
BAB 11
SRET
SRET
SRET
Drake lembur semalaman suntuk karena membuat naskah lanjutan. Ia menggoreskan ujung pulpen di atas kertas terakhir. Kemarin, Thomas mengiriminya pesan dan memintanya segera melengkapi episode akhir di novelnya.
"Fuaahh!!! Akhirnya selesai juga!" ucapnya sambil menggeliat.
TRAK
Diletakkannya pulpen yang sudah sangat lama ada di dalam genggamannya itu. Ia menguap lebar karena kedua matanya terasa berat dan berair.
"Hooaahhhemm.. Masih ada satu jam lagi sebelum naskah itu ku serahkan pada Thomas. Sebaiknya aku tidur sebentar untuk mengisi baterai tubuhku," Drake berjalan lesu ke tempat tidurnya.
BLUK
Begitu kepalanya menempel kasur dan bantal, ia pun langsung tertidur dengan lelap. Saking lelahnya ia bekerja semalaman, Drake tidur dengan mulut yang terbuka dan sedikit mendengkur.
Saat enak-enak tidur dan terbuai dalam mimpi indah di taman sejuk Hawai, tiba-tiba saja suara keras dari ponselnya membuatnya terbangun dan terkejut setengah mati.
TING KELINTING TUNGTING
"Eh buset!! Apa itu??" Drake terduduk. Ia benar-benar terkejut sampai senam jantung.
"Hosh... Hoshh..."
Ditolehnya kanan kiri mencari asal suara. Begitu mendapatkan ponselnya, ia segera menerima panggilan.
"Mana naskahnya!!"
"Sialan kau, Thom! Masih ada satu jam lagi sebelum ku serahkan padamu! Mengapa berisik sekali!"
"Xixixi!!" terdengar suara cekikikan dari seberang.
"Apa yang kau tertawakan, heh?!! Aku mengantuk sekali, biarkan aku tidur selama satu jam," kata Drake dengan suara khas orang yang mengantuk.
"Ada berita bagus untukmu."
"Apa itu?"
"Kau pasti akan berlari kemari jika tahu berita apa itu," Thomas membuat Drake jadi tidak mengantuk lagi.
"Puih, sialan! Cepat katakan! Kau membuatku tidak mengantuk lagi."
"Dengar..."
"Ya. Buruan!"
"Sabar dong.."
"Iya iya, cepat katakan."
"Ada tawaran dari produser Will. Dia membaca beberapa lembar naskahmu, dan sepertinya dia tertarik!"
"Produser Will?"
"Ya. Kau tahu The Bloom?"
"The Bloom? Maksudmu film romansa yang booming tahun lalu itu?"
"Sempurna! Dia yang meluncurkan film itu," Thomas sangat antusias.
"Apa kau serius? Dia bilang apa saja padamu?" Drake langsung bangun dan berdiri menatap keluar jendela.
"Serius. Katanya, dia akan melihat naskah yang sedang kau lanjutkan itu. Jika menarik, dia akan memberi kesempatan novelmu untuk masuk dunia perfilman."
WIIRRR
WIIIIRRRR
Angin kesegaran seakan tiba-tiba saja menyapa Drake yang tengah bahagia. Ia tidak percaya bahwa produser perfilman itu datang ke kantor Thomas dan menawarkan hal yang tidak mudah didapatkan.
"Tunggu. Apa itu ia katakan begitu saja? Aku pikir, hal menarik seperti itu harus ada syaratnya, bukan?" Drake merasa semua itu harusnya tidak gratis.
"Tepat!"
"Haisss... kenapa tidak kau sebutkan saja langsung?"
"Itu... soalnya itu bertentangan dengan karaktermu."
"Memangnya dia minta syarat apa?"
"Hmm,,, dia ingin melakukan live wawancara denganmu saat peluncuran filmnya nanti."
"Sudah ku duga."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana? Apa kau akan mengambilnya?"
"Entahlah. Aku tidak yakin. Kau tahu sendiri karakteristikku. Huuff.. kau mengganggu waktu tidurku saja. Sudahlah. Jangan ganggu aku dulu, aku mau tidur!" Drake menutup telepon dan melemparkan ponselnya ke atas kasur.
Kemudian, ia sendiri pun menjatuhkan diri di sisi ponselnya dan kembali memejamkan mata.
••••••••
Di rumah Luna, sedang ada Tera. Gadis kuliahan itu mengunjungi kakaknya di akhir pekan.
"Hihihi,, dia belum berubah juga, ya. Aku pikir, setelah beberapa tahun berlalu ia akan menjadi dewasa..." Tera tertawa cekikikan saat mendengar cerita tentang Drake dari mulut Luna.
"Hmm.. Bahkan jika dia sedang tidur, kau bisa mendengar dengkurannya dari jarak sepuluh meter," Luna melebih-lebihkan dari faktanya.
"Yang benar? Ahahaha. Aku tidak percaya, cowok tampan macam dia mendengkur seperti itu jika tidur. Pasti akan sulit baginya mencari pendamping hidup."
"Benar sekali. Aku sendiri juga ogah mempunyai suami macam dia. Sudah malas mandi, jorok, suka mendengkur, mengupil, lalu mengorek telinga...." Luna membeberkan kekurangan Drake sambil tertawa geli.
"Ada tapinya kan? Kau lupa sesuatu.." Tera mengamati kakaknya yang dengan mudah menyebutkan semua itu.
"Maksudmu?"
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tapi dia tampan, rasa pedulinya juga tinggi, dia juga selalu melindungimu saat anak-anak geng Richard mengganggumu. Bahkan, berkat dirinyalah kita bertiga bisa hidup lebih baik seperti ini."
"Eh??" Luna terkesiap.
* flashback on *
Benar apa yang dikatakan Tera. Ia lupa soal itu. Dulu saat ia masih kelas 1 SMA, teman satu sekolah dan satu kampung dengannya yang bernama Richard selalu saja mengganggunya. Bahkan selalu menghina dirinya yang tidak bisa membeli seragam dan buku karena mempunyai ayah pengangguran.
Barulah, saat Drake datang tanpa sengaja di depan rumahnya, kehidupannya berubah. Saat itu, Drake baru saja memenangkan pertandingan MMA ilegal. Ia membawa serta uang hasil kemenangannya di dalam tas punggungnya.
Namun, karena tidak ingin pulang ke rumah, ia melangkah secara tidak pasti dan tanpa tujuan, hingga sampailah ia di pemukiman tempat Luna tinggal.
Tanpa sengaja, ia melihat ayah Luna yang sedang mengais-ngais sampah mencari benda dari plastik dan menyimpannya dalam karung.
Ayah Luna yang kelaparan dari kemarin itu pun jatuh lemas tepat di depan mata Drake. Melihat ada orang yang pingsan di depannya, tentu saja Drake tidak diam saja. Ia langsung menghampirinya.
"Paman, kau baik-baik saja??"
"Eeeehh..." jawab ayah Luna lemas tanpa tenaga.
"Paman mau minum? I ini paman, aku ada minuman," Drake buru-buru menurunkan tasnya dan mengambil botol minum dari dalamnya. Lalu membantu ayah Luna menelan minumannya.
Drake yang melihat kondisi lemah pria itu pun berkata bawa ia akan pergi sebentar untuk membeli makanan, "Tunggu di sini sebentar paman. Aku segera kembali."
Tidak lama kemudian, Drake datang kembali sambil menjinjing dua kantong plastik berisi roti dan ayam goreng.
Tepat saat Drake sedang membuka plastik makanan yang ia bawa, Luna dan Tera datang dengan wajah cemas.
"Ayah!"
"Ayah! Kenapa kau di sini? Ini sudah larut malam, mengapa belum juga pulang," seru Tera yang pada saat itu masih berusia 12 tahun.
"Maaf anak-anak, ayah belum mendapat uang sepeserpun hari ini. Sepertinya, ayah tidak bisa membelikan kalian makanan lagi hari ini."
SIIIINGGG
"Dia ayahmu?" tanya Drake.
"Iya. Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada ayah kami!" Luna mendorong Drake yang saat itu sedang berjongkok hingga jatuh terduduk.
"Eh? Ini-,"
HUGH!
Karena Luna mendorongnya, plastik ayam goreng yang ada di tangan Drake jatuh ke tanah hingga sebuah ayam gorengnya jatuh menggelinding keluar.
"Luna, bersikap sopanlah pada anak muda ini. Dia sudah membantu ayah saat ayah hampir pingsan tadi dan dia juga membelikan makanan untuk ayah," kata ayah Luna.
"B benarkah itu?"
Drake mengangguk, "Maaf karena membuatmu marah. Kalian bisa membawa ayah kalian pulang sekarang."
"Benar ayah, mari kita pulang," Luna dan Tera membantu ayah mereka berdiri dan melangkah pergi.
"Tunggu. Bawa ini bersama kalian. Aku membelinya untuk ayah kalian tadi. Tapi aku rasa, itu cukup untuk kalian bertiga."
"Hmm, baiklah. Terima kasih," Luna menerima kantong plastik berisi makanan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," Drake menganggukkan kepala sejenak.
TAP
TAP
"Tunggu, nak!" panggil ayah Luna.
__ADS_1
Drake menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Boleh tahu, di mana kau tinggal?"
"Aku?"
Ayah Luna mengangguk.
"Sebenarnya, pagi ini aku minggat dari rumah."
"Minggat? Lalu kau mau ke mana setelah ini?" ayah Luna khawatir.
"Entahlah. Aku akan melihatnya nanti," jawab Drake sambil meringis seolah tanpa beban.
"Kalau begitu, menginaplah di rumah kami barang semalam."
"Eh??"
"Ayah?? Tapi dia,-"
"Tidak apa-apa."
* flash back off *
•••••
GYUUUTTT
Sudah satu jam berlalu. Saatnya bangun dan pergi ke kantor Thomas. Drake menggeliat sambil menguap.
CLAP
CLAP
"Luna membuat sarapan apa, ya?"
Drake pergi mandi dan bersiap untuk menemui Thomas di kantornya. Ia merapikan tempat tidur dan beberapa buku serta kertas yang berserakan.
TRAK
Diraihnya sebungkus rokok dan pemantik api di atas meja sebelum ia keluar dari rumah. Setelah menutup pintu, kemudian ia melangkah menuju rumah Luna di seberang sana.
CKREK
Drake masuk ke dalam rumah Luna saat Tera sedang bersantai memainkan ponselnya.
"Eh? Kak Drake? Kau mau pergi ke mana?" Tera menatap Drake lekat-lekat.
"Menyerahkan naskahku," jawab Drake santai dan mendekati Luna di dapur.
"Ada apa?"
"Sarapan apa hari ini?" Drake bertanya tanpa basa-basi.
"Aku membuat ramen."
"Wah, kebetulan sekali. Aku sudah lapar. Beri aku sedikit, ya, hehe."
Tera tersenyum geli mendengar ucapan Drake yang tidak pernah berbelit-belit tapi selalu apa adanya.
JENG! JEEEENGGG!
Dan akhirnya, Drake yang semula mengatakan hanya akan meminta sedikit itu pun akhirnya mendapatkan semangkuk besar ramen dengan tambahan telur setengah matang, jamur dan ayam cincang.
"Makanlah. Ini khusus ku buatkan untukmu, tuan. Kalau masih kurang aku bisa ambilkan lagi," nada bicara Luna berubah sangat lembut bak putri khayangan.
"Kau serius? Aku bisa tambah lagi?" Drake heran dan menatap canggung Luna. Tidak biasanya Luna berkata lembut saat memberinya makan.
"A apa ada yang terjadi pada kakakmu, Tera? Kenapa dia tiba-tiba berubah jadi Putri khayangan yang lemah lembut?" tanyanya pada Tera.
Tera yang ditanya hanya tertawa cekikikan.
LIRIK
Luna melirik Drake dengan wajah datar.
"Sudah, aku serius. Cepat habiskan, sebelum aku berubah pikiran," nada bicara Luna kembali seperti biasanya.
"Eh,, i iya deh,,,"
Meski terdengar aneh, Drake mulai menikmati makanannya yang terasa nikmat. Diam-diam, Tera yang duduk di sofa ruang televisi itu mengamati Drake sambil tersenyum-senyum. Sudah lama sekali ia mengamati pria yang berbeda delapan tahun dengannya itu.
...----------------...
BERSAMBUNG......
Baca lanjutannya yuk...
Jangan lupa Likenya,,,👍🏻
__ADS_1