HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
RAHASIA JEMURAN


__ADS_3

BAB 10


GLEK


Drake agak cemas ketika Lulu mengatakan ingin mampir melihat rumahnya.


"Eh? Yang benar Lulu, kau ingin mampir ke rumahku?"


"He-em. Kenapa kak? Tidak boleh, ya?"


Drake menoleh cepat, "B boleh. Boleh kok. Hehe.."


Tapi, rumahku agak berantakan. Apa kau tidak masalah?" Drake ingat, saat semalam ia pergi ke rumah sakit, ia belum membereskan piring bekas makan malamnya.


Aduh, gawat!


KLIK


KLIK


CKREK


Drake meminta Lulu menunggu sebentar di depan pintu rumahnya.


"Em, Lulu. Bisakah kau tunggu sebentar di sini?"


"Menunggu di sini?"


"I iya. Aku masuk sebentar. Tidak apa-apa kan?"


Lulu tersenyum maklum, "Baiklah. Aku akan menunggu di sini."


"Oke."


Dengan gerakan cepat, Drake menutup pintu kembali dan memeriksa bagian dalam rumahnya. Ia khawatir, akan ada banyak barang yang berantakan di meja makan.


Namun ternyata, rumahnya sudah bersih. Begitu pula piring dan gelas bekas makannya semalam. Semuanya sudah tertata rapi di rak.


Bahkan kamarnya yang berantakan dan penuh dengan remasan kertas pun sudah rapi semua.


"Apa itu Luna? Aarrhh,,, terima kasih banyak Luna. Kau memang malaikat yang manis," Drake merasa bersyukur.


Karena kondisi rumahnya sudah aman, maka Drake pun merasa percaya diri saat membukakan pintu rumahnya untuk Lulu.


"Mari masuk, Lulu."


"Iya."



••••••


SLURRRPPP


Drake meneguk minuman kaleng dingin miliknya dengan penuh perasaan.


Untung saja tadi, setelah dua kali terjatuh, ia dapat mengayuh sepeda Lulu dengan baik sampai di rumah. Tidak lupa pula ia mengobati luka lecet pada lutut Lulu.


LIRIK


LIRIK


"Ada apa? Kenapa terus melirikku seperti itu, kak?"


"Eh? Tidak ada apa-apa. Kau sudah baikan, kan?" Drake melanjutkan meneguk minumannya.


"Ya. Aku baik-baik saja."


Lulu diam dan memperhatikan seluruh penjuru rumah Drake. Kemudian ia tersenyum.


"Kakak juga tinggal di sini sendiri?" tanyanya.


"Ya. Sepertimu."


"Pasti sering merasa bosan, ya?"


"Tidak juga. Ada Luna yang setiap saat berteriak dan memarahiku. Jadi aku tidak cukup kesepian."


"Luna? Siapa?"


"Dia seorang tetangga yang cerewet, hehe," kata Drake.


"Ehem! Cerewet, ya? Duuhh, nona manis. Jangan percaya pada mulut beracun Drake. Dia hanya akan terlihat tampan dan sempurna di hadapan wanita luar. Tapi sebenarnya, hanya aku yang tahu semua kejelekannya."


"Eh buset! Kapan kau masuk?"


Drake terkejut sebab Luna tiba-tiba saja sudah ada di dalam rumahnya.


"Kau pasti lupa. Aku bisa masuk kapan saja ke rumahmu."


Luna yang bersandar di tembok pun melangkah mendekati kedua orang yang sedang mengobrol itu.


"Nona manis, siapa namamu?"

__ADS_1


"Aku Lulu. Kau sendiri?"


"Aku Luna, tetangga yang cerewet itu," jawab Luna sambil melirik sebal pada Drake.


"Oh,, hihihi. Sepertinya dia hanya bercanda saat menyebutmu cerewet, kakak cantik," Lulu berusaha sebaik mungkin mencairkan suasana.


Wajah Luna yang sebal dan kesal itu akhirnya lenyap seketika.


"Hey, kau menculik adik manis ini di mana?" tanya Luna sambil duduk di sebelah Drake.


"Enak saja. Apa wajah tampanku ini tampak seperti seorang penculik!" Drake mendengus kesal.


"Hehehe,, Soalnya mana ada gadis yang mau mampir ke rumahmu selain aku. Jadi saat aku melihatnya, aku pikir kau menculiknya di suatu tempat," Luna mencubit pipi Drake dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.


"Aduhh,, sakit,, lepaskan..." pekik Drake.


Luna yang tidak mau melepas cubitannya itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah lucu Drake. Mulutnya tampak tertarik ke sisi kanan dan kiri.


Lulu memperhatikan kedua manusia itu dengan bibir yang tersenyum. Ia bisa melihat kedekatan yang berbeda dari keduanya. Bahkan sekarang Drake dan Luna tampak akrab di mata Lulu.


"Emm, permisi kak. Apa aku boleh menumpang ke kamar mandi?" sepertinya Lulu kebelet pipis.


Luna dan Drake berhenti bercanda, "Kamar mandi? Yya,,, boleh saja."


Drake mempersilahkan Lulu menggunakan kamar mandinya sebab ia percaya setiap sudut rumahnya sudah bersih berkat Luna.


"Terima kasih. Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu, ya..."


Luna dan Drake mengangguk berbarengan. Ketika Lulu sudah masuk ke dalamnya, Luna memukul lengan Drake.


"Kau ini! Dasar jorok sekali! Rumahmu sudah persis seperti kandang babi jika aku tidak segera membersihkan semuanya."


"Ehehehe,, Terima kasih ya Luna, kau memang yang paling mengerti aku," jawab Drake sambil meringis.


Luna mencibir dan merebahkan punggungnya ke sofa. Namun sedetik kemudian ia bangkit kembali.


"Ya Tuhan!"


"Eh? Ada apa?"


"Hari ini aku mencuci pakaianmu!"


"Hmm. Lalu kenapa kau berteriak?"


"Lulu pasti akan melihat pakaian d*lam milikmu yang sedang aku jemur juga!"


UHUK!


Drake terbatuk hingga minuman soda yang sedang ia minum keluar lagi dari hidung. Tenggorokannya seakan tersumbat seketika. Apa yang harus ia lakukan? Kamar mandinya memang terhubung dengan ruang jemuran yang dipisahkan dengan sebuah sekat dari kaca.


Lulu tampak sedang berdiri mematung sesaat setelah ia masuk kamar mandi di rumah Drake. Ia terkejut melihat sederet benda pribadi berwarna abu-abu, coklat dan hitam tertata rapi di rak jemuran yang ada di ruang kaca sebelah.


"I ini kan? Bukankah...."


GLEK


Lulu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia berusaha menahan tawa sembari matanya terus menatap benda-benda imut tersebut.


"Astaga. Ada ruangan ini ya, di kamar mandi kak Drake. Dan itu, mengapa cel*na dal*mnya ditata sejajar dengan posisi seperti itu? Hihihi... ini imut sekali...."


Di luar kamar mandi, Drake tampak sedang menungging di atas kursi sofanya seraya membentur-benturkan dahinya.


"Ini memalukan sekali...." rengeknya.


"Ini semua salahmu, Luna. Mengapa hari ini kau mencucikan bajuku?"


"Apa? Kau menyalahkan aku??"


"Eh,, Tidak.. Tidak. Bukan begitu maksudku."


BAANGG!!


BLETAK!!


BLETAKKK!!!!



"Sekali lagi berani menyalahkanku, aku tidak akan lagi membantumu beres-beres rumah. Lagipula, sebenarnya semua itu bukan urusanku. Seharusnya kau bersyukur karena aku dengan sukarela membersihkan rumahmu tanpa minta upah," ucap Luna cemberut sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan yang baru saja ia gunakan untuk memukul Drake.


"I iya. Aku tahu. Tapi, sebenarnya aku tidak memintamu untuk melakukannya. Kau melakukannya atas kemauanmu sendiri, kan?" Drake merasa bersalah.


"Aiiisss. Semua ini karena permintaan ayah. Jika ayah tidak menyuruhku untuk merawatmu seperti putranya sendiri, aku juga tidak akan melakukannya."


TRAK


Lulu keluar dari kamar mandi. Ia berusaha menampakkan wajah yang tenang seakan tidak melihat apapun saat berada di dalam.


"Kau sudah selesai?" Drake bertanya dengan bibir yang mengerucut dan lirikan penuh menyelidik.


"Iya, sudah. Weh, kak Luna masih di sini?" Lulu mendekati Luna.


"Eh? I iya. Em, Lulu. Sepertinya, usia kita hanya terpaut beberapa tahun saja. Bisakah kau bersikap santai saja denganku? Tidak perlu memanggilku dengan sebutan kakak. Yaaa,, hahaha,, Panggil saja Luna. L-U-N-A. Luna."

__ADS_1


"Begitu, ya?"


"Iya," Luna tersenyum.


"Baiklah. Kalau itu maumu... Luna."


"Nah...," Luna menggerakkan kedua tangannya seperti menembak.


••••••


TOOSSS


Drake, Luna dan Lulu menempelkan minuman kaleng mereka masing-masing hingga isinya menyiprat keluar.


"Aku tidak menyangka, bisa mengobrol seru seperti ini bersama kalian," Lulu mengulum minuman sodanya.


"Kapan-kapan, kalian berdua datanglah bersama mampir ke rumahku. Aku akan membuatkan kalian makanan yang lezat."


"Makanan? Tentu saja," jawab Drake.


"Kau ini. Masih saja memalukan!" Luna menyikut perut Drake.


TING TUNG


Suara bel pintu rumah Drake ditekan seseorang.


"Apa ada tamu lagi?" Luna berdiri dan mendekati pintu.


CKLEK


Begitu pintu dibuka, tampaklah seorang wanita cantik dan berkelas tengah berdiri di luar.


"Siapa, ya?" tanya Luna.


"Ah? Aku kakak ipar Drake. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan. Kau sendiri siapa? Mengapa ada di rumah adik iparku?" tanya Eloise.


"Oh? Selamat sore. Aku temannya. Apa kau ingin bertemu dengannya? Kalau begitu masuk saja, kami sedang mengobrol di dalam."


Eloise berpikir sejenak. Ia ingin membicarakan sesuatu hanya berdua dengan Drake. Tapi mengobrol bersama, sepertinya boleh juga.


Ia juga ingin tahu, siapa wanita yang mengaku sebagai teman Drake itu.


"Baiklah. Bolehkah aku masuk?"


"Tentu saja. Mari masuk," Luna mempersilahkan Eloise masuk.


Saat Luna kembali membawa seorang tamu, Drake menoleh dan melihat Eloise datang. Raut mukanya berubah seketika. Ia menjadi murung dan tidak bersemangat seperti semula.


"Wah, sedang pesta soda, ya. Tunggu, apa aku mengganggu kalian?"


"Tidak kok. Hehe.. silahkan duduk," Luna memberi tempat bagi Eloise.


Ketika Drake hanya diam dan bersikap dingin pada Eloise, Lulu dan Luna pun berpamitan pulang.


"Emm, sepertinya kami harus pergi sekarang. Ya kan Lulu?" tanya Luna basa-basi sambil bergegas meninggalkan tempat duduknya.


"Eheheh,, iya. Kami ada perlu di luar. Kalau begitu kami pulang dulu ya, kak," Lulu ikut berdiri menyusul Luna.


Karena Drake hanya menatap mereka sambil mendengus, maka Luna buru-buru mengajak Lulu keluar. Sambil berjalan pergi, Lulu berbisik pada Luna.


"Siapa dia? Apa dia pacar kak Drake?"


"Bukan. Dia kakak iparnya."


"Tapi mengapa mataku menangkap sesuatu yang berbeda di dalam tatapan wanita itu?" kata Lulu.


"Maksudmu?"


"Bukan. Menurutku, dia bukan kakak iparnya. Aku melihat tatapan penuh cinta dari mata itu. Lagipula, sikap kak Drake juga aneh. Dia berubah jadi dingin setelah wanita itu datang. Padahal tadi dia sedang bercanda bersama kita, bukan?"


"Benar sekali. Entahlah. Besok kita tanyakan saja padanya. Mungkin itu urusan penting. Jadi kita harus pergi memberi mereka waktu untuk bicara."


SRET


Sepeninggal Luna dan Lulu, Drake bicara dengan jelas.


"Kenapa kau kemari? Bukankah sudah ku katakan padamu, aku tidak ingin membicarakan masalah itu lagi?"


"Tidak apa-apa jika kau tidak mau. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Bagaimana jika aku menceraikan Pitt, apa kau mau kembali padaku, Drake?"



Drake menoleh pelan, "Apa maksudmu??"


"Sudah delapan tahun lamanya. Tapi tidak juga hadir seorang anak di kehidupan kami. Kau tahu apa artinya? Itu karena kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri selama pernikahan."


"Apa maksudmu mengatakan ini padaku?"


"Jika kau menghindariku karena itu, aku bisa menjamin sesuatu. Dia tidak pernah menyentuhku selayaknya seorang istri. Hanya sekali saat peristiwa itu. Selain itu tidak pernah."


Drake merasa bingung. Haruskah ia bersimpati atas apa yang Eloise lalui ataukah ia merasa bersyukur mengetahui seorang kekasih di masa lalunya itu ternyata tidak pernah disentuh lagi oleh pemerkosanya.


"Aku lelah. Ada beberapa progres yang harus aku selesaikan malam ini. Jadi, maaf. Sepertinya kau harus pergi sekarang juga, Eloise," kata Drake sambil berdiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2