
BAB 3
BANGG
Ayah Luna melempar sendalnya dan berhasil mengenai Drake yang berusaha untuk menghindari pukulan.
"Aduh! Paman, tolong jangan marah dulu! Aku bisa jelaskan! Sungguh, aku tidak melakukan apa-apa pada Luna!" seru Drake sambil berusaha bersembunyi di balik punggung Luna.
"Lalu kenapa kau ada di sini pagi-pagi begini! Apa kau tidur di rumah putriku lagi? Bukankah kau tahu dia sudah punya tunangan? Kenapa kau terus mengganggu kehidupannya???"
Ayah Luna tidak mau terima penjelasan. Didekatinya Drake sambil dipukulinya punggungnya dengan sendal.
"Ampuni aku paman. Aku mengaku! Aku akan mengaku!"
"Ooohh??" Terra merasa kasihan mendengar teriakan Drake.
Luna buru-buru melerai dan berusaha meredam amarah ayahnya. Sambil berdiri di tengah-tengah, ia menatap ayah dan Terra adiknya bergantian.
"Ayah, tunggu! Aku harap kau tidak salah faham. Kami bisa jelaskan padamu bagaimana kronologinya."
Drake mengangguk cepat sambil memegangi kaos putihnya, "Benar."
"Kalau begitu cepat katakan!!"
CLAP
"Dia dikerubuti semut. Makanya dia melepas pakaiannya."
"Apa semut??" Terra heran.
"Yah. Semalam dia menginap, lalu menonton MMA sambil memiliki makanan ringan. Tapi dia tertidur dan lupa membuang sampah snacknya. Itulah mengapa pagi ini semut berdatangan dan mengerubutinya. Dia melepas baju karena semut-semut itu merambat ke tubuhnya."
"Sungguh?? Buahahaha!! Kenapa tidak katakan itu dari tadi? Ternyata kau belum juga berubah, masih saja jorok! Huahahaha..." ayah Luna terpingkal-pingkal.
ZIP
Mata Terra melirik ke samping dengan wajah tanpa ekspresi, "Apa itu sebuah pujian?"
"Bagaimana itu disebut pujian? Hal yang tidak ada baik-baiknya seperti itu patut di berantas.." sahut Luna.
"Eheheh, sepertinya kalian butuh waktu berkumpul yang nyaman. Em, Luna, karena ayah dan adikmu ada di sini, aku akan pulang sekarang," kata Drake.
"Eh? Sudah mau pulang?"
"Ya. Aku harus menyerahkan naskahku pada editor hari ini."
SRAT
SRET
Drake mengenakan baju dan jaketnya kembali, "Paman, aku pamit duluan, ya. Nikmatilah waktu berkualitas kalian bersama Luna."
"Kenapa buru-buru? Kau tidak mau makan bersama kami?"
"Hemm, mungkin lain waktu, aku akan makan bersama kalian. Sampai jumpa," pamit Drake sambil melakukan gestur hormat.
Ayah Luna memperhatikan Drake sampai keluar dari pintu dan menghilang dari pandangan. Sebenarnya, ia sudah menganggap anak itu sebagai putranya sendiri. Sebab, waktu tinggal di rumahnya tujuh atau delapan tahun lalu pada usia dua puluhan, Drake sangatlah manis.
Meski terkesan jorok dan pemalas, sebenarnya Drake amatlah rajin. Dia bahkan tidak segan membantu orang tua yang membutuhkan bantuan. Bahkan, sifat kepeduliannya amatlah besar pada orang sekitarnya.
"Dia menginap lagi?"
"Iya, nih."
"Apa orang tuanya pernah datang menjenguknya?"
"Beberapa waktu, aku melihat ibunya datang membawa makanan untuknya. Sepertinya mereka sudah berbaikan."
"HUFFT.. syukurlah kalau begitu. Ayah merasa senang untuknya."
__ADS_1
"Benar, aku juga merasa begitu. Terakhir kali melihat dia datang ke rumah dan melahap masakan ayah dengan rakus, aku merasa bahwa dia tidak diperhatikan oleh keluarganya."
"Kau ingat itu?" tanya Luna pada Terra.
"Tentu saja. Waktu itu dia makan dengan terburu-buru seolah belum makan selama satu bulan lamanya."
"Hihihi,, dia sampai tersedak dan mengeluarkan mie dari hidungnya!" ayah Luna mengenang kembali masa lalu. Ia benar-benar senang membicarakan kesialan Drake.
"Tapi gara-gara itu, aku jadi menyukainya. Saat itu dia benar-benar imut. Walau sekarang amit-amit sih."
"Sudah,, sekarang ini kupingnya pasti panas karena kita terus membicarakannya."
•••••
EEEEERRR...
Drake mengorek telinganya dengan jari kelingking karena tiba-tiba saja terasa gatal. Kemudian, jari kelingkingnya itu ia endus-endus kemudian ia tiup kasar setelahnya.
"Kupingku terus saja gatal. Pasti ada yang sedang membicarakanku."
Drake mengusap-usap jari kelingking yang tadi ia gunakan untuk mengorek kuping itu ke jaketnya tanpa sungkan.
"Maaf, apa aku bisa mengambil sepedaku?" tanya seorang gadis muda berambut hitam panjang dan dikuncir.
"Eh? Ya, ya. Silahkan."
Drake segera menyingkir sebab ia duduk di atas boncengan sepeda tersebut. Sambil tersenyum manis, ia mempersilahkan nona itu membawa sepedanya.
Tapi, gadis itu tidak juga pergi dan justru berjongkok memeriksa sepedanya.
"Ada apa dengan sepedanya, nona?"
"Sepertinya bannya bocor..."
"Eh? Yang benar?"
"Iya nih."
Drake mendengus karena ia mengira sepeda itu kempes karena beberapa saat lalu ia duduki.
"Hemm.."
Tanpa bicara panjang lebar, Drake berlari ke beberapa toko yang ada di dekat lokasinya saat ini. Ia meminjam sebuah pompa ban untuk mengisi gas sepeda.
"Huh,, Huh,, tunggu nona. Aku akan memompanya untukmu," Drake kembali dengan nafas terengah.
"Eh? Tidak apa-apa paman. Aku akan melakukanya sendiri. Terima kasih sudah meminjamkan pompa untukku."
"Paman?" wajah Drake jadi kecut.
Apakah dirinya setua itu hingga disebut sebagai paman oleh gadis itu.
"Ngomong-ngomong, jangan panggil aku paman, tapi panggil saja Drake," pintanya.
"Eh?? Begitu ya? Tapi, sepertinya akan sedikit tidak sopan jika aku memanggil paman dengan nama saja."
"Kalau begitu panggil kakak juga tidak apa-apa. Paman sepertinya terlalu tua, heheh," kata Drake sambil meringis.
"Kakak?"
Gadis itu menoleh. Namanya Lulu Oswald. Usianya 22tahun. Seorang karyawan di perpustakaan kota. Gemar membaca novel dan komik. Terutama komik karya Alfa One. Seorang penulis kisah misteri dan horor.
Dilihatnya Drake dengan cermat. Memang betul, jika dicermati pria di hadapannya itu belum tua. Bahkan ia tergolong makhluk Tuhan yang terlahir dengan ketampanan.
Pipi Lulu pun bersemu merah. Ia malu sekali karena sejak tadi ia menunduk dan tidak memperhatikan orang yang sedang berbicara dengannya. Bahkan memanggil pria muda sepertinya dengan sebutan paman.
"Maaf ya. Karena memanggil kakak seperti tadi."
"Tidak apa-apa, hehe."
__ADS_1
"Kalau begitu, kenalkan. Namaku Lulu. Kakak sendiri?"
"Drake."
Lulu tersenyum. Mimpi apa semalam dirinya hingga pagi ini bertemu dengan pria tampan seperti Drake?
"Em,, sedang apa kakak di sini?"
"Eh? Itu.. hanya jalan-jalan.." Drake menggaruk-garuk kepalanya. "Kau sendiri? Emm, perpustakaan? Kau suka membaca, ya?"
"Ooh.. Eh, iya nih. Sudah tiga tahun ini, aku bekerja di sini."
"Bekerja? Sebagai pengurus?"
"Iya. Karena aku suka sekali membaca novel, khusunya karya Alfa One, jadi lulus sekolah aku langsung mendaftar di sini sebagai karyawan."
"Eh? Suka juga ya sama novel Alfa One?" tanya Drake senyum-senyum. "Kalau begitu, kapan-kapan aku akan mampir. Bagaimana kalau membaca novel Alfa One bersama."
"Boleh, senang sekali mendengarnya," respon Lulu ternyata tidak terduga. Ia tampak bersemangat. Sebab, ia merasa bahwa Drake ini orang yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain.
TING KELINTING TUNG TING
Suara ponsel Drake terdengar. Dengan cepat Drake merogoh saku celananya.
"Ya, halo?"
"Kau di mana? Kenapa belum membawa naskahmu kemari? Jangan bilang kau sedang ngorok di kamar?"
Drake menoleh pada Lulu, "Sebentar, aku terima telpon dulu, ya."
Lulu mengangguk.
Drake menjauh dan kembali bicara pada editornya, "Iya sebentar lagi aku ke sana. Apa mereka sudah menagih episode baru?"
"Ya. Mereka meneleponku terus-menerus. Cepat kemari! Aku bekerja keras untukmu siang dan malam, tapi kau malah bersantai-santai?" suara si editor terdengar melengking. Editor itu ternyata juga kawan Drake. Makanya ia bicara non formal padanya.
"Eh buset, tidak perlu berteriak padaku, kentut!"
"Hiiss! Kau memanggilku kentut lagi??" mata editor mendelik. Tapi Drake tidak melihatnya. Jadi percuma kan? hehe...
"Kakak Drake!" panggil Lulu dari jauh.
"Eh? Suara perempuan? Siapa itu? Apa kau sedang pergi berkencan?"
"Bukan urusanmu. Ya sudah, aku tutup dulu nih, bye.." Drake mengakhiri telepon.
TRUK
TRUK
Drake menghampiri Lulu kembali, "Em, apa kau sudah mau pulang?"
"Tidak. Aku akan memindahkan sepeda dan masuk ke dalam. Sudah jam sembilan, aku harus bekerja."
"Ooh.. begitu? Apa sudah kau pompa ban sepedamu?"
"Iya nih, sudah."
"Kalau begitu, sini. Biarkan aku yang mengembalikan pompanya."
"Tidak usah, kak. Biar aku saja."
"Hhmm, ya, ya. Baiklah. Sampai jumpa lain waktu, Lulu. Kebetulan, aku juga ada urusan. Aku pergi dulu, ya."
"Ya. Sampai jumpa lagi, kak," kata Lulu melambaikan tangan sambil memindahkan sepedanya ke parkiran.
Drake yang membawa naskahnya di dalam tas punggungnya itu pun pergi meninggalkan Lulu Oswald sambil tersenyum.
...----------------...
Hai reader,, Yuk Like karyaku...
__ADS_1
Dan tunggu episode berikutnya... ,😘
BERSAMBUNG.....