HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
BERKENCAN


__ADS_3

BAB 59


TING TUUNGG


Bel rumah Drake berbunyi tiga kali.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" tanyanya heran.


Baru saja ia memakai bajunya dan tengah mengancingkannya, kini ia harus turun kembali untuk melihat siapa yang datang.


KLIK


Ia membuka pintu sebab Lulu lah yang berdiri di depan pintu saat itu.


"Kenapa dia kembali lagi? Apa ada mimpi buruk malam ini?"


Begitu pintu terbuka, ia melihat nafas Lulu yang ngos-ngosan.


"Kenapa, kenapa?" Drake mendelik kaget.


"Hosh... Hosh..."


"Hey? Apa kau datang kemari dengan berlari? Mengapa nafasmu terengah-engah seperti itu?" tanyanya heran.


Yang ditanya justru tersenyum dan tiba-tiba saja menghamburkan diri dalam pelukan Drake.


"E e eh.. K kenapa? Apa ada mimpi buruk lagi??" tanya Drake cemas.


Lulu menggeleng dan masih tetap memeluk Drake. Bahkan semakin erat saja.


GLEK


Drake jadi panas dingin dibuatnya. Tubuhnya mematung dengan jantung yang berdegup kencang.


"L lalu ada apa?"


"Aku mohon, Drake. Berkencanlah denganku," Lulu memberanikan diri mengutarakan perasaannya sekali lagi.


"B berkencan?" kini Drake semakin gugup.


Lulu melepas pelukannya dan mendongakkan kepala menatap ke arah Drake.


"Kali ini, aku tidak ingin menyimpan perasaanku lagi. Sungguh! Aku menyukaimu, Drake! Ku mohon. Jadilah pacarku," ungkap Lulu dengan berapi-api.


DEG


DEG


DEG


Drake merasa aneh. Mengapa ia senang mendengar pernyataan cinta dari mulut Lulu? Apa ia juga merasakan hal yang sama untuknya?


"A aku....."


CUP


Lulu mengecup bibir Drake. Kemudian setelah itu, ia tertunduk malu sambil sesekali menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Tentu saja, mendapat kecupan manis di bibir, jantung Drake jadi naik turun seperti dipompa. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan mendebarkan yang seperti ini sejak ia mencintai Luna.


Bahkan saat terakhir kali ia menyatakan perasaannya pada Luna, ia masih dapat merasakan jantungnya berdebar.


Namun sekarang, walaupun itu bukan Luna, ia dapat merasakan hal seperti itu dari Lulu. Maka, diraihnya kepala Lulu dengan cepat dengan tangan kanannya.


Lantas ia juga merengkuh pinggang Lulu dengan tangan kiri agar lebih dekat dengan tubuhnya. Kemudian tanpa ragu lagi, ia menundukkan kepalanya dan diciumnya pula bibir gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Ummmccc!"


Lulu terkejut. Tapi kemudian ia memejamkan matanya. Ini benar-benar seperti mimpi! Drake sedang menciumnya! Apakah itu artinya dia juga menyukaiku? Begitu pikir Lulu.


Karena tubuh Lulu yang mungil, Drake dengan leluasa mendekapnya. Bahkan ia membuat gadis itu sulit bergerak dan mau tidak mau hanya menurutinya saja.


Setengah jam kemudian,,


Drake dan Lulu sudah berada di kamar tamu yang ada di lantai bawah dekat pintu masuk. Mereka sedang berciuman di dalam selimut.


Usut punya usut, ia menggiring Lulu menuju kamar tamu. Entah bagaimana ceritanya, namun alam bawah sadarnya berhasil mengendalikan pikirannya secara penuh.


Alam bawah sadar?


Ah! Mencurigakan sekali. Bukankah pikiran Drake terhubung dengan pikiran F5?


Atau jangan-jangan....


Hmm,, ini permainan!


Rupanya F5 bisa merasakan detak jantung Drake yang semakin meningkat begitu berhadapan dengan Lulu. Dari sanalah, ia tahu bahwa Drake mulai menyukai gadis itu.


Pada waktu Drake mencium Lulu tadi, F5 sempat khawatir. Ia juga merasa kesal pada Drake karena mengacuhkan segala resiko yang bisa ia terima jika berciuman dengan seorang wanita.


Pada awalnya ia khawatir jika Drake pingsan. Namun setelah beberapa menit berlalu dan Drake masih baik-baik saja, F5 pun mempunyai rencana untuk menguji kelemahan Drake dengan menyetir pikirannya.


Digiringnya kaki Drake menuju kamar tamu untuk bermesraan dengan Lulu. Ia ingin tahu, kira-kira sejauh mana kelemahan itu bisa bertahan.

__ADS_1


•••••



KLIP


Drake membuka matanya perlahan seraya melepas pagutannya. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Lulu dan menyadari bahwa mereka ada di atas tempat tidur.


"Ehem," sambil mendehem, Drake merubah posisi tidurnya menjadi telentang dan melirik ke arah Lulu yang tampak gugup.


Akan tetapi, ia masih membiarkan tangan kanannya sebagai bantalan kepala Lulu. Sebab, jujur saja, untuk bergerak saja ia merasa amat gugup. Lantas di sampingnya, wajah Lulu bahkan terlihat kemerahan karena tersipu malu.


Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam mematung dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Drake yang biasanya bersikap sangat santai itu kini mendadak cool.


Karena cukup lama belum ada yang membuka suara, Drake pun berinisiatif.


"Dasar bodoh, kenapa kau pergi ke rumah seorang pria malam-malam begini? Apa kau tidak takut jika aku berbuat macam-macam padamu?" Drake bertanya dengan gerakan tangan yang kaku


"A aku... Tidak takut."


Drake menoleh cepat, "Aah,, seperti itu.."


Mereka kembali diam untuk beberapa saat. Tapi Lulu kembali bertanya sebab ia masih penasaran mengenai jawaban Drake.


"Em, Drake."


"Ya?"


"Bolehkah aku bertanya?"


"Soal apa?"


"Barusan itu. Apakah kau melakukannya dengan kesadaran penuh?"


"Aah. I itu. Aku pasti mengejutkanmu. Ehehe,," Drake menoleh pada Lulu sekilas lalu kembali lagi menatap langit-langit kamar.


"I iya, sedikit."


Mereka diam lagi.


"Lalu, bagaimana?" lanjut Lulu sambil menggoyangkan telapak kakinya ke kanan dan kiri berlawanan arah.


"Soal itu, ya? Hmm, apa kau yakin soal perasaanmu itu?" tanyanya lagi.


Lulu mengangguk, "Hmm. Sangat yakin! Aku sudah lama menyukaimu. Sekarang aku tidak akan lagi menutupinya."


"Eh? Begitu ya? Kau bahkan tidak berpikir kembali dan langsung meneriakkan jawabanmu..."


"Hihi,,, maaf, aku terlalu bersemangat," Lulu benar-benar sedang bahagia. Ia menegaskan huruf terakhirnya dan menggigit lidahnya cukup lama.


Drake menoleh sebentar pada Lulu, lalu mendehem perlahan untuk membuka kata.


"Ehem, karena aku sudah menciummu, apa itu artinya aku harus berkencan denganmu?"


"Tentu," jawab Lulu dengan mata berbinar-binar.


Drake tertawa kecil. Ia berpikir sejenak tentang kelemahannya soal ciuman. Pada saat pertama ia berciuman dengan Lulu, ia masih ingat betul. Saat itu, kepalanya sedikit pusing dan pening berkunang-kunang hingga mau pingsan.


Namun untuk ciuman yang kedua kalinya ini, ia tidak merasakan gejala apapun. Bahkan meski ia bertukar saliva dengan Lulu, tidak terjadi apapun pada tubuhnya.


"Drake??"


"Eh??"


"Kau melamun, ya?"


"T tidak, tidak. Aku hanya merasa keterlaluan karena menciummu dengan tiba-tiba," Drake tersenyum.


Karena Lulu terus menatapnya dengan harapan tinggi, akhirnya Drake memberikan jawabannya.


"Baiklah, karena kita sudah melangkah sedikit lebih jauh, tidak ada salahnya jika melakukannya. Caahh! Mari kita coba berkencan."


"Sungguh??" Lulu tersenyum malu-malu sambil menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya. Melihat itu Drake terkekeh.


"Kenapa kau bersembunyi? Tunjukkan wajahmu padaku."


GYUUUTT


Lulu menurunkan selimut dari wajahnya perlahan sedikit demi sedikit. Dengan wajah yang tertutup saparuh, ia mengintip keluar dan menatap Drake.


"Ahahaha,, kau mau bermain denganku?" Drake memiringkan badannya menghadap Lulu kembali dan bersiap menggelitiknya.


"Tidak, tidak. Jangan menggelitikiku. Baiklah akan ku buka," jawab Lulu salah tingkah.


Ia benar-benar grogi di depan Drake. Bagaimana tidak? Saat itu mereka berada di sebuah ranjang ukuran satu orang dan tidur bersama. Bahkan mereka juga berbagi selimut yang hangat.


Bayangkan saja? Bagaimana sempitnya ranjang itu jika dipakai dua orang dewasa. Karena sekarang mereka telah resmi berkencan, ranjang itu berasa semakin sempit saja!


"Em, Lulu. Karena sudah larut malam,, sebaiknya kau tidur saja di sini. Besok aku akan mengantarmu pulang," kata Drake.


"Eh?"


"Sekarang tidurlah. Aku akan pergi setelah kau tidur."

__ADS_1


Namun siapa yang bisa tidur jika di sampingnya ada seseorang yang disukainya dan baru saja menerima perasaannya?


Satu jam kemudian,,,,


Aih, Lulu tidak bisa tidur. Berulang kali ia menggeser pantat dan mengganti posisi tidurnya, namun tetap saja ia masih terjaga dengan mata yang bulat sempurna.


"Kau masih belum tidur?"


"Hmm.."


SRET


"Kalau begitu aku akan keluar sekarang. Tidurlah dan selamat beristirahat," Drake turun dari ranjang dan membetulkan selimut Lulu.


"Mimpi indah...." lanjutnya.


••••••


TRAK


Keesokan hari di tempat kerja Luna. Tampak Luna sedang bergegas menemui Alan begitu jam istirahatnya datang. Ia membawa bekal makanan untuk ia makan bersama Alan.


Dicarinya Alan di ruangannya. Namun mejanya kosong. Ia pun mendekati meja Alan sebentar untuk menulis pesan pendek.


SRET SRET


"Mari bertemu di kantin."


Ketika pesan di kertas kecil itu sudah ia tulis, tanpa sengaja ia melihat sebuah paper bag di bawah meja kerja Alan.


"Eh? Apa ini?"


Karena penasaran, Luna meraih paper bag tersebut dan melongoknya. Ia tidak menyangka, ternyata beberapa ikat surat undangan pernikahan ada di dalamnya.


DEG


Luna buru-buru mengambil dan memeriksanya.


"I ini kan?" Luna yang terkejut dan syok itu pun langsung teringat ucapan Drake kemarin soal pernikahan Alan.


Ternyata benar!


"Dia akan menikah? Bagaimana mungkin?" suara Luna bergetar.


Tanpa menunggu lama, ia langsung meninggalkan ruangan tersebut dan pergi mencari Alan dengan perasaan yang masih belum percaya.


Ketika ia coba mencarinya ke kantin lewat tangga darurat, tanpa sengaja ia melihat Alan sedang berciuman panas dengan seorang wanita di salah satu sudut tangga.


Dengan mata kepalanya sendiri, kini Luna melihat semuanya. Ia begitu marah pada Drake saat temannya itu memberitahunya soal perselingkuhan yang Alan lakukan. Bahkan ia mengumpat dan membencinya sampai ke ubun-ubun.


Namun sekarang setelah melihatnya sendiri, ia baru percaya akan semua cerita Drake.


"Apa kalian tidak bisa berciuman di rumah saja? Aisss,, suara kecipak bibir kalian mengganggu orang lewat," Luna mencoba tenang namun suaranya tetap bergetar.


Tentu saja Alan dan Drew amat terkejut mendengar suara Luna yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.


"L Luna?" Alan berbalik kaget.


Luna diam saja menatap keduanya. Tampak sekali bekas lipstik Drew yang belepotan di bibir Alan.


"Cih! Menjijikkan sekali,," ucapnya menahan tangis dan amarah.


"L Luna, tunggu. Aku bisa jelaskan semua ini," Alan meraih tangan Luna dan memintanya untuk mendengar penjelasan.


"Apa yang ingin kau jelaskan?"


"Dengar, Luna. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di sini," jawab Alan asal.


"Tidak sengaja bertemu, ya? Dasar pembohong."


"Apa?"


"Aku sudah tahu semuanya. Jadi tidak perlu bersandiwara lagi di depanku. Dasar wanita tidak tahu malu, beraninya kau menggoda tunangan orang dan berciuman di tempat umum."


"Kau dan wanita di belakangmu! Kalian sama-sama menjijikkan!" lanjutnya seraya menepis kasar tangan Alan.


Alan dan Luna saling menatap. Ada kilatan petir di kedua bola mata mereka. Baru pertama kali ini, Luna benar-benar muak melihat Alan berdiri di hadapannya seperti itu. Ketika ia memutuskan untuk pergi, Alan angkat suara.


"Ya. Kau benar! Aku akan menikah dengannya. Dengan wanita yang benar-benar aku cintai. Cih! Menjijikkan katamu? Bukankah kau lebih menjijikkan? Bisa-bisanya kau menyebut nama pria lain saat berhubungan badan denganku waktu itu."


"A apa????"


"Kau tidak sadar, bukan? Aku tidak menyangka, selama kita berpacaran, kau justru menyimpan perasaan pada pria lain!"


Mata Luna bergerak-gerak karena tidak bisa berkata-kata lagi. Ia amat marah pada Alan, tapi beraninya pria itu memutar fakta dan mencari kesalahan lawan bicaranya. Belum lagi tatapan sinis dan merendahkan dari Drew membuatnya amat sangat gila.


Tanpa berpikir panjang, Luna akhirnya pergi dengan kepala seperti akan meledak.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2