
BAB 8
SLURRP
SLURRPP
Drake berjalan santai di jalanan yang menuju kompleknya dengan penampilan yang apa adanya. Kaos oblong dengan celana pendek jeansnya. Tidak peduli beberapa wanita menatapnya aneh, ia tetap tenang menghisap sebungkus es beku rasa pisangnya. Sedangkan tangan kirinya menenteng sebuah tas kresek berisi cemilan.
"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa mereka ingin menculik dan menjadikanku tawanan mereka?" Drake heran, namun akhirnya terkekeh sendirian.
"Hemm,, pasti karena aku sangat tampan. Para wanita, memang selalu tergila-gila dengan pria tampan macam diriku, hahaha," Drake merasa kepedean.
Dengan sandal jepit warna merahnya, Drake melangkah semakin pede. Tidak disangka, dua orang yang melewatinya blak-blakan melirik sambil senyum-senyum menatapnya.
"Kenapa sih mereka?" Drake bingung. Sambil menelengkan kepalanya, ia menoleh ke belakang memperhatikan gadis-gadis yang baru saja lewat di hadapannya.
UPS! Dua gadis itu juga menoleh padanya sambil tersenyum geli.
"Hay Kak! Lain kali, periksa pakaianmu terlebih dahulu sebelum keluar rumah. Dan yang penting, jangan terburu-buru dan melupakan sesuatu. Hihihi," ucap salah seorang dari mereka.
Untuk sesaat, Drake mematung memperhatikan mereka yang melangkah pergi. Kemudian, karena ia ingat beberapa dari mereka memperhatikan pakaiannya, Drake pun menunduk cepat.
"Eh buset! Sejak kapan resletingku terbuka????" ia dapat melihat sesuatu di dalam sana.
Drake langsung membetulkan resletingnya yang rupanya terbuka sejak tadi. Ia celingak-celinguk memperhatikan situasi untuk berjaga-jaga.
"Astaga. Apa mereka memperhatikanku karena ini? Aaarrh! Betapa malunya aku. Bahkan aku sudah kepedean karena banyak gadis yang melempar senyum padaku."
"Aiissh, sial! Memalukan sekali!"
Ia benar-benar malu karena ketahuan banyak gadis mengenakan celana jins tanpa dalaman hingga sesuatu yang ada di sana menyapa semuanya dengan ramah.
BOOOMMM!
Sebenarnya, pagi ini Luna memergoki cucian Drake yang menggunung di keranjang kotor. Rupanya, Drake punya penyakit malas mencuci.
"Dasar jorok! Kenapa kau mengumpulkan pakaian kotor di pojokan sini! Hah!!!" teriak Luna emosi.
"Untuk apa lagi kalau tidak untuk dicuci??" jawab Drake santai sambil mengorek telinga.
"Lalu kapan kau akan mencucinya??" Luna berkacak pinggang dengan kesal.
"Besok atau lusa..." Drake meniup jari kelingkingnya.
"Sialan!! Itu namanya kau mengumpulkan penyakit!!" Luna marah sambil mengepalkan tinjunya.
"Kenapa marah? Itu semua pakaianku..."
GRRRRRR!!!!
Emosi Luna meluap-luap. Tanpa ampun, Luna memukuli Drake dan memarahinya habis-habisan. Asal kalian tahu, sebab itu pulalah Drake kehabisan stok CD di lemari.
Sambil bersungut-sungut, Luna mencuci semua pakaian Drake yang menggunung dan berbau apek. Ia juga memberi hukuman pada teman prianya itu untuk melakukan push up sebanyak 100x.
KLIP
Ingatan Drake tentang tadi pagi membuatnya membuang nafas dengan kasar.
"Luna benar-benar menakutkan. Mengapa dia menghukumku karena menumpuk cucian di rumahku sendiri?"
Huffftt...
Drake mendengus. Kemudian melemparkan bungkusan esnya ke tanah dan berjalan dengan cepat menuju rumahnya.
•••••
DEG
Ketika hampir sampai di rumahnya, sebuah mobil melewatinya dan berhenti tepat di depan rumah.
"Siapa itu?"
Keluarlah seorang pria yang dipanggil Pitt bersama seorang wanita paruh baya. Itu ibunya. Pitt menoleh padanya dan melepas kacamatanya.
"Dia di luar rumah, ibu," katanya.
"Benarkah? Dari mana kau tahu?" kata nyonya Wendy, ibunya.
"Lihatlah ke sana."
"Eh?" ibunya menoleh ke kiri. "Drake? Kau baru pergi?"
__ADS_1
Mau tidak mau, Drake melangkah menghampiri dua tamu yang sedang menunggunya di depan rumah itu.
"Ibu, ada apa kemari?" tanyanya.
"Apa seorang ibu harus mempunyai alasan untuk menemui putranya?"
"Tidak, sih."
Nyonya Wendy tersenyum dan menyentuh lengan Drake, "Kau tampak sehat dan segar, Drake."
"Yah. Seperti yang ibu lihat."
PIP PIP PIP
KLIK
Drake menekan kunci sandi pada pintu rumahnya, "Mari masuk, ibu."
Ia mempersilahkan wanita yang melahirkannya itu memasuki rumahnya. Begitu pula Pitt, suami Eloise.
"Duduklah lebih dulu. Apa ibu mau minum sesuatu?"
"Hmm, ibu minum air putih saja. Oh ya Drake, apa kau tidak mau menyapa kakakmu? Pitt sangat sibuk di kantor, tapi karena ibu memintanya pergi bersama, dia bersedia meluangkan waktunya untuk ibu," nyonya Wendy menjelaskan dengan bahagia.
"Aku tidak ingin tahu soal itu, ibu. Jika dia sesibuk itu, kenapa kau tak menyuruhnya kembali ke kantor? Aku yang akan mengantarmu pulang nanti."
"Drake.... Hargailah Pitt. Dia kemari untukmu," bela ibunya.
"Sudahlah, bu. Aku tidak apa-apa. Em, Drake. Sepertinya kita perlu minum kopi bersama," kata Pitt menyela.
TRAK
Drake meletakkan gelas minum ke atas meja dengan sedikit penekanan.
"Apa yang ingin ibu katakan padaku? Sebaiknya katakan sekarang juga," Drake duduk di sebelah ibunya sambil menebak bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan ibunya.
Nyonya Wendy menunduk sebentar. Kemudian meraih tangan putranya, Drake.
"Sayang, ayahmu mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Dia membutuhkan darahmu segera."
Sebagai pemilik darah dengan golongan AB reshus, Drake dan ayahnya harus saling berhubungan. Sebab, darah dengan golongan tersebut dapat mendonor ke semua jenis golongan darah, namun tidak dapat sembarang menerima.
Mereka hanya menerima dari golongan darah yang sama. Dan dalam kasus ayahnya Drake, jika Drake tidak segera mendonorkan darah, maka ayahnya akan mengalami celaka.
"Aku tidak berhak melakukannya."
"Cari saja darah orang lain. Kalian mampu membayar mahal untuk itu, bukan?
"Oh ibu, maafkan aku. Seandainya aku yang memiliki darah yang sama dengan ayah. Pasti sudah ku donorkan sejak kemarin," Pitt mencoba menampilkan karakter anak berbakti.
"Cihh..." Drake mendengus kesal sambil membuang muka.
Pitt yang melihat reaksi dari Drake itu tersenyum. Bahkan, ibunya saja tidak bisa membujuk bocah tengil itu. Pikir Pitt.
"Baiklah. Kami pulang dulu, Drake. Jika kau berubah pikiran, datanglah ke rumah sakit," ucap Pitt sok bijaksana.
Pria itu menggandeng ibunya keluar rumah untuk pulang. Tetapi Drake tetap pada tempat duduknya. Ia berlagak tidak peduli pada ibunya dan tidak mau mengantarkan keduanya sampai ke depan.
Tetapi sebenarnya, Drake memikirkan orang tuanya. Ia merenung beberapa saat dan memikirkan kembali permintaan ibunya untuk menyelamatkan seorang ayah yang sejak dulu tidak pernah adil padanya.
••••••
Hmm..hmm..
Eloise tampak duduk tenang sambil membaca majalah di ruang tengah. Tangan kanannya sesekali meraih buah anggur di mangkuk yang ada di sampingnya.
Ketika Drake datang dari pintu samping, ia segera berdiri dan berlari menyambutnya. Kedua tangannya siap untuk ia bentangkan dan mendapatkan Drake dalam pelukan.
"Hai Drake, kau pasti mendengar kabar soal ayah mertua," Eloise berbicara dengan nada sedih.
Ketika Eloise hampir saja berhasil mendaratkan pelukannya, Drake menggeser posisinya berdiri sehingga istri Pitt itu jatuh tersungkur.
"Dia lagi ngapain sih??" Drake membatin sambil melirik Eloise yang melayang jatuh.
OMG!
"Drake!!"
GLUBRAAAKK
"Aduuhh... Kenapa kau menghindar sih, Drake??" Eloise menoleh pada Drake sambil merintih sakit karena sikunya terbentur lantai.
"Ingin saja."
__ADS_1
Drake melangkah pergi dan tidak peduli pada Eloise. Tapi dengan cepat, wanita itu menahan tangan Drake.
"Drake. Apa kau sudah memikirkan jawaban atas pernyataanku waktu itu?"
"Tentang apa?"
"Hubungan kita."
SLIP
"Sudahlah. Jangan memaksakan perasaanmu. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Nikmati saja hari-harimu bersama Pitt."
Eloise menggelengkan kepala kemudian menunduk sedih, "Sebenarnya, saat itu aku sedang kesulitan uang untuk biaya rumah sakit adikku. Pitt melunasi semuanya dan memintaku memutuskan hubungan denganmu."
"Saat itu, aku tidak mau menuruti permintaannya dan bersikeras untuk melunasi hutangku padanya dengan caraku sendiri. Namun pada hari dimana kita ada study tour, dia memperkosaku di dalam gudang kayu dan merekam semua yang ia lakukan padaku. Kemudian rekaman itu, dia gunakan untuk mengancamku."
DHUUARRR!
Drake baru tahu itu. Rupanya itu yang terjadi??
* flash back On *
Drake muda yang kala itu ikut dalam study tour sekolahnya sedang berjalan-jalan sendiri menikmati pemandangan.
"Ke mana Eloise? Kenapa aku tidak melihatnya sejak turun dari bus??"
Drake muda akhirnya mengirim pesan pada kekasihnya Eloise.
Drake : "Kau di mana? Ayo bertemu di jembatan depan penginapan."
Tidak ada balasan.
Drake muda terus saja melihat ke ponsel sebab menunggu balasan. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
SHAASSSSHHH
"Aduh, kenapa hujan tiba-tiba?" Drake lari mencari tempat berteduh.
Kebetulan, ia berdiri dekat dengan sebuah gudang kosong tempat kayu bakar. Tanpa sengaja dilihatnya Pitt keluar dari sana sambil membetulkan resletingnya. Saudaranya itu meludah sebentar kemudian pergi setelah celingak-celinguk membaca situasi.
"Sedang apa dia di sana?"
Meski penasaran, Drake tidak peduli dengan hal itu. Ia justru berlari menuju penginapan para pelajar putri.
"Hey Catty, apa kau melihat Eloise?"
"Eloise? Bukankah tadi ia mengatakan akan menemuimu?" jawab Catty.
"Menemuiku?"
"Iya."
"Tapi..."
"Eh, maaf Drake, aku pergi dulu ya. Mila sudah menungguku di depan."
"Ya. Baiklah."
* flash back off *
Eloise berdiri dan meraih kedua tangan Drake. Ia mencoba mengutarakan perasaannya pada pria yang dia cintai sejak dulu itu.
"Maaf Drake. Aku tidak menceritakan semuanya padamu dan justru membuatmu semakin membenciku dengan meminta putus darimu."
Drake berdiri mematung dengan tatapan yang lurus pada Eloise. Rahangnya tampak mengatup dengan kencang.
"Kenapa baru sekarang menceritakan semuanya padaku. Jika dulu kau datang padaku dan meminta bantuan, tentu aku akan membantumu mencari jalan keluar."
"Drake...."
"Tapi sekarang keadaan sudah berbeda. Apapun alasannya, aku bukan milikmu lagi, Eloise. Dan rasa cintaku padamu pun... juga sudah lama menghilang..."
Drake menyingkirkan tangan Eloise perlahan. Rasa cinta padanya, benar-benar udah sirna. Yang tersisa hanya perasaan hambar.
"Aku pergi dulu."
"Eh? Tapi... tapi..."
.
.
.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Hai semua,,, lanjut baca ya,,,
Jangan lupa like nya,,😃👍🏻