
BAB 64
Pukul 07.33....
Selagi Drake mandi, Lulu membuat jus pisang dan susu. Ia juga membuat spaghetti bolognes kesukaannya.
Hari ini, ia amat bahagia. Ia masih tidak percaya jika semalam, Drake menginap di rumahnya. Meski mereka berdua tidur di kamar yang terpisah, namun ia tetap merasa senang karena Drake ada di rumahnya dan hanya beberapa langkah di dekatnya.
"Kau sudah mau pergi?"
"Hmm. Luna memintaku bertemu siang ini," jawabnya jujur.
"Kalau begitu tinggallah sebentar lagi dan temani aku sarapan."
Drake mendekat dan melihat apa yang sedang dimasak Lulu.
"Wah,, Kau membuat spaghetti?" tanyanya tidak percaya.
"Iya."
"Kau bisa membuatnya?" tanyanya masih belum percaya.
"Tentu, ini makanan kesukaanku saat tinggal bersama paman dan bibi."
"Kelihatannya lezat," Drake berusaha menampakkan kewajaran.
"Aih,, kenapa dia harus memasak di hari pertama kencan? Terakhir kali mencicipi masakannya, aku sampai tidak bisa makan seharian. Auggghh! Sepertinya, mulai sekarang aku harus beradaptasi dengan semua ini...."
Pikir Drake. Ia masih ingat betul saat pertama kali ia mencicipi masakan Lulu. Bahkan saat itu ia terpaksa melepeh makanannya yang kemudian ia sembunyikan ke dalam vas bunga.
Karenanya, Drake celingak-celinguk mencari benda yang nantinya bisa ia gunakan untuk membuang makanannya.
"Nah, sudah matang. Coba rasakan, baunya harum, bukan?"
"Iya,,,, baunya harum sekali, ehehe,,"
Di ruang makan lantai bawah, Drake menemani Lulu untuk menyantap sarapan pagi. Sebenarnya ia sedikit ragu saat hendak menyantap makanannya.
"K kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Drake salah tingkah.
"Makanlah..."
"Apa?"
"Aku akan makan setelah melihatmu mencicipinya lebih dahulu," jawab Lulu sambil tersenyum.
Karena Drake tidak ingin menyinggung perasaan Lulu, ia mulai menggulungkan garpunya ke spaghetti.
"Baiklah, mari kita makan."
Dengan perlahan, Drake membuka mulutnya. Kemudian ia pun menyuapkan segulung penuh spaghetti tadi dengan ragu.
HAP
Sambil memejamkan mata, Drake mengunyahnya. Mengunyah dengan pelan, lagi dan lagi. Begitu ia menemukan rasa, dibukanya kedua matanya. Ia menatap Lulu dengan wajah amat datar.
"Bagaimana?"
"Ini sungguh lezat!" pekiknya tidak percaya.
"Lezat? Benarkah?"
"Hmm,, aku tidak tahu kalau kau pandai membuat spaghetti," Drake jadi semangat makan.
Pada saat Drake sedang bersemangat, ia tidak tahu kalau roh tersesat yang menontonnya makan jadi merasa lapar dan meminta Lulu untuk memberikan porsi yang sama untuk mereka.
"Berikan itu pada kami juga!"
Setelah menelan ludah karena menonton Drake makan, mereka berseru serempak.
"Jangan sekarang..."
"Tidak mau. Kami mau sekarang."
Karena semuanya menginginkan sarapan yang sama seperti Drake , Lulu tidak punya pilihan.
"Sebentar, ya..."
Drake mengangguk sambil menyeruput jus pisangnya. Ajaib! Jus pisang susu itu juga terasa enak di lidahnya.
TRAK
TRAK
Lulu meletakkan enam piring berisi spaghetti di atas meja.
"Eh buset, Lulu! Apa kau menyuruhku menghabiskan semuanya?"
Lulu menggeleng.
"Lalu?"
"Ini untuk mereka," jawab Lulu sambil duduk kembali di sebelah kanan Drake.
Tepat setelah Lulu duduk, enam buah kursi di hadapan mereka bergerak mundur seakan ada seseorang yang menggesernya ke belakang dan duduk di sana.
__ADS_1
GLEK
"Uhuk! Uhuk!"
Drake tersedak hingga sehelai mie spaghetti keluar dari hidungnya.
"Oh, Drake! Apa kau baik-baik saja," Lulu jadi cemas.
"A aku baik-baik saja,, Uhukk,,," Drake membersihkan mie spaghetti yang keluar dari hidungnya tersebut dengan cepat.
"Sungguh tidak apa-apa?"
"Hmm," Drake mengangguk. "Ngomong-ngomong, Lulu. Apa mereka ikut makan bersama kita?" lanjutnya kemudian.
"Benar. Maaf ya, Drake, aku membuatmu terkejut. His, dasar kalian, sudah ku katakan jangan sekarang," Lulu meminta maaf pada Drake lalu lanjut memarahi para roh tersesat.
"T tidak apa-apa, Lulu. Aku hanya terkejut saja karena aku sama sekali tidak bisa melihat mereka di sini dan hanya melihat kursi-kursi itu bergerak."
Drake berhenti makan dan terus minum air putih segelas penuh.
"Kalau begitu, apa kau mau aku membukanya?"
"Eh?? Membuka apa?"
"Mata batinmu."
"Mata batin?"
"Ya. Jika aku membukanya, kau akan memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasat mata, sama sepertiku."
"Apa? Eheheh,, melihat makhluk katamu?"
"Iya. Apa kau mau mencobanya?"
Drake memikirkannya sebentar. Jika dipikir-pikir, selama ini ia menghukum atau menjahili orang dengan kemampuan tak kasat matanya. Mengapa kini ia tidak mencoba tawaran Lulu?
Begitu memikirkannya, ia melihat garpu dan gelas mulai melayang di hadapannya seakan sedang digunakan.
"Baiklah. Ayo buka mata batinku. Aku ingin melihat berapa banyak makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarku," jawabnya dengan mimik muka yang serius.
"Kau yakin?"
"Yakin."
"Tapi janji, ya. Kau tidak akan jatuh cinta pada mereka setelah kemampuan ini kau dapatkan?"
Drake mengangguk, "Tentu saja."
••••••
Usai Lulu mengusap kedua matanya yang terpejam, Drake merasakan ada kilatan cahaya yang melintas di depan retina matanya.
"Sekarang?"
"Ya. Bukalah."
Drake membuka matanya pelan, sedikit demi sedikit. Sejujurnya, ia masih tidak tahu, apakah pilihan membuka mata batinnya ini benar atau salah. Namun, saat matanya terbuka lebar, begitu terkejutnya ia ketika meja makan tempat ia makan bersama Lulu yang semula sepi kini penuh dengan wanita-wanita cantik.
Bahkan wanita-wanita itu melambaikan tangan dan menyapa Drake dengan semangat.
HAII... DRAKE....
"Mereka roh tersesat yang kau katakan tadi?" tanya Drake melongo.
"Ya. Mereka semua roh tersesat yang aku ceritakan."
"Kenapa tidak satupun dari mereka berwujud mengerikan? Mereka justru,,"
"Mereka justru terlihat cantik, bukan?" Lulu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Iya. Mereka semua cantik," jawab Drake spontan.
Tapi sedetik kemudian, ia sadar akan Lulu, kekasihnya, "Ooh?? M maksudku, meskipun mereka cantik, tidak ada satupun dari mereka yang mampu menggantikanmu."
"Pffttt!" Lulu merasa geli. Ia tertawa dan disusul suara cekikikan para roh.
"Kenapa tertawa?" Drake bingung.
"Kau belum melihat wujud asli mereka saja. Jika mereka sedang marah, mereka akan menampakkan wujud asli sepertimu," bisik Lulu.
Drake melongo mendengar ucapan Lulu. Ia tidak menyangka, gadis manis dan imut seperti Lulu mampu menghadapi makhluk sepertinya sebanyak ini seorang diri.
"Aih aihh.. dia menggemaskan juga ternyata. Aku penasaran, apakah dia pernah tidur dengan seseorang?" tanya roh biru yang suka penasaran.
"Benar, benar. Kalau belum, boleh tidak kalau aku meminjamnya untuk jadi teman tidurku semalam saja? Hihihi,," sahut roh merah dengan genit.
Enam roh itu, memiliki sifat dan warna rambut yang berbeda. Ada roh merah yang genit dan mesum, roh biru yang blak-blakan dan suka penasaran, roh kuning si paling ceria, roh putih si introvert, roh pink kekanakan dan roh coklat yang dewasa dan kalem.
"Sudah hentikan lelucon kalian. Drake, bukankah kau harus pulang sekarang?" ucap Lulu cemas dan mengingatkan Drake untuk pulang.
"Kenapa kau menyuruhnya pulang? Apa kau takut dia akan jatuh cinta padaku?" roh merah menggoda Lulu lagi.
"Apaan sih?"
"Sudah cukup teman-teman, hentikan lelucon kalian sekarang. Em,, Tenang saja Lulu, mereka hanya bercanda," roh coklat yang lebih dewasa itu mencoba menenangkan perasaan Lulu.
__ADS_1
Karena roh coklat selalu bersikap tenang, maka Lulu pun tersenyum. Ia memaklumi sikap blak-blakan yang dimiliki para roh.
"I iya, baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Aku akan meneleponmu nanti malam," kata Drake.
"Hmm. Sampai jumpa.."
•••••
KLIK
KLIK
Drake masuk ke dalam rumahnya dan melihat Luna sudah menunggu di dalam.
"Apa kau sudah lama menungguku?" tanyanya sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja.
"Tidak. Aku baru saja tiba," jawab Luna bohong. Sebenarnya sudah sejak pagi ia ada di sana.
"Kalau begitu, katakan saja apa yang ingin kau katakan," Drake duduk di kursi sambil melepas satu kancing paling atas karena merasa gerah.
Luna diam.
"Apa kau sudah mengetahuinya?"
"Mengetahui? Soal apa?" Drake berusaha untuk pura-pura tidak tahu."
"Masalahku, apa kau tahu?"
"Masalah?"
Luna menatap Drake, "Kau tidak tahu? Lalu mengapa kalian berkelahi saat itu?"
"Aahh.. Soal Alan?"
"Ya. Kenapa waktu itu kau memukulnya?"
"Emm. Bukankah kau menangis waktu itu karena baru saja putus dengannya? Eh... Apa bukan, ya??" Drake berlagak bodoh.
Luna menundukkan kepala. Ia merasa jika Drake belum mengetahui masalahnya. Hanya saja, sampai saat ini ia masih penasaran, apa maksud dari perkataannya waktu itu. Namun, ia merasa sangat malu untuk menanyakannya.
Dilain sisi, Drake menatap Luna lembut. Ia sengaja berbohong, sebab menunggu Luna menceritakan semua masalahnya atas kemauannya sendiri.
"Ya. Kami sudah putus," itu saja jawaban dari mulut Luna.
Melihat gadis itu murung, Drake pun bertanya sambil menyentuh pundak kiri Luna, "Apa kau baik-baik saja? Jika ada masalah yang sedang kau hadapi sekarang ini, katakan saja padaku. Aku akan berusaha membantumu."
"Huupphh!" Luna tiba-tiba saja mual saat tangan Drake menyentuh pundaknya.
Rupanya, aroma saus bolognes yang terciprat ke lengan baju Drake menimbulkan rasa mual pada orang hamil. Melihat hal itu, Drake merasa yakin bahwa Luna tengah berbadan dua. Ia juga sadar bahwa orang yang sedang hamil bisa saja sangat sensitif pada bebauan.
"Apa kau sakit?"
"Ah! Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah yang perlu dicemaskan," jawab Luna berusaha menutupi sesuatu pada dirinya.
Ia berdiri dan diam sebentar, "Kalau begitu, aku pulang dulu. Oh ya, aku memasukkan beberapa makanan di kulkas. Jangan lupa dimakan, ya.."
"Hmm. Baiklah..."
Karena Luna sudah berlalu, Drake berpikir sejenak. Kemudian setelah ingat sesuatu, ia mengendus bekas saus bolognes yang ada di lengan bajunya.
"Apa karena bau saus spaghetti tadi? Aah,,, sepertinya memang begitu."
••••••
Keesokan harinya, Drake bangun lebih awal. Ia sedang berolah raga di komplek dekat rumahnya.
Sambil terus berlari, sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas. Pada saat yang tepat, ia lewat di sebuah jalanan sepi. Di sana samar-samar ia mendengar suara seorang anak kecil menangis.
"Suara apa itu?"
Reflek ia mendongakkan kepala mengikuti asal suara. Begitu terkejutnya ia ketika dilihatnya seorang anak kecil berusia kira-kira satu tahun tengah menggantung di tepi balkon lantai empat.
"Eh buset!! Bukankah itu anak kecil?! Sedang apa dia di sana???" pekiknya kaget.
Baru saja ia tercengang, tiba-tiba saja anak kecil itu terjatuh dari ketinggian. Spontan saja ia melompat dan bergantungan ke pagar jendela satu dengan pagar jendela yang lain untuk menyelamatkan anak tersebut.
ZAP
ZAP
ZAP
"Dapat!" serunya sambil menangkap anak tersebut dilengan tangan kiri.
Usai mendapatkan anak tersebut, Drake melompat ke jendela rumah tempat tinggal sang anak. Lantas ia memasuki rumah tersebut lewat jendela yang dibiarkan terbuka. Namun, rumah itu tampak sepi dan gelap.
Ada apa??
Apa yang sebenarnya terjadi????
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....