HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
GARA-GARA KECOAK


__ADS_3

BAB 42


Tak lama kemudian, Drake datang dan langsung menuju meja makan.


"Aroma sedap apa ini?"


"Ini udang madu. Ayo makan. Nah, ini untukmu," kata Terra seraya mengambil sebuah udang besar dan meletakkannya ke atas nasi milik Drake.


"Terima kasih. Sepertinya lezat," sambutnya.


Drake makan tanpa banyak bicara. Kedua gadis yang ada di hadapannya itu pun saling melirik. Mereka jadi canggung untuk mengajaknya bicara, terutama Luna.


"Maaf ya, paman. Aku tadi menjahilimu dengan bawang putih," Joy meminta maaf soal keisengannya.


Mendengar pernyataan dari mulut Joy, Drake berhenti makan. Luna dan Terra ikut mendengarkan dengan seksama.


"Hmm. Tenang saja, sudah ku maafkan."


"Benarkah semudah itu? Berarti, aku bisa menjahili paman dong, lain kali? Ehehe.."


Drake menoleh, "Boleh. Tapi lain kali, jangan pakai bawang putih untuk mengerjaiku."


Joy mengangguk sambil tersenyum.


"Oh ya. Besok, pukul berapa kau akan dijemput bibimu?"


"Bibi bilang, sekitar pukul tujuh petang."


"Begitu, ya."


"He-em."


"Heii.. bagaimana kalau besok pagi kita pergi ke taman hiburan bersama dan mengambil foto kenang-kenangan?" usul Terra dengan ceria.


"Benar. Masih ada setengah hari untuk mengadakan pertemuan kenangan. Bagaimana, Joy?'


"Tentu saja. Itu ide yang bagus. Tapi, apa paman Drake bersedia ikut dengan kita?" Joy bertanya lesu.


"Eh?" Drake menoleh. "T tentu saja. Aku ikut. Kalau begitu, aku juga akan mengajak Lulu."


TING KELINTING TUNGTING


Suara ponsel Drake menggema di dalam ruangan. Maka diangkatnya panggilan dari Eloise tersebut.


"Drake, jangan lupa pukul 7 nanti kau ada kencan dengan Peony."


"Kau sudah memberitahuku tadi, jadi tidak perlu mengulanginya lagi," jawab Drake malas.


"Heih,, kalau tidak ku ingatkan, kau akan berpura-pura lupa."


"Iya iya,, aku tidak akan lupa."


"Baguslah, selamat berkencan. Bagaimanapun aku ingin melihat, bisakah kau mengencani wanita selain diriku,," kata Eloise.


"Khah. Terserah kau saja," Jawab Drake seraya menutup telepon.


GYUTT


Usai mengakhiri panggilan teleponnya, Drake berdiri dan mendorong kursinya ke belakang.


"Loh, paman mau ke mana?"


"Sepertinya, aku harus pergi menemui seseorang. Maaf tidak bisa menemani malam kalian," jawab Drake.


"Yaah,, padahal aku ingin mengajak paman tanding main game untuk yang terakhir kalinya," Joy tampak kecewa.


"Kalau hanya itu, tenang saja. Terra akan menggantikanku melawanmu," Drake pergi sambil menepuk pundak kanan Joy.


"Yaaahh.. tidak asyik dong,,"


"Maaf..."


Terra, Luna dan Joy memperhatikan punggung Drake yang semakin menjauh dan pergi ke lantai atas untuk bersiap.


Selagi Drake bersiap, Luna dan Terra menemani Joy untuk bermain game. Mereka gelosoran di lantai beralaskan karpet dengan santainya.



Tiba-tiba seekor kecoa berukuran sedang datang dari lubang pembuangan di kamar mandi dekat dapur dan merayap mendekati kaki Luna.


"KYAAAAA"


Luna memekik geli sambil berdiri melompat-lompat ke sana ke mari.


"Ada apa, bibi?"


"Ada sesuatu yang merayap ke kakiku!! Hiiyy!! S sekarang,, sekarang dia ada di dalam pakaianku! Tolong singkirkan itu! Buruan!" teriak Luna histeris.

__ADS_1


Terra mencoba membantu mencari sesuatu yang dimaksud kakaknya. Tapi ia juga takut.


"Mana, tidak ada kok."


"Dia ada di dalam, hiyaaa,,, menggelikan!!" seru Luna sambil berjingkrak-jingkrak kegelian.


Pada saat itu, Drake datang karena mendengar jeritan heboh di lantai bawah. Ia berdiri di sana tepat ketika Luna berbalik dan mengangkat bajunya.


DOEENGGG


Tanpa sengaja, Luna menubruk Drake dan membuatnya hampir jatuh. Secara reflek, tangan Kiri Drake bergerak ke belakang untuk menahan tubuhnya. Dari telapak tangan kirinya itu, keluarlah rumbai-rumbai yang bergerombol dan bekerja sama untuk menopang tubuh Drake agar tidak jatuh ke lantai.


Tanpa pikir panjang, Drake menjentikkan jari tangan kanannya sehingga berhentilah waktu. Ia sukses membuat orang-orang itu mematung untuk beberapa saat.


NGEK


Siapa sangka, seperti ketiban durian. Drake mendapat rejeki nomplok. Dua semangka segar berhias kain merah milik Luna itu bertumpu di dadanya. Keduanya mengintip dari pakaian Luna yang sebagian terangkat ke atas.


KLIP


Drake mengedipkan mata beberapa kali.


"Astaga. Kenapa aku jadi berkeringat?" Drake mengusap keringat di wajahnya sambil mendelik ke arah Luna.


Menyadari bahwa tangan kirinya mengeluarkan rumbai, Drake menggeser posisi berdirinya dengan menyingkir ke sisi Luna. Lalu menarik rumbai-rumbai itu kembali ke dalam telapak tangannya. Untung saja berhasil.


"Apa barusan itu, hanya terjadi saat aku reflek melakukannya saja?" gumam Drake seraya memperhatikan telapak tangan kirinya.


Masih dalam pikirannya, Drake menunggu F5 untuk menjawab panggilannya. Namun tidak juga ada jawaban.


"Kenapa akhir-akhir ini F5 muncul tanpa pemberitahuan? Bagaimana jika dia muncul saat aku berada di keramaian?" pikirnya.


Drake menatap Luna. Kemudian, barulah ia ingat akan kejadian yang membuat mereka heboh di ruang tersebut.


"Ah, aku harus mencari sesuatu yang membuatnya kegelian dan berteriak seperti orang kesurupan."


Drake memeriksa tubuh Luna. Tangannya sedikit ragu-ragu ketika mencari sesuatu itu di balik pakaian Luna. Namun akhirnya, Drake menemukan satu di bagian belakang bra.


"Kecoa?"


"Pantas saja dia berteriak heboh seperti tadi," Drake berjalan mendekati jendela dan membukanya. Kemudian dengan kuat ia menyentil kecoa tersebut keluar jendela hingga terpental jauh entah ke mana.


Sebelum mengembalikan waktu, Drake menyadari bahwa Joy sedang menghadap ke Luna. Apa jadinya jika anak kecil itu melihat harta berharga Luna?


"Maaf, kawan kecil. Karna kau belum cukup umur untuk melihatnya, jadi aku akan mengganti posisimu," digesernya posisi Joy agar tidak menghadap ke arah Luna.


dan mendekati Luna. Ia sempat menelan ludah ketika melihat Luna dalam mode menggemaskan seperti saat itu.


"Aiihh. Menggemaskan sekali. Seandainya aku bisa menyentuh dan memilikinya. Pasti akan sangat menyenangkan," bisikan liar di dalam kepala Drake.


PLAK!


Tapi kemudian, Drake sadar dan menampar pipinya sendiri, "Sialan. Kenapa aku berpikiran mesum seperti ini? Apa sekarang hidungku jadi mimisan?"


Drake cepat-cepat mengusap hidungnya. Untung saja, tidak ada darah mimisan dari hidungnya.


"Fiuh. Untung saja."


Akhirnya, setelah mengumpulkan keimanannya, Drake menurunkan kedua tangan Luna yang terangkat ke atas dan merapikan pakaiannya dengan cepat.


GLEK


"Maaf Luna. Bukan bermaksud kurang ajar padamu. Tapi bagaimanapun juga, aku harus merapikan pakaianmu yang terbuka. Jadi jangan marah, ya," ucapnya dengan sopan dan tidak sedikitpun berbuat senonoh.


Setelah dirasa semuanya aman dan terkendali, Drake berjalan menjauh menuju ruang tamu. Dari sana, ia menjentikkan kembali jarinya sehingga waktu berjalan normal kembali.


Terdengar sisa teriakan dari mulut Luna. Namun tidak berapa lama suara teriakan itu berhenti. Mungkin Luna sudah tidak merasakan kegelian lagi.


Drake tersenyum.


••••••


SLURRRPP!


Drake duduk di salah satu kafe sambil menyeruput kopinya. Sudah satu jam lamanya ia menunggu wanita bernama Peony datang.


Andai saja ia tidak bertaruh untuk kontrak kerja Luna dan beberapa staf King Store lainnya, sudah sejak tadi ia pergi meninggalkan tempat kencan buta tersebut.


"Apa kau Drake?"


Seorang wanita anggun dengan gaun hitam dan tas jinjing yang tampak berkelas datang menghampiri Drake.


"Ah, Peony??"


"Ya. Itu aku. Apa aku boleh duduk?"


Wanita bernama Peony itu tersenyum sangat ramah sambil terus menatap pasangan kencannya. Sepertinya sekali bertemu saja, ia sudah jatuh cinta pada Drake.

__ADS_1


"Ya. Silahkan."


Peony duduk dan melihat segelas kopi latte dingin di hadapannya.


"Ah, aku pikir akan lebih cepat jika aku memesankannya terlebih dahulu."


"Ouh,, iya, terima kasih," Peony tersenyum.


"Apa kau tidak suka?"


"Oh, tidak. Aku juga suka koffee latte," jawab Peony bersemangat.


Drake tersenyum kemudian diam. Ia sudah menyiapkan sebuah cara agar Peony membencinya dan menyerah dalam perjodohan yang orang tua mereka rencanakan.


"Jadi, apa kau bekerja di perusahaan ayahmu?"


Drake diam. Ia berpikir sesaat, "Perusahaan? Ahaha,, tidak. Kau pasti salah mengira tentangku. Aku hanya seorang freelance."


"Benarkah? Lalu apa itu?"


"Apa saja. Selama itu menghasilkan uang."


"Apa saja?"


"Ya," tatapan mata Drake berpindah ke arah cangkir kopinya.


Peony sendiri menatap Drake dengan sangat teliti. Ia mengamati cara berpakaian Drake yang sangat santai dengan hanya mengenakan kaos dan jaket.


"Kau pasti orang yang menyukai kebebasan. Suka berolahraga dan banyak disukai wanita."


Drake mengangkat wajahnya dan menatap Peony sampai dahinya mengkerut.


"Kenapa? Apakah aku benar?" kata Peony sambil tertawa.


"Kheh," Drake menghela nafas dengan bibir yang tersenyum miring.


"Sayangnya, tebakanmu salah besar. Aku bukan tipe yang disukai banyak wanita," jawab Drake sambil mengorek kuping.


"Oho,, Benarkah?"


"Yaah.."


Wanita bernama Peony ini sepertinya mampu melihat situasi. Bagaimana ia menilai seseorang dari perlakuan sekitarnya. Kebetulan sekali, ia melihat wanita-wankta yang berkunjung di kafe tersebut beberapa kali mencuri pandang ke arah Drake.


Mereka bahkan saling berbisik dan tersenyum-senyum menatap teman kencannya itu.


"Oh ya, aku dengar orang tuaku dan orang tuamu berniat untuk menikahkan kita berdua. Apa kau tahu itu?" tanya Peony malu-malu.


"Ya. Aku tahu."


"Lalu, bagaimana menurutmu?" Peony terlihat menunggu jawaban Drake.


Drake diam sesaat, "Aku tidak ingin menikahi siapapun."


"Apa?"


"Aku minta maaf. Mungkin jawabanku ini terdengar tidak sopan. Tapi, aku tidak ingin memberi harapan pada siapapun dengan berpura-pura menyukainya."


"Ah,, jadi begitu. Apa kau mempunyai seorang gadis yang kau cinta?" Peony ingin mendengar jawaban tidak.


"Tidak, belum."


"Lalu?"


Tiba-tiba datang seorang pemuda yang bertingkah manja dengan duduk di pangkuan Drake. Seakan-akan ia ingin menunjukkan pada Peonya bahwa Drake adalah pasangan kencannya.


"Drake manis, apa kau sudah menunggu lama?" tanya pemuda itu sambil membelai nakal bibir Drake dengan ibu jari kirinya.



"Ah,, tidak. Aku baru saja datang," Drake berusaha keras agar terlihat natural di depan Peony.


GRETEK


Peony merasa amat tertampar. Ia berdiri dan merasa kesal.


"Hiihh! Apa dia pacarmu? Jadi, kau penyuka sesama jenis??? Menggelikan sekali. Kalau begitu, aku akan pergi dan meminta orang tuaku membatalkan perjodohan ini. Kalian tidak perlu menunjukkan kemesraan itu di hadapanku."


Sambil bersungut-sungut, Peony pergi meninggalkan Drake.


.


.


.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2