
Hai readers,, maaf ya,, Author sibuk ngurus
daftar ulang sekolah anak & daging kurban kemarin,,
Sekarang sudah up lho.. di like ya,, 😁👍🏻
...----------------...
BAB 39
Saat mendengar jawaban dari mulut Luna itu, Drake merasakan sesak di dalam hatinya. Makin lama, rasa sesak itu semakin parah ia rasakan.
Di tengah-tengah rasa kekecewaannya yang amat dalam itu. Ia berusaha tertawa meski yang tersisa hanya kepedihan. Pada saat itu tiba-tiba saja Drake juga merasakan sakit pada jantungnya. Dipeganginya dengan erat dada bagian kirinya.
"Baiklah. Terima kasih sudah mengatakannya," jawab Drake seraya menahan rasa sakit di hadapan Luna.
Luna yang tidak melihat ekspresi kesakitan Drake itu melenggang pergi tanpa menoleh kembali.
Begitu Luna menghilang dari hadapannya, Drake menjatuhkan diri perlahan ke lantai. Memegangi dadanya seraya bersandar pada pembatas tangga.
"Aaaaachhh...." rintihnya.
Keringat dingin mengalir deras dari tubuhnya. Membasahi leher dan dahinya. Nafasnya pun tersengal dengan kepala yang sedikit berkunang-kunang.
"F5,,,, Apa itu kau? Kenapa tiba-tiba saja jantungku terasa sesak dan sakit?"
F5 tidak memberikan jawaban sehingga Drake hanya bisa bersandar lesu. Entah mengapa tubuhnya terasa amat lelah dan kesakitan.
"Apa yang terjadi denganku?"
Semakin lama, semakin susah baginya untuk bernafas. Dalam hitungan detik, Drake kelabakan di tempat duduknya sekarang. Tangannya meraih-raih ke arah pintu berharap ada seseorang yang datang dan melihatnya sekarat.
HOSH
HOSH
Nafas Drake tersengal. Tampak sekali ia kesulitan mengambil nafas. Belum lagi rasa pusing yang melandanya, Drake mengira bahwa saat itulah akhir dari kehidupannya.
Perlahan namun pasti, ia tergeletak di lantai tanpa seorang pun yang melihatnya. Mulutnya meringis dan terbuka seperti seekor ikan yang terdampar dan mendekati ajal.
Namun beberapa menit kemudian, samar-samar ia melihat seseorang datang menghampirinya sebelum ia menutup mata.
"Drake! Apa kau baik-baik saja?" suara seorang gadis yang datang membawa tabung oksigen.
Rupanya itu Lulu. Bagaimana dia bisa tahu kalau Drake ada di sana dan mengalami gagal nafas?
"Oh tidak. Semoga saja aku tidak terlambat menyelamatkan hidupnya."
Tanpa menunggu hal buruk terjadi, Lulu memasangkan alat pernapasan itu ke hidung Drake.
"Bangunlah. Ayo bangun..." pinta Lulu.
SHUSSSHH
SHUUSSHH
Beberapa menit setelah mendapatkan oksigen, Drake mendapatkan nafasnya kembali dan mencoba membuka matanya.
"Ah, akhirnya dia siuman," pekik Lulu senang.
TRAK
Ketika akhirnya Drake membuka mata lebar, ia menemukan dirinya memakai selang oksigen.
"Selang oksigen? Dari mana ini datang?" gumamnya seraya menoleh ke kanan dan kiri.
Drake tidak melihat bahwa Lulu ada di sana beberapa menit yang lalu. Bahkan sekarang, gadis itu pun masih ada di sana meski menyembunyikan dirinya di balik tangga bawah.
"Apa ada orang di sini?" tanyanya lirih.
Ternyata tidak ada orang yang menyahutinya. Meski sebelumnya ia merasakan kehadiran seseorang, Drake tidak berlama-lama memusingkannya. Ia bangun dan berjalan pelan menuju pintu keluar.
Sambil menepuk-nepuk dadanya yang masih sedikit sesak, Drake berjalan tertatih menuju parkiran. Keadaannya saat itu benar-benar seperti mayat hidup. Dengan mata yang tampak cekung, wajahnya pucat pasi disertai tubuh yang linglung.
Di lorong belakang itu, ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai pintu keluar menuju lahan parkir.
__ADS_1
GLABRUK!
Tiba-tiba saja Drake tersandung sebuah material pembatas jalan di halaman parkir dan jatuh ke dalam tong sampah dekat sana.
Saat ia mencoba bangun, terlihat sekali ia mengalami kesusahan.
"Ada apa denganku? Kenapa tubuhku tidak sejalan dengan pikiranku?"
Drake berpikir sambil berusaha bangkit. Ia tidak tahu, bahwa efek berpelukan dengan Luna beberapa saat yang lalu sangat mempengaruhi keberadaan F5.
Mungkin, jika itu hanya sebuah pelukan santai, tidak akan ada yang terjadi pada F5. Namun tadi, ia memeluk Luna dengan penuh perasaan sampai jantungnya benar-benar seperti akan meledak.
Drake ingat betul pesan F5 saat pertama mereka mengobrol. Makhluk itu menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa berciuman dengan seseorang jika tidak ingin lumpuh dadakan atau pingsan.
Tapi sekarang, ada apa dengan dirinya?
Ia tidak melewati batas apapun dan hanya memeluk Luna seraya mengungkapkan perasaannya. Mengapa sekarang berjalan saja ia harus menyeret kaki?
Setelah menyingkir dari tong sampah, Drake mendekati mobilnya. Ia meraih kunci mobil dari dalam saku celana lalu diarahkannya kunci tersebut ke lubang kunci.
TUK
TUK
Kunci tersebut tidak juga masuk ke dalam lubangnya. Kenapa bisa seperti itu? Kalau bukan salah mobilnya ya sudah pasti salah orangnya.
Aih, siapapun juga akan mengira kalau mata Drake belekan...
Pada percobaan ke seratus kali, Drake masih belum bisa membuka pintu mobilnya. Hal itu membuat Lulu yang bersembunyi menjadi heran.
"Ada apa dengannya? Bukankan tinggal masukkan kunci itu ke dalam lubang saja? Mengapa dari tadi hanya mengetuk-ngetukkan kunci itu ke tepian?"
Siapa sangka, Drake benar-benar kehilangan kekuasaannya atas tubuhnya. Ia menjadi linglung seperti orang bingung. Bahkan dalam keadaan itu, ia tidak merasakan kehadiran F5.
"F5, sedang apa kau? Apa kau bisa mendengarku? Mengapa tubuhku sulit sekali ku perintah?"
Tiba-tiba saja Drake merasa pandangannya kabur. Jantungnya berhenti berdetak dan ia pun jatuh pingsan di samping mobilnya.
GLABRUK
••••••
Alat pacu jantung beberapa kali diaplikasikan ke tubuh Drake. Dokter dan para perawat bekerja keras untuk membuat Drake bangun. Namun sayang, garis pada layar mesin pengukur detak jantung itu tidak bergelombang melainkan hanya lurus.
TUUUUUUUTTTTT......
Lulu membelalakkan matanya lebar-lebar ketika mendengar suara khas itu. Ia tidak percaya bahwa Drake meninggal begitu saja.
"A apa yang terjadi dokter?" tanyanya gugup.
"Kami minta maaf,,"
"Tidak! Tolong selamatkan dia, dokter! Aku mohon," seru Lulu sambil mendekati Drake dengan perasaan takut yang bercampur sedih.
Karena dokter sudah berusaha dan meminta maaf untuk usaha mereka yang gagal, mereka pun menyelimuti tubuh Drake dengan kain putih sampai bagian kepala lalu pergi meninggalkan Lulu.
"Khah! Khah!" suara nafas sedih Lulu.
Dengan tubuh gemetaran, gadis itu menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia menekuk lututnya hingga dapat ia peluk erat.
Cukup lama ia berkutat dengan kesedihannya. Hampir semalaman ia bersedih hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka kain yang menutupi wajah Drake.
Wajah pria itu putih, pucat dan mulai membiru. Benar-benar ciri khas tubuh orang meninggal.
Lulu memukul wajahnya beberapa kali. Semuanya terasa menyakitkan. Apakah itu artinya, ia sedang tidak bermimpi?
Terlihat jelas wajah gugupnya. Ia bahkan benar-benar takut menghadapi kenyataan pahit seperti itu.
Diusapnya pipi Drake dengan perasaan yang hancur.
"Aku tidak mengira, pelayat yang ku lihat semalam dalam mimpi, adalah untuk memperingati kematianmu, huhuhu,," Lulu mulai menangis.
Ia sedih. Sebab, ia belum sempat mengutarakan perasaannya pada Drake. Selama ini ia menyimpan semuanya karena ia benar-benar menghargai pertemanan di antara mereka.
Lulu bahkan menunggui Drake semalaman suntuk. Ia bingung, haruskah ia mengirim berita duka itu pada Luna ataupun Terra?
__ADS_1
Kalau Ya, bagaimana caranya ia memberitahu kedua gadis itu tentang kematian Drake?
Ah,, itu terlalu berat,,
••••••
Esok paginya, Lulu yang sedang terlelap dan duduk di kursi itu tersentak kaget. Ia membuka mata dengan nafas yang tersengal.
"Apakah aku sedang bermimpi?" ucapnya spontan dan buru-buru mencubit kedua pipinya.
Tapi kemudian, saat ia melihat Drake ada di depannya, rasa sedihnya muncul kembali. Ia ingat bahwa semalam dokter sudah memastikan kematian pria itu.
Lulu berdiri dan menatap wajah Drake yang semakin memucat.
"Apa kau benar-benar sudah pergi? Bukankah kau pernah mengatakan padaku, aku boleh menganggapmu sebagai saudara laki-lakiku?"
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Bagaimana aku akan menganggapmu saudara jika kau pergi begitu saja?"
Lulu bicara pada Drake dengan nada sedikit tinggi hingga beberapa perawat dan pasien yang ada di sebelahnya menoleh. Mereka semua tahu, bahwa pria yang berbaring di hadapan gadis itu sudah meninggal sejak semalam.
WUUUUZZZZZ
Angin segar berhembus memasuki ruangan dari jendela yang sedikit terbuka.
Lulu meraih tangan Drake dan menggenggamnya erat. Pada saat itu, sesuatu berwarna merah bangkit kembali dan meliuk-liuk di dalam tubuh Drake. Menggerakkan syaraf otak dan meningkatkan kinerja jantung Drake agar kembali berdetak.
"Haahhkkk!!!" Drake tiba-tiba bangun dan duduk. Ia mengambil nafas seperti baru saja kembali ke permukaan setelah tenggelam di dasar lautan selama bertahun-tahun.
Semua yang berada di sekitar sana pun berteriak heboh sambil melotot kaget. Benar-benar keajaiban Tuhan jika seseorang yang semalam sudah meninggal itu hidup kembali.
"Ahh!!! D.. D.. D Drake? Apa itu kau?" Lulu terkejut bukan main.
"Lulu? Di mana aku?" tanya Drake sambil mengusap kepalanya.
"K kakak ada di rumah sakit...." jawab Lulu sambil menangis haru.
"Di rumah sakit? Seingatku, aku sedang di,,,"
"Pssst.. Tidak perlu pikirkan soal itu, kak. Yang terpenting sekarang, kaka masih hidup, bernafas kembali dan bisa melihat dunia."
Drake sedikit bingung. Ia membaca wajah semua orang yang berdiri menatapnya. Apakah ada sesuatu yang salah??
"Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka menatapku seperti itu?"
"I itu..." Lulu enggan mengatakannya. Sebab ia juga merasa terkejut dan tidak percaya.
Tapi seorang perawat menyeletuk, "Semalam,, kau sudah dinyatakan meninggal oleh dokter."
"Benar. Bahkan tubuhmu sudah dingin dan pucat," sahut perawat lain.
"Benar. Aku juga sempat melihat keadaanmu, semalam. Kau sudah ma.. mati.." ucap seorang pria yang menunggui istrinya yang sedang dirawat.
DEG
"Aaah, kalian jangan bercanda. Mana ada orang mati hidup lagi," Drake terkekeh sambil turun dari tempat tidurnya.
"Ayo pulang," lanjutnya.
Orang-orang masih memperhatikan Drake sebab apa yang baru saja mereka lihat itu adalah hal yang di luar nalar mereka.
SRET
Drake sedikit oleng dan butuh menyeimbangkan tubuh.
"Apa kakak yakin kakak baik-baik saja dan mau pulang sekarang?" Lulu memegangi lengan Drake.
"Ya. Kenapa aku harus tetap di sini jika rumah lebih nyaman?"
"Kalau begitu duduklah sebentar. Aku akan membayar tagihan rumah sakit lebih dulu," kata Lulu.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG....