagai lelaki dewasa ia sedikit kesulitan menahan hasrat yang muncul tiba-tiba. Ia juga merasakan keberadaan api yang dahsyat tengah berkobar di dalam tubuhnya.


"Aiih aiih,,, kau mengambil kesempatan saat kami tidak di rumah, ya? Apa itu menyenangkan? Emmm??" tiba-tiba roh merah datang dan menyusupkan jarinya ke baju Drake yang sedikit terbuka.


"Ahh.. kau?"


"Kami melihatnya, loh..." sambung biru yang muncul di sebelah kanan Drake.


"Kalian,, sejak kapan di sini?"


"Hmm,, kau takut kami melihat semuanya, kan?" tanya kuning yang muncul di belakang Drake.


"Jadi, kau baru saja main-main dengan adik kami??" roh coklat tiba-tiba saja muncul duduk di depan Drake.


"Main-main? Sepertinya, kalian semua salah paham,," Drake mencoba menjelaskan.


"Salah paham? Lalu apa yang kami lihat tadi? Bukankah kau terus menggoda adik kecil kami," coklat melanjutkan.


"Itu..."


Lulu kembali membawa segelas air dingin untuk Drake. Melihat para roh mengganggu kekasihnya, ia segera membubarkan kerumunan.


"Hey, apa kalian sedang mengganggunya??" tanyanya.


"Tidak,, kami hanya ingin tahu motif tersembunyinya saat mendekatimu."


"Iya motif. Kau pasti menyembunyikan maksud lain, bukan? Apa kau penjahat kel*min? Kenapa kau amat sering mencumbuinya?" biru mendekat dan hendak menyentuh Drake.


GLUBRAK


Namun tiba-tiba saja Drake mendorongnya ke samping dengan gerakan tangan jauhnya.


"Aduuhh.."


Semua roh berdiri dan bersiaga. Mereka melihat hal yang tidak masuk akal itu dilakukan oleh Drake dengan gampangnya. Karena biru diserang, mereka semua bersiap menyerang Drake balik.


Dan tanpa pikir panjang, keempat roh yang lain pun terbang menyerang Drake. Namun belum sampai menyentuh kulit Drake, mereka semua terpental jauh.


SRAK


KRASAK


"Ah?? M maaf teman-teman. Aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh. Aku hanya sedikit bereaksi karena kalian terus memojokkanku," Drake berdiri dan mendekati para roh yang bersimpuh di lantai.


Namun karena mereka masih terkejut, mereka jadi sedikit ketakutan. Mereka juga malah menyeret kaki mundur ketika Drake mendekat.


"A apa itu barusan?" roh putih menatap Drake heran sambil bersembunyi di bawah meja makan.


"Dia baru saja menyerang tanpa menyentuh kita?" roh coklat dan lainnya terheran-heran.


Lulu menghampiri kawan-kawannya sambil tertawa renyah. Ia tidak menyangka, Drake akan memberikan kenangan pada mereka semua secepat ini.


"Sudah ku bilang, kalian jangan pernah menggangunya. Tapi kalian semua bandel," katanya.


"Apa maksudmu dengan jangan menggangunya itu karena ini?" roh biru terperangah.


Lulu mengangguk.


"Aih aih,, Maaf adik, setelah melihat semuanya, sepertinya aku semakin tertarik pada kekasihmu," roh merah justru terkagum-kagum.


"Apa yang kau katakan? Kau juga mau mengembat Drake??"


Satu menit kemudian, para roh kembali menempel pada Drake. Mereka semakin penasaran dengan kemampuan yang dimiliki Drake.


"Bisakah kau lakukan itu lagi?"


"Tidak."


"Ayolah, coba angkat aku. Aku ingin merasakannya," kata pink.


"Tidak mau."

__ADS_1


"Kalau begitu, coba lucuti pakaianku dari jarak jauh," kata merah.


Drake melirik sinis, "Hey. Aku melakukannya bukan untuk main-main."


"Sudah, jangan bermain-main terus, Drake. Cepat pulang. Aku merasakan ada orang asing yang menyusup ke dalam rumahmu," suara F5 membuat semuanya kaget.


"S siapa yang bicara?" tanya kuning.


"Iya, aku juga mendengarnya."


Drake berpikir sebentar. Orang asing? Siapakah yang masuk ke dalam rumahnya?


"Kau yakin itu bukan Luna atau Terra?" Drake bertanya untuk meyakinkan.


"Bukan."


"Eh, apa kau ingin aku menunjukkannya padamu?"


"Apakah bisa?"


"Mari kita coba," kata Lulu.


Lulu memejamkan mata dan membuka gelembung cerminnya. Maka, mereka dapat melihat siapa yang ada di rumah Drake saat itu.


"Itu ayah Luna," Drake memperhatikan tampilan di cermin mata-mata milik Lulu.


"Eh, ada terra dan Luna juga. Sedang apa mereka di rumahmu?"


"Entahlah. Kenapa paman seperti sedang marah, ya? Apa kau tidak bisa memunculkan suara mereka?"


"Sayangnya tidak."


Drake menghela nafas, "Baiklah. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Mungkin mereka mencariku untuk menanyakan sesuatu."


"Kau yakin mau pulang? Entah mengapa aku memiliki perasaan yang tidak enak."


"Hmm. Tidak apa-apa. Aku pulang dulu, ya. Lagipula, aku sudah di sini sejak pagi. Kau istirahatlah."


••••••


"Dia pulang!" ucap Terra ragu.


Luna segera menggelangkan kepala. Ia berharap Drake tidak pulang malam ini. Ia takut ayahnya akan memukuli Drake karena pengakuan bohongnya. Namun ia sudah terlanjut melangkah ke jalan yang ia pilih. Ia pun tidak bisa merubahnya lagi.


"Ayah, aku mohon jangan pukul dia, ya?" Luna memohon pada ayahnya.


"Lepaskan. Dia harus menerima pukulan yang pantas karena berani menghamilimu," Pak Gibson sudah marah saja.


KLIK


KLIK


KLIK



PLAK!!


Begitu Drake masuk ke dalam rumahnya, ia langsung disambut oleh tamparan keras dari ayah Luna.


"P paman? Kenapa kau menamparku? Apa aku melakukan kesalahan?" Drake terkejut dan benar-benar tidak paham dengan sikap paman Gibson.


PLAKK


"Beraninya kau menghamili Luna setelah aku merawatmu seperti putraku sendiri!!" ayah Luna berteriak seraya menampar Drake sekali lagi dengan kuat sampai Drake hampir tersungkur.


"Hosh.. Hoshh. A Apa?? Menghamili siapa??" mata Drake melotot kaget.


Perlahan ia menoleh pada Luna yang langsung menundukkan kepala begitu bertemu mata dengannya. Ia bingung, kenapa Luna tidak berusaha untuk menjelaskan siapa ayah sebenarnya bayi yang ada di dalam rahimnya.


"Jangan berlagak pilon. Kapan kau melakukannya?! Aku tidak percaya ini,, kau harus bertanggung jawab atas bayi yang ia kandung, Drake!" pak Gibson berteriak dan hampir saja terjatuh karena penyakit jantungnya. Untung saja Terra menangkapnya.


"B bagaimana itu bisa terjadi jika aku tidak pernah,-" Drake keringatan dan mencoba menjelaskan.


"Cukup! Jangan mengelak lagi, Drake! Ayah sudah tahu kalau aku mengandung bayimu!" tiba-tiba Luna memotong ucapan Drake dan menghampirinya dengan gemetaran.


"A apa???" Drake merasa fitnah Luna amat keji dan tidak berdasar.


"Mengaku saja, Drake..." Luna menangis sesenggukan dan menyandarkan kepalanya di dada Drake.


Mendapat fitnahan seperti itu, tubuh Drake pun gemetaran. Ia tidak bisa bergerak seakan tubuhnya dipaku menggunakan paku pasak raksasa.


"Aaagghh... ahhgghhhhh..." nafas Drake terdengar amat berat. Jakunnya naik turun sebab tak mampu berkata-kata lagi.


Ia tahu Luna pasti sangat terdesak hingga tega memfitnahnya seperti ini. Mungkin Alan tidak mau bertanggung jawab atas bayinya sehingga Luna tidak punya pilihan lain selain mengkambing hitamkannya.


Akan tetapi, haruskan dengan cara kotor seperti ini???


"Jadi, Drake. Benarkah kau menghamili Luna? Kapan kau melakukan itu?" Terra tidak percaya bahwa Drake yang melakukannya.


Walaupun sangat dirugikan, sebagai seorang teman Drake merasa tetap harus mengambil keputusan untuk kebaikan bersama. Ia berpikir untuk membantu Luna dengan pengakuan palsunya. Mungkin..


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2