
BAB 26
PUK
PUK
PUK
Pagi itu, Luna menepuk punggung Drake dengan amat pelan. Ia datang untuk memastikan apa yang ia lihat semalam.
"Drake.."
"Hmmmm..." respon Drake.
"Bangun dong."
Drake yang tidur tengkurap setengah nungging itu pun bangun dan duduk dengan malas-malasan. Pada saat itu juga, Luna dan Terra yang datang bersama itu terkejut melihat bibir Drake yang ndower.
"Hmmpp.. I itu bibirmu kenapa??" Luna mengempet tawanya.
"Wkwkwk,,, jangan bilang kau habis disengat kalajengking..." Terra tertawa ngakak.
"Eissh,, dasar bocah nakal,," Drake melayangkan bantalnya ke arah Terra.
BLUK
Bantal yang dilempar itu pun tepat mengenai wajah Terra.
"Hiihh.. apa-apaan sih. Malah melempar mukaku pakai bantal."
Luna tersenyum melihat kegaduhan itu. Kemudian ia duduk di depan kawan yang baru bangun tidur itu.
"Jadi, bagaimana bisa bibirmu seperti itu?" tanyanya.
"Alergi."
"Alergi? Tidak biasanya? Selama aku mengurusmu, tidak pernah sekalipun melihat atau mendengar kau mengalami alergi?"
"Hmm.. aku juga tidak tahu.." jawab Drake masih ngantuk.
"Tapi bener deh,, wajahmu jadi lucu sekali. Persis seperti itu lho,, ikan apa namanya??"
"Triggerfish.." sahut Terra cekikikan.
"Iya, ikan itu,, wkwkwk,," Luna menutupi mulutnya sambil tertawa.
Drake yang masih sedikit ngantuk itu pun memikirkan seperti apa rupa ikan dengan nama triggerfish itu.
JENG JEEEENGGG!!
Begitu rupa ikan bernama triggerfish itu melintas di benaknya, Drake pun mengamuk. Ia melempari Luna dan Terra dengan bantal serta selimutnya.
"Sialan. Tega sekali kalian menyamakan pria tampan sepertiku dengan ikan bibir seksi seperti triggerfish????"
Luna dan Terra terus cekikikan sambil menghindari serangan dari Drake. Karena kesadaran Drake sudah penuh, maka ditangkapnya Luna dengan cepat dari belakang.
"Ini semua gara-gara kau. Mengapa menyebutku sama seperti ikan?"
"Eh,, tidak, tidak. Ampun,,hihihi,,, jangan gelitikin aku."
Pada saat Drake sedang menggelitik pinggang Luna, Terra mengejeknya dengan lantang.
"Triggerfish... triggerfish..." Terra terus mengejek.
Drake yang sedang menggelitik Luna pun beralih mengejar Terra.
"Kemari kau, anak nakal!"
"Wewe...Wee..." ledek Terra sambil berlari keluar dari kamar.
Entah bagaimana ceritanya, Drake meladeni ledekan Terra. Ia mengejar gadis itu sampai ke dapur dan berusaha mendapatkannya dengan sungguh-sungguh.
GLUBRAK!
Tidak sengaja, kaki Drake tersandung kursi hingga mereka berdua jatuh bersamaan dengan lengan kiri Drake yang tergores kursi tersebut. Sialnya lagi, pada saat mereka terjatuh, tangan Drake memegang tempat yang salah.
"Auhh..." pekik Terra.
Dalam posisi jatuhnya, gadis itu berusaha bangun karena menyadari sesuatu yang salah. Apa itu? Ada sesuatu yang memagari kedua semangkanya.
Ternyata, Drake yang jatuh memeluk Terra itu tanpa sengaja merem*s semangka milik gadis itu.
KLIP
"KYAAA!! Apa yang sedang kau lakukan?"
Terra mencak-mencak sambil berusaha bangun dan menyingkirkan Drake dari atas punggungnya.
__ADS_1
"Agghh,, kenapa tanya itu, bukankah kau tahu kita jatuh bersamaan?" Drake bangun perlahan karena lengan kirinya terasa perih.
"T tanganmu. Kenapa tanganmu nakal sekali??!" seru Terra.
Drake tidak mengerti karena memang ia tidak tahu dan tidak sengaja melakukannya. Ia justru sibuk memeriksa lengannya yang sempat tergores kursi kayu.
Ia terkejut, sebab rumbai-rumbai F5 keluar dari lukanya. Dengan cepat ditutupinya luka tersebut menggunakan tangan kanannya agar Terra tidak sampai melihat sisi lain dirinya itu.
Melihat Drake yang diam dan meringis seperti sedang kesakitan sambil menutupi lengannya yang berdarah dengan tangan lain, Terra pun tidak jadi marah.
"Kenapa? Apa kau terluka?" tanyanya cemas.
"Shh.. Tidak apa."
TAP TAP TAP
"Ck Ck Ck.. Kalian ini. Persis seperti kucing dan tikus," Luna datang bersama Joy yang baru selesai mandi.
Baik Terra maupun Drake menoleh bersamaan. Kemudian, Drake bangun lebih dahulu dan mengulurkan tangan kirinya yang terluka untuk membantu Terra berdiri. Sebab, tangan kanan sedang ia gunakan untuk menutupi luka pada lengan kirinya.
HUP!
"Paman bermain lari-larian di dalam rumah dengan bibi Terra? Bukankah yang bermain seperti itu hanya anak kecil?"
"Eh?? I iya juga sih," jawab Drake.
Kemudian, tanpa mengatakan sepatah katapun, Drake buru-buru pergi meninggalkan mereka yang berkumpul di dapur sambil terus menutupi lengan kirinya menggunakan tangan kanan.
"Kenapa dia?" tanya Luna pada Terra.
"Entahlah. Aku rasa lengannya terluka. Sepertinya tadi aku melihat darah di bajunya," jawab Terra lirih sambil memikirkan kejadian barusan.
"Benarkah? Kau sih, meledeknya terus," Luna mencubit kecil pipi adiknya.
"Kok aku? Kakak kan yang mulai memancing-mancingku menyebut nama triggerfish."
"Nggak, itu salahmu,,"
"Hehh,, salah kakak tahu..."
"Permisi. Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Joy mendongak memerhatikan dua gadis itu.
"Eh? Heheh,, tidak,, kami tidak bertengkar kok,, ya kan??" Luna memeluk Terra gemas.
"Ehehe,, iya. Nggak kok.." Terra pun membalas pelukan itu dengan sama gemasnya.
Drake yang saat itu sedang di dalam kamar mandi tengah bicara pada F5.
"Untung saja aku melihat rumbaimu yang keluar. Kalau tidak, Terra bisa ketakutan melihatnya."
"Iya, maaf. Aku juga reflek melakukannya saat tubuhmu terluka."
"Hmm.." Drake memperhatikan cara rumbai-rumbai itu menyembuhkan lukanya.
Sebenarnya jika menggunakan akal sehat, Drake merasa bahwa hal seperti itu sangat mengerikan. Bagaimana bisa ada urat tipis seperti ribuan cacing bergerak-gerak keluar dari celah lukanya. Namun di lain sisi, ia juga merasa takjub bahwa makhluk hidup itu mampu menutup lukanya dengan cepat.
••••••
Malam pukul 22.25
Drake bersiap untuk pergi ke kasino bawah tanah. Sudah cukup lama ia berdiri di depan cermin sambil menarik nafas panjang.
"Malam ini kau harus berhasil, Drake."
Setelah mengumpulkan kepercayaan dirinya, Drake pun melangkah keluar. Ia menyempatkan diri untuk membetulkan letak selimut yang dipakai Joy. Dan karena anak itu sudah tidur dengan nyenyak, ia pun pergi tanpa gangguan.
SRET
Begitu keluar dari halaman rumahnya, ia pun berlari kecil menuju jalanan besar sambil melatih otot tangannya.
Tanpa ia sadari, Terra melihatnya keluar dan berinisiatif mengikutinya tanpa ketahuan. Malam itu Luna sudah tidur, jadi ia pun keluar dari rumah dengan leluasa.
Beberapa menit kemudian, sampailah ia di depan pintu kasino. Dari sana, untuk menuju ke ruang bawah tanah, jalan yang harus dilalui adalah tangga turun yang lumayan panjang.
Kemudian ada lorong dengan pertigaan. Drake melangkah menuju lorong kiri. Di sana, banyak sekali orang mengantri loket taruhan.
Siapa yang dipertaruhkan?
Tentu saja dirinya dengan salah satu lawan yang kabarnya datang dari USA. Para penonton yang hadir dengan yakin mempertaruhkan idola-idola mereka.
Begitu memasuki ruangan ZuanYi, Drake disambut dengan penuh suka cita. ZuanYi merasa senang karena Drake memenuhi janjinya untuk bertanding.
"Apa kau sudah siap?"
"Hmm."
ZuanYi memerintahkan ajudannya untuk mempersiapkan kostum yang akan dikenakan Drake.
"Kali ini, ada sebuah produk celana dal*m yang melirikmu. Mereka tidak segan-segan menyeponsori pertandingan malam ini. Sudah terbayang bukan, bagaimana besarnya uang yang bisa kau dapatkan jika menang?" ucap ZuanYi seraya mengulurkan sebuah celana MMA berwarna hitam corak merah.
__ADS_1
Drake hanya mengangguk. Ia hanya bisa berharap bahwa malam ini akan memenangkan pertandingan musim panas.
SRET
Masuklah Fergus pembawa acara gulat bebas malam itu, "Apa dia sudah datang?"
"Hmm," ZuanYi melirik pada Drake sehingga Fergus tersenyum lebar.
"Baguslah, baguslah. Kalau begitu apa kita akan memulainya sekarang??"
"Lakukan."
Sorak sorai para penonton terdengar memekakkan telinga. Menciptakan api yang membara di setiap dada dan jiwa-jiwa para pemuda. Di antara sesaknya penonton itu, Terra melangkah dengan kebingungan.
"Tempat apa ini?"
Tepat saat ia sedang mencari celah untuk mencari Drake di sana, muncullah pria dari USA bergantian dengan kemunculan Drake.
"I itu kan, Drake? Sedang apa dia di sana?"
Terra merangsek maju ke depan untuk melihat Drake dari dekat. Tak lama kemudian, pertandingan pun akhirnya dimulai. Sorak riuh penonton terdengar begitu kedua petarung jagoan mereka bertatap muka dan siap menyerang. Kali ini, Drake melawan Jacob, petarung asal USA.
Begitu wasit melakukan hitung mundur dan memberi aba-aba, keduanya tidak dapat dipisahkan lagi. Saling tinju, jegal dan memiting, itulah kelebihan olahraga bela diri semacam ini. Mereka dapat melakukan gaya apapun dengan bebas.
BAG
BUG
BAG
BUG
Dua petarung itu rupanya sama-sama hebat. Meski beberapa tinju dan pitingan dari lawan, Drake maupun Jacob belum ada satu pun yang jatuh.
Di babak pertama, Drake menang dengan menendang kepala Jacob hingga copot pelindung giginya.
Babak ke dua, Jacob yang menang. Lalu babak ke tiga dan empat Jacob terus saja memimpin. Bahkan Drake mendapatkan luka sayatan di mana-mana. Rupanya, diam-diam Jacob ini menyelipkan pisau tipis di sela-sela sarung tinjunya.
"Sial. Dia bermain curang," ucap Drake begitu duduk beristirahat.
"Gantian curangi saja.." respon F5.
GLEK GLEK GLEK
Drake minum cukup banyak. ZuanYi mendekati Drake dan memberi peringatan untuknya.
"Kenapa terus memberinya kesempatan? Di tiga babak terakhir ini, kalahkan dia. Kalau perlu patahkan semua tulangnya. Kau harus jadi pemenang, ingat Drake? Jika tidak ingin terjadi apa-apa pada wanita itu."
"Huh! Baiklah. Aku akan menang," jawab Drake sambil membuang nafas.
"Baguslah. Ku pegang ucapanmu."
Drake hanya menghela nafas tanpa menoleh pada wanita tersebut.
ZIIIINNGGG!!
Ketika babak ke lima dimulai, Drake menang dengan cepat. Jacob meremehkan Drake sehingga ia lengah dan gerakannya mudah dibaca. Kemudian babak ke enam, Drake mengunci leher Jacob sehingga pria berambut pirang itu mengalami susah bernafas. Ia pun menang kembali.
Dan....
Di babak penentuan kali ini, Drake melakukan kuda-kuda sambil membaca taktik Jacob. Meski mata kirinya penuh memar dan lebam, ia tidak ingin menyerah. Luka berdarah akibat goresan pisau milik Jacob pun sama sekali tidak ia hiraukan.
(Hehehe,, maaf ya gambarnya bikinan sendiri,, dimaklumi kalau gak mirip petarung MMA) 😁
Drake berkonsentrasi.
Ia terus mengawasi Jacob yang sudah kehilangan keseimbangan. Sepertinya pukulan dan pitingan paha dari Drake membuat darah tidak mengalir ke kepalanya.
Dan pada babak ke tujuh, Drake melakukan tendangan memutar. Sekali, namun penuh tenaga. Membuat lawan tak berdaya dan akhirnya jatuh begitu saja.
Jika dilihat dari auranya, seakan ada api membara di sekitar tubuh Drake. Tendangan itu membuat kepala Jacob mengalami serangan kuat hingga tubuhnya pun ikut memutar sebelum akhirnya jatuh terjengkang dan kepalanya membentur lantai dengan kencang.
YEEEEEAAAYYY!!!!!
HOREEEEEE! HORRREEEE!!
Spontan saja, teriakan kemenangan terdengar menggelegar di ruangan gelap tersebut. Orang-orang yang menjuarakan Drake pun berjingkrak riang. Uang yang mereka pertaruhkan tidak terbuang sia-sia.
Tak terkecuali Terra. Gadis yang tidak mengira akan melihat pertarungan Drake pun hanya bisa menangis haru. Dia yang diam-diam menyukai Drake itu benar-benar bersyukur bahwa Drake masih hidup dan menang.
.
.
BERSAMBUNG....
__ADS_1