HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
KOTORAN ANJING


__ADS_3

BAB 30


Matahari sore hampir tenggelam ketika Drake masih saja duduk sambil merokok di dipan samping rumah Luna. Karena Joy sedang bermain bersama Terra, Drake menggunakan kesempatan itu untuk menunggu Luna pulang.


Sebenarnya, ia juga mau meminta maaf soal perkara tadi pagi. Ia sadar, becandaannya memang keterlaluan.


Sudah dua jam lebih ia menunggu kedatangan Luna. Tapi mungkin, hari ini Luna mengambil lembur sehingga ia pulang melebihi jam kerjanya.


Drake mematikan rokoknya lalu bangun dan berjalan mondar mandir di depan halaman rumah Luna.


"Kau sedang apa sih, kenapa mondar mandir seperti ayam yang mau bertelur?" tanya F5.


"Apa dia lembur lagi, ya?" gumam Drake tanpa menggubris pertanyaan F5.


GUK! GUK!



Tiba-tiba Drake melihat seekor anjing jenis maltipoo berlari keluar dari semak-semak sambil menyalak lantang.


"Eh? Zigo?"


Zigo adalah seekor anjing piaraan Mares, tetangganya yang beda blok. Karena Zigo sudah mengenal Drake dengan baik, tanpa takut-takut lagi ia mendekatinya.


Dan seperti biasanya, Drake pun berlutut dan menggelitik dagu serta kepala anjing berbulu putih halus itu dengan santai.


Terlihat dengan jelas, anjing tersebut menikmati saat-saat di mana Drake memanjakannya.


"Di mana Mares? Kau keluar berjalan-jalan sendiri?"


"Guk! Guk!'


"Pulanglah cepat. Mares pasti mencarimu. Kau bisa dihukum seperti waktu itu kalau pergi jauh-jauh dari rumah," kata Drake.


"Guk! Guk!"


Seperti memahami apa yang dikatakan Drake, Anjing itu pun berlari pulang. Tidak lama berselang setelah Zigo pergi, sebuah mobil datang dan berhenti di jalan depan.


Drake yang tahu bahwa itu mobilnya Alan pun secara spontan pergi bersembunyi ke semak-semak tempat Zigo keluar tadi. Loh? Ngapain juga dia bersembunyi?


Ternyata Drake tidak ingin ketahuan bahwa ia menunggu gadis itu selama dua jam lebih. Ia tidak ingin pertemuannya dengan Luna untuk meminta maaf terganggu oleh Alan.


"Apa kau mau mampir?"


"Hmm, boleh. Kita duduk di luar sini saja. Enak anginnya semilir," jawab Alan.


"Benar juga."


Pasangan itu pun duduk di dipan samping rumah tempat Drake duduk tadi. Tanpa sengaja, Alan melihat bungkus rokok milik Drake yang rupanya tertinggal di sana.


"Ada rokok di sini. Apa teman pemalasmu itu datang kemari?"


"Eh?" Luna memeriksa rak sepatu yang ada di depan rumahnya. Tidak ada sepatu milik Drake. "Sepertinya dia tidak datang kemari," sambungnya.


"Lalu, bagaimana caranya rokok ini sampai di sini?"


"Em, tidak tahu. Mungkin tertinggal waktu kita makan donat bersama-sama waktu itu."


"Oooh,, begitu ya. Bisa juga."


Dari semak-semak, cukup lama Drake berjongkok menyaksikan kemesraan diantara Luna dan Alan. Akan tetapi, ia tidak bisa mendengar sedikitpun apa yang sedang mereka bicarakan. Ia hanya bisa memperhatikan wajah Luna yang begitu bahagia mengobrol dengan pria itu.


KRASAK


Drake tidak sengaja menggerakkan kakinya saat melihat Alan mencium bibir Luna.


"Suara apa itu?" Alan yang terganggu ketika melancarkan aksinya itu berdiri dan mencari suara.


"Hissh, dasar pria mesum. Beraninya dia mencium Luna di depan mataku..." gumam Drake kesal.


Meski begitu, ia mencoba untuk tidak bergerak sama sekali agar tidak ketahuan bersembunyi di sana.


Namun karena kakinya pegal, Drake bergerak merubah posisi tubuhnya. Tangannya yang menopang ke tanah itu tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang lengket.



NGEEEEKKK


Begitu ia memeriksanya, telapak tangannya penuh kotoran anjing berwarna coklat tua.


"Eh buset, apa ini? T tai anjing? Haissh, Zigo sialan, kau yang membuang kotoran mengapa aku yang kena imbasnya??" umpatnya kesal.


Bodohnya, sudah tahu itu kotoran, Drake masih saja mengendus tangannya.

__ADS_1


"UHUK! UHUK! Bau sekali.." ekspresi Drake mau mual.


"Kenapa bau?" tiba-tiba seseorang bertanya padanya dari belakang.


"Anjing sialan itu membuang harta Karun sembarangan di sini dan mengenai tanganku," jawab Drake spontan tanpa menyadari ataupun menoleh ke belakang.


"Oohh,,, siapa suruh paman bersembunyi?" rupanya itu Joy.


"Weeh?? K kau Joy. Ngapain di sini?" Drake akhirnya sadar bahwa ada seseorang di belakangnya.


"Xixixii, paman ngapain bersembunyi di sini? Lagi main petak umpet, ya?"


"Main petak umpet gundulmu, cepat sana pergi. Nanti aku bisa ketahuan.." Drake berkata setengah bisik-bisik.


Karena semak-semak itu bergoyang, Alan mendekati tempat persembunyian Drake itu dengan cepat. Disibaknya semak belukar yang lumayan lebat itu dengan penuh tenaga.


"Rupanya kau! Sedang apa di sini?!!" tanya Alan tidak suka.


Karena sudah ketahuan, Drake pun berdiri sambil cengengesan. Ia melihat Luna juga menatapnya dengan pandangan yang masih marah.


"Ehehehe,,, aku.. aku sedang bermain petak umpet dengan Joy. Ya kan Joy??" Drake mengusap-usap kepala Joy sambil mengedipkan mata meminta kerjasamanya.


Tapi, namanya anak kecil yang apa adanya, Joy malah bicara sebenarnya.


"Tidak, tidak. Paman sedang mainan kotoran anjing saat aku datang," jawab Joy.


"Hehh??" Drake nyengir.


"Kotoran anjing?" Alan heran.


Karena dirinya sudah tertangkap basah dan ketahuan bersembunyi di balik semak-semak, Drake melangkah maju mendekati Alan. Ia berlagak bicara ramah pada pacar Luna itu, padahal sebenarnya untuk maksud lain.


SRET


"Aah,, tidak, lupakan saja soal itu. Hmm,, kalian berdua, silahkan lanjutkan saja mengobrolnya. Hehe,, aku pulang dulu.." kata Drake seraya menepuk dan mengusapkan telapak tangannya yang kena kotoran anjing ke pakaian Alan.


"Hey,, apa yang kau lakukan?" Alan menoleh curiga saat Drake menepuk dan mengusap-usap pundak kirinya.


Usai mengusapkan telapak tangannya ke pakaian Alan, Drake berjalan ke dipan kayu dan mengambil bungkus rokoknya. Sedangkan Alan sibuk memeriksa benda lengket coklat bau yang mengotori pakaiannya.


"Tunggu. Apa yang kau.. apa yang kau usapkan ke bajuku barusan? Kenapa bau busuknya menyengat sekali?" Alan tampak mau muntah.


"Tenang saja. Itu cuma hasil karya seni Zigo," jawab Drake santai sambil ngeloyor pergi.


"Z Zigo?"


••••••


BANG!


Beberapa jam setelahnya, saat Drake sedang mencuci baju, Luna datang bersungut-sungut memasuki rumahnya.


"Bibi Luna?" Joy yang sedang menggambar di ruang tamu menyapa Luna.


"Di mana Drake?"


"Paman sedang di kamar mandi..."


DRAP DRAP DRAP


Luna langsung ngeloyor masuk mencari Drake. Ia berniat memarahi sahabat kecilnya itu.


Begitu ia masuk ke dalam dan melihat Drake sedang berdiri di depan mesin cuci, Luna langsung berlari dan siap menendang.


Untung saja, Drake menoleh sehingga ia melihat dengan jelas serangan mematikan yang saat itu datang padanya.


"Wo wo wo wo wooooo!!!!" seru Drake sambil menghindar.


GLUBRAKK!


Luna yang semula berniat menendang bokong Drake itu justru tersungkur ke dalam mesin cuci. Usut punya usut, saat berlari tadi itu kaki Luna menginjak sabun batangan yang tergeletak di lantai. Alhasil, sabun tersebut membuat lantai licin dan memaksa Luna meluncur bebas ke arah mesin cuci.


"L Luna,, kau tidak apa-apa?" meski takut-takut, Drake mencoba mendekati Luna yang tertimpa sial.


SRATS


Luna langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia kembali pada tujuan awalnya.


"Kemari kau!"


"Em, ada apa?" Drake merasa ragu.


"Kemari kalau tidak ingin ku bunuh!"

__ADS_1


"Wah wah, mem.. membunuh? Jangan bicara seperti itu ah, kau benar-benar menakutkan," Drake berusaha menghindari Luna.


Karena Drake tidak mau datang padanya, Luna kembali menerjang pria itu.


"Hiiiyaaaaa!!" serunya.


GLUBRAAKK!


Drake yang tidak siap itu berhasil dijatuhkan oleh Luna. Tanpa ampun, Luna yang duduk di atas tubuh Drake itu menjambak rambutnya dan menggoyang-goyangkannya ke sana kemari.


"Rasakan!"


"Aduuuuhhh... ampun Luna.." rengek Drake.


Puas dengan rambut, tangan Luna berpindah ke area leher. Ia mencekik Drake sampai Drake terbatuk-batuk.


"UHUK! UHUK! Aku tidak bisa bernafas.." kata Drake pasrah kemudian berpura-pura pingsan.


Sementara itu, Joy yang sedari tadi melihat pertarungan antara orang dewasa itu hanya bisa melongo bingung.


"Paman dan bibi sedang apa sih?" pikirnya.


Melihat Drake tidak sadarkan diri, Luna mengira bahwa cekikannya terlalu kencang.


"Drake? Jangan bercanda. Ayo buka matamu!" Luna jadi panik.


Drake diam dan membiarkan Luna menepuk-nepuk pipinya.


"Hey, apa kau benar-benar tidak mau bangun? Kalau begitu, aku akan menggigit telingamu," Luna mengancam sambil bergerak mendekati kuping Drake.


Sayangnya, Drake tidak bisa menahan geli. Ia pun tertawa begitu wajah Luna mendekati telinganya.


"Ahahaha,, sudah sudah, jangan gigit telingaku,, aku mengaku kalah.." tutur Drake.


"Hmmph! Kau hanya berpura-pura pingsan, ya?"


"Ehehe,, habisnya kau bersemangat sekali mencekikku," jawab Drake.


"Dasar menyebalkan!"


Luna meraih tangan Drake dan menggigit lengannya dengan kuat.


"Hiiaaaaaaaarrggg!!!" teriak Drake kesakitan.


Setelah puas menyiksa sahabatnya itu, Luna menyingkir dari atas tubuh Drake.


"Itu pembalasan untuk keisenganmu yang tadi pagi dan juga yang barusan. Aku tahu kau sengaja mengotori pakaian Alan dengan tai anjing. Dasar kekanakan," ucapnya sambil melangkah pergi.


"I ituuu..."


"Lain kali, jangan berani lakukan itu lagi. Atau aku tidak akan menjadi sahabatmu lagi."


"Apa? I iya baiklah. Maafkan aku."


Drake menatap kepergian Luna dengan wajah sedih. Ia tidak menyangka, Luna akan membela Alan sampai seperti itu.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu yang dibanting ketika Luna keluar dari rumahnya.


"Wah.. Bibi Luna menakutkan juga ya, kalau sedang marah..." kata Joy yang datang mendekati Drake.


"Kau melihatnya?"


"Tentu saja. Bagaimana mungkin, paman bisa kalah pada seorang wanita?"


Drake tersenyum kemudian mengusap kepala Joy, "Kau akan tahu setelah beranjak menjadi orang dewasa nanti."


"Benarkah? Memangnya kenapa harus menunggu aku dewasa?"


"Karena hanya orang dewasa yang akan mengerti, mengapa bibi Luna bisa mengalahkanku."


"Hmmm, begitu ya..." Joy berpikir keras.


Karena tidak mau berlama-lama membahas soal itu, Drake mengalihkan pembicaraan.


"Oohhohhoho... tanganku..." Drake merengek kesakitan karena lengan tangannya mendapatkan bekas gigitan dari Luna.


"Tunggu sebentar, paman. Aku akan mengambilkanmu obat."


Joy lari ke kamar.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG....


__ADS_2