HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
ES KRIM


__ADS_3

BAB 21


GLUP


Terra meneguk air putih dalam gelasnya setelah selesai menyarap.


"Katamu kau sudah mengajak Drake untuk sarapan, kenapa jam segini dia belum datang juga?"


"Iya nih, nggak tahu. Kenapa dia belum datang, ya?" Luna ingat kejadian yang tadi.


GLEK


"Eh, apa karena kejadian yang tadi, ya? Dia jadi tidak mau datang sarapan?"


Batin Luna.


"Kenapa?"


"Tidak ada. Kau ada kelas pagi kan?"


"Iya nih. Dosen seni bahasa memindah jam pelajarannya pagi ini," jawab Terra.


"Kalau begitu kita bisa pergi bersama," ucap Luna seraya memoleskan lipstik ke bibirnya.


"Terus, makanan untuk Drake bagaimana?"


"Hmm. Sepertinya, akan ku bawakan saja ke rumahnya."


"Ooh, iya deh. Gitu aja."


Luna menyimpan lipstiknya ke dalam tas. Kemudian ia berjalan menuju dapur dan mengambil kotak makanan. Diwadahinya nasi dan lauk pauk yang ia sisakan untuk Drake ke kotak tersebut.


"Ayo berangkat, aku ke rumah Drake dulu, ya."


"Hmmm," angguk Terra.


Luna berlari kecil ke rumah Drake yang ada di seberang rumahnya.


KLIK


KLIK


KLING


Kali ini, Luna masuk ke rumah Drake dengan sangat berhati-hati. Takut seandainya Drake sedang dalam posisi seperti tadi pagi.


"Drake???"


Rumah itu kosong. Luna tidak melihat Drake di manapun juga, "Ke mana dia? Apa sedang keluar?"


Baru saja Luna meletakkan kotak makanan yang ia bawa ke dalam kulkas, Drake datang sambil menjinjing sebuah plastik berisi makanan.


"Eh buset?? Luna!" Drake berhenti melangkah dengan mata yang melotot kaget.


"Kau dari mana? Aku bawakan makanan untukmu. Itu, baru saja ku masukkan kulkas, apa kau mau makan sekarang? Biar ku panaskan sebentar, yah."


"Eh, tidak perlu repot Luna. Aku membeli makanan untuk sarapan," kata Drake gugup.


Luna melihat bahwa Drake baru saja membeli makanan dari luar, Luna menjadi murung, "Ooh.. gitu ya?"


"He-em,,," karena sepertinya Luna sedikit kecewa padanya, Drake menundukkan kepala dan merasa tidak enak.


Diliriknya Luna yang menjadi diam, "Em, tapi tenang saja. Makananmu akan ku makan nanti siang."


"Betul, ya?"


"I.. Iya."


"Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu."


"Hmm."


•••••••


TRAK


Sumpit itu melayang-layang di udara berputar-putar di hadapan Drake.


Ternyata Drake menggerakkan jari telunjuknya dari meja makan sambil duduk menahan kepala dengan tangan kirinya.



Sudah ke berapa kalinya ia terdengar membuang nafas berat.


"Kenapa membuang nafas begitu?"


"Entahlah."


"Heh? Kok bisa begitu? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?"

__ADS_1


"Nggak perlu tanya lagi, bukankah kau bisa membaca pikiranku?"


"Eh? Hehehe,, iya juga ya,,"


SRET


Drake bangkit dan melempar sumpit bekas makannya ke tempat sampah.


"Mau ke mana?"


"Aku mau latihan. Empat hari lagi aku harus bertanding."


"Hmm.. Apa Luna tahu kalau kau akan kembali bertanding?"


"Tidak. Dia tidak perlu tahu soal itu," jawab Drake sambil mengenakan jaketnya.


GYUTT


Ia melangkah ke luar rumah dan bergegas menuju halte bus. Sebenarnya, Drake pernah mempunyai motor. Tapi ia jual untuk tambahan membuka toko roti milik ayah Luna.


Jadinya, seperti sekarang. Ke mana pun ia pergi, kalau tidak naik bus ya naik taksi.


Ketika ia sampai di tempat tanding bawah tanah, ia bertemu Hock, anak asuhan ZuanYi yang lain. Mereka yang sudah lama tidak bertemu pun salin menyapa.


"Hai Drake, sudah lama tidak bertemu. Apakah kau???"


Drake tersenyum canggung.


"Jadi, yang madam bilang petarung lama akan kembali itu kau?" Hock tidak mengira akan bertemu kembali dengan anak kesayangan madam ZuanYi yang ia benci.


"Dia bilang begitu?"


"Ya."


"Wah,, ini benar-benar mimpi buruk bagi lawanmu," kata Hock berlagak memuji Drake.


"Aku tidak berpikir begitu. Sudah lama aku tidak bertarung. Jadi aku tidak yakin akan menang di pertandingan kali ini," Drake mengenakan sarung tinjunya.


"Ah! Meski kau sudah lama mendekam dalam gua, aku yakin kekuatan ototmu itu masih ada."


"Jangan memujiku."


"Tidak. Itu benar. Hmm, apa kau mau berlatih denganku?"


"Denganmu? Kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Dengan senang hati. Suatu kehormatan bagiku bisa berlatih denganmu."


Dalam beberapa menit saja, kedua pria itu mulai berlatih. Ketika Drake masih dengan tinju pemanasan, Hock justru terburu-buru mendaratkan tinjunya ke perut Drake hingga ia terjengkang ke ring kawat pembatas.


KLANGG!


KRASAKK!


"Oh tidak! Kau tidak apa-apa, Drake? Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat," kata Hock yang sebenarnya sengaja memukul Drake dengan kencang.


"Rasakan itu! Kau sudah tidak berguna di sini. Kenapa harus kembali ke tempat ini lagi ?!"


Rupanya, suara batin Hock tidaklah sebaik ucapannya. Ia hanya berpura-pura senang bertemu dengan Drake. Saingannya dahulu.


Karena sudah kalah di babak latihan pertama, Drake mulai serius dan fokus. Ia membaca serangan lawan dan mempelajarinya secara cepat.


BAG


BUG


Kedua petinju itu saling melempar serangan dan tendangan kanan kiri. Sangat serius sampai tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari sisi arena.


"Hock ini, apa dia masih memiliki dendam kepadaku? Mengapa aku merasa dia begitu bersemangat untuk menghabisiku?"


Pada kesempatan yang tak terduga, Hock menubruk perut Drake dengan kepala dan bahunya hingga terdesak ke ring pembatas. Namun dengan kuat, Drake mengangkat badan Hock dan membantingnya terbalik.


Hock yang dari dulu ingin mengalahkan Drake berusaha bangun kembali. Ia melakukan tinjuan membabi buta di kepala Drake, lalu memeluk dan berusaha membantingnya ke lantai.


Untung saja, Drake sudah berpengalaman dengan teknik itu. Ia menjegal kaki Hock dan membantingnya lebih dahulu. Dan dengan gerakan cepat, ia memelintir tangan kanan Hock dan menjepitnya kuat-kuat dengan kedua pahanya.


"Aarrrgg! Aku menyerah, aku menyerah! Tolong lepaskan aku Drake!" pekik Hock kesakitan sambil tangan kirinya menepuk-nepuk lantai.


PROK


PROK


PROK


Suara tepuk tangan ZuanYi saat mendekati arena. Dari pancaran kedua matanya, terlihat jelas bahwa ia amat senang melihat kemampuan Drake yang tak lekang oleh waktu.


"Bagus... bagus sekali... Pertahankan kemampuanmu itu, Drake. Seringlah berlatih dan menangkan pertandingan babak musim panas besok!" ucap ZuanYi menyemangati petarung harapannya.


Melihat kedatangan ZuanYi, Drake melepas tangan Hock dan berdiri mendekati tasnya. Ia membiarkan Hock yang terkapar dan meraung merasakan kesakitan pada bahu dan lengannya.

__ADS_1


Sambil berjalan ke sisi arena, ia melepas sarung tinjunya dan melemparnya ke lantai. Kemudian diraihnya handuk kecil dari dalam tas untuk mengusap keringat yang membasahi wajahnya.


ZuanYi melirik anak buahnya dan memberi isyarat untuk memindahkan pria lemah macam Hock ke ruangan lain. Maka, dengan cepat beberapa anak buah ZuanYi itu mengambil tandu dan membawa Hock pergi.


Drake menoleh sedikit saat anak buah ZuanYi melewatinya.


"Menurutmu, apa aku bisa menang dalam pertandingan besok?"


"Yah, tentu saja. Kau pasti tidak akan mengecewakanku dan memenangkan pertandingan," jawab ZuanYi.


"Tinggal empat hari lagi."


"Hmm. Jaga kesehatanmu. Kau tahu sendiri, kemenanganmu kali ini sangat berharga."


"Akan ku coba. Tapi jangan ingkari perjanjian kita.


"Percayalah padaku."


••••••


TREK TEK TEK


Kerikil kecil itu memantul beberapa meter ke depan begitu Drake menendangnya.


"Udara panas sekali. Sepertinya aku butuh es batu untuk mengguyur tubuhku," kata Drake.


"Masuk kulkas saja, sama dinginnya."


"Sialan, dikira aku ini bahan makanan?" dengus Drake.


Pada saat yang pas, Drake melihat food truck penjual es krim.


"Wah, pas sekali!" pekiknya senang.


"Eh? Beli dua porsi, ya..."


"Untuk siapa lagi?" tanya Drake sambil berlari kecil menghampiri truck.


"Untukku, hehe."


"Ogah. Beli saja sendiri," jawab Drake.


"Yah, dasar pelit!"


"Biarin."


Begitu berhenti di depan truck penjual, Drake memesan dua es krim rasa coklat dan mint. Tak lama setelah memesan, pesanannya pun dibuatkan.


"Ini es krimmu tampan," kata penjual.


"Terima kasih nona cantik."


Setelah membayar, Drake kembali berjalan menyusuri jalanan yang cukup lengang.


"Nyicip dikit dong..." F5 menjulurkan lidahnya sampai panjang. Menyelinap ke celah cone es krim yang ada di genggaman tangan kanan Drake.


SLURRPP


"Hey! Itu milikku! Kau jorok sekali!" pekiknya kesal.


"Hmm,, rasa mint.." F5 tidak peduli dengan umpatan Drake. Makhluk mulut itu tetap menjilati lelehan es krim yang ada di dekatnya.


Sambil bersungut-sungut, Drake memindahkan es krim rasa mintnya ke tangan kiri.


"Nah, ini baru benar," kata Drake terkekeh.


"Ayolah.... sedikit saja,,,,"


"Nggak."


"Pelit!"


"Biar."


Pada saat mereka berdua sedang berdebat di pinggir jalan, sebuah mobil datang dengan terseok-seok ke kanan dan kiri seperti kehilangan kendali. Bahkan terlihat jelas bahwa mobil itu akan menabrak pembatas jembatan dan jatuh meluncur ke bawah.


Drake yang sekilas melihat anak kecil mengetuk-ngetuk jendela kaca mobil itu pun hanya bisa tertegun sampai tidak dapat bicara seakan hilang konsentrasi. Matanya melotot sampai mau copot.


Dan ketika kesadarannya kembali, Drake segera bergerak. Ia menjatuhkan es krim yang tadi ia perebutkan dengan F5 tanpa ia sadari.


DOOEEENNGGG DOENGG!


( Bayangkan seolah es krim Drake jatuh dengan gerakan slow motion ya... 😁)


YUK! Like ceritanya,, Author butuh suntikan semangat dari kalian nih para readers yang cantik dan gantengnya gak ketulungan,,,,


Like & favoritkan, biar ide-ide segar segera mengalir di otak,,🤗😃


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG....


__ADS_2