
BAB 33
Karena penasaran, Drake mengulurkan tangan kanannya ke depan dan bergerak seakan menggenggam sesuatu.
Siapa sangka, kemampuan ajaibnya dapat menembus ruang dan waktu. Gadis yang saat itu tengah mengamatinya dari jauh merasakan tangan kirinya seakan dicengkeram erat oleh tangan besar.
"Akkhh,,," gadis itu menyadari gerakan tangan Drake begitu selaras dengan apa yang ia rasakan.
Itu sakit!
Pupil matanya melebar. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang dimiliki Drake.
"Apa selama ini dia memiliki kekuatan tersembunyi? Ah! Pantas saja waktu kecelakaan itu....."
Gadis itu mengingat kembali bagaimana kecelakaan itu terjadi dalam mimpinya. Mobil itu menabrak pembatas jembatan dan terbalik. Jika semua sesuai dengan apa yang ia lihat, dalam kecelakaan itu seharusnya tidak ada yang selamat. Namun....
"Ada sesuatu yang aneh. Jika itu kecelakaan maut, bagaimana mungkin Drake dan Joy berhasil selamat? Apakah karena kekuatan dalam dirinya?"
Tiba-tiba saja cengkeraman gaib yang ia rasakan sirna. Dari tempatnya berdiri ia juga dapat melihat bahwa Drake melangkah pergi dan membuka jendela kamarnya. Ternyata, pria itu memilih untuk merokok dan tidak menghiraukannya.
Karena tidak mau mengganggu waktu istirahat Drake, gadis itu pun menutup penglihatannya dan menyudahi aksinya.
"Sshhh..." diusapnya pelan-pelan pergelangan tangan yang terasa sakit.
Meski sesuatu yang mencengkeramnya dengan erat itu tidak kasat mata, namun bekas guratan merah tanda cengkeraman kuat pada pergelangan tangannya tersebut tidak dapat disembunyikan.
•••••••
Wah!
Jalanan di sekitar komplek perumahan tempat tinggal Drake dan Luna tampak ramai. Rupanya karena pembukaan bazar amal kali ini mengusung tema Hari anak. Sesuai dengan tanggal perayaan di negara mereka. Yaitu setiap akhir minggu di bulan Juni.
Drake berlari kecil diikuti seorang anak perempuan kecil. Loh? Anak siapa yang mengikuti Drake?
Jika dilihat lebih dekat lagi, ternyata anak perempuan itu adalah Joy yang didandani menjadi perempuan. Tengah malam kemarin, Drake tiba-tiba saja mendapatkan ide untuk mengubah identitas Joy.
Ide itu terlintas di kepalanya begitu saja ketika ia menonton televisi dan melihat tayangan iklan dengan model anak yang cantik dan lucu. Jadilah, tengah malam seperti itu, ia pergi ke toko baju dan membeli beberapa setel pakaian anak perempuan.
Dan Drake juga membuat nama baru untuk Joy jika berada di luar rumah.
"Yaya! Lari cepat, kau lelet sekali," panggil Drake.
"Hosh,, hosh,, paman tolong, jangan berlari terlalu cepat. Aku tidak bisa menyusulmu," kata Joy yang menyamar menjadi Yaya.
Terra terkekeh melihat Joy yang berlari dengan imut karena pakaian yang dikenakannya. Bahkan, ia juga menambahkan kunciran dua dengan pita merah bulat.
Drake berhenti dan duduk di pinggir trotoar menunggu anak itu menyusulnya. Begitu Joy sampai di dekatnya, Drake terkekeh.
"Kau imut juga pakai baju anak cewek," bisiknya.
"Aku tidak terima kalian melakukan semua ini padaku," Joy kesal pada Drake dan Terra karena menguncir dua rambutnya.
"Hey,, mengapa tidak? Demi keselamatanmu, menurutlah pada paman Drake," Terra menepuk-nepuk pundak Joy sambil berjongkok.
Meski sedikit mengambek, Joy tetap menurut. Ia juga tidak mau mengambil resiko jika nanti bertemu anak buah pamannya.
"Hai nona cantik. Sepertinya aku baru melihatmu di sini, apa kau bukan anak sini?" seorang anak laki-laki berambut hitam dan disisir ke belakang tiba-tiba saja mendekati Joy dengan genit.
"Apa?" Joy terkejut ada anak sebayanya yang mengajak ngobrol.
Tampilan anak itu mengingatkannya pada kartun anak beralis tebal dan genit yang tayang di televisi.
Seketika itu juga Terra cekikikan dan menabok punggung Drake. Ia dan Drake tahu betul siapa anak tersebut. Anak laki-laki genit itu bernama Pican. Ia tinggal bersama neneknya karena ditinggalkan kedua orang tuanya sewaktu masih bayi.
__ADS_1
"Lihat, baru saja dia launching sudah ada saja penggemar yang datang," ucapnya geli.
Drake melirik dan berkata lirih, "Diamlah. Biarkan dia memerankan karakternya secara alami. Jangan membuatnya pesimis."
"Iya baiklah. Aku mengerti, cuma bercanda juga.." Terra cemberut.
"Ya sudah. Duduk sini," jawab Drake.
Mereka berdua pun kembali menguping pembicaraan anak-anak itu.
"Siapa namamu? Aku Pican," anak laki-laki bernama Pican itu menyodorkan sebuah permen lolipop pelangi pada Joy.
"Eh, namaku? Namaku.... Yaya," Joy menerima permen lolipop pelangi dari Pican dengan ragu-ragu.
"Nah, kalian berdua bisa berteman dan melihat-lihat bazar bersama," Drake mengejutkan kedua anak itu dengan merangkul mereka.
"Paman, apa dia anakmu?" tanya Pican.
"Bukan. Dia sepupuku."
"Oohh.. hehe.. kalau begitu aku bisa main ke rumah paman dong sekali-kali," kata Pican.
"Heh??? Tidak, tidak. Jangan main ke rumah kami," pekik Joy.
"Kenapa?"
"Em,, aku... aku..."
"Heh, lihat itu. Ada yang main musik. Ayo kita lihat," seru Terra menyela.
"Hmm, benar. Ayo kita ke sana," Drake menimpali.
Di tengah taman, ada seorang wanita yang sedang memainkan music dengan biola. Di sekelilingnya sudah banyak orang yang menontonnya.
"Eh, bukankah itu bibi Lulu?"
Drake mengamati wanita yang sedang bermain biola itu. Benar. Itu memang Lulu. Di samping Lulu berdiri, ada sebuah tempat uang yang bertuliskan untuk amal.
Tanpa membuat kegaduhan, Drake dan yang lainnya menonton pertunjukkan yang dibawakan oleh Lulu. Cukup lama hingga akhirnya Lulu selesai memainkan musik dan mendapat tepuk tangan riuh dari penonton.
"Hai, kalian juga datang kemari?" tanya Lulu menghampiri Drake.
"Hmm," Drake tersenyum "Permainan biolamu sungguh mengesankan. Apa sebelumnya kau mengambil sekolah jurusan musik?"
"Iya. Aku mengambil sekolah privat musik sewaktu duduk di bangku sekolah dasar."
"Ooohh,, pantas saja."
TRIK
Lulu meraih kotak uangnya. Karena banyak yang memberinya penghargaan atas permainannya, uang tersebut terkumpul lumayan banyak.
"Apa kakak mau menyumbang juga?"
"Aah, tentu saja," Drake meraih kantung celananya dan meraih dompet.
Dimasukkannya selembar uang yang cukup besar nominalnya.
"Terima kasih, kak."
"Hmm."
Usai bicara pada Drake, Lulu menoleh pada Joy yang menyamar menjadi Yaya. Ditatapnya anak perempuan itu dengan cermat.
"Heh??? Bukankah dia-"
__ADS_1
Drake menutup mulut Lulu dengan cepat menggunakan tangannya. Kemudian ia pun berbisik di telinga Lulu, "Dia sedang menyamar."
"Ahh??" Lulu mengerti.
"Yaya, beri salam pada bibi Lulu," perintah Drake.
"Eh? S-s-salam bibi, senang bertemu denganmu di sini," ucap Joy seraya menyincing ujung roknya. Memberi salam dengan cara bak putri istana.
"Wahahaha,,, anak manis. Siapa namamu?" tanya Lulu penasaran. Berubah menjadi siapakah Joy kali ini.
"Aku Yaya."
"Yaya? Nama yang bagus. Kau imut sekali," Lulu mencubit kedua pipi Joy dengan gemas.
"Lagi-lagi, orang menyebutku imut," Joy melirik ke kanan dengan ekspresi datar.
"Xixixi,, kau memang imut, anak manis," Lulu berkata dengan pasti di hadapan Joy.
"Dia memang manis. Sampai aku pikir aku bisa memiliki dan menyimpannya di saku. Lihat, pipi bulatnya itu membuat semua orang ingin menjilatnya" gumam Pican sambil tersenyum.
BLETAK!
"Buset ini anak, memangnya Yayaku itu permen yang bisa dijilat seenaknya! Ha?" Drake menjitak gemas kepala Pican sambil memarahinya.
"Aduuhh,, maaf paman," Pican memegangi kepalanya yang sakit.
"Haiissshh!!"
Pican tidak berani lagi menatap ke arah Drake yang sekilas di pandangannya menjadi monster.
Namun dengan begitu, kelakuan Pican itu justru membuat Terra dan Lulu tertawa geli. Bisa-bisanya anak laki-laki itu menganggap Joy sebagai permen gula-gula.
"Oh ya, tunggu sebentar, ya. Aku mau menyerahkan uang ini pada pengurus terlebih dahulu."
"Kau anggota gerakan amal ini?"
"Hmm. Begitulah."
"Kalau begitu, kalian akan menyumbangkan uang itu ke mana?"
"Jika sesuai rencana, kami akan menyumbangkannya ke rumah singgah anak penyandang kanker."
"Waah, bagus sekali. Kalian semua orang-orang yang baik dan murah hati," kata Drake.
"Terima kasih, kami hanya melakukan yang kami mampu," jawab Lulu. "Silahkan melihat-lihat lebih dulu, nanti aku akan menyusul," sambungnya.
"Baiklah."
Drake dan Terra menggiring anak-anak untuk melihat-lihat apa saja yang ditawarkan di bazar amal tersebut.
Pada saat mereka sedang melihat-lihat, dua orang anak buah Samuel melintas di depan mereka.
"Mereka?" Drake menoleh cepat dan mengawasi mereka. Lantas, ia pun meraih tangan Joy agar bocah itu aman di tangannya.
"Ada apa paman?"
"Tetap berjalan dan jangan gugup. Mereka di sini," kata Drake lirih.
Mendengar bisikan Drake, Terra pun meningkatkan kewaspadaannya. Ia takut terjadi sesuatu pada Joy nanti. Sebab dirinya yang mengusulkan untuk pergi ke bazar amal pagi ini.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....