HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
DENYUT GANDA


__ADS_3

BAB 58


Selagi berkumpul bersama merayakan kelulusan ujian Terra, mereka semua menunggu Luna pulang.


"Kapan Luna pulang?" tanya Lulu yang sedang menyeruput minuman jeruknya.


"Entahlah, sepertinya dia terlambat pulang. Biasanya sih, hari ini tidak ada lembur, jadi tunggu sebentar lagi," jawab Terra.


Lima menit kemudian, Luna datang dengan wajah yang lesu.


"Kenapa kau datang lama sekali, kak? Kami menunggumu sejak tadi," sapa Terra.


"Eh? Apa?" Luna kaget melihat semua orang berkumpul di rumahnya.


"Apa perusahaanmu menyuruhmu kerja rodi? Mengapa penampilanmu sangat lesu seperti orang yang sakit?" kata Drake tanpa bermaksud apa-apa.


Luna membelalakkan mata karena terkejut dan tersinggung. Ia langsung menyahuti ucapan Drake barusan,, "A apa maksud ucapanmu? Aku tidak sakit!"


Melihat Luna bersungut-sungut dan tampak marah memasuki kamarnya, Drake jadi bingung dibuatnya.


"Eh?? Kenapa dia marah-marah seperti itu? Aku hanya mengkhawatirkannya, apa aku salah?" gumamnya.


"Iya,, aneh sekali. Aku tidak berpikir ucapanmu keterlaluan. Apa mungkin sedang ada masalah di tempat kerjanya, sehingga dia mudah tersinggung?" sahut Terra yang juga merasa kakaknya sedikit aneh.


"Teman-teman, ehem. Sudah biarkan dia lebih dulu. Mungkin saja dia sedang datang bulan dan kelelahan karena bekerja," Lulu berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang.


"Baiklah.. ayo lanjutkan saja makannya,," Terra kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan tidak lagi memikirkan kakaknya.


Namun tidak bagi Drake, sesekali ia melirik ke kamar Luna dan mengkhawatirkan gadis itu.


"Apa dia sudah mendengar berita tentang pernikahan Alan?"


Pikirnya.


Wah, wah, wah!


Makanan di meja makan itu kini sudah habis tak tersisa. Tapi tidak lupa, Terra sudah menyisihkan beberapa untuk Luna dan menyimpannya ke dalam kulkas.


Usai makan-makan, mereka pun turun ke luar halaman. Di dipan samping rumah itu, mereka minum-minum sambil mengobrol dan sesekali menyanyi bersama.


Anak-anak muda itu terdengar sangat akrab dan bergembira. Bahkan saat bercanda ria, suara tawa mereka terdengar sampai kamar Luna.


"Kenapa Luna tidak ikut turun dan kumpul dengan kita? Apa dia benar-benar sedang sakit?" Drake merasa khawatir.


"Kalau kau sangat cemas, periksa saja sana," Terra yang sedang asik mewarnai kuku bersama Lulu pun menyuruh Drake untuk memeriksa Luna.


"Benar juga. Kalau begitu aku naik dulu," ucap Drake.


Karena Drake benar-benar pergi melihat keadaan Luna, Lulu yang sedang diwarnai kukunya itu pun menatap kepergiannya dengan sedikit rasa cemburu.


TAP TAP


Suara langkah Drake yang berlari pelan menaiki anak tangga. Begitu sampai di depan kamar Luna, ia berdiri sejenak. Lalu dengan sopan ia mengetuk pintunya.


"Luna, apa kau tidur?"


Hening.


Karena tidak mendengar jawaban dari dalam, Drake mengulanginya lagi sampai empat kali ketukan. Karena tetap tidak ada jawaban dari dalam, ia mencoba menekan gagang pintu kamar Luna ke bawah dan ternyata tidak dikunci.


"Eh??"


Kamar itu kosong. Ke mana Luna?


Saat sedang kebingungan, Drake mendengar suara air di kamar mandi.


"Apa dia sedang mandi?" ucapnya sambil berlalu dari depan kamar Luna.


HUEK!!


Terdengar suara Luna yang tampak sedang muntah-muntah di kamar mandi.


"Apa kau baik-baik saja, Lun? Sepertinya kau sedang sakit?" Drake tiba-tiba muncul di belakang Luna yang sedang berjongkok di depan kloset.


Luna menoleh kaget, "Tidak,, aku tidak sakit.."


"Tapi kau nampak pucat sekali. Apa kau mau ku antar ke rumah sakit untuk periksa?"


"T tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja," Luna berdiri dan mencuci mulutnya dengan air.


Kemudian ia berjalan melewati Drake dan bergegas kembali ke kamarnya dengan tergesa. Merasa ada yang tidak beres, Drake mengikuti langkah Luna dan berjalan dibelakangnya.


"Kau bohong, kan?"


Luna hanya diam dan tidak menanggapi.


"Kau pasti bohong. Aku tahu, kau sedang tidak baik-baik saja, kan? Jadi, katakan saja jika kau butuh bantuanku," kata Drake lagi.


Karena Luna terus berdiam diri dan mengabaikannya, Drake tidak tahan lagi. Ia akhirnya membahas soal Alan.


"Apa kau begini karena Alan?"


Aduh. Sepertinya Drake mengira Luna begitu itu karena Alan mencampakkannya dan akan menikahi selingkuhannya.


DEG


Luna menghentikan langkahnya sehingga Drake menubruknya dari belakang.


"A Alan? Kenapa dengan Alan?" Luna takut jika Drake tahu soal kehamilannya.


"Eh?? Atau,, kau belum mendengarnya, ya?" Drake jadi salah tingkah.


Luna berbalik dan menatap Drake tajam. Nafasnya tampak terengah dan sesak.


"Apa maksudmu belum mendengarnya? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"


"Em,, itu,,,"


"Katakan. Cepat katakan."

__ADS_1


Drake diam sebentar, lalu dengan terpaksa ia mengatakan apa yang ia ketahui, "Lusa. Alan akan menikahi Drew, selingkuhannya."


JEDEERR!


Ucapan Drake barusan bagai petir yang menyambar tepat ke arah jantung Luna.


"T tidak mungkin. Dia tidak akan selingkuh di belakangku apalagi menikahinya. Apa kau mengarang cerita ini agar aku jatuh cinta padamu?!"


"Bukan itu maksudku. Aku hanya,,,"


"Diam! Jangan katakan apapun lagi. Aku membencimu, Drake. Tidak ku sangka, kau memiliki pikiran sepicik ini untuk membuat Alan tampak buruk di mataku!"


"T tunggu. Aku tidak berbohong padamu, Lun,-" Drake meraih pergelangan tangan kanan Luna dan dibuat terkejut.


SLOP


Sedang Luna yang sedang marah itu, menepis tangan Drake dan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu dengan kasar.


"Cukup!! Pergi dari sini!!"


BAMM!


Hening.


Cukup lama Drake mematung di depan kamar Luna. Tangan kanannya yang sempat ia gunakan untuk menyentuh tangan Luna tadi itu ia rasakan berdenyut-denyut.


"A apa itu tadi?" pikirnya.


Drake berbalik pergi perlahan. Ia masih tidak mengerti apa yang baru saja ia rasakan. Saat menyentuh pergelangan tangan Luna tadi, tangan kanannya yang menjadi tempat munculnya F5 itu seakan-akan merasakan dua denyut kehidupan.


TREK


Sesampainya ia di luar, Drake langsung duduk kembali dan meraih kaleng minumnya.


"Ada apa? Apa dia tidak mau bergabung??" Lulu ingin tahu karena Drake butuh waktu lama untuk menemui Luna.


"Hmm..." Drake hanya bergumam.


"Sudah ku duga. Dia pasti tidak mau turun. Mungkin benar seperti kata Lulu, dia sedang datang bulan," sambung Terra.


Setelah menghabiskan minuman terakhirnya, Drake berdiri dan berpamitan pulang.


"Emm, sepertinya aku harus pulang. Kalian bisa lanjutkan minum-minumnya."


"Lohh, kok??" Lulu terkejut.


"Sampai jumpa lagi," Drake melangkah pergi.


Karena Drake pergi, Lulu pun buru-buru menyusul pergi, "Em, Terra. Aku juga pulang sekarang, ya. Bye bye.."


•••••


Sebelum pergi, Lulu menyapa Drake lebih dahulu.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Em, sepertinya kau berubah jadi lebih pendiam setelah menemui Luna. Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak. Dia hanya sedang tidak ingin diganggu," jawab Drake.


"Benarkah?"


"Hmm," angguk Drake. "Ohya. Kau naik apa ke sini? Apa mau ku antar pulang?"


"Ooh,, tidak. Tidak perlu. Aku bisa jalan kaki dari sini."


"Jalan? Ke rumahmu? Malam-malam begini?"


"Ya. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya. Dah Drake!!" Lulu melambaikan tangan dan berlari kecil.


SRET


"Tunggu. Aku akan mengantarmu pulang," Drake menyusul dan menarik tangan Lulu.


"Eh?? Aku bisa pulang sendiri kok. Beneran," Lulu gugup.


"Tidak. Aku akan mengantarmu pulang. Oke?" Drake membukakan pintu mobil dan menyuruh Lulu masuk.


Karena Drake bersikeras, mau tidak mau Lulu pun menurutinya. Ia membiarkan pria itu mengantarnya pulang sampai rumah.


•••••••


SRAK SRAK SRAK


Suara langkah kaki yang diseret terdengar memasuki rumah Drake.


"Hoaahemm. Kenapa mengantuk sekali??"


Merasa ngantuk berat, Drake pergi ke dapur dan mengambil kopi di rak lemari. Kemudian, dibuatnya secangkir kopi hitam dan tidak terlalu manis.


Begitu kopinya siap diminum, ia duduk di ruang makan.


"Sluurrpp... Ahh..Nikmatnya,,,"


Dengan kedua siku di atas meja, Drake kembali memikirkan Luna. Ia berpikir sambil sedikit memajukan bibirnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa tadi aku merasakan denyut ganda di pergelangan tangan Luna, ya?" Drake menjauhkan cangkir dari bibirnya.


"Sshh.. Apa artinya?" lanjutnya.



PLUP


"Dia sedang mengandung...." tiba-tiba suara F5 terdengar.


Karena kaget, Drake celingukan mencari suara yang baru saja didengarnya. Ia lupa pada F5 saking lamanya makhluk itu menghilang dan berdiam diri di dalam tubuhnya.


"Apa itu kau?"

__ADS_1


Diletakkannya cangkir kopinya itu di atas meja, lalu ia membuka telapak tangannya dengan cepat untuk melihat kemunculan F5.


"Kau kembali, kawan?"


"Ya... apa kau merindukanku?"


"Serius! Ke mana saja kau beberapa bulan ini? Apa kau tahu apa yang ku lakukan bersama Lulu?"


"Ya. Aku tahu."


"Lalu kenapa kau tidak pernah muncul lagi? Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tetap membisu. Aku selalu penasaran, apa kau sudah pergi dari tubuhku. Tapi katamu, aku akan langsung mati jika kau meninggalkanku. Jadi aku pikir itu tidak mungkin," Drake mengutarakan semua isi hatinya.


"Begitu ya? Hehehe, maaf deh. Aku sedang tidur nyenyak di dalam,"


"Apa? Kau sempat tidur nyenyak? Apa kau tahu sisi hitam membuat masalah terakhir kali?"


"Ya. Aku sempat bicara padanya saat di dalam."


"Lalu?"


"Pada dasarnya dia tidak ingin mencelakaimu. Aku sendiri juga mengamati, dia muncul hanya saat kau marah. Untuk itu cobalah berlatih untuk mengendalikannya.


"Apa itu mungkin? Aku bahkan tidak sadarkan diri saat dia bangun," Drake merenung.


"Tidak apa. Kau bisa belajar dariku mengenai sisi hitam. selama beberapa bulan ini kau pasti merindukanku, bukan?"


"Em,, gimana ya. Mungkin, tapi cuma Sedikit. Hihihi," Drake terkekeh.


"Arrrgh kau ini."


Drake menyeruput kopinya kembali. Ia mengambil nafas sebelum melanjutkan bertanya.


"Ngomong-ngomong. Tapi tadi itu, kau bilang apa tentang Luna?"


"Ah. Tadi?"


"Ya. Soal apa? Kandungan?"


"Hmm. Dengan kata lain, ada bayi di dalam tubuhnya."


"B bayi???" Drake mendelik kaget.


"Weh? Kenapa terkejut? Bukankah tadi aku sudah memberitahumu?"


"Yang benar? Apa kau yakin?"


"Sangat yakin. Bukankah kau juga merasakan denyut itu?"


Drake mengangguk cepat dan meletakkan cangkirnya kembali.


"Aku merasa ada dua denyut kehidupan di pergelangan tangan Luna. K kalau begitu, siapa ayah bayi itu? Apakah Alan pelakunya?!" Drake sampai menggebrak meja.


"Bagaimana aku bisa tahu. Melihat mereka bercocok tanam saja tidak," sahut F5.


"Aku yakin pasti dia orangnya. Kalau begitu aku harus memberinya pelajaran!"


Drake menggulung lengan bajunya dan berdiri amat bersemangat. Dia marah, tapi masih sadarkan diri.


"Tunggu..."


"Ada apa?"


"Kau mau ke mana?"


"Tentu saja menemui Alan."


"Ohh.."


Drake berjalan menuju pintu depan dan memakai sepatunya. Matanya sudah hampir copot karena sejak tadi ia terus saja mendelik.


"Tunggu...."


"Apa lagi??"


"Kau mau ke mana?"


"Hiss! Sudah ku bilang, aku mau menemui Alan. Kenapa tanya terus??" katanya sambil memejamkan mata dan sedikit mendongak saking gemasnya.


"Kau yakin akan pergi sekarang?"


"Memangnya kenapa? Aku harus bergegas pergi dan memberi pelajaran si cebol itu. Beraninya dia menghamili anak orang tapi justru menikahi orang lain!" Drake sudah gemas. Ia mengatupkan kedua tangannya hingga berbunyi gemeretak.


"Aku tahu. Tapi lihat jamnya. Ini sudah jam sebelas malam. Sebaiknya besok saja," F5 membuat Drake sadar.


"Ehh,, benar juga. Ehehehe,," Drake garuk-garuk kepala setelah melihat jam di dinding.


"Lagipula, jangan ikut campur dulu. Bukankah temanmu juga belum menceritakan soal itu padamu?"


"Apa? I iya."


"Nah, itu dia. Tunggu sampai dia bicara dan menceritakan semuanya padamu."


"Apa sebaiknya begitu?"


"Tentu saja. Bukankah tadi dia juga marah padamu dan tidak percaya soal kabar yang kau sampaikan?"


"Hmm. Baiklah. Aku akan menahan diri dan membiarkan ini berlalu. Tapi jika nanti Luna membutuhkan bantuanku, akulah orang pertama yang akan memasang badan membelanya."


"Ya. Baiklah-baiklah, terserah kau saja. Sekarang istirahatkan badanmu. Aku akan memberimu energi positif."


"Hmmm.."


.


.


.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2