HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
NENEK DUKUN


__ADS_3

BAB 56


Angin apa itu barusan?


Semua orang yang berdiri di ruang tamu itu menatap Drake dengan banyak pertanyaan di dalam benak mereka.


Sebuah hempasan angin yang cukup besar dan membuat mereka terdorong ke belakang itu tampak jelas datang dari arah Drake.


"Drake.... " Luna berjalan mendekati Drake dengan ragu.


Ketika ia hampir menyentuhnya, Drake yang berdiri agak membungkuk itu pun menoleh.


SIIIIINNGG....


Mata merah itu menoleh dengan pelan. Memancarkan kebencian yang memuncak dan tampak kilatannya bahwa ia ingin menelan sesuatu.


Gawat! Sisi lain F5 bangkit dan menampakkan diri di hadapan mereka bertiga.


"A apa itu???" Terra membelalak lebar saat melihat perubahan pada tubuh Drake.


Dengan tangan gemetar, ia melihat ke arah kertas foto yang ada di tangannya dan menyadari bahwa itu makhluk yang sama.


Nenek dukun yang melihat Drake berubah menjadi monster pun segera duduk bersila di lantai dan merapalkan mantra.


Namun baru beberapa ucap kalimat saja, Drake yang dikuasai sisi hitam itu menepis tubuh nenek Siro dengan keras hingga terpental ke samping dan membentur meja ruang tamu. Karena kekuatan yang melemparnya begitu kuat, nenek dukun pun memuntahkan darah.


"Nenek!" pekik Luna.


Melihat kedua gadis yang ada di sana berusaha menyelamatkan nenek dukun, sisi hitam Drake semakin marah. Dengan rumbai-rumbai panjang yang keluar dari tubuhnya, ia menarik tubuh nenek dukun itu ke arahnya dan bersiap menelannya bulat-bulat.


Tidak lupa, Drake juga melilit tubuh kedua gadis itu dan mengangkat mereka tinggi-tinggi ke udara. Dalam beberapa menit saja, mereka bertiga hampir menjadi santapan si hitam.


"Hentikan!" tiba-tiba saja terdengar suara Lulu.


Tidak mau Drake membuat masalah yang serius, Lulu segera berlari ke arah Drake yang sudah berubah itu.


HAP


Lulu memasang badan untuk melindungi ketiga korban. Begitu sisi hitam membuka mulutnya lebar-lebar, Lulu menggigit jarinya dan meneteskan darahnya ke dalam.


TESS


Satu tetesan kecil itu pun membuat tubuh Drake bereaksi. Seperti cacing yang takut pada garam, nyali sisi hitam pun menciut. Ia kembali bersembunyi di dalam tubuh Drake dan menghilang.


BRUKK


Drake jatuh tak sadarkan diri ke lantai begitu mendapatkan kuasa atas tubuhnya kembali.


"Drake!" pekik Lulu cemas.


Ia meletakkan kepala Drake di pangkuan dan menepuk-nepuk pipinya agar tersadar.


"Drake, bangunlah...." panggilnya lagi.


Luna dan Terra yang masih syok itu datang mendekat dengan ragu-ragu. Mereka masih tidak percaya pada hal mengerikan yang barusan terjadi di depan mata mereka.


"S sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Luna.


Ia duduk perlahan di lantai dan menatap Lulu yang sepertinya tahu rahasia Drake. Namun siapa sangka, Lulu menoleh pada Luna dan Terra dengan kecewa.


"Kenapa kalian melakukannya?" tanyanya.


"Apa?" Terra dan Luna bingung.


"Dukun itu."


"Aaah... I itu.." Luna tidak bisa bicara.


"Kalian berdua yang membuatnya seperti ini. Apa kalian tahu, dukun itu bisa saja membahayakan nyawa Drake?"


Lulu benar-benar takut jika makhluk itu lenyap dan menghilang. Maka Drake juga akan pergi untuk selamanya.


"A apa?? Membahayakan nyawanya?" Luna gemetaran.


Terra pun sama. Ia tidak mengerti sama sekali dengan maksud Lulu. Yang ia tahu, ia hanya ingin mengusir setan yang ada di dalam tubuh Drake dengan mengundang seorang ahli.


"A aku yang salah. Aku yang mengundangnya datang. Aku hanya ingin mengusir setan yang menampakkan diri dalam foto itu."


"Aku kira, ini bisa menyelesaikan masalah," lanjut Terra dengan lesu dan penuh sesal.


Drake membuka mata perlahan. Ia benar-benar merasa lelah dan kehabisan tenaga.


"Aah..."


"Kau sudah bangun, Drake?"


"Hmm.." jawab Drake sambil memejamkan mata sebentar dan berusaha untuk duduk.


Luna dan Terra saling menatap. Mereka akan meminta maaf soal nenek Siro.


Ah, ngomong-ngomong, di mana dia?

__ADS_1


Ternyata, saking takutnya menghadapi si hitam, nenek Siro jatuh pingsan saat Drake hendak melahapnya tadi.


"Em, Drake, maafkan kami, ya," ucap Luna dan Terra.


Drake terkejut sebab Luna dan Terra meminta maaf padanya. Saat dikuasai sisi hitam, Drake tidak ingat betul apa yang ia lakukan.


"Kenapa kalian meminta maaf?"


"Mereka melihatmu berubah,,," bisik Lulu.


"Sungguh?" Drake menoleh terkejut.


"Hmm... Duduk di sini sebentar. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan menghapus ingatan mereka," bisiknya lagi.


"Menghapus ingatan seseorang? Apa Lulu benar-benar bisa melakukannya?"


Pikir Drake.


"Tunggu. Apa aku perlu menghentikan waktu untukmu?"


"Hmm. Mohon bantuannya," angguk Lulu.


Drake balas mengangguk dan langsung berkonsentrasi untuk menghentikan waktu. Kemudian, setelah waktu terhenti, Lulu pun menggeser posisinya dan meraih tangan Luna dan Terra.


Karena tidak ingin membuang waktu, Lulu pun berkonsentrasi pada kedua tangan temannya itu dan mulai memejamkan mata.


Perlahan, muncullah cahaya keemasan yang berpendar dari tubuh Lulu. Rupanya Lulu sedang membaca sebuah mantra penghapus ingatan. Cahaya terang itu pun hanya bisa dilihat oleh Drake. Tidak untuk Luna dan Terra.


Begitu Lulu selesai menghapus ingatan keduanya tentang makhluk yang ada di dalam tubuh Drake, cahaya itu pun meredup dan menghilang.


"Apa kau sudah selesai?"


"Seharusnya begitu."


"Kau begitu, jangan lupa untuk menghapus ingatan nenek itu juga," pinta Drake.


"Tentu."


Lulu berdiri dan mendekati nenek Siro. Ia melakukan hal yang sama seperti pada Luna dan Terra tadi.


"Uhuk! Uhuk!" Lulu terbatuk.


"Apa kau baik-baik saja?" Drake mendekati Lulu dan menyentuh pundaknya.


"Aku baik-baik saja. Uhuk..." ucap Lulu dengan sedikit darah keluar dari mulutnya.


"Oh tidak, Lulu, kau terluka,," Drake melihat darah tersebut dengan cemas.


Drake menghela nafas, "Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuanmu. Apa mau ku ambilkan minum?"


Lulu mengangguk.


••••••


"Minumlah," ucap Drake sambil mengulurkan sebuah gelas berisi air putih.


"Terima kasih."


"Emm, Drake."


"Ya??"


"Mau kau apakan dukun itu?"


"Hmm. Mungkin akan ku pindahkan keluar supaya Luna dan Terra tidak heran saat melihatnya ada di di rumahku," jawab Drake.


"Ohya, tolong ambil ponsel Terra. Lalu hapus semua fotoku yang menampakkan wujud F5," lanjutnya.


"Baik."


Tanpa menunggu lama, Drake mengangkat nenek Siro dengan kekuatan tanpa menyentuhnya dan membawanya keluar dari rumah.


Drake menerbangkan nenek dukun dan menggiringnya menuju ujung jalan yang cukup jauh dari rumahnya.


Setelah keadaan dirasa cukup aman dan baik-baik saja, Drake mengembalikan waktu yang ia hentikan. Maka tersadarlah semua orang yang sempat diam mematung itu.


"Heh?? Sedang apa kita di sini?" tanya Terra begitu ia sadar.


"Ada Lulu di sini? Mana Drake?"


"Dia di depan," jawab Lulu sambil tersenyum.


"Di depan? Lalu mengapa kita masih di sini?" Luna bangkit dan mengurut kakinya yang terasa pegal.


"Kenapa tanganku terasa sakit ya, memangnya tadi pagi kita ngapain sih, kak?" tanya Terra.


"Entahlah. Kakiku juga pegal sekali. Mungkinkah pagi ini kita melakukan olahraga?"


"Seingatku sih tidak," Terra memiringkan kepalanya untuk mengingat.


"Benar, kan? Aneh sekali," kata Luna.

__ADS_1


Melihat Lulu berjalan keluar untuk menghampiri Drake, Luna dan Terra pun mengikutinya.


"Apa kau sudah mengurusnya?" tanya Lulu saat mendekat.


"Aku rasa sudah," jawab Drake.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Luna.


"Iya. Ngapain kau berdiri di sini?" sambung Terra.


"Eh?? A aku sedang menunggu penjual ubi bakar lewat," jawab Drake asal mencari alasan.


"Ubi bakar?"


"Ehehehe. Iya."


"Bukankah ubi bakar lewat nanti sore?" kata Luna.


"Benarkah? Aahh,, aku tidak tahu kalau ubi bakar akan lewat sore hari," gumam Drake.


BLETAK


"Kau ini pikun, ya?"


"Aduhh,, kenapa kau selalu memukulku, sih!!" Drake jadi kesal.


"Habisnya, kau ini aneh sekali. Bukankah kau pernah menyapa pak Lobi saat dia lewat depan rumahmu?"


"Sungguh? Ah, sepertinya aku memang sudah pikun, hihihi," jawab Drake sambil melangkah pergi.


"Dasar pikun," Terra juga melangkah ke rumahnya disusul Luna.


Drake berjalan meninggalkan Terra dan Luna dengan mata melirik malas.


"Hihihi,,, mereka lucu sekali ya,," kata Lulu yang berjalan di samping.


"Lucu dari mananya?"


Lulu semakin tersenyum melihat ekspresi Drake, ia bahkan mencoba menggoda Drake dengan candaannya.


"Tapi menurutku, meski mereka berdua lucu, kau yang paling imut di mataku."


"Haiss, dilihat dari mana aku dibilang imut??" Drake menoleh dan membuka matanya lebar-lebar.


"Lihat,, kau sangat imut,, xixixi.." Lulu tertawa cekikikan.


DEG


Drake memperhatikan wajah Lulu yang sedang tertawa. Seakan ada sesuatu yang mengingatkannya, ia pun teringat akan kejadian yang menyangkut dirinya dan Lulu pada minggu lalu.


Tapi sepertinya, gadis itu tampak biasa-biasa saja seperti tidak mengingatnya.


"Apa kau datang karena melihat mimpi lagi?" tanya Drake.


"Eh? I iya," jawab Lulu bohong. Sebab, sebenarnya ia melihat kejadian pagi itu saat ia sedang mengintai aktivitas Drake.


"Lalu kau berlari kemari dengan cepat?" tanya Drake lagi.


"Iya."


"Kenapa kau tidak bersikap apatis saja?"


"Tidak mungkin. Mereka akan menyingkirkan makhluk itu darimu. Bagaimana bisa aku diam saja setelah mengetahui rahasia besarmu?"


"Ah,, itu.."


Lulu berhenti melangkah lalu berbalik. Ia meraih tangan kanan Drake dan menatapnya tajam.


"Tidak bisakah kau menahan dirimu supaya sisi gelap makhluk itu tidak muncul?"


GLEK


"Aku sudah berusaha. Tapi energi panas seakan membakar dan menguasai jantungku," Drake ingat betul bagaimana rasanya sebelum sisi gelap F5 muncul. Ia menahan energi yang amat panas itu hingga tubuhnya berkeringat dan gemetaran.


Lulu mendekat dan memeluk Drake, "Baiklah. Tidak apa-apa. Aku akan datang lagi kapan pun kau membutuhkanku."


GLEK


Hey??


Perasaan apa ini?


Meski jantungnya berdegup kencang lain dari biasanya, namun Drake merasa nyaman dan tenang jika berada di dekat Lulu. Seakan-akan, makhluk yang ada di dalam dirinya itu tertidur dan tunduk pada gadis di depannya.


...----------------...


BERSAMBUNG.....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2