
BAB 65
UGHH!
Begitu Drake memasuki rumah anak tersebut, ia mencium aroma tidak sedap yang menyeruak dari dalam. Seperti bau busuk dari mayat saja.
Tanpa berlama-lama lagi, Drake menghubungi Arthur. Ia menceritakan dengan detile apa yang ia temukan di tempat itu.
Karena sedang tidak ada tugas lapangan, Arthur segera melapor pada atasannya dan meminta untuk ditugaskan dalam kasus ini.
Tak lama kemudian, Arthur datang bersama anggota polisi lain. Mereka segera melakukan pemeriksaan terhadap korban dan tempat kejadian yang diperkirakan sebagai kasus pembunuhan.
"Terima kasih, Drake karena sudah melaporkan kejadian ini pada polisi."
"Ya. Aku juga hanya kebetulan lewat sini dan melihat seorang anak yang hampir saja terjatuh dari lantai atas."
"Ya. Untung sekali dia bisa diselamatkan. Aku benar-benar berterima kasih padamu," Arthur menoleh pada anak kecil yang diselamatkan Drake dan kini sudah diamankan oleh pihak polisi.
"Tidak perlu berterima kasih padaku seperti itu. Itu sudah menjadi tugasku sebagai warga sipil yang baik."
Karena anak itu sudah diamankan oleh pihak polisi, Drake berpamitan pulang.
"Karena tugasku di sini sudah selesai, aku pulang dulu, ya."
"Hmm. Sekali lagi terima kasih, Drake."
"Oke," jawab Drake seraya melangkah pergi dan melambaikan tangan.
SRAK
Karena urusannya sudah selesai, Drake melanjutkan olahraganya. Ia berlari beberapa putaran melewati taman kota dan berhenti di persimpangan jalan dekat rumah Lulu.
Sembari mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang ia bawa, Drake mengamati situasi sekitarnya yang lumayan ramai orang berlalu lalang.
TRING
Ponsel Drake berbunyi sekali. Rupanya ada pesan yang masuk. Dan karena Drake mendengarnya, ia langsung mengambil ponselnya tersebut dari dalam saku jaketnya.
Lulu : "Kau semakin tampan kalau sedang berkeringat seperti itu."
"Hiieh? Dari mana dia tahu aku sedang berkeringat?" Drake celingak-celinguk mencari Lulu.
Belum juga Drake membalas, pesan dari Lulu masuk lagi.
Lulu : "Kau mencariku?"
Drake semakin heran, dari mana kekasihnya itu tahu kalau dia baru saja mencarinya.
"Ya. Di mana kau sekarang? Kenapa aku tidak melihatmu? Apa kebetulan kau sedang di luar rumah,," Drake langsung membalas pesan dari kekasihnya tersebut.
Lulu yang ternyata sedang ada di rumah dan sedang berendam di dalam bathup itu tersenyum melihat kekasihnya kebingungan dari gelembung cermin.
Lulu : "Aku sedang mandi."
Drake : "Mandi???"
Pada saat yang kebetulan, Terra yang baru turun dari bus itu lewat di depan Drake.
"Hai Drake!" sapanya.
"Oh?? Hai..." balas Drake canggung.
Terra menghampiri Drake dan duduk di sebelahnya, "Kau berolahraga?"
"Ya. Kau sendiri, baru saja berbelanja?"
"Iya. Akhir-akhir ini, Luna tidak suka makan yang berbahan dasar daging. Jadi aku membeli lebih banyak sayuran segar untuknya. Menurutmu, apa dia sedang sakit? Ah,, ini aneh sekali. Jika biasanya ia sangat menyukai daging dan telur, mengapa tiba-tiba dia tidak suka??" Terra mengungkapkan rasa penasarannya.
Drake menelan ludah. Ia memikirkan nasib yang sedang dilalui Luna. Sudah beberapa hari pula, Alan belum juga mendatangi Luna untuk meminta maaf ataupun mencoba bertanggung jawab pada bayinya.
"Dia putus dengan Alan, jadi dia butuh waktu untuk membuang kesedihannya."
"Sungguh? Alan meninggalkannya setelah lima tahun bertunangan?" Terra amat terkejut.
"Hmm. Mereka putus beberapa waktu yang lalu."
"Dasar Alan sialan! Aku akan pergi membunuhnya!" Terra amat geram dan bersiap pergi.
Drake menyentuh pundak Terra dengan lembut agar gadis itu kembali duduk.
"Tenangkan dirimu, Terra. Aku yang akan mengurus Alan. Kau, bantu saja Luna dalam melewati hari-harinya yang berat ini. Sudah benar, kau memperhatikannya sejauh ini. Aku sangat mendukungmu. Sebagai seseorang yang dekat dan tinggal bersamanya, hanya kau yang bisa memberinya perhatian lebih untuknya saat ini."
__ADS_1
"Kau benar. Aku harus memberinya support," jawab Terra.
"Tapi Drake, apa kau yakin dia baik-baik saja? Dia sering mual di pagi hari dan menjadi murung belakangan ini?"
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, ia butuh waktu untuk melupakan seseorang yang ia cintai."
"Hmm, sepertinya memang begitu," Terra menunduk lesu.
"Oh ya, aku sampai lupa. Aku pulang dulu, ya Drake,, nasiku mungkin sudah matang!" lanjut Terra sambil bergegas pergi.
HUFFFT
Drake menghela nafas panjang. Ia tidak sanggup memberitahu Terra apa yang sedang terjadi pada saudarinya.
TRING
Lulu : "Apa Luna sedang sakit? Kenapa dia mual di pagi hari dan tidak mau makan daging??
Drake tertegun membaca pesan yang baru saja dikirimkan Lulu. Bagaimana gadis itu tahu dengan begitu detile kalau ia baru saja membicarakan Luna?
"Apa kau mendengar pembicaraanku dengan Terra?" balas Drake.
Karena Lulu tidak juga membalas pesannya, Drake berdiri dan menoleh ke arah jalan yang menuju rumah gadis itu. Sekilas pikiran melintas dalam benaknya. Apakah Lulu benar-benar bisa mendengar pembicaraannya?
Mungkinkah, gadis itu juga memperhatikannya dari jauh?
Dengan cepat Drake menoleh ke belakang, lalu memutar pandangannya ke sekitar. Perlahan ia juga memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk sesaat.
Tepat di hadapannya, ia merasakan aura aneh seperti waktu itu. Dimana ia merasa dimata-matai oleh seseorang. Dengan sedikit keraguan, Drake mengarahkan tangan kanannya ke arah depan dan mencoba meraih sesuatu dari jarak jauh itu.
DAPAT!
Ia merasakan tangannya berhasil menggenggam sesuatu dari tempat yang jauh. Sambil terus menggenggam, lantas ia bergegas pergi dari sana untuk memastikan sesuatu.
Di tempat lain, Lulu tersenyum kalah. Ia merasakan sesuatu yang menggenggam tangan kanannya dengan kuat.
Itu ulah Drake! Ya. Benar sekali. Drake membuat tangannya terangkat ke atas dan tertekan ke dinding yang ada di belakangnya.
"Ah, sepertinya dia berhasil menemukanku......" Lulu terus memperhatikan Drake yang saat ini tengah menuju ke tempatnya, dari gelembung cermin.
DRAP
DRAP
DRAP
"Di mana Lulu??"
"Dia di kamar mandi,," jawab pink.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" biru mendekat sebab ia penasaran.
Drake tidak menjawab dan bergegas menuju kamar Lulu yang ada di lantai atas. Tentu saja para roh mengikutinya dan berusaha menghentikannya.
"Hei,, apa kau benar-benar ingin melihatnya saat mandi?" tanya roh coklat.
"Aih aihh,,, ini mengejutkan. Kau mesum juga ternyata,," roh merah menatap Drake lekat-lekat.
HAP
Roh putih berdiri di depan Drake dan menghalanginya masuk ke kamar Lulu.
"Kau tidak boleh masuk ke kamar dan mengintip seorang gadis yang sedang mandi!"
"Ayolah putih, menyingkir sana. Aku ingin memastikan sesuatu di dalam," kata Drake dengan keinginan kuat.
Roh coklat sampai berteriak pada Drake karena gemas, "Apa-apaan kau ini! Meski kalian berpacaran, tapi bukan berarti kau boleh melihatnya telanjang!"
"Eh buset! Apa yang kalian pikirkan?? B Bukan itu maksudku. Sungguh... aku hanya ingin memastikan sesuatu di dalam."
"Hihihi,, Atau,, kau mau bermain air bersamanya, ya?? Kalau begitu apa aku boleh ikut??"
"Kuning!!!" roh coklat dan putih memelototi roh kuning yang dalam pikirannya hanya bermain-main.
"Ehehehe... bukan begitu ya??"
"Bukan!" jawab coklat dan putih bersamaan.
"Ehem!! Jika bukan itu maksudmu? Lalu apa??" tanya biru ikut menghadang Drake.
"Itu..."
__ADS_1
JENG JENG
Roh merah tiba-tiba mendekati Drake. Ia bahkan mengamati wajah Drake begitu dekat dengan tatapan mata yang menyelidik.
"Hmm.. Kau bilang, tidak mau melihatnya telanjang? Lalu,, apa kau mau telanjang bersamanya?" tanya merah.
"Haissh! Apa yang kalian pikirkan? Minggir,, minggir,,," Drake menembus melewati roh-roh tersebut.
"Hei???!!"
••••
CEKLEK!
ZIIINNGGG...
Seketika mata Drake membelalak. Ia melihat dengan jelas tangan Lulu yang terangkat ke atas sesuai dan seirama dengan gerakan tangannya.
Selain itu, Drake juga melihat gelembung cermin yang memperlihatkan gambaran dirinya di dalam. Saat itu juga, detik itu juga,, ia benar-benar dibuat syok oleh Lulu.
Matanya terus saja terbelalak dengan mulut yang melongo kaget. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang mendapat kejutan, para roh juga amat terkejut dibuatnya.
"K kaukah itu, Lulu?" tanyanya amat terkejut.
Drake menatap tajam ke arah Lulu. Akhirnya ia tahu. Siapa orang yang selama ini mengamatinya diam-diam dari jauh.
"Hmm.. itu aku."
Perlahan, dilepaskannya genggaman tangan jarak jauhnya itu dari tangan Lulu. Sambil terus menatap tidak percaya, ia berdiri mematung dan tenggelam dalam lautan pikirannya.
"Itukah sebabnya? Kau selalu tahu saat aku dalam masalah?" tanyanya terbata.
Lulu tidak berkomentar dan menatap Drake dengan tenang.
"Benar, bukan?? Kau datang saat kecelakaan mobil itu terjadi, kau juga datang saat aku kehabisan nafas setelah bertemu Luna. Lalu, kau juga ada saat aku kehilangan kesadaran akibat sisi hitam. Apa semua itu terjadi karena kau mengawasiku lewat cermin ini??" tanyanya kemudian dengan suara agak gemetaran.
SRET
KECIPAK
Lulu meraih handuknya dan berdiri keluar dari bathup. Kemudian ia melangkah perlahan menghampiri Drake yang mematung di tengah pintu.
"Hmm.. Aku mengawasimu sejak lama. Tepatnya, sejak aku memiliki kemampuan melihat mimpi."
"Bukankah waktu itu kau mengatakan, kau mendapat kemampuanmu saat usiamu memasuki tujuh belas??"
"Ya. Saat itu, benar. Untuk pertama kalinya aku melihat masa depan lewat mimpi. Dan orang yang ku lihat untuk pertama kalinya pula adalah dirimu."
Drake kaget lagi, "A apa?"
"Hmm. Kau mungkin tidak percaya dengan semua kata-kataku. Tapi percayalah, Drake. Sejak mendapatkan mimpi tentangmu, aku terus berusaha untuk mencarimu. Bahkan jujur saja. Aku pindah ke kota ini juga karena ingin menemukanmu."
"Lulu..."
"Hingga suatu hari yang tak pernah aku bayangkan, tepatnya setelah satu tahun kepindahanku di sini,, kau datang sendiri padaku. Apa kau ingat? Kita bertemu di depan perpustakaan dan mengobrol sebentar. Tanpa aku rencanakan, Tuhan membantuku untuk bertemu denganmu."
GLEK
"Ya,, aku ingat," Drake menghela nafas.
"Setelah mengetahui semua kebenarannya, apa kau membenciku?
Drake menatap Lulu lagi. Ia tidak percaya, Tuhan benar-benar mengirim seseorang seperti Lulu untuknya.
"Bagaimana aku bisa membencimu saat Tuhan mengirimmu padaku?" jawab Drake lembut.
Lulu berkedip beberapa kali usai mendengar jawaban yang begitu menyentuh hatinya dari mulut Drake.
Tanpa ragu, Drake meraih tubuh Lulu ke dalam pelukannya dengan penuh rasa cinta. Ia rasa, pilihannya untuk menerima perasaan Lulu pada saat itu adalah pilihan yang tepat.
Melihat pasangan kekasih itu berpelukan, para roh merasa amat terharu. Mereka bersyukur jika saudarinya, Lulu, begitu dicintai oleh Drake.
.
.
.
BERSAMBUNG....
__ADS_1