
BAB 60
SYUUTT
Namun baru saja melangkah pergi, Luna berbalik dan menghampiri Alan kembali.
PLAK
Ditamparnya pipi Alan dengan kerasnya.
"KYAAA!" pekik Drew.
"Dasar pecundang! Jangan mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan diri sendiri. Kau senang bukan, selama bertahun-tahun menutupi hubunganmu dengan wanita ini dan akhirnya akan menikah, besok? Bagus! Menikahlah dengannya. Aku sudah muak melihatmu!"
Usai memaki Alan, Luna pergi dengan perasaan kacau. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap melangkah pergi dengan percaya diri.
Begitu ia sampai di ruangan lain, kakinya tidak mampu lagi bertahan. Seakan tulangnya lenyap, kedua kakinya itu gemetaran dan amat payah berdiri.
"Hik,, hik,, hik,," akhirnya air mata Luna jatuh tak tertahankan. Ia pun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya.
Dalam hati, ia sadar betul. Semua ucapan Drake tidak ada yang membohonginya. Bahkan jika dipikir lagi, sudah sangat lama Drake memperingatkannya soal perselingkuhan yang dilakukan Alan. Namun sayangnya, ia tidak pernah mempercayainya.
Tangisan Luna semakin menjadi. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi dengan nasibnya yang amat menyedihkan. Ia kini mengandung bayi Alan, tapi Alan sendiri tidak tahu dan mungkin saja tidak mau tahu. Bahkan sekarang, laki-laki itu justru akan menikah dengan wanita lain.
"Bodoh sekali! Kenapa waktu itu aku bersedia melakukan itu dengannya. Seandainya sejak lama aku mendengarkan ucapan Drake dan mengakhiri hubungan ini. Huhuhu..."
Kini Luna menyesali kekeliruannya. Ia benar-benar bersalah pada Drake yang sejak dulu memiliki maksud baik terhadapnya.
"Aku bahkan memakinya saat dia mengkhawatirkanku. Kau bodoh sekali, Luna. Kenapa tidak menerima perasaan dari pria yang tulus padamu? Bukankah kau juga memiliki perasaan untuknya? Kalau tidak, kenapa kau membayangkan dirinya saat bercinta dengan orang lain??"
Luna memukuli kepalanya terus menerus sambil menangis histeris. Tiba-tiba saja, seseorang meraih kepalanya dan melindunginya dari pukulan-pukulan yang ia lakukan.
"Jangan menyakiti dirimu seperti ini,,"
Luna terkejut mendengar suara yang amat ia kenali itu, "D Drake?"
"Ada apa? Siapa yang membuatmu bersedih?" Drake berlagak tidak tahu menahu masalah yang sedang Luna hadapi dan mengusap air mata di pipi Luna.
"Tidak. Aku tidak apa-apa.." Luna mengusap air matanya.
"Wih? Apa itu bekal makananmu?"
Luna tersadar akan tas kain kecil berisi bekal makanan yang sejak tadi ada di tangannya.
"Iya.."
"Kalau begitu, bukalah. Aku ingin mencicipinya," Drake tersenyum.
"Ah, iya..." Luna membuka kotak makanan yang semula untuk Alan itu dan mempersilahkan Drake untuk mencicipi.
CLOMP CLOMP
"Hmm! Ini enak seperti biasanya," ucap Drake sumringah sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang masih penuh.
"Ini, kau coba juga," lanjutnya sambil menyuapkan sekepal nasi isi ke dalam mulut Luna.
"Pfft,," tiba-tiba saja Luna menahan tawanya.
"Heeh? Apa kau tertawa?" Drake yang mulutnya masih sangat penuh itu bertanya sambil sesekali menelan makanannya.
"Lihat dirimu. Seperti orang yang tidak makan selama satu tahun saja," Luna tertawa kecil karena sedikit terhibur.
Drake memperhatikan Luna yang sedang menundukkan kepala menyembunyikan tawanya. Ia amat lega, sebab berhasil membuat Luna kembali tersenyum.
Pada saat yang kebetulan, Alan lewat di depan mereka.
"Ck, CK, Ck! Lihat siapa yang sedang berduaan dengan pria pengangguran dan menyebalkan ini?? Bagaimanapun, cepat atau lambat kau pasti akan menyesal karena memakiku seperti tadi dan memohon padaku untuk kembali," Alan menyilangkan kedua tangan ke depan dada dan bicara dengan nada merendahkan Luna beserta Drake.
Mendengar omong kosong tersebut, Drake menolehkan kepalanya ke kanan sambil mendengus kasar, "Kheh! Yang benar saja?"
"Hey, kau. Ambil saja bekasku. Aku sudah tidak memakainya lagi," Alan menghina Luna dengan jelas sambil berlalu pergi.
Drake terpancing dan ingin merobek mulut Alan, namun Luna segera menahannya. Karena heran, Drake menoleh cepat dan menatap Luna tajam.
Di dalam tatapan mata mereka, seakan ada bahasa telepati yang saling terhubung. Drake tidak setuju dengan sikap Luna, namun Luna tidak membiarkan Drake ikut campur. Karena Luna terus saja memegangi tangannya, akhirnya Drake berusaha menahan diri di hadapan Luna.
Setelah Alan pergi, Drake diam saja. Ia merasa kecewa pada sikap Luna yang menahannya memberi Alan pelajaran.
__ADS_1
"Kenapa kau menahanku?" tanya Drake tanpa menoleh pada Luna.
Sayangnya, Luna tidak mau bicara dan hanya menunduk.
"Dia yang membuatmu menangis seperti tadi, kan? Aku bisa memberinya pelajaran saat ini juga. Kenapa kau menghentikanku??"
"Jangan ikut campur...."
"Apa??"
Drake tidak percaya dengan jawaban Luna. Dengan kesal, ia menyomot lagi nasi kepal isi dari kotak makan Luna dan mengunyahnya sambil menahan jengkel.
Setelah beberapa menit berlalu, Luna membuka suara.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau di sini? Apa kau sedang ada urusan dengan atasan?"
"UHUK! UHUK! Astaga, aku lupa!" Drake menepuk jidatnya dan langsung berdiri.
"Eh, apa?"
"Aku harus menemui ibuku. Kau lanjutkan saja makan siangmu. Hmm? Jangan sampai tidak makan sama sekali, karena kau sedang membutuhkan banyak asupan gizi," Drake memberi Luna pesan kemudian berlalu pergi.
KLIP
Luna mengingat kembali apa yang baru saja ia dengar dari mulut Drake sambil terbengong.
"Sedang membutuhkan banyak asupan gizi?"
DEG
"Ah?? A apa dia tahu sesuatu?"
Luna kaget setengah mati. Apa maksud ucapan Drake tadi? Benarkah pria itu tahu bahwa dirinya sedang hamil? Jika tidak, lantas mengapa ucapannya begitu tepat dengan kondisinya sekarang??
•••••
Hari ini, Nyonya Wendy sedang mengunjungi malnya dalam kegiatan kunjungan bulanan seperti biasanya. Ia meminta Drake datang untuk membahas hal penting perihal Peony.
"Kenapa kau membuat Peony marah?"
"Apa dia marah?"
"Lalu mengapa kau membuatnya kecewa dan membatalkan permintaan pertunangan kalian?" lanjut nyonya Wendy.
Drake ingat soal Peony. Waktu itu ia berpura-pura menyebut Lulu sebagai pacarnya di hadapan Peony. Apa karena itu, wanita itu langsung menemui ibunya?
"Aku hanya berterus terang padanya kalau aku sudah memiliki pacar. Itu saja."
"Apa maksudmu memiliki pacar? Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?"
"Hmm."
"Siapa dia? Apa dia putri pemilik grup terkenal seperti ayah Peony?"
"Bukan. Dia bukan putri orang kaya."
"Jadi itu gadis lain? Orang miskin juga?" tanya nyonya Wendy.
"Tidak juga."
"Apa?? Lalu yang benar dia itu anak orang miskin atau orang kaya??"
Drake menghela nafas, "Kenapa ibu terus saja mengulang-ulang pertanyaan ibu? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya barusan? Lagipula, apa status kekayaan masih menjadi prioritas ibu dalam mencari menantu?"
"Tentu saja. Sangat penting membina hubungan baik dengan besan dalam pernikahan putra putrinya. Tapi..."
"Ibu tidak yakin kau akan mengencani seorang wanita di usiamu ini," lanjut nyonya Wendy.
"Kenapa? Apa karena aku putra yang payah dan belum juga menikah di usia yang hampir tiga puluh tahun ini?"
"Bukan begitu."
"Tapi yang aku dengar barusan, ibu seperti meragukan kemampuanku."
"Jujur saja, iya. Ibu sudah menyuruhmu mencari istri sejak lima tahun yang lalu. Tapi apa jawabanmu waktu itu? Kau ingin menikmati hidupmu lebih dulu. Bahkan ibu sempat berpikir, hidup yang seperti apa yang ingin kau nikmati? Bersantai, malas-malasan dan tidak bekerja sama sekali. Apa itu hidup yang ingin kau nikmati?"
__ADS_1
Drake membuang muka ke kiri dan tersenyum kecut. Ia tidak menyangka ibunya punya pandangan buruk tentang dirinya.
"Malas-malasan? Dari mana ibu tahu aku hidup dengan bermalas-malasan?"
"Kau tidak mau bekerja dan mengembangkan perusahaan seperti Pitt," nyonya Wendy mendengus kesal sambil membuang muka.
"Aahh.. Jadi ibu masih saja membandingkan aku dengan putra kesayangan ibu yang sempurna itu? Bukankah jenis pekerjaan itu banyak? Mengapa aku harus membuang tenaga dan pikiranku hanya untuk perusahaan kalian? Kenapa??? Kenapa???!!!" teriak Drake lantang hingga membuat ibunya terkejut dan hampir saja jantungan.
"Tutup mulutmu!" tuan Halbert tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa! Kenapa aku yang harus tutup mulut???!!" Drake melawan dengan keras.
"Suamiku??" nyonya Wendy berdiri dan menghampiri suaminya yang berdiri tegang menatap putranya.
Karena tidak ingin melanjutkan pembicaraannya, Drake melangkah pergi dan melewati ayahnya. Ia benar-benar marah dan tidak ingin berlama-lama ada di sana. Tepat saat ia hendak membuka pintu, tuan Halbert berkata.
"Berhenti di sana! Ayah belum selesai bicara!"
Drake berhenti melangkah, "Aku pikir, obrolanku dengan ibu sudah selesai sampai di sini. Jadi aku harus pergi sekarang."
BANGG!!
Drake keluar dan membanting pintunya amat kencang. Beberapa karyawan yang bekerja di ruangan khusus itu terkejut dan amat ketakutan saat Drake keluar. Sebab, mereka semua mendengar pertengkaran ibu, ayah dan anak itu dari luar ruangan.
Manager dan beberapa karyawan yang berdiri di sana tidak berani menatap Drake. Mereka menundukkan kepala saat putra kedua ketua itu menoleh ke arah mereka.
"Haiss! menyebalkan sekali," Drake menoleh ke arah pintu dimana ia baru saja keluar.
Tepat saat ia hendak melangkah pergi, Alan datang membawa map hitam laporannya untuk bertemu ketua. Begitu melihat Drake, ia berhenti dan menatap Drake dengan kecemburuan. Ia ingat betul saat Luna keceplosan menyebut nama Drake saat sedang bercinta dengannya.
Belum sempat Drake menghampirinya, Alan lebih dulu datang padanya. Beberapa karyawan yang ada di ruangan itu pun khawatir jika sesuatu terjadi sebab Drake masih marah.
"Sedang apa kau di sini! Apa kau mau melamar pekerjaan?" Alan berkacak pinggang di depan Drake.
Drake hanya diam menatapnya. Namun Alan yang sombong masih saja berulah. Bahkan ia berani menunjuk-nunjuk dada Drake dengan jari telunjuknya, sampai orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dengan ulah Alan yang tidak mengenali putra kedua.
"Lihat dirimu. Apa yang bisa kau lakukan? Bahkan menjadi petugas kebersihan saja tidak pantas! Dasar pengangguran bodoh."
DUARR!
Orang-orang di sekitar pun mendelik dan terkaget-kaget mendengar ucapan Alan yang sembrono.
"Apa sudah selesai?" tanya Drake dengan mata yang sangat merah menahan marah.
"Apa?"
"Apa kau sudah selesai menyombongkan dirimu?" ulang Drake.
GLUBRAK!
Tiba-tiba saja Drake menarik Alan dan menekannya ke dinding.
WHOOAAAHH???
Semua yang berdiri di sana pun terbelalak. Mereka sudah mengira itu akan terjadi. Bagaimana tidak, Alan datang tanpa tahu situasinya. Ibarat kata, ia menyiram bensin ke dalam api yang membara.
"Seharusnya aku merobek mulutmu sejak tadi. Beraninya kau menyombongkan diri di hadapanku!"
"Cih! Kau pasti amat ingin mengalahkanku. Tapi sayang sekali, pria pengangguran sepertimu tidak bisa bersaing denganku yang memiliki pekerjaan hebat di sini."
"Ah, kau juga pasti amat menyukai pelac*r itu. Bukankah sudah ku bilang, kau bisa memilikinya? Dia sudah pernah ku pakai sekali. Tapi dia membuatku kesal karena salah menyebut namaku dengan namamu!" lanjut Alan masih tidak memahami situasi.
BHUAAKK!!
Drake membanting tubuh Alan ke lantai dengan kuat. Alan pun berteriak dan menggeliat karena merasa kesakitan akibat tulang punggungnya yang seakan-akan patah.
"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan???" ringik Alan kesakitan.
Meski Alan sudah terluka, Drake masih ingin menyakitinya. Kebenciannya pada pacar Luna itu sudah sangat dalam. Kemarahannya pada malam itu pun tidak bisa ia bendung lagi.
"Dasar pecundang! Beraninya kau menyebut dia pelac*r!!" kali ini Drake meninju kepala Alan beberapa kali.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....