
BAB 57
Satu bulan berlalu, sisi hitam F5 tidak pernah muncul kembali. Drake yang kini memiliki kesibukan di dunia permodelan pun semakin sibuk dengan pekerjaannya. Namun sekarang, karena dirinya telah berbagi rahasia dengan Lulu, ia jadi sering mengunjungi rumah gadis itu sekedar untuk mengobrol.
Lama kelamaan, ia dan Lulu pun bekerja sama dalam melakukan kebaikan. Jika Lulu mendapat mimpi buruk tentang sesuatu yang akan terjadi, ia akan memberitahu Drake dan pergi bersama untuk melakukan penyelamatan.
Seperti malam ini, ia dan Drake duduk di sebuah gang kecil sembari mengawasi toko perhiasan yang ada di seberang jalan. Mereka menunggu para pelaku yang akan merampok di tempat itu.
"Kenapa belum datang, ya?" kata Lulu.
"Apa kau yakin, tentang mimpi itu?" tanya Drake sambil membetulkan gulungan tali tambang yang ia lingkarkan ke lengan kanannya.
"Aku yakin betul. Mereka akan muncul di sini, tepat pukul satu malam," jawab Lulu heran.
Pada saat mereka termangu menunggu para rampok, dari arah berlawanan datanglah beberapa orang yang berlarian.
"Cepat panggil polisi, ada perampokan di Bank Central!" seru orang-orang itu.
Mendengar ucapan orang-orang itu, Drake dan Lulu bertatapan.
"Mereka muncul di tempat lain!" seru mereka berbarengan.
Tanpa berkata lagi, Lulu dan Drake pun berlari menuju lokasi perampokan yang baru seraya menghubungi polisi dan memberitahu mereka tentang perampokan yang terjadi.
Sesampainya mereka di sana, beberapa orang berpakaian hitam dengan senjata api di tangan tampak mengosongkan lokasi sambil menodongkan senjata mereka ke beberapa sandera.
Nahas, seorang petugas keamanan mendapat luka tembak dan membutuhkan pertolongan secepatnya.
Karena situasi semakin mencekam, Drake langsung menghentikan waktu.
"Cepat, waktu kita tidak banyak," ucap Drake.
"Baik."
Tidak menunggu lama, Lulu membantu petugas keamanan yang terluka dengan mengikat luka tembak dan memberinya obat seperti obat merah dan anti nyeri.
Drake sendiri dengan cepat mengambil semua senjata api yang dibawa para rampok dan mengumpulkannya di lantai.
Selesai melakukan pencegahan kematian pada korban tembak, Lulu membantu Drake yang sedang memindahkan orang-orang berbaju hitam dengan kepala tertutup itu di pojokan ruangan dan mengikatnya menjadi satu ikatan yang kuat.
Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai.
"Misi selesai," kata Lulu.
"Hmm. Ayo pergi."
Sambil melangkah dengan bangga, keduanya pergi meninggalkan lokasi kejadian. Tepat saat Drake menjentikkan jarinya untuk mengembalikan waktu, rombongan mobil polisi berdatangan.
WIIU WIIUUU WIIUU...
Polisi pun meringkus para perampok tanpa perlawanan sebab mereka semua telah dijatuhkan. Seperti di dalam film, polisi dan para perampok itu pun merasa sangat kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Hihihi,,, mereka pasti sedang kebingungan," gelak Lulu.
"Hmm. Repot juga, ya. Mencari dan mengurus semuanya. Seandainya kau mendapat mimpi setiap ada sesuatu yang akan terjadi di dunia ini, pasti kita berdua tidak mempunyai waktu untuk istirahat."
"Benar juga. Kita tidak mungkin mendatangi semua lokasi kejadian, bukan?"
"Sebenarnya, aku merindukan kehidupan normal seperti dulu. Melewati suka duka, lalu pergi berkencan, bekerja, dan melakukan apapun yang aku sukai tanpa memiliki beban di pikiran."
Lulu memperhatikan Drake dengan mata sedih. Ia bisa memahami apa yang ada di pikirannya saat ini.
Tidak bisa dipungkiri, ia pun merasakan hal serupa. Sejak ulang tahunnya ke tujuh belas, masa-masa tenangnya pun hilang seketika. Ia mulai mendapatkan penglihatan tentang masa depan dan menghantuinya setiap saat.
Ia bisa saja tak peduli tentang semua itu, namun sebagai manusia yang berhati lembut ia pun tidak bisa berdiam diri saja.
Jika kejadian buruk yang akan datang terjadi di sekitarnya, ia akan datang dan memperingatkan orang-orang yang terhubung dengan mimpinya itu.
Akan tetapi, tidak semua orang mengerti dan mempercayai ucapannya. Bahkan banyak diantara mereka mengatainya sebagai gadis yang suka mengada-ada. Parahnya lagi, ada juga yang menyebutnya gila.
"Hmm. Berdoa saja Drake, agar kita berdua dapat menjalani hidup nyaman seperti dulu lagi. Entah itu esok, lusa, lima atau sepuluh tahun lagi. Yang pasti, hari ini. Kita berhasil menggagalkan perampokan berdarah di tempat ini. Meski lokasinya berpindah, kita berhasil menyelamatkan banyak nyawa."
"Kau benar. Sementara waktu, mari gunakan kelebihan kita untuk membantu dan menyelamatkan orang-orang."
"Kalau begitu, ayo tos dulu," ucap Lulu.
TOOSS
Usai saling menepukkan tangan, Drake mengajak Lulu pulang. Sepanjang perjalanan, Drake memperhatikan Lulu yang duduk di sampingnya.
Sejak mereka dekat dalam bisnis kemanusiaan ini, Drake mulai memperhatikan gadis itu. Perlahan, ada rasa senang dan bahagia di dalam hatinya ketika mereka bertemu atau saat ia menemuinya secara pribadi di rumahnya.
Sejak itu pula, jantungnya selalu berdebar jika melihat, mendengar, atau apapun itu yang menyangkut tentang Lulu.
Hemm..
Sepertinya, Lulu mulai menempati ruang di hati Drake. Ruang yang semula untuk Luna, kini sedikit tergeser.
__ADS_1
•••••••
Sore hari di mal KS, Luna tampak sedang menghabiskan jam lemburnya yang kurang sepuluh menit itu dengan mengangkat kardus berisi barang baru.
Tiba-tiba ia merasakan perutnya amat sakit. Nyeri dan terasa perih melilit.
"Awwhh..."
Luna meletakkan kardus itu di atas meja karena ia tidak tahan dengan nyeri yang melanda.
"Apa aku salah makan, tadi? Kenapa perutku sakit sekali??" gumamnya sambil mengelap keringat dingin yang keluar di dahinya.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya teman pria yang melihatnya.
"Ah, i iya sepertinya begitu. Em,, maaf Andy, bolehkah aku pulang sekarang?" tanya Luna.
"Ya. Pergilah. Kau harus memeriksakan dirimu," orang yang namanya Andy itu khawatir melihat wajah Luna yang pucat.
"Emm,, terima kasih..."
Setelah mendapat ijin dari temannya untuk pulang lebih dahulu, Luna menuju ruangan loker. Ia berbenah dan mengambil tasnya. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan kalender lipat.
"Eh??"
Spontan ia memungut kalender yang jatuh di lantai. Namun, ia menjadi melamun ketika meilhat dua angka yang ia beri tanda lingkaran merah di setiap bulannya.
"Sudah dua bulan, aku tidak menstruasi. Apa karena aku kelelahan bekerja?" gumamnya.
Luna mulai gelisah. Ia pernah terlambat datang bulan, namun hanya tiga atau lima hari saja. Tidak sampai dua bulan lamanya.
Keringat dingin semakin bercucuran dari dahinya.
"Tidak mungkin!" pikir Luna.
Karena sedikit terguncang, Luna hampir terjatuh akibat lututnya yang terasa lemas.
"Tidak mungkin aku hamil, kan?" gumamnya amat lirih.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Luna pergi ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaannya.
Cukup lama ia menunggu dokter memanggil gilirannya.
"Nyonya Luna Fishea????"
"Ya??"
"Baik."
Dokter di dalam tersenyum dan mempersilahkan Luna berbaring untuk mendapatkan beberapa jenis pemeriksaan.
Tidak lama kemudian, mereka duduk kembali dan dokter memeriksa komputernya.
"Aku sakit apa dokter?"
Dokter tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum dan menggeser layar komputer agar Luna dapat melihat sendiri.
"Apa itu dokter?"
"Anda baik-baik saja dan tidak sedang menderita sakit apapun."
"Benarkah? Lalu..." Luna berhenti bicara dan mulai takut mendengar jawaban dokter.
"Selamat nona, anda sedang mengandung bayi anda dan sudah jalan sembilan minggu."
"Apa? Me mengandung??"
"Benar."
Seketika pikiran Luna kacau. Ia tidak berkonsentrasi lagi saat dokter menerangkan apa saja yang harus ia lakukan selama masa kehamilan.
WUUZZZZ
Luna keluar dari ruangan dokter dengan tatapan kosong. Langkahnya pun lesu dan tidak bersemangat. Ia pun berjalan tanpa arah hingga sampai di lorong ruang inap yang kebetulan sedang sepi. Di sana, ia memerosotkan tubuhnya dan duduk di lantai sambil meneteskan air mata.
"A aku hamil? Oh tidak... tidak mungkin..." bisiknya pada diri sendiri.
Luna teramat syok. Kepalanya mendadak pening dan berputar-putar. Ia tidak tahu harus bersedih atau berbahagia menghadapi situasi ini. Yang ia tahu, sat ini ia hanya ingin menangis!
Itu saja.
Setelah berada di dalam bus, Luna mencoba menghubungi Alan. Namun panggilannya tidak terjawab.
"Apa dia sedang sibuk? Mengapa telepon dariku tidak juga diangkatnya?" Luna merasa cemas.
Ia pun menelepon Alan kembali. Namun kali ini panggilannya tidak terhubung.
__ADS_1
"Sekarang dia bahkan mematikan ponselnya???"
Luna cemas. Ia amat gelisah dan takut. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia benar-benar ingin memberitahu Alan soal kehamilannya. Tapi mengapa Alan tidak menanggapi telepon darinya??
•••••
SREK
Sementara itu di toko pakaian milik Drake, Drew sedang berada di kamar ganti dan menggenggam sebuah surat pengunduran dirinya.
Karena kehamilannya sudah memasuki usia empat bulan, ia dan Alan memutuskan untuk segera menikah.
Setelah membulatkan tekadnya, Drew menemui kepala toko dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Kau akan mengundurkan diri? Kenapa? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Zack.
"Tidak, pak. Lusa aku akan menikah, untuk itu aku aku mengajukan surat itu hari ini."
"Kau sudah memberitahu bos Drake?"
"Belum."
"Kalau begitu, aku harus memberitahu bos terlebih dahulu. Sebab, dia yang akan memutuskan pengunduran dirimu."
"Iya, baik, pak."
"Hmm. Pergilah. Aku akan memanggilmu setelah memberitahunya."
Drew membungkuk sebentar lalu keluar dari ruang kantor Zack.
••••
"APA?!!"
Drake terkejut mendengar kabar dari Zack tentang Drew yang akan keluar dari pekerjaannya sebab lusa akan menikah.
"Beraninya Alan menikah dengan wanita itu. Kalau begitu bagaimana dengan Luna? Bukankah mereka bertunangan untuk menikah??" geramnya dalam hati.
"Bagaimana bos? Apakah kita akan menyetujui permintaannya?"
Drake masih diam dalam pikirannya.
"Bos??"
"Biarkan dia resign."
"Baik, boss."
TRAK
Usai menyelesaikan panggilannya, Drake melempar ponsel miliknya ke atas meja. Ia merasa khawatir pada Luna. Jika temannya itu mendengar kabar soal pernikahan Alan yang akan diadakan lusa, akan jadi seperti apa nanti. Bukankah Luna memilih bertahan dengan Alan saat ia menyatakan perasaannya kala itu?
"Apa dia sudah mendengarnya?"
Drake bangkit dan mendekati jendela kamarnya. Dari sana ia mengamati rumah Luna.
"Huff,, jika sudah, dia pasti akan sangat sedih dan kecewa."
TING TUUNGGG
Suara bel rumah berbunyi. Drake menoleh dan bergegas turun.
"Siapa?" tanyanya sambil melihat dan membuka kuncian.
"Terra?"
"Hay..." Terra cengengesan.
"Ada apa? Mengapa senyumanmu tampak jelek begitu?"
"Iss,, kau ini."
"Ehehehe,, Ada apa?" Drake bertanya ulang.
"Aku lulus ujian! Jadi untuk merayakannya, aku membeli banyak makanan. Ayo ke rumah dan makan malam bersama! Aku juga mengundang Lulu datang," Terra berseru riang seraya menggandeng tangan Drake agar bergegas pergi ke rumahnya.
"Eh, i iya baiklah. Tunggu, jangan tarik-tarik tanganku seperti ituuu.."
"Sudah. Ayo cepat..."
.
.
.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1