
BAB 43
Setelah memastikan Peony pergi, Drake berbicara pada pemuda yang bersedia membantunya untuk bersandiwara. Kebetulan, pemuda itu adalah juniornya saat di rumah kasino milik ZuanYi.
"Kenapa kau terlihat sangat menjiwai peranmu, heh?" Drake sedikit protes.
"Hehehe,, maaf, Kak. Aku sengaja melebih-lebihkan peran penting ini, agar wanita itu percaya bahwa kau penyuka sesama," jawab Victor, nama pemuda itu.
"Ya, tapi jarimu itu bau terasi, apa kau tidak cuci tangan selama setahun?!!" Drake mendelik.
"Heh??" Victor mencium ibu jari kirinya. Ia ingat, bahwa sebelum menghampiri Drake, ia sempat membetulkan kaos kakinya yang belum ia cuci selama seminggu.
"Xixixi,, sepertinya tadi aku memegang kaos kaki sebelum kemari," jawab Victor jujur.
"SIALAN! Kau menyentuh bibirku yang berharga ini dengan ibu jari yang terkontaminasi bakteri kaos kakimu??!!"
Drake mendelik dan benar-benar kesal. Ia menarik kerah baju Victor saking jengkelnya.
"Ampun kak, aku mengaku salah," bagai pembalut, Victor jadi mengkerut karena takut.
"Haiss! Apa yang akan kau lakukan setelah bibirku ini terkontaminasi bakteri kaos kakimu?!"
"I itu,, aku tidak berani memilih.." Victor menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebagai tanda meminta ampunan.
SRET
Drake melepaskan cengkeramannya sebab beberapa pengunjung menatapnya.
"Baiklah, karena kau sudah membantuku berakting, ambil ini," Drake mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang.
"Benarkah semua ini untukku?" Victor membentangkan tiga lembar uang kertas itu seperti kipas dalam genggaman tangannya.
"Ya, ambil lah. Berkat sandiwaramu, Peony pasti tidak akan pernah mau menemuiku lagi," kata Drake.
Tanpa ia sadari, seseorang berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangannya ke depan dada. Victor melihat itu dan memberi kode lirikan mata pada Drake.
Karena Drake mampu membaca pengkodean yang dikirimkan Victor padanya, ia pun berbalik untuk melihat siapa yang dimaksud.
"Peony?" Drake terkejut betul.
"Aku sudah menduga. Itu bukan dirimu yang sesungguhnya."
"A apa maksudmu?"
"Apapun itu, aku akan memahaminya," jawab Peony mendekati kursinya tadi dan mengambil tas kecilnya yang ketinggalan.
Sambil menjinjing tas tersebut tinggi-tinggi, Peony berkata lagi pada Drake.
"Tapi harus ku akui, rencanamu itu hampir berhasil seandainya aku tidak kelupaan meninggalkan tasku ini," ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Kemudian dengan langkah anggunnya, Peony meninggalkan Drake yang kini mematung.
"Wah wah wah, sepertinya kakak kalah telak darinya," kata Victor.
Drake menoleh dan bergerak meraih uang yang sudah ia berikan pada Victor. Akan tetapi, Victor lebih cekatan dan menyembunyikan uang itu di belakang punggungnya.
HUP
"Hey, kenapa kakak mau mengambilnya lagi??"
"Kembalikan uangku. Ucapanmu barusan terdengar seperti membelanya."
"Tidak bisa, kakak sudah memberi semuanya padaku. Jadi, sesuatu yang sudah diberikan pada orang lain tidak boleh diambil kembali," jawab Victor.
"Tapi ini beda kasus," kata Drake tidak mau kalah.
"Tidak mauuu,,, ini sudah menjadi milikkuuuu,," Victor berlari menjauh dari Drake dan keluar dari kafe.
"Hey, mau lari ke mana kau bocah?!" Drake menuding-nudingkan jari telunjuknya karena kesal.
Siapa sangka, Victor justru berlari ke arah Peony yang sedang membuka pintu mobilnya di halaman parkir kafe.
"Aaah,, tolong Kakak, aku mau dirampok pria itu," katanya sok menderita.
"Heh??" Peony kaget, tapi ia tersenyum melihat Drake berlari mengejar pemuda itu.
SRAATTS
Drake buru-buru menghentikan langkahnya sebab melihat seseorang yang dijadikan tameng oleh Victor.
Drake berdiri canggung untuk sesaat lalu berbalik dan melangkah pergi. Belum sempat ia pergi, Peony memanggilnya.
"Drake...."
Aduh! Mau tidak mau ia pun berhenti melangkah dan menoleh saat wanita itu memanggilnya. Sialnya, Victor malah meringis dan mengejek Drake dari balik punggung Peony.
"Sampai bertemu lain kali. Pastinya akan ku tunggu kejutan menarik lainnya darimu," ucap Peony sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
BRUMM
Peony pun pergi. Ia senang sekali melihat semangat Drake pada awal pertemuan. Meskipun Drake berusaha membohonginya dengan hubungan palsu dengan Victor.
"Pria yang menarik. Aku pikir, dia akan menatap belahan dadaku selama mengobrol. Tapi sedikitpun, dia tidak memperhatikan itu," kata Peony sembari membetulkan pakaiannya pada bagian itu.
"Benarkah? Apakah itu artinya baru sekali ini ada pria yang tidak tertarik soal itu?" sahut Tris, asisten pribadi Peony.
"Hmm,,,"
"Tapi, bukankah tadi dia mengaku sebagai penyuka sesama jenis? Mungkinkah karena itu??"
"Semula aku percaya soal itu. Tapi setelah melihat perdebatannya dengan pemuda yang diakuinya sebagai pacarnya itu, aku jadi mengerti, mengapa dia melakukan itu."
"Eh, nona bisa mengerti?"
"Ya. Rupanya dia tidak ingin dijodohkan. Sama sepertiku. Tapi...."
"Eh, ada tapinya?"
"Tapi,,, jika dia yang dijodohkan padaku,,," Peony tersenyum malu.
"Jangan bilang, nona???" Tris menebak dalam hati.
"Sepertinya, dia seorang pria yang tidak bergantung pada kekayaan orang tuanya. Entah mengapa, setelah melihat matanya, ada sesuatu yang membuat hatiku bergetar."
"Apa itu artinya, nona sudah jatuh cinta padanya?" tanya Tris tidak percaya.
Selama ini, nona mudanya itu tidak pernah mau pergi memenuhi undangan kencan buta yang dibuatkan orang tuanya.
Namun, kali ini. Setelah melihat foto dan sedikit keterangan tentang pria bernama Drake, tumben-tumbenan Peony yang bekerja sebagai dokter itu mau meluangkan waktunya yang sibuk untuk sebuah kencan buta.
Tris mengamati wajah nonanya. Memang berbeda dari biasanya.
"Sepertinya begitu,,," jawab Peony sambil menatap ke luar jendela dan tersenyum memikirkan Drake.
•••••
TRUK
Gelas berisi bir dingin itu diletakkan dengan sedikit tekanan oleh Drake yang sudah sangat mabuk. Matanya tampak mengantuk dengan tatapan yang kosong sebelum akhirnya tumbang tidak sadarkan diri.
Beberapa orang berjas hitam sebagai petugas keamanan itu beberapa kali membangunkan Drake. Namun, karena tidak juga bangun, mereka pun memanggil bos mereka.
Begitu melihat siapa yang membuat masalah, bos yang datang itu justru tersenyum.
Setelah menyingkirkan semua gelas yang terpakai, ZuanYi mendekati mantan kekasihnya itu. Ia membelai pipi hingga bibir Drake yang sedikit terbuka.
"Kau... Sedang apa di sini..." tanya Drake dengan suara khas orang mabuk. Rupanya ia bangun karena merasakan sentuhan tangan ZuanYi.
"Kau yang datang ke mari. Kenapa pula kau yang bertanya sedang apa aku di sini?" ZuanYi tertawa kecil.
"Kalau mengantuk, tidurlah di dalam. Aku akan menyuruh anak buahku menyiapkan kamar untukmu," lanjutnya.
"Tidak. Aku harus pulang sekarang karna sudah berjanji pada mereka untuk ikut ke taman hiburan besok pagi," Drake meraih kunci mobilnya dan berdiri dengan terhuyung.
Baru saja hendak melangkah, Drake merasa mual dan berpegangan pada meja bar.
"Huwek!"
Ia memuntahkan dua botol bir yang ia minum sebelumnya.
"Kau serius mau menyetir mobil dalam keadaan mabuk?" ZuanYi mengelap mulut Drake dengan saputangan. Lalu memerintah pelayannya untuk membersihkan muntahan Drake yang ada di lantai.
"Aku tidak mabuk...Hehe,,," jawabnya dengan ekspresi muka yang benar-benar mengantuk berat. Tapi diakhiri dengan senyuman polos.
"Siapkan kamar untuknya," perintah ZuanYi pada anak buahnya.
"Baik, nyonya!"
"Arrrggh.. Kenapa aku harus membuat janji itu di hadapan ibu,,, hik!" Drake menarik ZuanYi agar berhadapan dengannya, sambil cegukan.
"Janji?"
"Kencan buta. Aku harus melakukan itu jika tidak ingin semua karyawan yang berurusan denganku dipecat," kali ini Drake memegang kedua lengan wanita itu dengan tangannya.
"Hihihi,,," ZuanYi justru tertawa mendengar cerita Drake.
"Heeh,, apa kau menertawakanku?"
"Tidak, tidak. Aku mengerti perasaanmu. Kau pasti tidak ingin melakukannya, bukan? Yaah, tapi bagaimana lagi, kau melakukan itu pasti demi seseorang."
Drake mengangguk lalu jatuh pingsan setelahnya.
••••••••
__ADS_1
DEG
Drake membuka mata dengan kaget. Ia bergegas duduk dan langsung ingat bahwa ia mempunyai sebuah janji pada Joy.
Ditengoknya jam dinding di ruangan dengan tirai jendela berwarna merah muda itu. Tunggu. Apa? Merah muda??
Drake terkejut begitu menemukan dirinya bertelanjang dada dengan sebuah tangan putih mulus yang melingkar di perutnya.
"D di mana bajuku? Heh?? Tangan siapa??" pikirnya.
Tepat saat itu juga, selimut di sampingnya bergerak-gerak. Begitu muncul wajah ZuanYi dari saja, Drake memekik kaget.
"HIIYYAA!! Ke-Ke kenapa kau tidur di sini juga??!"
"Kenapa kau bangun, Drake? Sudah larut malam, pulang saja besok pagi-pagi," kata ZuanYi sambil menguap.
Ditariknya selimut yang ia gunakan bersama Drake itu sepenuhnya. Dengan begitu tubuh Drake yang hanya mengenakan celana boxernya terpampang jelas.
Melihat pakaiannya lenyap, Drake melongo dan tanpa pikir panjang menarik kembali selimut yang dipakai ZuanYi. Untung saja, wanita itu masih berpakaian lengkap. Jadi sudah pasti, tidak ada yang terjadi diantara mereka berdua.
"Huff,, syukurlah."
Drake bergegas turun dari tempat tidur dan meraih pakaiannya yang tergantung di stand hanger dalam ruangan tersebut.
"Kau mau ke mana?" ZuanYi yang merasakan Drake turun dari ranjang itu pun ikut bangun.
"Aku mau pulang."
"Karena janjimu?"
"Yah. Aku sudah berjanji pada Joy."
"Siapa Joy?"
"Anak laki-laki yang tinggal denganku beberapa bulan ini," jawab Drake seraya mengenakan sepatunya.
Selesai memakai sepatu, Drake lantas keluar dari kamar. Namun ZuanYi memanggilnya.
"Tunggu Drake, apa kau mau pergi tanpa membawa ini?"
"Itu?"
Drake yang berhenti dan menoleh itu melihat kunci mobilnya ada di tangan ZuanYi.
"Kunci mobilmu..." digoyangkannya kunci mobil milik Drake.
Kemudian, ketika Drake datang untuk mengambilnya, ZuanYi berbuat curang. Ia menyelipkannya diantara dua semangka bening miliknya.
"Ambil lah kalau kau mau.."
GLEK
"Jangan bercanda. Berikan padaku sekarang juga," Drake membuang muka.
"Sudah ku bilang ambil sendiri."
Drake menoleh pada ZuanYi dengan kesal, "Berikan padaku atau aku pergi sekarang."
Drake balik mengancam. Biasanya, ia akan memilih pergi tanpa meladeni candaan ZuanYi.
"Aku yakin kau tidak akan melakukannya," jawab ZuanYi menantang.
Karena wanita sedang ingin bermain-main dengannya, Drake pun mendekatinya dengan berani. Didorongnya tubuh ZuanYi hingga terbaring kembali ke atas kasurnya.
Tanpa disangka-sangka, Drake mengusapkan jari telunjuknya ke bibir ZuanYi lalu turun ke leher.
"Aahh..." ZuanYi yang awalnya berpikir bahwa Drake masih polos seperti dulu, kini merasa kalau pria itu semakin pandai membuatnya terangsang.
Begitu wanita itu terbuai, Drake segera mengarahkan tangannya turun menuju belahan dada dan mengambil kuncinya.
SLEP
"Dapat!" masih dalam posisinya, Drake melempar dan menangkap kembali kunci yang sudah berhasil ia ambil alih.
"Yah, baiklah. Kau berhasil mendapatkannya dengan cara yang menakjubkan," ungkap ZuanYi.
"ZuanYi, aku dengar dari Bily ada seorang pria yang,-"
Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu kamar dan membuat ZuanYi kaget setengah mati. Dialah ZuanYan. Kakak dari ZuanYi.
Ucapan ZuanYan tidak ia lanjutkan begitu melihat seorang pria sedang berada di atas tubuh adiknya.
Karena gugup, ZuanYi segera mendorong Drake hingga jatuh terjengkang dari tempat tidur.
"Aduh!"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....