
BAB 70
Pesta pernikahan yang sederhana itu akhirnya resmi mereka gelar di hotel terdekat. Dengan konsep pesta keluarga, pernikahan Luna dan Drake hanya dihadiri beberapa keluarga dan teman dekat saja.
Pada malam sebelumnya, Drake sempat membuat kesepakatan tertulis dengan Luna. Kesepakatan itu berisi kesanggupan Luna untuk berpisah atau diceraikan oleh Drake jika putrinya lahir nanti.
Kemudian, Drake juga meminta agar Luna merahasiakan pernikahan mereka dari teman kerja dan grup KS jika menginginkan dirinya ikut bersandiwara.
Di pesta itu, keluarga dari adik pak Gibson turut hadir sebab mereka tinggal di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal Luna. Lalu ada Arthur, Lulu dan lima roh yang merengek minta diajak.
Sedang keluarga Drake, tidak satupun hadir sebab memang tidak ada yang diundang. Lebih tepatnya, Drake memang merahasiakan pernikahannya tersebut dari keluarganya.
Jadi, tidak ada yang tahu kalau hari itu, putra kedua mereka telah melangsungkan pernikahan.
Selama prosesi nikah berlangsung, Drake seperti orang yang bingung. Ia terus saja celingukan mencari keberadaan Lulu di deretan bangku tamu.
Hingga akhirnya pesta tersebut usai, keluarga Luna mengundang para tamu datang ke rumah mereka untuk minum-minum.
TREK
Luna dan Terra sibuk menyiapkan gelas dan cemilan yang akan mereka bawa ke depan.
"Aku masih tidak percaya kalau Drake akan menjadi suamimu,," kata Terra dengan terang-terangan.
"Eh??" Luna menoleh pada adiknya cepat.
"Maaf, Luna. Sampai saat ini, aku benar-benar merasa ini tidak masuk akal. Apa kau yakin, kalau Drake ayah dari bayimu? Bukannya Alan??"
"Apa???"
"Ah, sudah lupakan. Toh,, akhirnya kalian menikah juga," Terra bergegas keluar membawa nampan gelasnya.
Luna mengerjapkan mata mendengar penuturan adiknya barusan. Hatinya gemetar saat kenyataan itu ia dengar dari mulut keluarganya sendiri. Bahwa bayinya memang bukan milik Drake melainkan Alan.
Di ruang tengah rumah Luna, orang-orang berkumpul sambil minum dan menyantap kue. Drake yang malam itu menjadi pusat perhatian justru sibuk memerhatikan Lulu yang sedang duduk di meja lain dan tidak mendengarkan obrolan para orang tua.
Karena tidak ada satupun yang tahu hubungannya dengan Lulu, tidak ada pula dari mereka yang tahu kalau saat itu Drake amat kesal melihat Arthur mendekati kekasihnya.
"Nah,, Ini untukmu, Lulu. Kue yang manis untuk nona yang manis pula,," Arthur mengambilkan kue untuk Lulu sambil sedikit menggombal.
"Eh? Terima kasih," jawab Lulu seraya melirik Drake.
"Ngomong-ngomong, tadi kau yang menangkap bunganya, ya? Wah,, bisa jadi setelah ini kau yang akan menikah," Arthur terus saja mengajak bicara.
Lulu tersenyum, "Benar kan? Bisa jadi setelah ini giliranku,, hehe."
"Benar,, benar. Kalau kau mau, aku juga bersedia jadi pengantin prianya,,," sahut Arthur.
Mendengar Arthur terus saja menggombali Lulu soal pernikahan, Drake benar-benar kesal. Ia terus saja meneguk minumannya dan juga meraih permen mint dari dalam toples.
Pada saat yang bersamaan, bibi Jena menyuruh Luna dan dirinya untuk segera pergi tidur dan melakukan malam pertama yang panas.
"Oh ya, Luna. Ajaklah suamimu pergi ke kamar,, bukankah sudah waktunya kalian berdua beristirahat dan melakukan malam pertama???" serunya senang.
Sialnya, Drake yang sedang makan permen mint itu terkejut mendengar ucapan bibi Jena. Ia tersedak sampai wajahnya membiru sebab permen yang sedang ia hisap itu berhenti di tengah tenggorokan.
"Uhhggkk! Uhhggk!" Drake kesulitan memuntahkan permen yang tidak sengaja tertelan.
"Oh, astaga! Apa kau baik-baik saja?" tanya bibi Jena heboh.
Seketika itu juga, semua yang ada di sana panik. Mereka mencoba membantu Drake dengan cara apapun.
"Hey nak, cepat ambilkan minum untuk suamimu!" seru paman Goved sambil memukul-mukul punggung Drake agar sesuatu yang membuat keponakan menantunya tersedak keluar.
"I iya, baik," Luna buru-buru mengambil air minum dari dispenser.
Lulu yang ada di meja lain dan sempat merasa tidak nyaman mendengar ucapan bibinya Luna tadi pun semakin terkejut melihat Drake tersedak. Ia sampai berdiri dan mendekati meja utama karena cemas. Saat itu juga, ia ingin membantu Drake, tapi tidak bisa karena ia tidak mau menimbulkan kecurigaan.
Karena tidak bisa bernafas, Drake jadi lemas dan hampir saja kehilangan nyawanya. Tanpa disadari oleh siapapun, roh merah maju menyelinap di depan paman Goved dan lainnya.
Karena situasi mendesak, ia memasukkan tangannya yang meliuk-liuk ke dalam mulut Drake, lantas mencoba mengeluarkan permen mint yang menghalangi saluran nafasnya.
Drake yang melihat roh merah melakukan itu padanya pun hanya bisa menurut dan merem melek saat merasakan tangan lentur dan dingin itu memasuki tenggorokannya. Ia tahu, roh merah melakukan itu untuk menyelamatkannya.
"Aahhkkk,,, akkhh,, akkhh,,"
"Berhasil," seru roh merah sambil menjatuhkan permen mint tersebut ke lantai.
"Uhuk! Uhuk!" Drake terbatuk saat nafasnya kembali.
"Ini minumlah, kenapa kau bisa tersedak seperti itu?" Luna menyodorkan segelas air putih dengan cemas.
__ADS_1
Drake tidak menjawab dan sibuk mengambil nafas. Diterimanya segelas air dari tangan Luna kemudian diminumnya perlahan.
"Dasar ceroboh, bagaimana bisa kau menelan permen mint sebesar itu? Apa kau terlalu gugup saat bibi menyuruhmu masuk ke kamar pengantin?? Aah,, kau gugup karena ini pertama kali buatmu, kan???" Terra sedikit menyindir.
"Hey, jangan menggodanya, Terra. Aku juga akan bereaksi begitu jika ibu mertuaku mengatakan hal itu," Loca putra pertama bibi Jena berkomentar.
"Iya.. lihat, dia jadi malu,," sahut putri kedua bibi Jena.
GLEK
Meski semua sedang ramai membahas tentang dirinya, Drake tidak mengatakan apapun dan justru manatap lurus pada Lulu.
"Terra, hentikan. Jangan bicara seperti itu lagi.." Luna mencoba menghentikan adiknya.
"Ehem. Bibimu benar. Sekarang sudah larut, sebaiknya kalian berdua masuk dan beristirahat," pak Gibson ikut bicara.
"Ya, masuklah ke kamar sekarang. Jangan merasa sungkan pada kami semua," paman Goved menepuk-nepuk punggung Drake.
"Benar,,, masuklah,,," bibi Jena menimpali.
Semua keluarga Luna menunggu pengantin baru memasuki kamarnya. Dan suasana yang canggung itu pun membuat Lulu memilih untuk berpamitan pulang.
"Em,, paman dan bibi sekalian, karena sudah larut malam, Lulu pamit pulang dulu, ya," Lulu menundukkan kepala untuk berpamitan.
"Wah, kau sudah mau pulang? Tidak menginap saja??" tanya pak Gibson.
"Ah,, sayangnya tidak bisa, paman. Aku harus berangkat bekerja, besok. Maaf ya, semuanya.."
"Begitu, ya. Sayang sekali. Tapi baiklah, karena kau besok bekerja, kau boleh pulang," jawab pak Gibson ramah.
Sekali lagi Lulu memberi salam hormat. Kemudian ia melangkah pergi sambil melirik Drake. Begitu ia sampai di halaman depan, diraihnya ponsel yang ada di dalam tas.
Lulu : "Aku pulang dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik."
Lulu mendengus pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan menunggu balasan meski tahu Drake tidak akan langsung membalas pesannya.
Di dalam...
"Eh?? Sepertinya aku juga harus pergi sekarang. Mari paman, semuanya,," Arthur memberi hormat lalu buru-buru pergi mengejar Lulu.
"Gadis tadi. Bukankah dia yang mendapatkan bunga? Dia manis sekali,,, aku pikir,, dia cukup serasi bersanding dengan pak polisi itu," kata bibi Jena.
"Iya benar. Mereka berpacaran, bukan? Aah,, kalau begitu, mereka harus menikah setelah ini," kata laman Goved.
GLEK
Otak Drake sepertinya bisa saja mendidih jika ia tetap berada bersama para orang tua yang sok tahu itu. Maka, ia memilih pergi ke kamar meski bukan untuk menghabiskan malam pertama bersama Luna.
Sambil berjalan menuju kamar Luna, ia membaca dan membalas pesan dari Lulu.
Drake : "Hmm, baiklah. Aku akan menjaga diriku dengan baik. Maaf ya,, aku sangat menyesal karena tidak bisa mengantarmu pulang. Aku mencintaimu."
Lulu menerima balasan dan langsung membacanya. Tapi ia jadi sedih saat membaca baris terakhir.
"Aku juga mencintaimu," gumamnya lirih sambil mengusap air matanya.
"Hai Lulu... mau pulang denganku??" Arthur yang menyusulnya itu muncul dari dalam.
"Eh?? Tidak usah,,,, aku bisa naik busway."
"Ayolah, biar aku yang antar pulang."
"Hmm..."
"Boleh?"
"Baiklah.." jawab Lulu ragu.
••••••
SRET
Drake menggelar selimutnya di lantai untuk alas ia tidur.
"Kau tidur di sana?" Luna yang baru masuk itu melihat Drake menggelar selimut di lantai.
"Hmm. Kau tidur saja, jangan pedulikan aku," jawabnya.
"Ah. Baiklah,,,"
Sebenarnya, Luna merasa gugup karena baru kali ini ia tidur sekamar dengan Drake. Meski dulu pria itu sering menginap di rumahnya, namun Drake akan tidur di ruang tamu atau di ruang TV sambil menonton acara favoritnya.
__ADS_1
Ia yang hendak berganti baju itu agak kebingungan sebab kamar mandi ada di luar kamarnya. Jika ia keluar dan berganti pakaian di kamar mandi, pasti ayah dan bibinya akan curiga. Tapi, kalau ia ganti pakaian di kamar, ada Drake yang bisa saja melihatnya. Jadi ia harus bagaimana??
"Ganti saja pakaianmu. Aku tidak akan melihatnya," Drake menarik selimut dan ditutupinya kepalanya dengan penuh.
"Eh?? I iya..."
SIIINNGG....
Tak terasa satu jam telah berlalu. Baik Drake ataupun Luna masih sama-sama terjaga meski lampu kamar sudah dimatikan. Drake sendiri, sibuk berkirim pesan dengan Lulu.
Sedang Luna memperhatikan Drake yang kini menjadi suaminya. Meski ia tahu, Drake hanya menjadi suami sementara baginya, namun sekarang ia merasa benar-benar ingin memilikinya.
Drake : "Apa kau belum mengantuk??"
Lulu : "Belum. Aku masih memikirkanmu."
Drake : "Tidurlah, jangan terlalu khawatir. Aku tidak akan melakukan apapun dengan Luna."
Lulu : "Sungguh??"
Drake : "Ya. Kau pasti melihatku tidur terpisah dengannya."
Uhuk...
Lulu terbatuk. Ia memang sedang memperhatikan Drake dari cermin gelembungnya. Kekasihnya itu benar-benar tidur terpisah dari istrinya.
Lulu : "Kau tahu saja, kalau aku sedang memperhatikanmu."
Drake : "Tentu saja. Aku bisa merasakan matamu ada di dekatku."
Lulu : "Baiklah,, aku pergi tidur, ya. Kau jaga diri baik-baik di sana. 😘"
Drake : "Ya. Selamat tidur... ❤️."
NGGIIINGGG
Keesokan harinya, Drake terbangun saat mendengar suara penjual keliling mempromosikan dagangannya dengan pengeras suara. Ia menggeliat di dalam selimutnya yang tebal. Ketika ditengoknya ranjang tempat Luna tidur, istri kontraknya itu masih terlelap dengan nyenyaknya.
"Jam berapa sekarang? Kenapa ramai sekali?" tanyanya lirih.
Dengan selimut yang masih menutupi kakinya, ia duduk dan mengusap wajahnya yang lesu.
"Aaakhh,, Dosa apa yang ku lakukan di masa lalu sehingga aku harus membayar dengan semua masalah ini?" gumamnya.
Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki dari luar kamar Luna. Rupanya itu bibi Jena dan pak Gibson. Mereka berencana membangunkan pengantin baru untuk ikut sarapan.
TOK
TOK
TOK
Suara pintu kamar diketuk perlahan.
"Luna? Keponakan menantu?? Apa kalian sudah bangun?" tanya bibi Jena.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Drake langsung pecicilan memungut selimut dan bantalnya yang ada di bawah lantai. Lantas ia sembunyikan bantal dan selimutnya ke dalam lemari sedang satu selimut lain ia pakaikan ke badan Luna.
Tepat saat kedua orang tua itu membuka pintu, ia berpura-pura sedang membuka tirai jendela sambil menggeliat.
"Hoaaheemm..."
"Kau sudah bangun?"
Drake menoleh dan tersenyum, "Oh? Ayah dan bibi mertua??"
Pak Gibson memperhatikan Drake yang sedikit canggung dan mencurigakan. Kemudian ia ganti memperhatikan Luna yang masih tidur. Seperti ada sesuatu yang kurang jika ia mengamati tempat tidur tersebut. Tapi apa ya?
"Turunlah untuk sarapan,," kata bibi Jena.
"Baik, bibi. Tapi sepertinya aku akan pergi mandi terlebih dahulu,,"
"Ya sudah, sana mandi dulu. Jangan lupa bangunkan juga istrimu," perintah pak Gibson.
"Ya.."
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG....