
BAB 54
Drake tiba-tiba saja tertawa kencang. Ia merasa bahwa ucapan Peony benar-benar lucu.
"Bagaimana bisa kau menginginkan aku menjadi suamimu, padahal kau belum mengenalku dengan baik?"
"Hmm,, aku rasa, melihatmu saja sudah cukup bagiku untuk mengenal banyak tentangmu."
Drake diam. Ia memperhatikan wanita yang berdiri di hadapannya dengan perasaan aneh.
"Tapi bagaimana, ya? Hehe,, Bukankah kau melihat sendiri kalau aku menyukai sesama jenis?"
Peony tersenyum lalu melangkah mendekati Drake, "Kau serius? Sayangnya, aku tahu semua itu hanya tipuan yang kau siapkan untukku."
Drake membuka matanya dengan lebar.
"Pokoknya tidak. Aku tidak bisa menikah denganmu."
"Kenapa? Apa kau sudah punya pacar?" Peony mendekatkan kepalanya ke wajah Drake.
"Ituuu..."
CEKREK
Pintu rumah Drake mendadak dibuka seseorang. Siapa kiranya yang datang malam-malam begitu?
"DRAKE!! Apa kau baik-baik saja?!!"
Lulu berlari masuk ke rumah Drake dengan wajah yang sangat cemas. Tapi, ia tidak menduga akan ada seseorang di sana yang sedang berbicara dengan teman prianya itu.
CKIT
Lulu menghentikan langkahnya begitu tiba di hadapan Drake. Secara bersamaan pula, Peony dan Drake menoleh ke arahnya.
"Ma maaf, kau sedang ada tamu rupanya," Lulu gugup dan berniat pergi.
SRET
"Dia! Dia pacarku."
"Apa??" Lulu terkejut.
Drake menarik tangan Lulu dan menggenggamnya erat. Ia berusaha menunjukkan pada Peony bahwa perkataannya itu benar.
"Dia pacarmu? Sungguh?"
"Ya. Sudah ku bilang, aku tidak bisa menikah denganmu. Karena,,, karena aku sudah mempunyai pacar dan tidak mau menikahi orang lain selain dirinya," jawab Drake berusaha tenang.
Suasana menjadi Hening. Namun tiba-tiba, Peony tertawa terbahak. Hahahaha...
"Aku tidak percaya. Mana ada pasangan kekasih begitu kaku seperti kalian," selidik Peony.
"Apa maksudmu?"
"Lihat. Kalian terlalu kaku untuk menjadi sepasang kekasih. Bukankah biasanya, orang akan berpelukan dan bahkan berciuman saat mereka berpacaran?" Peony memperhatikan cara Drake menggandeng tangan Lulu. Lalu kemudian, ia menatap wajah Drake dengan penuh keingintahuan.
"Ya. Memang benar," jawab Drake.
"Kalau begitu, coba cium dia di depanku!" Peony merasa bahwa ia yang akan memenangkan perdebatan ini.
"Coba cium dia di depanku, Drake. Aku yakin, kau tidak akan berani melakukannya karena dia bukan pacarmu. Jadi menyerah saja, kau akan menikah denganku cepat atau lambat."
Pikir Peony.
Drake maupun Lulu sama-sama terkejut dengan tantangan yang diberikan oleh Peony. Meski Lulu paham akan situasi yang terjadi diantara Peony dan Drake, tapi ia dibuat gugup oleh tantangan tersebut.
Tanpa diduga, tanpa dinyana, Drake menyanggupi tantangan dari Peony.
"Baik. Kami akan lakukan itu. Tapi kau harus berjanji, jika dia menerima ciumanku dan tidak marah, kau harus menemui ibuku dan memintanya membatalkan pertunangan."
"A apa? Bagaimana bisa? Apa kau sudah gila, Drake? Kau akan menciumnya meski kau tahu betul dia bukan pacarmu?" Peony jadi takut.
"Dia pacarku. Sudah aku bilang tadi," jawab Drake sambil menarik tubuh Lulu mendekat padanya. Dipeganginya kedua lengan Lulu dengan kuat.
GLEK
Drake dan Lulu bertatapan. Mata mereka sama-sama terbuka dengan lebar sebab perasaan yang tidak beraturan. Begitupun Peony. Di satu sisi, ia merasa Drake hanya berpura-pura dan hanya menggertaknya saja.
Tapi di sisi lain, ia juga ingin melihat apakah gadis itu akan marah atau tidak saat Drake menciumnya.
Drake menelan ludahnya dan menatap Lulu tajam. Di dalam hatinya, sebenarnya Drake menunggu Peony pergi dan menyerah. Namun sudah menunggu lama, wanita itu tidak kunjung pergi.
"Apa yang kau tunggu? Sudah menyerah saja,," kata Peony.
__ADS_1
Drake menelan ludah lagi. Ia mengernyitkan dahinya sebagai permohonan maaf atas kelancangan dirinya.
Dan.....
"Ummmccc..." ditempelkannya bibirnya yang dingin itu ke bibir Lulu yang hangat.
Lulu terkejut! Benar-benar terkejut karena Drake bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Bahkan pria itu merengkuhnya seakan ia benar-benar kekasihnya.
Oh tidak. Lulu memang ingin melakukan itu dengan Drake. Namun, karena moment itu tidak pada tempat dan situasi seperti yang ia inginkan, Lulu sedikit menahan tubuh Drake.
Untuk beberapa saat ia berusaha melepaskan diri, namun tidak lama kemudian, ia pun mengurungkan niatnya karena ia juga tidak ingin Drake menikah dengan orang lain.
Seperti seorang yang berpengalaman, Lulu pun melingkarkan kedua tangannya ke leher Drake.
"Ahh??"
Peony tidak percaya. Ia memang ingin menikahi Drake, tapi jika pria itu sudah menambatkan hatinya pada gadis lain, haruskah ia mengemis untuk dinikahi?
Tidak. Tidak akan. Maka, sambil bersungut-sungut, Peony pergi dari rumah Drake dan membanting pintunya dengan sangat keras.
SLAP
Drake langsung menyingkir dari hadapan Lulu. Sedari tadi ia hanya menempelkan bibirnya saja tanpa melakukan ciuman yang sesungguhnya. Namun meski hanya begitu, jantungnya berdegup dengan kencang dan membuatnya hampir pingsan. Pandangannya pun sedikit berkunang-kunang.
Untungnya, ia hanya berpura-pura saja. Sehingga gejala alerginya cepat hilang dan detak jantungnya pun kembali ke detak yang normal.
Drake berdiri mematung dan sesekali melirik ke arah Lulu tanpa bergerak sedikitpun.
"Ma-maafkan aku...."
"Aku menggunakanmu sebagai alat untuk mengusir wanita itu dari rumahku."
Lulu yang sama saja berdiri mematung itu masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi diantara mereka. Seandainya Drake benar-benar melakukan itu tanpa adanya desakan situasi, Lulu pasti akan sangat senang.
Sejak mengenal Drake beberapa bulan yang lalu, ia ingin sekali melakukan hal ini. Tapi siapa sangka, ia harus melakukannya karena Drake sedang terdesak.
Aiihh... Seandainya ia bisa mengutarakan perasaannya sebentar saja...
"Aku berharap, kau mau memukulku karena apa yang aku lakukan barusan. Aku memang lanc,-"
HEYY...
Kenapa ucapan Drake terhenti?
KLIP
Drake membuka matanya lebar-lebar begitu Lulu berjinjit dan mendekatkan tubuhnya begitu rapat. Saat punggungnya benar-benar terdesak ke belakang, Lulu pun mendekatkan bibirnya.
"A apa yang dia lakukan? Apa dia mau menciumku???"
Batin Drake kaget.
GLEK
Lulu memejamkan mata dan mencium bibir Drake. Kali ini, ia akan merekam dengan baik moment indah seperti itu tanpa ditonton siapapun.
"Hegh.."
Mendapat perlakuan mengejutkan dari Lulu seperti itu, bibir Drake seakan dilem dengan lem super. Kedua tangannya juga menjadi kaku dan gemetaran. Mereka bingung, akankah ia memeluk Lulu saat itu juga atau tidak.
Baru lima menit berjalan, Lulu membuka mata dan terkejut dengan kelakuannya sendiri. Ia langsung melepas ciumannya dan menyingkir dari hadapan Drake dengan gugup.
Usai Lulu menyingkir darinya, Drake berusaha menguasai diri. Ia hampir benar-benar pingsan akibat dua kali berciuman.
"L Lulu.." Drake memegangi kepalanya yang pening.
"Ah, maafkan aku. Kau pasti terkejut," ucap Lulu seraya menutupi bibirnya dan mendelik lebar.
"I iya. Aku kira, kau akan marah padaku. Tapi barusan..." selain pening, Drake juga merasakan detak jantungnya yang masih lumayan cepat.
"Hik,, Barusan....." Lulu cegukan.
"Astaga, Lulu! Apa yang kau lakukan! Bisa-bisanya kau kemaruk ciumannya?! Kalau sudah begini, bagaimana sekarang kau akan menghadapi dan bertatap muka dengannya????"
Batin Lulu sambil tertunduk malu.
Drake mengangguk sambil tetap menatap kaku pada Lulu.
"Ituuu,,,"
Drake menunggu ucapan dari mulut Lulu.
__ADS_1
"Karena kau memulainya lebih dulu. Aku tidak akan menutupinya lagi. Sebenarnya... Aku menyukaimu, Drake. Maukah kau berkencan denganku?" kata Lulu akhirnya. Namun kata-katanya yang terakhir terdengar sangat lirih sehingga Drake tidak jelas mendengarnya.
"Apa? Maaf aku tidak begitu jelas mendengarnya. Bisakah kau mengulanginya?"
Merasa sangat malu untuk mengulangi ucapannya di depan Drake, Lulu pun membuat ancang-ancang. Begitu ada kesempatan, ia pun melarikan diri secepat kilat.
"T tidak. Lupakan saja,,," kata Lulu sambil berlalu.
WUUUZZZ
"Tunggu! Kau mau pergi ke mana? Bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan?" seru Drake.
NGAK
NGAK
NGAAKK
(suara gagak lewat)
Suasana kembali sepi. Drake masih berdiri mematung menatap pintu masuk rumahnya.
"Hey F5, menurutmu kenapa dia melakukan itu padaku?"
"Apakah,,, aku sudah memprovokasinya?" Drake mengerjapkan matanya beberapa kali.
••••••
Satu minggu setelah kejadian malam itu, Drake jarang bertemu dengan Lulu. Terra dan Luna pun sepertinya sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Untuk itu, Drake lebih banyak waktu untuk menulis. Ia menyelesaikan beberapa bab baru dalam novelnya.
Ketika menjelang siang hari, Drake yang sedang berganti baju itu tidak sengaja menoleh ke arah kalender yang ada di atas mejanya.
"Ah,, Sudah lama aku tidak datang berkunjung," gumam Drake.
Seperti biasanya, Drake akan berkunjung ke tempat usahanya untuk melihat perkembangan yang ada. Meski uang hasil penjualan tetap masuk ke rekeningnya setiap bulan, Drake hanya akan datang memeriksa setiap dua atau tiga bulan sekali.
Hanya sekarang ini, sepertinya sudah tiga bulan lebih ia belum datang berkunjung. Jadi, setelah selesai dengan pakaiannya, Drake bergegas turun.
Ia melewatkan jam sarapan yang sudah telat sejak tadi itu dan beranjak pergi ke dua tempat. Yaitu toko pakaian pria dan tempat pencucian baju atau laundry miliknya.
Karena pada awalnya dia juga malas mencuci pakaian yang sudah menumpuk, sebuah ide muncul di pikiran Drake. Ia membeli beberapa mesin cuci canggih dan membeli sebuah tempat untuk membuka usahanya.
Para pengunjung dapat mencuci sendiri pakaian mereka sambil menunggu dengan minum coffe atau minuman yang mereka mau.
Ada tiga mesin minuman dingin otomatis yang ada di sana. Satu untuk minuman sehat seperti jus dan teh, lalu satu untuk minuman bersoda dan kopi, yang terakhir untuk minuman beralkohol.
Ada juga stand untuk minum kopi panas dengan gelas cup. Usahanya yang semula iseng itu ternyata banyak diminati pelanggan di daerah tersebut. Mereka yang tidak punya mesin cuci pun jadi sangat terbantu.
"Selamat siang, bos," sapa salah satu karyawannya dan diikuti yang lainnya.
"Siang," Drake membalas sapaan.
Drake yang mendapat sapaan itu menjadi perhatian pengunjung. Baru sekali ini mereka melihat langsung, pemilik rumah cuci tersebut.
Tidak sedikit yang mengagumi anak muda sepertinya yang sudah mempunyai usaha sendiri.
"Ternyata pemilik rumah cuci ini masih muda, tampan dan badannya tinggi. Aku akan sering-sering menyuruh putriku untuk datang mencuci baju di sini, siapa tahu dia bisa bertemu dengan anak muda tampan itu dan saling jatuh cintaaaa " bisik seorang ibu-ibu pada ibu-ibu lainnya.
"Jangan mimpi. Anak muda tampan seperti dia pasti memiliki tipe wanita khusus yang sesuai dengan seleranya," jawab ibu-ibu lain.
"Iya, aku rasa juga begitu,," ibu yang tadi dibisiki pun setuju.
"Haih,, kalian ini. Sah-sah saja kan, bermimpi tinggi memiliki menantu sepertinya."
Xixixixi....
Drake melangkah ke mesin minuman dan mengambil dua buah kaleng kopi dingin lalu masuk ke ruang dalam. Ia duduk di kursi sofa dan membuka kaleng minumannya. Tiga karyawan yang membuntutinya pun duduk di hadapannya karena sangat merindukannya.
"Sudah lama bos tidak datang kemari, lagi sibuk ya bos?" tanya Volka penasaran.
"Hmm," Drake mengangguk sambil sedikit memajukan bibirnya. "Oh ya. Apa kalian sudah makan siang?" lanjutnya.
Cicil menggeleng, "Belum."
"Kalau begitu tepat sekali. Ambil kantung makanan yang ada di bagasi mobilku, aku membawa sesuatu untuk kalian," katanya.
"Asik! Bos Drake memang sangat mengerti kami!" Boris paling semangat. Ia langsung pergi begitu Drake menyuruhnya.
••••
BERSAMBUNG......
__ADS_1