HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
PAMAN DAN BIBI DARI AMERIKA


__ADS_3

BAB 40


BRUMMM


Mobil Drake sampai dan berhenti di depan rumah dengan Lulu sebagai supirnya. Mereka turun dan memasuki rumah tanpa banyak bicara.


Begitu mereka memasuki ruang tamu, Terra dan Joy berdiri sambil menatap curiga.


"Kau dari mana saja semalaman? Kenapa Lulu ada di sini bersamamu?" Terra menarik kerah baju Drake.


Namun Lulu buru-buru menghentikannya, "Jangan lakukan itu. Biarkan dia istirahat. Ada sesuatu yang terjadi semalam dan kalian tidak tahu itu."


"Eh??"


Terra dan Joy hanya berpandangan ketika Lulu mengantar Drake sampai kamarnya. Gadis itu meminta Drake untuk istirahat terlebih dahulu.


"Akhirnya, kita sampai di rumah. Kakak istirahat saja dulu."


"Hmm, terima kasih. Kau juga sebaiknya pulang dan istirahat. Aku akan mengurus diriku sendiri mulai dari sini," Drake menarik selimutnya.


Ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa saat itu tubuhnya memang terasa amat letih.


"Hmm. Baiklah."


Usai mengantar Drake ke kamarnya, Lulu duduk bersama Terra. Joy diminta bermain sendiri sementara waktu.


"Ada apa?" Terra sudah sangat penasaran.


Lulu bingung bagaimana cara mengatakannya.


"Kemarin sore, aku menemukan Drake pingsan di mall tempat Luna bekerja."


"Pingsan? Tumben-tumbenan.."


Lulu mengangguk, "Awalnya ku kira dia hanya pingsan biasa. Tapi,, saat itu denyut nadinya tidak bisa ku rasakan."


"Hah?? Apa maksudmu?" Terra terkejut dan bereaksi cepat.


"Setelah itu, aku membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Tapi di sana,, kondisinya sudah tidak bisa diselamatkan. Dokter mengatakan bahwa jantung Drake sudah berhenti berdetak."


"Yang benar?! S-s-se-se semalam dia dinyatakan meninggal? Jangan bercanda, dong. Kalau dia sudah mati, bagaimana sekarang dia bisa berjalan di depan kita????" mata Terra mendelik.


"Itu,,, aku juga tidak tahu. Semalam aku benar-benar sedih dan bingung. Aku takut menghadapi kenyataan itu sendirian. Di mana dia terbaring pucat di hadapanku. Tanpa adanya nafas, tanpa denyut di nadinya pula."


Lulu menyentuh dadanya sambil menggelengkan kepala dan menangis lirih.


"Tapi, begitu melihat dia bangun dan membuka mata di pagi hari, hatiku merasa senang dan bersyukur. Meskipun semua orang yang melihat dia hidup kembali menjadi ketakutan, aku tidak peduli."


Terra gemetaran. Ia sedikit kesulitan untuk mencerna cerita Lulu. Diliriknya kamar Drake dengan perasaan yang berkecamuk.


"Apakah dia memang hidup lagi atau itu hanya penampakan hantunya?"


Terra menyentuh dadanya karena tiba-tiba saja jantungnya terasa hampa.


TING TUNG


Suara bel pintu yang berdering. Rupanya Arthur datang bersama seorang pengacara yang mendapat amanat dari orang tua Joy semasa hidup mereka.


Karena Drake sedang beristirahat, Terra dan Lulu yang menemui Arthur dan pengacara tersebut. Mereka membicarakan hak asuh yang akan menggantikan orang tua Joy.


"Bibi Flora?" tanya Joy.


"Kau kenal dia, Joy?" tanya Terra.


Joy mengangguk, "Dia bibiku yang tinggal di Amerika."


"Lalu, apa dia akan baik-baik saja jika ikut bersama mereka?" tanya Lulu khawatir.


"Tenang saja, tuan Bluo dan nona Flora adalah pasangan muda yang belum mempunyai anak. Mereka akan mengurus Joy dengan baik jika dia ikut dengan mereka."


"Tapi..."


"Mereka orang-orang baik dan berpihak pada orang tua Joy. Tenang saja," kata pengacara.


"Benarkah itu Joy?"


"Bibi Flora memang baik, paman Bluo juga tidak jahat. Tapi kalau aku ikut mereka, bagaimana dengan paman Drake?"


"Eh?"


"Drake, ya? Aku rasa dia akan baik-baik saja dan ikut senang untukmu," jawab Terra.

__ADS_1


"Begitu, ya?"


"He-em."


Suasana hening sesaat.


"Oh, ya. Silahkan diminum kopinya," ucap Terra.


"Maaf ya, tuan tuan. Drake baru saja pulang dan beristirahat. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Jadi kami tidak berani membangunkannya begitu saja," sambungnya.


"Tidak apa-apa, nona. Kami bisa menemuinya lain waktu," Arthur tersenyum sambil meraih cangkir kopinya.



Kedua tamu itu pun menikmati minuman yang dihidangkan.


SLUUURRPP


"Tapi kalau ini urusan penting, mungkin kalian berdua bisa datang kembali besok untuk bicara secara langsung dengan Drake."


"Baiklah. Kami akan datang lagi besok," jawab sang pengacara seraya meletakkan cangkirnya kembali.


Lulu dan Terra mengangguk bersamaan.


••••••


WUUUSS


Di kamar Drake, beberapa benda seperti buku, pulpen, lampu meja, laptop, patung beruang dan beberapa benda kecil hiasan meja atau lemari lainnya tampak melayang-layang tak terkendali.


Untung saja, saat itu Joy sedang berada di kamar mandi sehingga tidak melihat kejadian itu.


Rupanya Drake sedang bermimpi tentang Luna. Dalam mimpinya itu ia melihat kembali kejadian kemarin saat Luna menolak dan menyakiti hatinya.


Tiba-tiba saja Drake membuka mata dan menampakkan bola mata yang berwarna hitam. Seketika itu juga, muncul gurat-gurat merah seperti otot yang menjalar di seluruh tubuhnya.


Ia berdiri dengan kepala menunduk dan tangan yang terkulai ke bawah. Namun energi di dalam kamar itu justru meningkat drastis. Semua barang yang melayang pun semakin banyak. Semuanya berputar-putar mengelilingi tubuh Drake.


Bahkan, lemari pakaian dan ranjang pun bergemeretak, bergerak-gerak seakan mereka ingin ikut melayang bersama barang-barang yang lainnya.


GRETEK


GRETEK


Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar untuk memeriksa keadaan. Rupanya memang semua benda di rumah paman Drake bergerak-gerak. Bahkan lantai rumah mereka juga berguncang.


"GEMPA!!"


TAP


TAP


TAP


Maka sambil meneriakkan adanya gempa, ia berlari dengan panik menghampiri Drake di kamarnya


"Paman! Paman! Ada gempa!!"


Sesampai di kamar, ia melihat Drake sedang melipat selimut. Entah mengapa guncangan yang ia rasakan sebelumnya tiba-tiba lenyap begitu saja ketika ia menginjakkan kaki di depan pintu kamar.


"Ada apa?" Drake menoleh dan bertanya dengan santai.


"I itu.. barusan ada gempa."


"Gempa?"


"Iya. Sesaat tadi, aku merasakan rumah ini berguncang. Bahkan semua barang di rumah juga bergetar. Tapi,, kenapa sekarang hilang begitu saja, ya?" Joy berpikir keras.


Anak itu tidak tahu, pada saat ia berlari menuju lantai atas dan berteriak memanggil Drake, mata hitam Drake lenyap seketika. Semua benda yang melayang pun kembali ke tempatnya dengan cepat.


"Sejak tadi aku tidak merasakan apapun. Mungkin itu hanya perasaanmu saja."


"Begitu ya..." Joy jadi bingung.


KLIP


Tanpa sengaja, Joy melihat sebuah patung beruang yang tergeletak di kolong tempat tidur. Kalau tidak salah, bukankah patung itu seharusnya ada di atas rak lemari? Mungkinkah benda itu jatuh saat guncangan tadi?


Diraihnya patung beruang itu dan dikembalikannya pula ke atas rak lemari yang menurutnya sedikit bergeser dari tempatnya semula. Perlahan ia menoleh pada Drake sambil berpikir.


"Tapi, paman bilang tidak merasakan apapun? Apa dia sedang membohongiku? Aku sadar betul saat guncangan itu terjadi. Bagaimana paman tidak merasakannya? Ah, aneh sekali."

__ADS_1


Joy yang melamun karena terheran-heran itu mengelap rak lemari dengan sesuatu.


Drake mendelik begitu melihat handuk kecil kesayangan yang selalu ia bawa saat olahraga pagi itu dipakai Joy untuk mengelap patung beruang dan rak lemari yang berdebu.


"Stop!"


"Eh? Kenapa, paman?"


"Apa yang kau lakukan?"


"Yang aku lakukan? Mengelap rak lemari. Apa paman tidak bisa melihatnya?"


"Bukan itu yang ku maksud."


"Lalu?"


"Siapa yang mengizinkanmu mengelap rak lemari dengan handuk milikku!"


"Oh? I ini... " Joy baru sadar.


Ternyata, ia salah mengambil handuk saat buru-buru berlari keluar dari kamar mandi tadi. Karena sekarang ia membuat kesal Drake, ia meminta maaf sambil melipat handuk tersebut.


"Ehehehe,, Ini, paman. Ku kembalikan handukmu," Joy mendekati Drake dengan takut-takut.


Apalagi saat ia melihat ekspresi kesal Drake, Joy menjadi semakin takut. Belum juga handuk itu diterima Drake, Joy sudah lari terbirit-birit sehingga handuk tersebut justru terlempar dan jatuh menutupi wajah Drake.


"KYAAAAA!!"


WUUUZZZZ


PLUK


"Grrrr, dasar anak nakal! Kenapa kau melamparkan handuk ini begitu saja??!!" Drake berteriak dari dalam kamar.


"Maaf pamaaan, aku tidak sengajaaaa!" terdengar jawaban dari Joy yang tengah berlari turun ke lantai bawah.


•••••


SIIIINNGGG


Joy melirik Drake yang duduk tenang di sampingnya.


"Paman masih kesal nggak, ya? Dilihat dari sikap tenangnya sekarang, sepertinya sih dia sudah melupakannya...."


"Jangan menatapku seperti itu. Cepat beri jawaban pada mereka," kata Drake sambil balas melirik.


"Eh? Apa?"


"Paman dan bibimu menunggu jawabanmu."


"Oh, i iya, maaf. Aku tidak mendengarnya," Joy meringis sambil menggaruk kepalanya.


Sore itu, Arthur dan sang pengacara datang kembali bersama Flora dan Bluo, keluarga Joy.


"Bagaimana bisa aku percaya kalian akan menjaga Joy dengan baik?" tanya Drake.


Wanita bernama Flora tersenyum, "Sepertinya tuan benar-benar peduli pada kemenakan. Aku berterima kasih banyak untuk itu. Selama kehilangan orang tua dan rumahnya, tuan menjaga Joy dengan sangat baik."


Joy mengangguk.


"Tapi tuan tenang saja. Aku adalah adik dari mendiang Brandon, ayah Joy. Bagaimanapun, jika Joy bersedia ikut bersama kami, kami akan menjaga Joy seperti putra kami sendiri," lanjut Flora dengan sungguh-sungguh.


Melihat ekspresi Flora yang sepertinya tulus, Drake merasa sedikit tenang.


"Jadi, Joy, bagaimana menurutmu?"


Cukup lama mereka mendengar jawaban dari Joy. Hingga akhirnya, anak itu memutuskan untuk ikut bersama paman dan bibinya.


"Baiklah. Aku akan ikut paman dan bibi. Aku percaya, paman Bluo dan bibi Flora akan merawatku seperti ayah dan ibu dulu."


Mendengar keputusan Joy, Flora tersenyum dan langsung merentangkan kedua tangannya meminta Joy datang padanya.


Karena sewaktu kecil dulu bibi Flora sering memberinya hadiah dan bersikap baik terhadapnya, Joy tidak merasa ragu lagi. Dihampirinya sang bibi dan mereka pun berpelukan.


Pertemuan sore itu akhirnya mendapatkan sebuah hasil akhir. Yaitu, Joy akan ikut paman dan bibinya yang tinggal di Amerika. Selain berjanji akan merawat Joy dengan baik, mereka juga berjanji akan memperjuangkan hak milik Joy yang dikuasai Samuel.


Lalu, apa itu artinya Drake akan sendirian lagi di rumah??


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG....


__ADS_2