
BAB 67
Satu jam sebelum buka, sedang ada keributan di kantor utama mal tempat Luna kerja. Pitt datang menggantikan ayahnya untuk memeriksa laporan yang datang semalam tentang penyelewengan yang dilakukan Alan.
Karena kesalahan Alan terlalu mencolok, tuan Brush jadi tidak bisa menutupi kesalahan anak buahnya tersebut. Pitt yang merasa amat dirugikan itu pun marah besar dan memecat Alan saat itu juga.
Usut punya usut, Alan terbukti jelas telah menyelewengkan sebagian hasil laba dari penjualan harian mal mereka. Ia menrasfer sebagian besar uang itu ke rekeningnya sendiri untuk ia gunakan sebagai keperluan persalinan Drew nanti.
Alan yang sadar gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu menjadi semakin panik ketika mengetahui Drew hamil. Ia yang awalnya menyelewengkan sedikit uang itu pun kalap dan mengambil bagian lebih besar dalam kurun waktu yang cukup dekat karena ia pikir semuanya aman terkendali.
Rupanya, pertikaiannya dengan Drake berapa minggu lalu itu membuat tuan Halbert ingin tahu lebih banyak mengenai Alan. Ia mengutus kaki tangannya untuk menelusuri sepak terjang Alan di tempat kerja maupun di luar pekerjaan.
Hasilnya, semua terbongkar. Alan dipecat dengan tidak hormat dan diharuskan mengganti semua kerugian perusahaan jika tidak ingin masuk penjara.
Sedang kacau-kacaunya, Alan tidak sengaja melihat Luna. Ia pun menghampirinya dan menarik paksa lengan Luna lalu mendorongnya ke dinding.
BRUK
"Apa kau benar-benar hamil?" Alan mengangkat dan menekan pergelangan tangan Luna dengan kuat.
"Ah?? Sakit."
"Katakan padaku, apa kau hamil setelah bercinta denganku?!"
"Khhh! Kenapa? Apa sekarang kau ingin tahu?"
"Apa?"
"Jangan ge-er. Aku tidak hamil anakmu."
"Lalu? Mengapa Drake memberitahuku jika kau hamil dan menyuruhku bertanggung jawab?!!"
"D Drake tahu soal itu?" Luna tercengang.
"Lihat. Sekarang kau terkejut saat ku beritahu soal Drake. Kau yakin itu anakku dan bukannya anak dia??!!"
"Tutup mulutmu! Drake tidak pernah menyentuhku meski kami sangat dekat."
"Aku tidak percaya. Aku yakin kalian pernah bercinta tanpa sepengetahuanku."
PLAK
"Dasar pecundang! Kau hanya bisa menuduh orang yang tak bersalah!" bentak Luna.
"Lalu apa? Jika bukan dia, bukankah itu hasil bercocok tanamku?"
Luna diam. Ia amat membenci situasi seperti ini. Tapi ia juga khawatir soal ayahnya.
"Apa yang akan kau lakukan jika bayi ini memang anakmu? Apa kau akan menceraikan wanita itu dan menikahiku??!!" Luna sampai mendelik.
"Me.. menceraikan?"
"Cih! Kau tidak bisa melakukannya, bukan? Dasar pecundang."
Alan menekan Luna lebih kasar ke dinding, lalu ia berucap kesal tepat di depan muka Luna, "Dengar. Aku sedang pusing gara-gara dipecat hari ini. Jangan menambah pusing kepalaku dengan status bayimu yang tidak jelas siapa bapaknya."
"Lepaskan tanganmu!"
"Entah bayi itu milikku atau bukan, aku tidak akan repot-repot menanggungnya. Jangan mimpi mendapatkan sesuatu dariku. Aku tidak pernah bercinta dengan wanita hina sepertimu."
SRAKKK
Alan mendelik dan mendorong Luna ke samping hingga terjatuh. Ia pergi begitu saja tanpa merasa kasihan sedikitpun pada wanita yang pernah melalui malam bersamanya.
Bagi dirinya yang sekarang sedang jatuh, Drew dan keluarganya lah yang bisa menolongnya dari kehancuran.
•••••••
NGUK
NGEK
Lulu sedang mengayuh sepedanya pelan mencari pekerjaan di tempat-tempat yang ramai dan strategis. Begitu banyak restoran dan juga toko pakaian yang ia coba masuki dan tanyakan soal lowongan pekerjaan.
Namun semuanya sedang tidak membutuhkan pegawai baru.
"Haiihh,,, ke mana lagi aku harus mencari? Sepertinya semua tempat sudah tidak membutuhkan karyawan," ucap Lulu yang menghentikan sepeda sambil mengusap keringat di wajahnya.
Seperti kebetulan dari langit, Lulu melihat sebuah papan pengumuman di pintu masuk sebuah toko baju pria. D' Style nama yang terpampang di atasnya.
"Eh? Sepertinya toko itu ada lowongan??"
SRUK
SRUK
SRUK
__ADS_1
Lulu buru-buru memarkirkan sepedanya di depan toko dan merapikan pakaiannya agar terlihat rapi.
"Oke, ayo coba keberuntunganmu, Lulu!"
KLING
Suara lonceng penanda ada pengunjung datang, terdengar. Dua orang pria keluar dan menyambut Lulu dengan ramah.
"Apa ada yang bisa kami bantu, nona?"
"Eh? Eheheh,, i itu.. Emm..."
Kedua pria itu menunggu Lulu mengucapkan sesuatu.
"Maaf sebelumnya, aku melihat di depan toko ada pengumuman lowongan pekerjaan. Apa itu benar?"
"Ooh, kau mau melamar kerja?"
Lulu tersenyum menampakkan gigi sambil mengangguk cepat.
"Ikutlah kami ke dalam."
"Eh? Baik."
Truk,, truk,, suara sepatu Lulu saat melangkah mengikuti kedua pemuda tadi menemui atasan.
TOK TOK TOK
"Pak Zack, ada seseorang yang melamar pekerjaan. Apa kau mau menemuinya?"
"Suruh dia masuk," jawab seseorang bernama Zack yang ada di dalam ruangan.
Lulu pun masuk menemui pemilik toko. Sambil membungkuk memberi hormat, Lulu memperkenalkan namanya.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih."
Zack memperhatikan penampilan Lulu. Lalu memberinya kertas lamaran yang berisi pertanyaan data diri dan beberapa pertanyaan lainnya mengenai fashion.
"Baiklah. Cukup untuk pertanyaannya. Kau bisa meninggalkan nomor teleponmu di sini," Zack menunjuk kolom nomor telepon.
"Apakah aku diterima kerja di sini?"
"Em, soal itu. Aku akan menghubungimu lagi jika kau diterima," kata Zack.
••••••••
Satu minggu kemudian di rumah Luna,,,
DUDUDUDUDU.....
Suara senandung dududu itu terdengar dari bibir pak Gibson yang sedang mengepel lantai rumah. Untuk menghilangkan rasa bosan karena kedua putrinya belum pulang dari kesibukan sehari-hari mereka, ayah Luna dan Terra itu memilih bersih-bersih rumah tentunya.
Jika Luna bekerja sampai malam, Terra ada jam kuliahnya sampai sore. Biasanya, mereka akan berkumpul di malam hari setelah semua urusan selesai.
"Lihat,, siapa yang bisa membersihkan rumah sebaik diriku? Hmm,, rumah jadi bersih, cantik, wangi,,," pak Gibson merasa senang dan memuji dirinya sendiri.
Karena sedang sepi, ia juga meliuk-liukkan tangannya seolah sedang menari sambil memegangi tongkat pelnya. Ia bahagia, sebab semua bagian rumah di lantai bawah sudah ia bersihkan. Jadi, kini ia mulai membersihkan ruangan di lantai atas, termasuk kamar Luna dan Terra.
Karena kamar Terra dekat dengan posisinya, maka ia lebih dulu pergi ke kamar putri bungsunya itu. Pak Gibson tercengang begitu masuk ke kamar Terra. Siapa sangka, kamar tersebut amat berantakan.
Selimut belum dilipat, beberapa pakaian berserakan di atas tempat tidur, lalu ada juga kertas masker bekas pakai yang berceceran di lantai.
"Astaga anak manja itu. Kenapa dia membiarkan kamarnya seperti kandang babi?" ucap pak Gibson gusar.
Mau tidak mau, ia membereskan semua kekacauan itu.
"Huuff,,, kamar putri bungsu sudah selesai. Selanjutnya, mari kita lihat kamar si sulung,," pak Gibson melangkah ke kamar Luna.
CEKLEK
Begitu kamar itu dibuka, terpampang jelas kamar yang rapi dan amat teratur. Berbanding terbalik dengan kamar si bungsu.
"Khahh... sudah ku duga. Si sulung memang terbaik. Hahaha,," ucap pak Gibson lega.
Ia melangkah ke dalam dan mulai mengepel lantai kamarnya. Ia tidak perlu lagi membereskan barang-barang di sana karena tempat itu sudah amat bersih.
Sambil mengepel ia memperhatikan seisi kamar putrinya. Kelihatannya kamar itu terlalu sempurna dari penilaiannya.
"Hmm,, dia suka membaca?" pak Gibson menyentuh beberapa buku yang tertumpuk di atas meja.
"Baguslah, hehehe," lanjutnya.
Tanpa mencurigai suatu apapun, pak Gibson melanjutkan mengepelnya. Ia merogohkan alat pel-pelan ke bawah nakas. Sialnya, alat pelnya itu justru tersangkut sesuatu sehingga susah ditarik keluar.
"Eh? Sepertinya ada yang nyangkut??" pak Gibson mengulurkan tangannya ke bawah.
__ADS_1
Tanpa sengaja ia mendapatkan sesuatu dari bawah sana. Sebuah kotak pipih.
"Apa ini?"
Karena rasa penasarannya, pak Gibson membuka kotak tersebut. Ada sebuah amplop surat! Dari rumah sakit bersalin??
Tanpa ragu lagi, ayah dari kedua putri itu pun mengeluarkan lipatan kertas yang ada di dalamnya.
DHUAAARRR!!!
"A apa-apaan ini? S siapa yang hamil???" tangan pak Gibson sampai gemetaran karena terkejut bagai tersambar petir.
Karena nama yang tercantum di kertas itu cukup jelas, pak Gibson jadi murka. Ia buru-buru keluar dari kamar Luna dan membawa surat itu ke kamarnya.
Di kamar, ia membaca surat itu sekali lagi untuk memahami dengan benar apa isi surat tersebut. Setelah membaca ulang dan ulang, pak Gibson pun mengerti. Putri sulungnya kini tengah berbadan dua.
"Siapa yang berani menghamilinya?!!" karena amat murka, pak Gibson menggenggam kertas itu sampai kusut.
••••••
TRAK
"Kami pulang," seru Terra sambil melangkah masuk.
"Ada apa, ayah? Apa ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan? Kenapa meminta kami lekas pulang??" tanya Luna sambil melepas kalung id cardnya.
"Duduklah."
Kedua anak pak Gibson sama sekali tidak menduga, bahwa akan ada badai besar yang mengguncang rumah mereka.
Karena Luna dan Terra sudah amat penasaran juga, pak Gibson menyodorkan amplop yang ia temukan itu di hadapan keduanya.
GLEK
Luna mendelik terkejut. Wajahnya langsung pucat pasi seperti mau mati.
"Kau tahu ini apa?" pertanyaan ayah mereka itu ditujukan khusus pada Luna.
"Eh? Surat dari rumah sakit bersalin?" Terra bingung karena baru melihatnya.
"Luna, apa kau tahu itu?"
"I itu..."
"Kau pasti tahu, karena ayah menemukannya di dalam kamarmu."
"Eh?? Itu milikmu?" tanya Terra penasaran.
Luna jadi gelagapan. Ia tidak menyangka, rahasia yang ia sembunyikan baik-baik dari semua orang, dibongkar secepat ini oleh ayahnya.
Melihat ekspresi Luna yang diam mematung dan ketakutan setengah mati, Terra segera meraih surat tersebut dan membacanya. Deg! Ia mendelik tak kalah terkejutnya.
"L Luna... benarkah kau hamil???" tanyanya.
Luna tidak bergeming. Untuk bergerak pun ia amat malu. Hanya bola matanya saja yang bergerak-gerak ke kanan dan kiri karena gugup.
"Siapa ayah bayi itu?!!" bentak ayahnya.
Luna diam gemetaran. Mulutnya seperti dilem kuat-kuat.
"Siapa ayahnya? Cepat katakan, sebelum ayah memukulimu," bujuk Terra sambil menyentuh tangan kakaknya dengan lembut.
"Dasar anak tak tahu malu! Kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu di belakang ayah? Tidak tahukah kau, seperti apa perjuangan ayah membesarkanmu seorang diri??!!"
Karena ayahnya berteriak, Luna semakin takut mengakui kebenarannya. Apalagi Alan sudah menikah dan membuangnya begitu saja. Ia terus menunduk dan menghindari tatapan ayahnya.
"Katakan sekarang atau ayah akan membawamu ke rumah sakit dan meemintamu menggugurkannya!"
"T tidak. Jangan... hik.." meski Luna membenci Alan, namun ia tidak bisa benci pada bayinya juga.
"Lantas cepat katakan siapa ayah bayi itu. Apakah itu Alan?"
Luna menelan Ludah. Ia amat sulit menyebut nama seseorang yang membuangnya dengan hina. Hingga akhirnya.....
"D Drake.."
Dengan gemetaran, Luna menyebut nama Drake sebagai ayah bayinya. Oh tidak! Astaga, Luna. Mengapa kau menyeret Drake ke dalam kasusmu?
"Apaaaa?!! Drake????"
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....