
BAB 51
Lulu melangkah pelan keluar dari kamar mandi di lantai bawah rumah Drake. Ia yang menghabiskan malam di sana terpaksa menunggu pagi hari datang.
"Bagaimana bajunya, apakah enak dipakai?" Drake muncul dari lantai atas dan menanyakan soal baju yang ia pinjamkan pada Lulu.
"Emm. Lumayan. Ini cukup nyaman dipakai," jawabnya malu-malu.
"Syukurlah. Aku sempat bingung karena tidak punya ukuran baju yang lebih kecil dari itu," Drake duduk di kursi ruang makan sambil membetulkan resleting tas selempangnya.
"Baju ini, lembut dan hangat sekali dipakai. Menurutmu, terbuat dari kain apa, ya?" Lulu merasa nyaman.
"Oh, itu? Hm,, aku tidak tahu pasti itu terbuat dari kain apa."
"Kau beli di mana?" Lulu ikut duduk di kursi ruang makan.
"Hmm. Sebenarnya itu baju yang aku dapat saat menjadi model Bulma beberapa tahun yang lalu."
"Wah, kau pernah menjadi model?"
"Hehe,, iya. Selain bertarung, menulis, aku juga cari uang dengan menjadi model di beberapa perusahaan pakaian."
"Begitu ya. Rupanya kau bekerja amat gigih dalam mencari uang. Eh, tapi tunggu. Apa katamu tadi?"
"Tadi?"
"Pekerjaanmu. Coba sebutkan lagi."
"Bertarung, model,," Drake sadar bahwa ia kelepasan soal pekerjaannya sebagai penulis.
"Kenapa berhenti, bukankah ada satu lagi?"
"Itu..."
"Menulis. Kau seorang penulis?"
GLEK
"Ehehehe,, b baru belajar sih.."
"Apa itu sebabnya, kau menyukai Alfa one?" ternyata Lulu tidak berpikir jauh-jauh.
"Ah! Iya benar, begitu,,hehe," Drake menggaruk-garuk kepalanya.
Sambil sesekali melirik ke arah Lulu, Drake membatin.
"Apa ini? Kenapa aku melihat dia begitu manis mengenakan pakaian itu,,,"
Lulu yang menyadari bahwa sejak tadi Drake memperhatikannya pun bertanya, "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Eh? Tidak ada apa-apa. Oh ya, kalau kau menyukai baju itu, kau boleh memilikinya," Drake berusaha mengalihkan perhatian.
"Untukku? Apa boleh?"
"Tentu saja. Kau boleh memilikinya. Lagi pula aku lupa kalau selama enam tahun ini aku masih menyimpannya di dalam lemari."
"Baiklah, aku terima ini sebagai hadiah darimu," sahut Lulu seraya tersenyum manis.
Drake mengangguk lalu mengajak Lulu pergi "Ayo berangkat."
"Ah, apa kau mau mengantarku pulang sekarang?"
"Hmm. Kita cari makanan di luar dulu," jawabnya.
"Eh?"
"Kenapa? Apa kau tidak mau?"
"Ehehe,, Tidak, bukan begitu."
GRETEK
Drake berdiri sehingga kursinya terdorong ke belakang, "Aku mau memanaskan mobil duluan. Kalau kau sudah siap, segera keluar."
"I iya, baiklah," Lulu mengangguk segan.
••••
SRET
Saat melangkah ke halaman, Drake dan Lulu bertemu dengan Terra.
"Heh, Lulu? Kau masih di sini?"
"Ehm, i iya," Lulu gugup. Ia takut kalau Terra akan salah paham.
"Aku menyuruhnya menginap karena kepalaku agak pusing semalam. Karena aku tidak bisa mengantarnya pulang, jadi itulah pilihan terbaik," sela Drake.
"Ooh begitu, ya. Lain kali kau bisa menginap di rumah kami, Lulu. Dia bisa saja menerkammu saat malam hari. Bagaimanapun dia itu seorang pria," Terra memberi nasehat karena sedikit cemburu.
"I iya, baiklah..hehe,"
"Terus, kalian mau ke mana sekarang?"
"Aku mau mengantarnya pulang, kau mau ikut?"
__ADS_1
"Eh, tidak. Aku sedang menyapu halaman. Pergilah. Antarkan dia pulang dengan selamat," jawab Lulu ramah.
"Tentu saja."
"Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Dah Terra," pamit Lulu.
Terra melambaikan tangannya sambil tersenyum. Walaupun ada sedikit kecemburuan di hatinya, namun ia tahu. Drake orang yang mudah bergaul dan disukai banyak orang. Jadi sudah sewajarnya jika dia dekat dengan beberapa teman.
Lagi pula, dirinya punya hak istimewa apa terhadap Drake? Ia juga hanya salah satu tetangga yang merangkap sebagai teman baiknya.
SREK
SREK
SREK
Suara sapu lidi terdengar begitu Terra melanjutkan pekerjaannya.
"Itu Lulu, ya? Apa dia menginap di rumah Drake, semalam?" tanya Luna mengagetkan.
"Eh? Kakak? Iya, Drake bilang semalam ia sakit kepala. Jadi tidak bisa mengantar Lulu pulang."
"Ooh,,," jawaban singkat Luna terdengar kesal.
"Eh, pagi-pagi begini kau mau pergi? Bukankah hari ini kau libur?"
"Ya. Alan mengajakku pergi jalan-jalan mendaki gunung. Sebentar lagi dia datang menjemput."
"Ke gunung?"
"Hmm. Semacam berkemah, ya?" Terra merasa senang atas kakaknya yang jarang sekali diajak Alan pergi liburan.
"Iya. Jarang sekali Alan mengajakku liburan seperti ini. Jadi aku mengiyakan saja saat dia mengatakannya," jawab Luna.
Benar saja, beberapa menit kemudian, Alan datang menjemput Luna. Ia datang dengan peralatan kemah lengkap di dalam mobil.
"Kami berangkat dulu, ya," pamit Luna pada adiknya.
"Hmm. Hati-hati. Bersenang-senanglah," seru Terra dengan bahagia.
••••••
Kembali dengan Drake dan Lulu. Mereka tampak sedang duduk di rumah makan dengan menu utama dari tahu.
Drake memesan banyak makanan, sedang Lulu hanya sup dan udang selimut. Masing-masing pesanan diletakkan di atas nampan yang terpisah.
"Kau yakin bisa menghabiskan semua makanan yang kau pesan?" Lulu bertanya karena makanan di nampan Drake sangat penuh.
"Kau pasti tidak percaya. Aku bisa menghabiskan semua ini sendiri. Hee," Drake nyengir sambil mengambil sumpit dan mulai makan.
Jika diamati, cara Drake makan memang biasa saja. Sama seperti yang lainnya. Hanya saja, pria itu seakan tidak kenyang-kenyang."
"Tambah!" panggilnya pada pelayan.
"Eh eh?? Apa kau yakin? Kau sudah makan banyak, lho," Lulu mencoba mengingatkan Drake.
"Tenang saja. Aku masih kuat."
Karena Drake mengatakan masih kuat menelan makanan lagi, Lulu hanya bisa melongo dan khawatir.
"Drake, apa ini benar-benar dirimu?" bisik Lulu.
Drake menoleh dan tersenyum, "Iya. Ini aku. Memangnya siapa lagi?"
"Kau seperti bukan dirimu."
"Sudah jangan cemaskan aku, makanlah."
Meski Drake sudah mengatakan itu, Lulu masih saja cemas. Ia benar-benar cemas jika Drake mulai dikuasai makhluk yang hidup dalam tubuhnya itu.
Setelah setengah jam berada di rumah makan itu, akhirnya Drake dan Lulu keluar. Mereka langsung masuk ke mobil dan berangkat ke rumah Lulu.
Di tengah perjalanan, sebuah mobil sedan menyalip dan berhenti mendadak di depannya. Drake mengerem, namun karena semuanya mendadak, mobilnya pun menubruk mobil yang ada di depannya itu dengan cukup keras.
Bahkan mobil yang ada di belakangnya pun ikut menubruk mobilnya, hingga mobilnya mengalami kerusakan di bagian depan dan belakang secara bersamaan.
BRRUUAAKK!
Ketiga mobil itu pun berguncang. Drake menepi untuk melihat kondisi mobilnya. Tapi dari mobil depan yang ikut menepi itu, turunlah seorang pria dan langsung menghampiri mobil Drake dengan marah-marah.
Karena Drake merasa tidak bersalah, ia pun bergegas turun untuk melayani pria tersebut.
"Hey, apa kau tidak punya mata? Kenapa kau menabrak mobilku!" bentak pria dari mobil sedan.
"Apa? Aku? Kheh.." Drake menoleh ke samping sambil tertawa kecut. "Apa kau tidak menyadari bahwa kau sendiri yang seenaknya berhenti di tengah jalan tanpa memberi tanda?"
Pada saat mereka tengah berdebat, Lulu dan pengemudi mobil belakang keluar dan ikut mendengarkan.
"Walaupun aku berhenti, seharusnya kau juga mengerem atau menghindar, kenapa tetap melaju dengan cepat dan membuat bumper belakang mobilku penyok!!"
"Haiss!! Dasar kau ini. Beraninya melimpahkan kesalahanmu pada orang lain. Lihat! Gara-gara kau, mobilku rusak di semua bagian," Drake jadi kesal.
"Ayo ke kantor polisi. Kau harus membayar ganti rugi atas kerusakan mobilku!" seru pria dari sedan depan.
Drake mengusap kepalanya dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Ia juga berbalik ke belakang untuk menahan emosinya yang hampir saja membeludak.
__ADS_1
Dengan pelan dan tatapan mematikan, ia menoleh dan berkata dengan berani, "Kenapa aku yang harus membayar ganti rugi saat kau yang menyebabkan masalah??"
"Kau!!" pria dari sedan depan bersiap memukul.
Karena Drake tidak mau mengalah dan bersiap menahan pukulan, Lulu meraih tangan Drake dan menggandengnya ke belakang agar tidak terpancing emosi.
"Em, maaf tuan. Aku dari mobil belakang. Karena melihat kau juga menjadi korban, aku akan mengganti biaya perbaikan bumper belakang mobilmu."
Saat Drake sedang mendengarkan ucapan wanita dari mobil belakang, pria dari mobil sedan depan menarik pundaknya.
Namun karena sudah terbiasa dengan kewaspadaan, Drake langsung membanting pria tersebut hingga jatuh ke aspal.
GLUBRAK
Diam-diam, orang lain yang ada di dalam mobil sedan depan terus mengamati Drake. Ia tersenyum-senyum melihat supirnya dikalahkan hanya dengan satu serangan.
Karena tidak mau supirnya itu berlama-lama membuat keributan di pinggir jalan, ia pun keluar dan menghampiri Drake.
"Maaf Drake, supirku memang keterlaluan," ucapnya sambil berjalan ke depan Drake.
"Peony?"
"Nona?? Tapi dia.."
"Masuklah dulu. Aku akan bicara dengannya," Peony menatap supirnya dengan kesal.
"B Baiklah," supir Peony itu menuruti permintaan nonanya.
••••••
DEAL
Usai memberi kartu namanya, pengemudi mobil belakang pun ijin pergi. Ia sudah menyepakati perjanjian dengan Drake bahwa ia akan membayar semua biaya perbaikan di bengkel atas kerusakan yang ia buat pada mobil Drake.
Sedangkan Peony, ia merasa senang bisa bertemu lagi dengan pria yang dijodohkan kepadanya itu.
"Sayang sekali, ya. Kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Apa kau mau menumpang ke mobilku, sementara mobilmu dirawat di bengkel? Jika kau mau, aku akan menelepon pelayanan mobil itu untukmu."
"Tidak perlu. Aku akan membawanya sendiri ke bengkel," Drake menolak tawaran Peony dan meminta Lulu masuk ke dalam.
BRUUMM
Baru satu langkah bergerak ke depan, mobilnya mogok dan bumper depan ambrol.
"Haisss! Sial!" Drake mengumpat kesal sambil memukul kemudinya.
Sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi, ia membuang nafas dengan kasar. Kemudian, ia memaksakan diri untuk menyalakan kembali mobilnya. Namun sekali lagi, ia gagal melakukannya.
"Khukhukhu,,,, sepertinya, Tuhan memberiku kesempatan," Peony menghampiri dan menggoda Drake.
"Bagaimana, apa kau mau mengambil tawaranku??" tanyanya dengan penuh keyakinan bahwa Drake akan ikut.
Tidak ada pilihan lain.
Dengan terpaksa, Drake turun dari mobil menerima tawaran Peony untuk ikut di mobilnya.
•••••
SIIIINGGGGG...
Singkat cerita, Drake dan Lulu sudah berada di dalam mobil wanita itu. Peony duduk bersama Drake di belakang, sedang Lulu duduk di samping supir.
"Bagaimana, apa kau nyaman berada di dalam mobilku?" tanyanya.
"Hmm," Drake hanya mendehem sambil terus menatap ke luar jendela.
SRET
Tiba-tiba saja, dengan pedenya, Peony memeluk lengan kanan Drake dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Kapan kita akan pergi kencan lagi?" tanyanya tanpa malu-malu.
Lulu membelalakkan mata saat melihat sikap Peony dari kaca depan. Ia bermaksud menyela, namun supir Peonya meliriknya dengan ancaman. Alhasil, Lulu menutup mulutnya dan membuang muka ke luar jendela.
Karena tidak nyaman dengan makhluk bernama wanita yang menggelendot di lengannya, Drake menyingkirkan kedua tangan Peony dari sana.
"Aku tidak berpikir akan melakukan itu."
"Benarkah? Bagaimana kalau ku beri tahu soal pertunangan kita?"
Drake menoleh cepat-cepat, "Apa maksudmu dengan pertunangan?"
"Kau belum diberitahu bibi Wendy, ya?"
"Apa hubungannya dengan ibu?"
"Sehari setelah kita berdua pergi berkencan, bibi Wendy mengundang keluargaku makan malam di rumahmu. Apa yang bisa kau lakukan, coba. Dua keluarga bertemu dan membahas tanggal pertunangan."
GLEK
"I itu tidak mungkin. Aku tidak berada di sana untuk pertemuan itu. Bagaimana mungkin kalian menentukan tanggal tanpa kesepakatan dariku," Drake mendelik tidak percaya.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG....