HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
NGAWUR


__ADS_3

BAB 74


Drake menelepon Arthur untuk meminta bantuannya dalam mengurus dan menindak lanjuti kejadian yang menimpa wanita dalam koper yang baru-baru ini diketahui bernama Vicka.


Usai menelepon, "Kau tidak menghubungi Arthur?"


"Em,, tidak," jawab Lulu.


"Lalu, bagaimana caramu membawa wanita ini kemari?"


"Sebenarnya, kebetulan ada seorang pelayan hotel yang datang ke kamar itu, jadi aku memintanya untuk membantuku membawa wanita ini turun ke bawah."


"Seorang pelayan hotel? Di tengah malam?"


"Eh? Apa itu aneh, ya?"


"Aku tidak tahu. Tapi jarang sekali pengunjung memanggil pelayan pada jam-jam segitu. Apalagi dia datang sendiri tanpa adanya permintaan. Katakan padaku, seperti apa orangnya?"


"Dia seorang pria dengan rambut pirang, tingginya kira-kira sama sepertimu. Kalau tidak salah, ada tahi lalat di bawah matanya."


Drake tersentak. Ciri-ciri orang yang disebutkan oleh Lulu sama persis dengan pelaku perakit bom yang ia lihat saat mendapat penglihatan.


Maka, dipeluknya Lulu dengan cepat. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pria perakit bom pada saat dirinya melihat Lulu malam itu. Namun untuk saat ini, Drake merasa amat bersyukur sebab pria perakit bom itu tidak melukai Lulu sedikitpun.


"Syukurlah kau tidak apa-apa," gumamnya.


"Kenapa? Apa seharusnya ada sesuatu yang terjadi padaku?"


"Pria yang kau temui semalam adalah pelaku perakit bom itu. Aku tidak tahu motif apa yang dia punya saat kembali ke tempat kejadian. Namun, aku amat bersyukur. Dia tidak melakukan apapun padamu."


"Ah? S sungguh?" Lulu menjadi takut. Ia merasa baru saja selamat dari cengkeraman kuku harimau.


"Jika kau melihatnya lagi, usahakan untuk tidak bertemu muka dengannya. Untuk berjaga-jaga, menghindarlah sejauh mungkin darinya dan panggil aku jika kau takut."


Lulu mengangguk cepat seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Drake, "Iya baiklah. Aku mendengarmu..."


Pada saat mereka sedang berpelukan mesra seperti itu, Arthur datang. Tanpa sengaja, ia melihat luapan cinta diantara keduanya.


"Hah? Drake dan Lulu berpelukan dengan mesra? Apa ada sesuatu di antara mereka berdua? Tapi,,, bukankah Drake sudah menikahi Luna? Dia tidak boleh melakukan ini."


Maka, Arthur mendehem dan berjalan mendekati Drake seolah tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan.


"Ehemm,,"


Drake menoleh cepat saat seseorang mendehem di belakangnya. Begitu pula Lulu.


"Arthur? Kau sudah datang?" tanya Drake.


"Ya. Aku baru saja tiba. Em,, apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau memintaku datang sepagi ini?" Arthur pura-pura melihat pada jarum jam di tangannya yang menunjuk angka tiga.


"Aah, ya. Aku baru saja akan memberitahumu," Drake menyentuh punggung Arthur dan menggiringnya duduk ke salah satu bangku.


"Baiklah,, apa itu?"


Setelah mereka duduk, Drake mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi.


"Bom??"


"Ya."


"Lalu bagaimana? Apa bom itu meledak?" Arthur penasaran.


Tepat saat mereka sedang membahas masalah bom, Lulu yang kebetulan menyalakan televisi itu terkejut saat ada berita yang menayangkan siaran langsung.


"Dini hari, sekitar jam satu petang, terjadi ledakan bom di pantai kaca. Tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Namun karena tempat itu sedang dipakai untuk syuting film, secara kebetulan seorang pria yang diduga melempar bom ke arah laut dan terkena ledakannya berhasil terekam kamera."


GLEK


Drake tidak percaya bahwa dirinya tanpa sengaja tertangkap oleh kamera. Bisa-bisanya ia tidak tahu ada kamera yang sedang on di tempat itu.


"Wah? Itu kau, kan?" Arthur langsung berdiri dengan wajah tercengang.


"Seperti yang aku ceritakan. Aku harus menyingkirkan bom itu agar semua orang selamat."


"Oohh tidak.. tapi itu,, kau terkena ledakan?? Bagaimana mungkin sekarang..." Arthur memandangi Drake.


Sebagai seorang teman, Arthur seperti melihat kejanggalan. Ia tidak lagi mendengarkan berita yang sedang disiarkan dan tetap fokus pada tubuh Drake yang terlihat baik-baik saja meski di dalam berita, temannya itu telah terkena ledakan hingga terluka.


"Aah,, itu,,," Drake kesulitan menjelaskan.


"Bagaimana sekarang kau tampak baik-baik saja setelah terluka seperti itu??"


Lulu jadi gugup saat Arthur menanyakan perihal luka-luka yang dialami Drake pasca ledakan. Perlahan ia mendekati Drake dan menggenggam tangannya.


Mendapat sentuhan hangat di tangannya, Drake menoleh pada Lulu. Ia tahu, gadis itu sedang mengkhawatirkannya. Dengan cepat ia menyembunyikan tangan mereka ke belakang punggungnya.


"Ah, itu tidak penting. Yang ingin ku sampaikan padamu adalah soal wanita yang kami temukan dalam koper itu. Seseorang sengaja memasukkannya ke dalam koper dan melilitkan bom rakit aktif di koper tersebut untuk membunuhnya tanpa jejak."


"Jadi, apa maksudmu ini dua hal yang berkaitan?"


Drake mengangguk pasti, "Ya. Untuk itu aku akan menyerahkan kasus ini padamu. Kalian bisa melacak jejak pelaku dan menangkapnya dengan mudah."


Arthur menatap Drake cukup lama. Ia tidak mendengar kawannya itu sedang terpengaruh alkohol, itu artinya Drake menceritakan kejadian sesungguhnya.


"Baiklah. Untuk masalah ini aku akan mengambil alih. Tapi berjanjilah padaku, setelah semua selesai, ceritakan apa yang kau rahasiakan dariku mengenai kasus ini."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku masih merasa bahwa kau aneh."


"Aneh? Tentang apa?"


"Semuanya."


DEG


Baik Drake, Arthur ataupun Lulu saling berpandang-pandangan. Mereka berada dalam pikiran masing-masing.


••••••


KRET


Ranjang di kamar hotel Drake berderit saat Lulu menggeser posisi tidurnya dan menghadap ke arah Drake.


"Apa benar, kau sempat terluka parah tadi?"


Drake yang sudah memejamkan mata itu membuka mata kembali dan menoleh pada Lulu.


"Apa kau sedang mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja. Luka ledakan itu membuat jalanmu tertatih-tatih. Semua orang yang melihat berita tadi bisa menyimpulkan dengan mudah bahwa kau terluka parah."


Drake memiringkan badannya ke kanan menghadap Lulu. Lalu diraihnya kepala gadis itu dengan perlahan kemudian dikecupnya bibir lembutnya.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," ucapnya seraya tersenyum nyeleneh.


"Tapi Drake,, apa tidak apa kalau kau berulang kali terluka seperti itu?"


CUP


Sekali lagi Drake mengecup bibir Lulu, "Aku baik-baik saja. Untuk seseorang yang sudah pernah mati sepertiku, masalah seperti ini hanya seperti mimpi buatku."


"Kau ini. Aku tidak bercanda. Aku benar-benar mencemaskanmu."


Karena Lulu masih terus bicara mengenai kecemasannya dan tampak sangat takut, Drake tidak punya pilihan lain selain menyesap bibirnya.


Karena Drake menciumnya dengan penuh penghayatan, Lulu pun luluh. Ia berangsur tenang dan menikmati waktu tidurnya bersama Drake saat itu.


•••••


SRUK


Lulu yang baru bangun itu kelabakan turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Ketika ia melihat jam dinding, rupanya hari sudah menunjuk pukul sembilan pagi. Ia terlambat masuk kerja!


Mendapati kekasihnya buru-buru bangun dan pergi mandi, Drake hanya menggeliat dan melanjutkan tidurnya.


"Drake.. bangun. Kau harus memberiku vitamin dari sinar matahari,," suara F5.


"HEYY,, ayo bangun..."


PLAK


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu memukul wajahnya. Drake bangun dan terkejut melihat jempol tangan kanannya memanjang seperti karet. Ternyata, jempolnya itulah yang baru saja memukul wajahnya.


"Wuuaah!! K kenapa jempolku jadi panjang dan bergerak sendiri??" Drake langsung bangun karena kaget.


"Bangun dong, aku sudah panggil-panggil dari tadi. Kau malah asyik mengorok," F5 jadi sebal.


"Hoaahem... aku masih mengantuk,," jawab Drake ogah-ogahan sambil menguap.


"Kalau kau tidak mau bangun, aku yang akan menyetir badanmu."


SRUK


Drake merebahkan badannya dengan posisi telungkup lalu meraih ponselnya dan menyalakannya untuk melihat jam. Ternyata dari semalam ia menonaktifkannya.


"Hmm. Lakukan saja semaumu...." setelah melihat jam pada ponselnya, Drake menjawab tanpa sadar dan meletakkan kembali ponsel tersebut ke atas nakas. Lantas ia melanjutkan tidurnya yang masih kurang.


Mendengar jawaban Drake, tanpa berlama-lama, F5 pun menggerakkan badan Drake hingga berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


"E E E ehh,,, k kau mau membawaku ke mana?" Drake jadi panik sebab ada Lulu di kamar mandi.


"Pergi mandi," F5 mulai melepas kancing pakaian tidur Drake.


"Tunggu. Biarkan aku berjalan sendiri. Lulu sedang ada di dalam jadi aku tidak bisa sembarangan masuk ke dalam," serunya.


"Aku tidak peduli. Kau harus mandi sekarang dan bawa aku berjemur," F5 melepas pakaian atas yang dikenakan Drake lalu membuangnya ke lantai.


"Hiyyyahh?? Tut tut tunggu! Aku tidak siap dengan penampilan seperti ini!!" Drake terkejut dan berusaha mengambil alih tubuhnya kembali.


Karena kini ia bertelanjang dada, Drake berusaha keras mengambil alih kendali pada dirinya. Kedua tangannya berhasil ia gerakkan sesuai apa yang ia pikirkan. Namun badan dan kakinya masih dalam kendali F5 sehingga terjadilah perlawanan.


Drake berpegangan kuat pada tembok dengan tangannya sedang kakinya terus saja mencoba melangkah maju.


"Serius! Hentikan ini sekarang. Jika Lulu melihatku bertelanjang dada, dia bisa salah faham!" Drake kelimpungan.


Karena F5 terus saja bergerak dan tidak mau berhenti, Drake terseret juga sampai ke depan pintu kamar mandi sehingga ia merentangkan kedua lengannya dengan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak mendobrak pintu dan menerobos masuk.


Tepat saat pintu kamar mandi terbuka, F5 menghentikan langkahnya sehingga Drake mau tidak mau melihat Lulu yang baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk.


"Oh? Drake? Lagi ngapain?" Lulu spontan menyilangkan tangannya ke depan dadanya yang terbuka.


GLEK


"Hah?? Em,, anuuu. A aku ingin buang air kecil," Drake yang mendelik kaget akhirnya berlagak kebelet pipis. Ia juga menyilangkan kakinya agar sandiwaranya semakin nyata.

__ADS_1



Karena melihat Drake seperti tidak tahan lagi menahan hasrat buang air kecilnya, Lulu pun minggir ke samping dan mempersilahkan pacarnya itu masuk ke kamar mandi.


"Ya sudah, sana cepat keluarkan," ucapnya sambil berlalu.


"I iya,,,"


Drake buru-buru masuk kamar mandi dan menutup pintunya. Ia berdiri di balik pintu dan mencoba bernafas. Sedari tadi ia menahan nafasnya sebab berusaha menepis pikiran joroknya tentang pemandangan indah yang ia lihat barusan.


Meski ia berpacaran dengan Lulu dan beberapa kali berciuman, ia belum pernah melihat Lulu mengenakan handuk mandi seperti tadi. Jika boleh jujur, ia merasakan degup jantungnya persis seperti genderang perang yang ditabuh.


Drake menelan ludah, "Hey, lima. Apa jantungmu sedang berdegup?"


"Apanya? Itu jelas bunyi jantungmu."


"Jantungku, ya?"


"Hehe,, bagaimana? Apa kau menyukai yang barusan?"


"Sialan, kau. Hampir saja aku mempermalukan Lulu."


"Tapi kau senang, kan?"


"I itu,,,,," Drake memikirkan sesuatu sebentar.


"Kenapa tidak mencoba lebih jauh?"


"Apa maksudmu?"


"Datangi dia dan ajaklah bercinta. Jika kau baik-baik saja setelah melakukan itu, artinya dia satu-satunya wanita yang bisa hidup denganmu."


"B bercinta? Maksudmu yang itu....???"


"Astaga,, sudah tua begini kau belum pernah melakukan itu dengan siapa pun?"


"Sialan. Siapa yang tua?"


"Kau."


"Aku masih muda, tau."


"Pitt saja sudah menikah. Dia membuktikan kalau dia laki-laki dengan pernikahannya."


"Haiiss! Aku juga akan menikah, tenang saja. Tapi tidak sekarang," Drake kesal dibandingkan dengan Pitt.


"Kalau begitu, bercintalah dulu dengan pacarmu."


"Dasar ngawur! Tidak semudah itu. Sebenarnya kau itu makluk apa sih? Jangan-jangan kau makhluk mesum dari neraka? Kenapa membahas soal bercinta di situasi seperti ini?"


"Apa? Makhluk mesum dari neraka??"


"Iya."


"Hmm,,,"


SRET


Drake membuka keran dan mencuci mukanya. Ia juga menggosok giginya sebanyak tiga kali.


"Kenapa sampai tiga kali menggosok gigi?"


"Supaya bersih."


"Bohong. Pasti kau mau mencoba saranku tadi, kan?"


"Haiiss!! Bisa tidak hentikan ocehan soal saran konyolmu itu," Drake menyumpalkan sikat giginya ke dalam mulut F5 yang ada di tangan kanan Drake.


"Alkllklkllhhaakk,,,,," suara F5 saat mulutnya kemasukan sikat gigi.


SHAAASSSS


Setelah berkumur dan merapikan rambutnya, Drake keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat Lulu yang berdiri di depan pintu.


"L Lulu? K kau masih di sini??" Drake kaget hingga mundur ke belakang.


Lulu mengangguk dan bersikap aneh. Tampaknya Lulu mendengar semua pembicaraan antara Drake dengan F5.


"Apa kau mendengar,-" Drake mau bertanya soal percakapannya barusan namun ia urungkan.


"Ah, kau mau sarapan apa? Aku akan menelepon dan memesan sesuatu," Drake berjalan mendekati meja telepon dan meninggalkan Lulu.


GYUT


Langkah Drake terhenti sebab Lulu menahannya. Gadis itu ingin mengatakan sesuatu, namun sepertinya sulit untuk dikatakan.


"Kau mau sesuatu?" tanya Drake sedikit gugup. Ia terus saja memalingkan muka sebab Lulu belum ganti baju.


"Apaah,, kau mau,,," Lulu meraih tangan Drake dan menggiringnya mendekat ke arah dadanya. Ia bertanya dengan suara nafasnya yang terdengar jelas.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2