
Hai readers,,
Maap yak,, karena author lagi ngurusin acara sekolah bocah,, jadi lagi super sibuk,, belum lagi bikin gambar tiap episodenya juga nguras waktu,, soalnya author kan bikin sendiri jd nunggu mood yang bagus,,
Jadi mohon dimaklumi yah, othor juga mak mak remponk dengan seabrek gaweanπ€
Tapi tenang ya,, author usahain buat cepet ko up bab barunya,, nih buktinya,,ππ»
Yuk baca,, Dan jangan lupa, kalau udah mampir mohon tinggalin Likenya,,,π
Pliiiiiis,, jangan tinggalin author tanpa like kaliaaann.... ππ
Terimakasih,, ππ»
...----------------...
BAB 28
BLETAK!
Luna menjitak kepala Drake karena kesal. Memang benar. Sudah cukup lama Drake meninggalkan dunia perkelahian itu. Namun malam ini, pria itu mengingkari janjinya dengan sengaja.
"Aduh..."
"Cepat lepas bajumu."
Drake mengerjap dua kali dan menoleh pada Terra. Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri sambil bertanya, "A aku? Lepas baju?"
"Iyah."
"Hiehhh?? Untuk apa?" suara Drake hampir sama seperti ringikan kuda.
Luna berdiri dan mengambil kotak obat yang ada di laci kamar Drake. Kemudian ia kembali menemui Drake dan memintanya untuk melepas bajunya.
"Ayo lepas. Aku akan mengobati luka-lukamu," Luna duduk santai di samping Drake.
"T tidak, tidak. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan berkomentar," Luna memukul paha Drake.
Tiba-tiba saja, gadis itu mencoba melepaskan baju yang dikenakan Drake dengan paksa. Terra pun sampai melompong dibuatnya.
"Waaahh... ternyata kakak bernafsu juga pada Drake,,,"
Pikir Terra sambil melongo melihat pemaksaan yang dilakukan kakaknya pada Drake.
SLIP
Karena Luna begitu kuat memaksa, tanpa sengaja justru kerah baju Drake ketarik ke bawah. Tampaklah pundak dan lengan kanannya yang dipenuhi tatto.
GLEK
"Haisss. Lupakan! Aku bisa melakukannya sendiri," Drake yang gugup itu segara menepis tangan Luna.
"Heeehh?? Tidak bisa!" Luna tidak menyerah.
Karena tidak mau memperlihatkan badannya dengan sengaja di hadapan Luna dan Terra, Drake pun memilih untuk menghindar dan berlarian di dalam rumah.
"Hosh,, Hosh,,, berhenti nggak??!"
"Nggak mau!"
"Terra, bantu aku hadang dia di sana," Luna meminta Terra untuk bekerja sama dengannya.
"Uumm,, eh, aku ngantuk. Mau tidur aja," Terra mengedip pada Drake dan berlagak membaringkan diri di lantai.
Drake tersenyum dan menghindari Luna sambil cengengesan.
"Kau itu kenapa sih? Aku mau merawat lukamu, kenapa berlarian terus?"
"Boleh. Tapi aku tidak mau buka baju."
"Hufff.. baiklah. Aku hanya akan mengobati luka pada wajahmu," akhirnya Luna menyerah.
"Hmm. Kalau itu saja aku tidak apa-apa."
"Ya sudah. Cepat ke sini!"
Drake melangkah perlahan mendekati Luna yang tengah mempersiapkan diri dengan baskom berisi air serta waslap putih.
"Duduk sini," Luna menepuk-nepuk lantai di depannya.
"Ya."
KRUCUK KRUCUK.....
Luna memeras washlap putih di dalam baskom berisi air dingin itu. Kemudian ia mengelap dengan pelan luka memar di wajah Drake, khususnya bagian mata sebelah kiri yang tampak sekali lebamnya.
"Sekarang ceritakan padaku. Apa alasanmu kembali ke dunia itu?"
"Alasan?"
"Iya."
"Tidak ada."
"Bohong," Luna sedikit memberi takanan pada luka Drake.
"Ssshhh!" Drake mendesis kesakitan.
"Kau pasti bohong. Aku kenal seperti apa dirimu."
"Emm,, sebenarnya,,"
"Sebenarnya apa?" Luna membuka mulutnya saat tidak sabar menunggu Drake bicara.
"Sebenarnya, itu bukan urusanmu. Kau tidak akan memaksaku mengakui sesuatu, bukan?"
__ADS_1
"Hmm.." Luna menatap Drake sambil berpikir.
"Ayolah Lun... Aku tidak akan mati hanya karena bertarung seperti ini. Lihat, aku masih hidup dan kembali dengan selamat, bukan?"
"Issh,,," Luna memukulkan washlap ke wajah Drake lalu membuang muka dan menyembunyikan air matanya.
Untuk beberapa waktu mereka berdua pun terdiam. Drake hanya bisa menunduk dan sesekali menatap ke arah Luna.
Pada wajah gadis itu tampak jelas tersirat kekecewaan yang dalam.
"L Luna... Apa kau menangis?"
"Tidak."
"Benarkah..."
Luna kembali menatap mata Drake sambil berkaca-kaca.
"A ada apa?"
"Kau tahu bukan? Aku tidak ingin kau terluka," garis bibir Luna tampak melengkung ke bawah.
"Hmm. Aku tahu."
"Kalau kau sudah tahu, lalu apa ini namanya??" Luna kembali menekan-nekankan washlapnya ke bagian mata Drake yang memar dengan gemas.
"Adu duh,,, sakit, Luna.."
GYUUTT
Drake meraih tangan Luna cepat, "Apa kau ingin membunuhku? Hmm??"
Luna tidak menjawab dan hanya diam menatap wajah Drake. Terra yang berbaring di dekat mereka pun ikut memperhatikan dengan penasaran.
"Kau ingat bagaimana keadaanmu saat masuk rumah sakit dulu?"
"Iya, aku ingat."
"Lalu mengapa sekarang kau mengabaikan semua kemungkinan yang pernah terjadi?"
"Hmm.. Sebenarnya, selain membayar hutang pada ZuanYi, ada seseorang yang harus kulindungi," Drake akhirnya mengaku.
"Bayar hutang?" Terra ikut nimbrung.
"Yaaah. Aku harus membayar denda pada ZuanYi karena melanggar perjanjian kerja."
"Memangnya apa yang sudah kau langgar?" tanya Luna.
"Saat aku menuruti keinginanmu untuk berhenti bertarung, saat itulah aku melanggar perjanjian kerja diantara kami berdua."
"B benarkah?"
SRET
"Iya kak. Sebaiknya kau istirahat dulu saja. Lumayan kan, kau bisa tidur empat jam sebelum bekerja?"
"Eh, i iya baiklah. Aku pergi tidur dulu deh. Semalaman aku menunggu kalian pulang. Ngantuk sekali.."
Luna bergegas keluar disusul Drake yang mengantarnya sampai depan pintu.
"Emmm, Drake. Ingat ya, kali ini kau kumaafkan. Tapi jangan pernah mengulanginya lagi. Atau kau akan mati di tanganku," kata Luna seraya pergi keluar.
Drake tersenyum, "Iya baiklah."
β’β’β’β’β’β’β’
Esok paginya,,,
Saat Drake terbangun dari tidur, ia dikejutkan oleh keberadaan Joy yang duduk di atas dadanya.
"Hey, kenapa kau duduk di atas badanku?" Drake menyingkirkan Joy dari atasnya.
"Xixixixi..." Joy terus saja terkekeh sambil menyembunyikan spidol di belakang punggungnya.
"Ada apa?" Drake duduk sambil menggaruk perutnya.
"Hmm,, tidak ada apa-apa, paman,," anak kecil itu langsung berlari keluar.
HOAAHHEEMMMM...
Dengan malas, Drake menyibak selimutnya, lalu bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"Gluk gluk gluk.." suara saat ia meneguk air minum dari gelasnya.
Setelah mengambil air minum, Drake pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Dan...
TARAAAAA...
Baru saja berdiri di depan cermin, ia pun terkejut setengah mati melihat wajahnya penuh coretan spidol permanen.
Tanpa ba bi Bu lagi, Drake buru-buru keluar dan memanggil Joy dengan kesal.
"JOOOOOOYYYYYY!!!!" teriakannya menggema ke seluruh isi rumah.
Bahkan, lalat yang terbang dan mau merayap ke dinding rumahnya pun sampai terpental jauh begitu menabrak gelombang ultrasonik yang diciptakan oleh suara teriakannya.
GEDEBUK GEDEBUK
Anak yang dipanggil Drake itu berlari menuju rumah Luna sambil cekikikan.
"Eh, Joy? Tumben, pagi-pagi kemari?" Terra yang sedang mengoles selai pada roti tawar pun menoleh dan bertanya.
"Iyah,, hihihi," jawab Joy sambil meletakkan spidol permanen ke atas meja dan duduk tanpa beban.
__ADS_1
Kebetulan, Luna baru saja selesai menumis sosis. Ia menghampiri Terra dan Joy yang ada di meja makan. Sambil duduk dan menyomot sebuah roti tawar selai, ia bertanya pada Joy.
"Drake belum bangun, ya?"
"Paman sudah bangun kok."
"Eh, sudah?"
"Hihihi,,, iya."
Terra melirik curiga, "Kenapa dari tadi kau tertawa seperti itu? Apa ada sesuatu yang lucu?"
"Aku menggambar wajah paman, hehehe," jawab Joy tanpa berdosa.
"Me menggambar? Maksudmu dengan spidol itu?" Terra kaget.
"Iyah, hehehe..."
"Ini spidol permanent,,," Luna meraih dan memeriksa spidol yang dibawa Joy.
Tanpa menunggu Joy menjelaskan panjang lebar, Terra berlari ke rumah Drake meninggalkan wadah selai yang terbuka.
DRAP
DRAP
DRAP
Langkahnya yang panjang membuatnya lekas sampai di rumah Drake.
"Terra."
"Wajahmu?"
Seru mereka bersamaan.
"Joy sialan. Kunyuk kecil itu yang menggambar semua ini. Di mana dia sekarang? Huh.."
"Aku tahu di mana dia," jawab Terra sambil menahan tawa.
"Serius?"
"Hmm, tadi dia berlari ke rumah kami sambil cekikikan membawa spidol permanen."
Sebenarnya Terra benar-benar ingin tertawa saat ia melihat gambar lingkaran di sekitar mata lebam Drake. Gambar itu mengingatkannya pada binatang menggemaskan berwarna hitam putih yang gembul dan gemar menyantap bambu.
"Lalu?" pertanyaan Drake membuyarkan imajinasi Terra.
"Eh.. Lalu apa?"
"Cara membersihkannya. Apa kau tahu bagaimana cara menghapus spidol ini?"
"Oohh. Duduklah, aku akan mencari caranya dari internet."
"Hmm, baiklah. Kalau bisa cepat sedikit. Thomas memintaku datang sekarang."
Sepuluh menit kemudian, "Aha!!"
"Sudah, ya?"
"Dengan alkohol."
"Alkohol? Maksudmu, bir?"
"Ya. Yang penting kadar alkoholnya di atas 40 persen."
WUUUZZZ
Drake bergegas mengambil bir kalengan dari dalam kulkasnya, washlap dan juga cermin kecil untuk memeriksa wajahnya nanti.
"Ini. Lalu harus bagaimana lagi?"
"Digosok."
"Ambil lap, lalu lalukan seperti ini," Terra mempraktekkan.
CTEK
Karena Terra memberinya petunjuk dengan jelas, Drake langsung mempraktekkannya. Dituangnya bir ke washlap yang digunakan Luna semalam. Begitu basah, ia pun menggosoknya perlahan ke kulit wajahnya.
Sambil memperhatikannya dari cermin, Drake berhasil menghapus coretan dari spidol itu sedikit demi sedikit.
"Huff,, akhirnya,,,"
"Syukurlah."
"Terima kasih, ya."
"Hmm. Oh ya. Tadi kau bilang mau menemui Thomas? Kalau begitu ikut saparan bersama kami terlebih dahulu," ajak Terra.
"Tidak perlu. Aku sudah membuat janji dengan Thomas untuk menyarap di luar bersamanya," jawab Drake.
"Oooh,, gitu, ya? Ya sudah."
SRAK SRAK
Drake membereskan kaleng bir yang dibawanya tadi, "Aku mau mandi dulu. Sampaikan pada Joy, aku akan pergi selama beberapa jam. Tinggallah di rumah bibi Luna sementara menungguku pulang."
"Oke. Kalau begitu aku juga pulang dulu deh."
"Hmm."
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....