HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
PERUBAHAN


__ADS_3

BAB 49


Sesampainya di rumah, Flora sudah menunggu di depan halaman bersama Bluo dan juga Arthur. Pasangan suami istri itu begitu cemas memikirkan Joy, keponakan kesayangan mereka.


"Oh, Joy!" panggilnya begitu melihat Joy turun dari mobil.


"Bibi??"


Flora berlari mendapatkan anak itu dan memeluknya dengan erat.


"Bagaimana keadaanmu? Apa Samuel memaksamu menandatangani surat hak waris?" Flora menyentuh kedua pipi Joy.


Joy mengangguk.


"Sayang, sepertinya kita harus mengurus semua itu dengan cepat," ucapnya pada sang suami.


"Iya. Nanti aku akan bicara dengan pengacara Toer. Kau jangan mencemaskan itu, ya?"


Setelah Flora bisa mengendalikan diri dan cukup tenang, Bluo mengajak istrinya untuk bersiap.


"Ayo pergi sekarang, pesawat sebentar lagi akan berangkat," ucapnya sambil mengusap bahu sang istri.


"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Drake pada Joy.


"Hmm," Joy mengangguk dan memeluk paman angkatnya itu.


"Paman jangan nangis, dong. Aku akan sering-sering menelepon paman dari sana. Ya??" lanjut Joy menghibur Drake yang mewek.


Drake yang menitikkan air mata itu tidak mengaku bahwa dirinya sedang bersedih. Sambil berbalik menghadap belakang, ia mengusap air matanya, "Hehehe. S siapa yang menangis? Aku tidak menangis."


"Eleh eleh, kau menangis, Drake?? Malu sama umur dong," ucap Terra sengaja meledek.


"Hihihi,, iya benar,," sahut Lulu sambil meringis.


"Bibi,, jangan begitu. Apa kau tidak melihat ingus paman sudah meler begitu? Hihihi," Joy membela Drake tapi malah ikut meledek.


"Hais, kau ini. Em, tunggu. Aku punya sesuatu untukmu," kata Drake sambil berlari memasuki rumah.


Tidak lama kemudian, Drake keluar kembali sambil membawa sarung tinjunya.


"Sarung tinju?" tanya Joy.


"Ya. Anggap saja itu kenang-kenangan dariku. Jangan lupa temui aku lagi saat kau datang kemari nanti. Oke??" kata Drake.


Mata Joy berkaca-kaca. Ia ingat semua kenangan yang sudah ia lalui bersama Drake. Dari saat ia diselamatkan dalam kecelakaan tunggal yang diciptakan Samuel, sampai penculikan malam ini.


"Hmm! Aku tidak akan pernah melupakan paman. Kalau aku datang lagi kemari, aku akan memilihmu sebagai orang pertama yang kutemui," jawab anak laki-laki itu dengan sungguh-sungguh.


Drake menepuk pundak Joy dan mengangguk tersenyum, "Jaga dirimu baik-baik, ya."


"Paman juga."


Drake menyodorkan tinju kanannya dan diikuti Joy. Mereka melakukan fist bump atau salam tangan mengepal sebagai tanda persahabatan.


Usai berpamitan pada Drake, Joy juga menyapa dan berpelukan dengan ketiga gadis itu bergantian sebagai salam perpisahan. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam mobil bersama paman dan bibinya.


Perlahan, mobil yang ditumpangi Joy melaju pergi meninggalkan rumah Drake. Dari dalam mobil, Joy melambaikan tangannya dengan perasaan haru.


"Sampai jumpa lagi, paman!! Aku berjanji akan datang menemuimu lagiiii!!" teriak Joy dari kejauhan.


Joy menitikkan air mata. Ia memperhatikan Drake yang semakin kecil dan jauh seiring laju kendaraannya. Walau ia dan Drake sering melakukan kejahilan, namun ikatan kekeluargaan yang mereka ciptakan cukup nyata.


Setelah rumah Drake benar-benar sudah tak terlihat, Flora mengusap rambut Joy.


"Apa kau sedih karena harus meninggalkan paman Drake?


Joy mengangguk.


"Tidak apa. Di Amerika nanti, kau sekolah yang pintar. Milikilah beberapa prestasi yang bisa kau banggakan di hadapannya saat kau datang nanti," nasehat Flora.


"Hmm. Baiklah. Saat aku kembali nanti, paman Drake pasti akan merasa bangga dengan semua yang ku capai."


•••••


Setelah kepergian Joy, Drake masih saja memandang ke arah jalan di mana mobil yang ditumpangi Joy semakin jauh dan lama-kelamaan tidak tampak lagi.


"Huff..." Hela Drake.


"Sepi, ya," kata Terra.


"Hmm. Aku terbiasa mendengar suaranya. Aku rasa, beberapa jam dari sekarang aku akan merindukannya," sahut Luna.


Lulu melirik ke arah Drake. Pria itu masih terus menatap jalan di mana mobil yang membawa Joy pergi.


"Baiklah, kami pulang ke rumah, ya. Sampai jumpa besok," ucap Terra pada Lulu, Arthur dan Drake.

__ADS_1


"Iya," jawab Lulu.


Terra dan Luna pun berjalan menuju rumah mereka. Sambil melangkah pergi, Luna menoleh ke arah Drake yang masih terpaku menatap jalanan.


•••••••


TRINGG


Suara gelas yang saling bertemu terdengar di ruang tamu rumah Drake. Di sana, Drake menjamu Arthur sebagai tamunya.


"Apa kau sedih karena ditinggal Joy?"


"Hmm. Aku pikir, aku akan biasa saja setelah ditinggal pergi olehnya, karena kami cukup sering bertengkar dan saling jahil. Tapi sepertinya, hubungan kami tak sebatas itu saja. Entah mengapa aku seperti ditinggal pergi adik kecilku sendiri. Baru beberapa menit saja, aku sudah merindukannya," Drake meletakkan gelasnya dan tidak jadi meminum isinya.


"Dia pasti akan merasakan hal yang sama sepertimu," Lulu menyahuti.


Arthur mengangguk sambil tersenyum, "Benar. Dia pasti mempunyai perasaan yang sama untukmu. Ngomong-ngomong, maaf soal yang tadi ya Drake, saat dibutuhkan aku malah tidak bisa datang.


Drake menoleh dan mengangguk, "Tidak apa. Dia pasti tidak akan berani mengejar Joy lagi."


"Dari mana kau yakin soal itu?"


"Perkiraanku saja."


"Oohh.."


Karena tugasnya mengantar Flora dan suaminya menjemput Joy sudah selesai, Arthur pun berpamitan pulang. Ia harus bekerja sebab ia bertugas pada jam malam.


Setelah mengantar Arthur pergi, Lulu mengikuti Drake berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Mereka melanjutkan minum-minum dan mengobrol soal kemampuan Drake.


"Apa kau yakin, orang itu tidak akan mengganggu Joy lagi?"


"Hmm," angguk Drake.


"Apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya takut?"


"Sepertinya begitu, hehehe."


"Cih,," Lulu terkekeh. "Sudah aku duga."


Drake tersenyum dan menundukkan kepalanya.


"Jadi, apa sebenarnya yang terjadi? Apa aku boleh tahu, sejak kapan kau mempunyai kemampuan menakjubkan seperti itu?"


"Yah."


Drake menghela nafas dan menatap Lulu lekat-lekat. Ia mempertimbangkan sebuah jawaban yang sekiranya bisa diterima oleh Lulu.


"Aku akan mengatakannya padamu, tapi setelah itu jangan pernah menertawakanku atau menganggapku gila," kata Drake.


"Iya janji."


"Begini. Sebenarnya ada satu makhluk yang hidup di dalam tubuhku."


"Makhluk? Makhluk seperti apa? Ah, kau ini. Jangan membuatku takut, dong!"


"Kalau kau sangat ingin tahu, dengarkan dulu. Aku belum selesai bicara."


"Ehehe, iya baiklah. Lanjutkan."


Drake berdehem pelan sebelum ia melanjutkan ceritanya.


"Makhluk yang hidup di dalam tubuhku ini, menyebut dirinya bakteri F5 1833."


"Bakteri? Maksudmu semacam mikroba yang bisa membelah diri?"


"Bukan. Bukan seperti yang itu. Menurutku, ini sedikit lebih mirip seperti parasit. Tetapi juga seperti alien dalam film-film."


"Alien? Jadi, yang mana yang benar? Bakteri atau alien?"


"Aku tidak tahu. Hanya saja, dia hidup dalam tubuhku dan memberiku kemampuan semacam ini," Drake mengambil sebuah gitar yang terpajang di tembok seberang dari tempatnya duduk.


"Waah! Kau tahu, aku selalu ingin mempunyai kemampuan seperti itu. Mengambil sesuatu tanpa harus pergi mengambilnya."


"Aku penasaran seperti apa makhluk yang hidup dalam tubuhmu itu," lanjut Lulu sambil mencondongkan badannya sedikit ke depan.


Drake mengulurkan tangan kanannya dan membuka telapak tangan tersebut dengan perlahan-lahan di hadapan Lulu.


"Kau bisa tunjukkan dirimu padanya," Drake bicara pada F5.


Lulu menatap lekat-lekat telapak tangan Drake. Ia penasaran. Apa yang akan muncul di sana. Apakah benda kenyal seperti ubur-ubur? Atau semacam cacing, jika itu parasit. Satu detik, lima detik sampai satu menit menunggu, F5 tidak juga menampakkan diri.


"E', F5, apa kau tidak mau menunjukkan dirimu? Aah,, aku mengerti. Kau pasti tidak nyaman jika aku memberitahukan semua ini pada seseorang."


Drake menoleh pada Lulu sebentar dan kembali bicara pada F5, "Baiklah. Aku tidak akan melakukannya."

__ADS_1


Ia menarik kembali tangannya dan meminta maaf pada Lulu, "Maaf, Lulu. Sepertinya aku tidak bisa menunjukkan sisi lain dari diriku."


"Tidak apa-apa, aku jug,-"


"Hoaahem, kau serius mau menunjukkan rahasiamu padanya?" tiba-tiba terdengar suara F5.


"Eh??" Drake buru-buru membuka telapak tangannya.


Dari situ, Lulu dapat melihat sebuah lubang di telapak tangan Drake yang menyerupai mulut dengan gigi yang runcing dan lidah merah yang beberapa saat kemudian berubah menjadi ungu.


GLEK


"Astaga. K kau sungguhan dirasuki makhluk?" Lulu melotot.


Drake mengangguk.


"Apa karena itu, kau bisa hidup kembali saat waktu di rumah sakit kau dinyatakan meninggal dunia??" Lulu gemetaran.


"Ya. Itu semua berkatku," jawab F5.


Drake menoleh cepat ke arah tangan kanannya. Karena ucapan itu, ia sadar akan sesuatu.


"Tunggu. Apa itu artinya, aku tidak bisa hidup tanpamu?" ia bertanya gugup.


Lulu pun siap mendengarkan jawaban makhluk di tangan Drake itu dengan seksama.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi baiklah, karena dia membahas soal kematian, mari kita bicarakan saja."


GLUGUK


Drake menelan ludah dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari F5.


"Begini. Saat kau mengalami kecelakaan bersama anak kecil itu, sebenarnya aku bisa mengatakan bahwa kau sudah mati. Saat itu juga, ditempat itu juga."


"S sungguh? Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu padaku?" Drake terkejut saat mendengar penuturan F5 barusan.


"Fiuh, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan berita itu padamu. Aku khawatir, kau akan mengalami syok atau marah jika aku mengatakan kebenarannya."


"Tentu saja, tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku tentang ini semua," Drake bicara tanpa berkedip dengan mata yang terbuka lebar.


"Tapi kawan, satu yang harus kau ketahui, meski kakimu patah serta lempengan besi menancap di punggungmu, aku akan selalu siap untuk menyembuhkan luka semacam itu lagi."


Drake tertawa karena syok, "Khah,, Kaki patah, luka menganga di punggung, jadi maksudmu, tanpa adanya kau di dalam tubuhku, aku yang sekarang ini hanyalah mayat hidup?"


"Soal itu.. Bisa dibilang begitu."


Drake benar-benar tertekan. Ia mengepalkan tangan kanannya tersebut dan menunduk karena perasaan sedih, terluka, marah dan bingung yang bercampur aduk.


Lulu yang mendengar penjelasan itu pun memeluk Drake dari samping. Ia melingkarkan tangannya ke belakang punggung Drake dan mengusap-usap lengan kanan pria itu dengan penuh perasaan.


Namun tetap saja, ia tidak bisa berkata-kata ataupun menghibur Drake dengan ucapannya karena mulut dan tenggorokannya seperti dilem.


"Ini mustahil," gumam Drake lirih.


F5 merasakan peningkatan detak jantung pada diri Drake. Ia cemas, sisi lain dirinya akan bangkit jika tekanan itu semakin meningkat dan meledak-ledak. Maka, ia pun memperingatkan Drake dengan bahasa batin.


"Huuf, aku tahu kau akan seperti ini jika aku menceritakan yang sebenarnya. Tapi kawan, berusahalah untuk menguasai dirimu. Jangan biarkan kemarahan menyetir pikiranmu!"


"Drake..." Lulu memanggil Drake karena pria di sampingnya itu sedikit aneh.


Saat Lulu memanggil, Drake menoleh pada gadis itu dengan gerakan kepala seperti robot. Siapa sangka, matanya sudah berubah menjadi hitam kelam. Lalu tiba-tiba saja, mulut Drake membuka dan berubah seperti monster mengerikan dengan gigi-gigi yang runcing.


"KYAAAA!" Lulu menjerit karena terkejut.


Lebih terkejut lagi saat sesuatu yang panjang seperti ular dan cacing bermunculan dari dalam punggung Drake.


Rupanya, sisi gelap F5 terbangun. Rumbai-rumbainya yang berukuran besar dan kecil itu keluar dari bekas luka di punggung Drake yang kembali merekah.


Drake tidak sadarkan diri. Ia juga tidak menyadari bahwa dirinya tengah menciptakan situasi yang membuat Lulu terancam.



Dalam kegelapan malam itu, Lulu berlari dan berusaha meneriakkan nama Drake berulang kali agar pria itu terbangun dan sadar kembali.


"Drake! Bangun! Sadarlah!" teriak Lulu saat ia terdesak ke sudut dinding.


Sambil berjalan mendekati Lulu, rumbai-rumbai itu menjulur panjang dan menangkap tubuh Lulu. Melilitnya dengan erat lalu menariknya mendekat ke arah mulut yang menganga dengan gigi yang tajam dan runcing.


.


.


.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2