
BAB 20
Esok paginya, orang ramai berkerumun menonton pria yang tergantung di dahan pohon.
"Sedang apa dia di sana? Apa dia masih hidup?"
"Dia mati atau tidur sih?"
"Apa dia jatuh dari langit? Bagaimana itu terjadi? Aneh sekali."
Begitulah beberapa komentar orang-orang yang menonton.
Bahkan setelah polisi datang untuk mengamankan lokasi, keramaian orang pun tidak ada habis-habisnya. Kebetulan, wanita yang semalam dibuntuti lewat di lokasi dan melihat pria itu.
"Dia, kan?" gumamnya kaget.
"Siapa?" tanya temannya.
"Semalam dia membuntutiku dan membawa pisau. Untung saja aku bisa melarikan diri. Tapi bagaimana dia berakhir di sana? Siapa yang menggantungnya di atas pohon seperti itu?" ucapnya.
"Mana ada orang yang kurang kerjaan melakukan itu."
"Lalu, siapa lagi kalau bukan orang? Apakah makhluk gaib?"
Kedua wanita itu akhirnya celingak-celinguk. Aura di sekitar mereka memang mendadak berubah. Seperti ada mistis-mistisnya. Dan pada saat mereka tengah berpelukan, tiba-tiba saja mereka berdua merasakan aura yang sangat gelap. Begitu gelap hingga terasa menyeramkan.
JREEENGGG!
Mengagetkan! Ternyata ada seseorang yang berdiri di dekat mereka dengan kaos hitam bergambar tengkorak. Pantas saja gelap!
UHUK ! UHUK!
Itu bukan makhluk gaib! Ternyata Drake yang berdiri di dekat mereka. Karena orang ramai di jalan depan rumahnya, Drake keluar dan ikut menonton.
"Wah?? Bagaimana dia bisa tersangkut di atas pohon? Pasti dia melakukan kejahatan di malam hari. Sehingga penunggu komplek sini marah dan menggantungnya di sana."
Orang-orang menoleh dan memikirkan ucapan Drake yang seperti asal bicara tapi masuk akal juga.
"Benar juga. Bagaimana dia bisa tersangkut di sana. Bukankah pohon itu sangat tinggi?"
Orang yang sedang menonton pun berkumpul mendekati Drake yang sedang bercerita. Khususnya para wanita. Entah itu muda maupun tua, semuanya tertarik untuk mendengarkan.
"Apa kalian tahu? Sudah pernah ada kasus serupa di sini. Seseorang tersangkut di tiang listrik dengan posisi kaki di atas. Usut punya usut, rupanya malam sebelumnya orang itu mencoba mengganggu wanita yang pulang bekerja tengah malam," kata Drake begitu menjiwai sandiwaranya sehingga orang-orang yang mendengar ucapannya pun mulai termakan ceritanya.
"Anak manis, anak tampan, jadi menurutmu, di jalan ini ada penunggunya?" tanya seorang nenek yang begitu senang melihat Drake yang tampan. Sampai-sampai ia mencubit pipi Drake dengan manja.
"Eh? Hehe,,, Aku hanya merasa begitu, nek," Drake sangat pandai dalam berekspresi.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin?"
"Sebenarnya, aku tinggal di situ, nek. Setiap waktu-waktu tertentu, aku merasakan seperti ada sepasang bola mata merah yang menatapku. Aku melihat ke belakang, tapi tidak ada siapapun di belakangku."
"Lantas, apa kau diganggu?" tanya seorang nona.
"Diganggu? Tidak. Aku hanya merasakan ada sesuatu di sini. Itu saja."
"Bagaimana ini, apa itu artinya komplek kita berhantu??" nona cantik lain ikut berkomentar.
"Hmm.. Aku rasa tidak. Sepertinya, hantu itu hanya mengganggu orang yang berniat jahat saja," Drake berusaha membuat orang yakin.
GGGRRRRR
Akal-akalan Drake benar-benar kocak. Bahkan polisi yang datang pun ikut manggut-manggut mendengar cerita Drake yang sepertinya cukup meyakinkan.
Maka setelah pria itu diturunkan dengan susah payah, polisi membawanya ke kantor untuk dilakukan pemeriksaan. Beberapa wanita yang melihat wajahnya, ikut ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang kelakuan pria itu.
Ternyata oh ternyata, tidak hanya sekali pria itu membuntuti wanita di malam hari. Ada korban lain selain wanita yang diselamatkan Drake semalam.
NGUUII NGUII NGUII
Iringan mobil polisi pun pergi. Orang-orang juga mulai bergegas pulang. Ketika Drake hendak melangkah pergi, tangannya ditahan oleh beberapa ibu-ibu.
"Tunggu dulu. Bukankah kau putra kedua tuan Halbert? Aku pernah melihatmu di perusahaan kami," kata seorang nona yang bekerja di perusahaan ayah Drake.
"Eh, iya benar. Setelah diperhatikan, dia memang mirip dengan putra kedua tuan Halbert. Wah, kau sudah besar ya," sahut beberapa ibu-ibu yang pernah mengenal Drake kecil.
__ADS_1
Karena seseorang mengenalinya dengan menambahkan embel-embel Halbert, akhirnya ia menjadi rebutan di kalangan para wanita.
"Anak muda, apa kau sudah punya pacar? Bagaimana kalau bibi kenalkan dengan putri kesayangan bibi?" tanya seorang bibi muda yang memegangi tangan kiri Drake.
"Eh??"
"Tunggu dulu. Cucuku juga tidak kalah cantik. Dia sekolah di SMA Gruffel. Apa kau mau berkencan dengannya?" seorang nenek tidak mau kalah. Dia memegangi tangan kanan Drake sampai rokoknya jatuh.
"O ooh! T tunggu dulu. Aku bukan putra siapa tadi, Hal.. Halbert apalah itu namanya. Bukan. Aku bukan yang kalian kira. Jadi maaf, ya. Bisakah kalian melepaskan tanganku?" Drake meringis seraya tetap mencoba bersopan santun pada ibu-ibu yang memperebutkannya.
Namun tidak ada satupun yang mau melepaskannya.
"F5, tolong lakukan sesuatu..." Drake bicara pada F5 menggunakan batinnya sambil merengek seperti anak kecil.
"Hentikan saja waktunya," jawab F5.
AHA! Benar juga!
Kenapa tidak terpikir olehnya?
Maka dengan cepat Drake mencoba menghentikan waktu.
DEP
Waktu pun berhenti. Orang-orang di sekitarnya menjadi beku seperti patung. Dengan cepat Drake melepaskan tangannya dari genggaman wanita-wanita tua itu.
Ketika hendak melangkah pergi, Drake menoleh dan memiliki ide jahil. Ia menata posisi tiap-tiap wanita itu hingga menjadi saling tarik nantinya.
"Nah, baik-baik ya bibi. Kalian harus rukun seperti ini...hehehe."
"Dasar kurang kerjaan kau."
"Habisnya, nenek dan bibi itu lucu sekali."
"Lucu?"
"Ya. Mereka mau menjodohkanku dengan putri dan cucu mereka hanya karena aku putra seorang Halbert."
"Wajar sih, mereka kan tahu seperti apa kekayaan ayahmu. Bukankah tuan Halbert sering berderma pada wanita-wanita lansia seperti mereka?" kata F5.
"Huh! Berderma apanya? Itu hanya pencitraan! Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya pria itu sama sekali tidak peduli pada putranya sendiri."
"Sialan kau. Sudahlah, aku mau pulang dan mandi."
"Ya sudah, ayok."
Begitu Drake pergi, para wanita itu terkejut karena Drake menghilang dari hadapan mereka dan sekarang justru mereka saling tarik-menarik.
••••••
SWOSSHH!
Drake sudah selesai mandi. Ia mengusap rambutnya dengan handuk putihnya sambil bersenandung.
Sebelum keluar, ia mengenakan handuk tersebut untuk menutupi bagian bawah perutnya.
SRET
Ketika melewati cermin besar di dalam kamar mandinya, ia melihat wajahnya yang sedikit kering. Ia pun meraih pelembab kulit dan mengenakannya secukupnya.
PLAK PLAK PLAK
Ia melakukan tepukan ringan pada pipinya agar pelembab yang ia pakai merata. Sambil bercermin, sesekali ia berlatih menggunakan tinju yang akan ia gunakan untuk pertandingan musim panas nanti.
Karena saking bersemangatnya ia melompat lompat, handuknya sampai jatuh melorot. Siapa sangka! Tepat saat hal itu terjadi, Luna muncul dan memekik kaget.
"KYAAAAA!!!"
Drake juga menoleh terkejut. Ia pun berteriak, "WOOOAAAHHH!!"
Luna yang tadi melihat handuk Drake melorot itu spontan berpaling dan menutup mukanya. Sedang Drake dengan cepat menarik handuknya kembali ke atas.
"Apa kau melihatnya! Apa kau melihat barang pribadiku??!!" Drake memekik gugup.
"T tidak. Aku tidak melihatnya. Suerrr!" sebenarnya Luna melihatnya sekilas. Tapi ia tidak menatapnya. Apakah itu termasuk sudah melihat?
__ADS_1
Karena situasi yang tidak mengenakkan itu, keduanya diam beberapa saat.
"Jadi, k kau sedang apa di sini?" tanya Drake kesal.
"A aku meninggalkan bajuku di sini kemarin sore. Aku datang untuk mengambilnya."
"B baju?"
Luna mengangguk masih dengan posisi membelakangi Drake.
"Kalau begitu cepat ambil."
"Eh? Iya baiklah."
Luna berjalan miring-miring seperti kepiting menuju ruang jemuran agar tidak berhadapan dengan Drake. Kemarin saat ia membantu Drake membersihkan rumah, ia merasa kegerahan karena cuaca panas.
Karena ia memiliki kebiasaan melepas bra di saat kepanasan, ia pun melepasnya sebentar lalu meletakkannya di tempat jemuran Drake kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tapi saat pulang, ia kelupaan dan meninggalkan branya di sana.
Melihat barang yang diambil Luna adalah bra berwarna pink magenta, Drake melotot, "Buset dah! Sejak kapan benda seperti itu ada di rumahku?"
"Hehehe,, sejak kemarin..." Luna menggerakkan badannya ke kanan dan kiri karena malu.
UHUK UHUK!
Drake terbatuk karena tiba-tiba saja matanya diluar kendali dan memperhatikan semangka kembar yang berguncang.
"Kenapa?"
"T tidak apa-apa. Cepat pulang sana, aku mau ganti baju," jawab Drake sambil membuang muka karena ia merasa kepanasan.
Tiba-tiba saja hidung Drake mimisan. Luna pun melihatnya dan memekik.
"Drake! Hidungmu mimisan!"
"Apa?"
Ketika Luna mendekat untuk membantu menyeka darah tersebut, Drake mundur, "T tidak perlu. Aku bisa mengurusnya sendiri."
Wah! Apa lagi ini?
Drake mimisan karena melihat semangka besar??
"Sudah, kau pulang saja."
"Eh? Apa kau benar baik-baik saja?"
"Hmm. Aku baik-baik saja," jawab Drake seraya menyeka darahnya.
"Baiklah. Kalau begitu sampai nanti. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Datang, ya," Luna bergegas keluar dari rumah Drake.
••••
GLEK
Sepi.
Drake belum juga beringsut dari posisinya. Otaknya mengulang kembali apa yang ia lihat barusan sambil terus menyeka darah mimisannya.
"Aku tidak percaya. Aku mimisan saat melihat semangka besar berguncang."
"Tapi, itu... warna magenta, ya? Ah.. Ternyata dia punya selera yang imut..."
"Dasar otak mes*m. Aku melihatmu menatap semangka itu.."
KLIP
"Jiahahaha!" Drake melompat kaget. Benar-benar kaget karena ia lupa ada seseorang yang bisa mendengar suaranya, bahkan membaca pikirannya!
"Eh? A apa yang kau katakan? Ngawur ah!" Drake buru-buru keluar dari kamar mandi dan mendekati lemari pakaianannya.
"Beehh! Detak jantungmu meningkat cepat saat benda itu berguncang di depanmu."
"Apa? Ahahahaha... Ma-masa sih?" Drake malu pada dirinya sendiri karena ketahuan masih memikirkan soal itu.
BERSAMBUNG....
...----------------...
__ADS_1
Hai readers! Baca terus yuk,, jangan lupa tinggalkan likemu,,, biar author senang dan semangat nerusin ceritanya,, hikhikhik😁