
BAB 9
ZIINGG
Drake melihat ayahnya terbaring lemah di rumah sakit dan bernafas dengan bantuan alat. Ia ingin mengasihani orang tuanya itu, tapi rasa bencinya juga mendominasi. Alhasil, ia hanya berdiri tanpa mau menyapa.
Melihat putranya hanya berdiri karena mungkin saja takut mengganggu, nyonya Wendy membangunkan suaminya.
"Sayang, putramu Drake datang untukmu," kata nyonya Wendy.
Perlahan, tuan Halbert membuka mata dan menatap Drake tidak suka, "Untuk apa anak kurang ajar ini kemari! Suruh dia pergi. Aku tidak ingin melihatnya!"
Meski dalam keadaan lemah dan berwajah sangat pucat, tuan Halbert masih bisa berteriak marah pada Drake yang berdiri di dekatnya. Bahkan ayah Drake itu perlahan duduk dan meraih benda di atas nakas kemudian dilemparkannya ke arah Drake.
"Pergi kau, anak durhaka!! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" tuan Halbert melempar gelas lalu terbatuk parah dan jatuh kembali ke kasur.
PYAARRR
Sebuah gelas melayang dan mengenai kepala Drake hingga membuatnya terluka. Darah pun mengalir dari dahinya turun sampai ke dagu. Lagi-lagi. Drake mendapatkan hal yang tidak menyenangkan jika bertatap muka dengan ayahnya. Seperti dulu, Drake juga sering mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya.
"Oh tidak!!" nyonya Wendy memekik terkejut sambil tergopoh-gopoh mendekati putranya.
"Sayang! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada putramu! Dia kemari untuk memberikan darah padamu!"
"S suruh dia pergi. Aku tidak mau melihatnya lagi!" ucap tuan Halbert seraya memegangi dadanya.
Usai mengatakan itu, monitor ICU tiba-tiba berbunyi keras dan memperlihatkan garis merah pada layarnya. Para petugas medis pun berdatangan dan mencoba mengatasi keadaan.
Drake keluar dari kamar rawat dan duduk di kursi tunggu yang ada di sana. Ia menatap kosong beberapa orang yang lalu lalang di hadapannya.
"Apa kau terluka? Sini, biar aku merawat lukamu," kata seorang perawat yang melihat darah terus mengalir dari dahi Drake.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja dengan ini," Drake menahan tangan perawat.
"Tapi..."
"Aku tidak apa-apa," lanjutnya dingin.
Di dalam kamar, dokter menyarankan pada nyonya Wendy agar segera dilakukan operasi jika darah dengan jenis AB reshus yang diperlukan sudah ada. Sebab, jika menunggu lebih lama lagi, mereka takut tuan Halbert tidak bisa bertahan lebih lama.
Nyonya Wendy menghamburkan dirinya pada Drake. Sambil menangis dan memohon-mohon, digenggamnya kedua tangan Drake ke dekat dadanya.
"Sayang, ibu minta maaf atas perlakuan ayahmu barusan, ya. Ibu sangat menyesal karena sikap kasarnya padamu. Tapi sayang, sekarang ayahmu kritis, ibu tidak tahu lagi harus mencari darah itu di mana. Jadi ibu mohon padamu, sayang. Sumbangkan darahmu sekarang, ya??" nyonya Wendy yang menangis dan tampak sangat putus asa itu terus memohon pada Drake.
Drake menatap ibunya dengan rahang yang mengatup kencang. Ia memiliki luka batin yang amat pedih dalam dirinya. Luka yang diciptakan oleh kedua orang tuanya itu, kembali terbuka.
Namun sekarang, ia yang masih terluka itu harus menekan rasa sakitnya sekuat tenaga. Demi apa? Demi melihat ibunya agar tidak menangis lagi.
Walaupun ibunya juga sering melukai hatinya tanpa sengaja, Drake tetap menyayanginya.
"Drake?? Ibu mohon...."
"Mari lakukan itu."
SEERRR
Nyonya Wendy menatap putranya dengan penuh rasa syukur. Dipeluknya Drake segera sambil menangis bahagia.
"Ooh sayangku, terima kasih atas keputusanmu..." ucapnya haru.
•••••••
Dokter, sudah mengambil darah Drake. Kemudian mereka lanjut melakukan operasi pada tuan Halbert.
__ADS_1
Sementara menunggu hasil operasi, Drake berdiri di dekat jendela sebelah ruangan ayahnya semula. Dari sana, ia memperhatikan seorang ayah yang sedang menghibur anak laki-lakinya yang sedang sakit.
Terlihat jelas di matanya, bahwa pria dewasa itu benar-benar menyayangi putranya. Menyemangati dan menghiburnya dengan setulus hati.
"Huffhh.." Drake membuang nafas pelan.
Bibirnya tersenyum dengan sedikit air mata di pelupuk matanya. Sebenarnya, ayahnya pernah seperti itu terhadapnya. Namun itu dulu. Sudah lama sekali. Sejak Pitt datang, ia tidak lagi mendapatkan perhatian. Orang tuanya selalu meminta dirinya untuk mengalah pada Pitt yang penyakitan.
Mungkin itu tidak masalah bagi Drake jika Pitt menjadi kakak yang baik. Tapi nyatanya, Pitt berusaha menguasai orang tuanya sejak kecil.
"Kau di sini, sayang?" ibunya datang dan membawakan segelas kopi.
"Hmmm.. Apa dia sudah keluar dari ruang operasi?"
"Sudah. Baru saja mereka memindahkannya ke ruang inap. Berkatmu, operasinya berjalan dengan lancar."
"Baguslah," Drake menerima gelas kopinya.
"Kau pasti belum makan, kan? Ayo temani ibu makan di kantin. Setelah itu, kita temui ayahmu bersama," nyonya Wendy menggandeng lengan putranya sambil tersenyum.
SRET
Drake menarik kembali tangannya, "Aku rasa, aku harus pergi sekarang. Jika dia bertanya darah siapa yang masuk ke tubuhnya, katakan saja padanya, pihak rumah sakit menemukan seseorang yang mendonor untuknya. Bukan aku."
"Drake..." nyonya Wendy merasa kasihan pada putranya dan menyentuh pipinya dengan lembut.
Drake segera memalingkan muka karena tidak ingin ibunya melakukan itu. Sebab ia tahu, wanita itu menunjukkan kasih sayang karena dirinya baru saja membuat suaminya selamat.
"Terima kasih untuk kopinya, aku menikmatinya," Drake mengangkat gelas kopinya sambil melangkah mundur dan pergi meninggalkan ibunya.
•••••
TRAKTAK TAK TAK
"Kak Drake!"
Karena ada yang memanggilnya, Drake menoleh ke belakang.
"Lulu?"
"Ya..hehehe. Kakak dari mana?"
"Umm, hanya berjalan-jalan. Apa kau mau pulang?"
"Ya."
Dipandanginya gadis muda cantik bermata coklat itu dengan tersenyum. Lulu tampak berbeda dengan rambut yang digerai. Kemudian, dengan santainya Drake meminta Lulu turun dari sepedanya.
"Turunlah..."
"Eh??"
Meski bingung, Lulu tetap menuruti perintah Drake.
"Naiklah. Aku yang akan mengayuhnya untukmu," kata Drake.
"Eh? Yang benar? Kakak bisa naik sepeda?"
"Bohoo! Apa kau meremehkanku? Tenang saja, aku ahli dalam bidang ini."
"Eh tidak, tidak. Bukan begitu. Baiklah, aku naik, ya?"
"Hmm."
Begitu Lulu membonceng, Drake mulai mengayuh. Namun karena sudah lama sekali ia tidak naik sepeda, setang sepeda pun bergoyang ke sana kemari.
__ADS_1
Roda depan pun tiba-tiba saja menubruk sebuah pohon hingga mereka melayang dan jatuh tersungkur ke semak-semak.
KRASSAAAKK!
Wiiirrr... wiiiirrr...
Roda sepeda itu pun berputar.
"Aduuuhh..." Lulu meringis kesakitan karena lututnya terluka karena semak-semak itu.
Drake yang ikut jatuh itu pun segera mendekati Lulu dan berusaha menolongnya, "Kau tidak apa-apa, Lulu? Aduh, maaf ya. Aku terlalu bersemangat menaiki sepedamu."
"Tadi itu, kakak ngapain sih?" Lulu tidak menerima uluran tangan Drake dan justru mengajukan pertanyaan.
"Ehehehe, naik sepeda.."
"Serius, kakak mahir dalam hal itu? Memangnya kapan terakhir kakak naik sepeda?" Lulu meniup-niup lukanya.
"Eh? Itu,, dua puluh satu tahun yang lalu," jawab Drake sambil meringis dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Dua puluh satu tahun yang lalu??" Lulu mendelik dan mencoba berdiri tapi jatuh lagi.
"E e ehh.. tunggu. Jangan main berdiri saja, Lulu. Sini biar aku membantumu," Drake meletakkan tangannya ke punggung dan juga bawah kaki Lulu.
SEEEERRRR....
Darah muda dalam diri Lulu bergejolak. Ia merasakan semua bulu halusnya berdiri seketika begitu tangan Drake menyentuh paha bawahnya.
KYAAAAA!
Tiba-tiba saja Lulu berteriak kencang sesaat setelah Drake membopongnya keluar dari semak. Bahkan kedua tangannya pun spontan mendorong-dorong kepala Drake.
"Aduh.. Aduuh.... Lulu!!" Drake yang fokus menghindarkan kepalanya dari pukulan Lulu pun tidak memperhatikan langkahnya.
Sekali lagi, mereka pun jatuh tersungkur.
KRASAKK!!!
Oh tidak. Drake membuat Lulu jatuh lagi. Bahkan sekarang, tubuhnya yang ikut jatuh tidak sengaja menindih tubuh gadis itu.
"Ougghh!!" pekik Drake.
KENYAL
KENYAL
Drake merasakan sesuatu yang kenyal menahan dagunya. Ia pun reflek melirik benda yang kenyal itu dan terkejut dibuatnya.
JENG! JEEEEENNGG!!
Mata Lulu mengerjap beberapa saat karena melihat Drake jatuh menimpanya. Ia bahkan melihat wajah Drake begitu dekat dengan gunung kembarnya.
"Kak.. Kak Drake...."
"Apa yang kakak lihaaaaat!!" teriak Lulu sembari mendorong wajah Drake menjauh dari dadanya.
"Aduh.. aduh.. sabar, Lulu. Ini situasi yang tak terkendali.." Drake melindungi kepalanya.
AMPUUUUUNNNN!!!
...----------------...
BERSAMBUNG....
Baca dan like terus ya biar tahu lanjutannya,,,😀
__ADS_1