
BAB 63
Sambil menikmati es krim mereka, Drake dan Lulu melewati jembatan yang di bawahnya mengalir air yang bening dan terlihat segar. Mereka berhenti di sana untuk menikmati pemandangan.
KRUCUK
KRUCUK
Suara air mengalir yang menghiasi indahnya alam pun terdengar sangat menyejukkan.
"Drake..."
"Hmm?"
"Apa aku boleh tahu, alasanmu menerima perasaanku?"
"Alasan?"
"Ya.."
"Em, tidak ada. Bukankah mencintai seseorang itu tidak butuh alasan?"
"Eh, mana bisa? Aku sendiri menyukaimu karena merasa nyaman berada di dekatmu. Lalu, kau tidak merasakan alasan seperti itu?" Lulu menatap Drake.
"Yaa... memang seperti itu. Aku menyukaimu begitu saja," Drake yang begitu puitis di dalam novelnya itu ternyata berbeda di dunia nyata.
Ia tidak terlalu pandai berkata-kata dan mengutarakan rasa cintanya jika bukan dalam situasi mendesak.
Karena Lulu melamun, ia makan es krim sampai belepotan.
GYUTT
Lulu terkejut saat ia merasakan seseorang mengusap bibirnya dengan jari.
"Makan es krimmu dengan benar. Lihat, mulutmu belepotan es krim seperti anak kecil," kata Drake sambil mengusap bibir Lulu.
"Eh?"
Mengejutkannya, Drake juga mengulum sisa es krim Lulu tersebut tanpa ragu. Sebab itulah, Lulu jadi malu-malu karenanya. Apalagi, setelah melakukan itu Drake terus saja menatapnya.
"Em,, kenapa kau terus menatapku?" tanya Lulu sambil melirik malu-malu.
"Hmm.. Aku hanya sedang berpikir, apakah ini mimpi? Kenapa di sampingku ada wanita yang begitu cantik,," ucap Drake sambil terus menatap Lulu.
Meski tidak bermaksud menggombal dan mengucapkannya dengan santai, namun kata-katanya itu akan langsung merasuk ke dalam jiwa seorang wanita yang mendengarkannya.
Perlahan, diraihnya kepala Lulu dengan tangan kirinya sebab tangan kanan sedang memegang es krim. Kemudian, tanpa meminta persetujuan lagi, Drake menyesap bibir gadis itu dengan lembut.
GLEK
Lulu memejamkan matanya. Ia menikmati sensasi bibir Drake yang dingin dan lembut. Ia tidak menyangka bahwa Drake akan menciumnya lagi di tempat itu.
Bahkan saking konsentrasinya ia pada Lulu, Drake tidak menyadari saat es krim di tangannya sudah berpindah tangan.
Begitu selesai berciuman, betapa kagetnya mereka ketika beberapa monyet tengah bertepuk tangan menonton mereka. Rupanya, Drake tidak sadar bahwa tempat itu adalah kawasan monyet berbulu hitam.
JENG JEENGG!
"Eh busettt???!!!" kagetnya Drake.
"Kyaaaa??" kagetnya Lulu yang setengah mati. Ia langsung merangkul Drake karena takut.
NGUK! NGUKK!
Dua monyet yang mengambil es krim mereka berteriak heboh dan meledek Drake dengan memajukan bibir-bibir mereka seakan mau berciuman. Konyolnya lagi, salah satu monyet menirukan Lulu yang sedang kaget dan langsung melompat ke gendongan Drake.
"Haiss! Apa itu? Apa mereka sedang meledek kita?" Drake melotot namun terkekeh juga.
"I iya. Sepertinya begitu,,," jawab Lulu malu sambil menutup wajah.
Monyet-monyet itu melompat-lompat kegirangan. Bahkan kini mereka juga tertawa lebar menampakkan barisan gigi yang kuning sambil terus saja bersuara dan memonyongkan bibirnya. Kedua monyet itu pun akhirnya menarik perhatian kawanan yang lain.
Begitu monyet bertambah banyak dan mulai mengerumuni keduanya, Drake meraih tangan Lulu dan mengajaknya kabur dari sana. Tidak lupa ia meraih keranjang berisi kelinci putih sebelum pergi melarikan diri.
•••••••
HOSH
HOSH
HOSH
"Hihihi,,, ini seru sekali," Lulu malahan senang.
"Apanya yang seru. Kita hampir saja dikerumuni monyet-monyet itu jika hanya diam berdiri," jawab Drake ngos-ngosan sambil menyimpan keranjang kelinci ke bagasi.
Kemudian, ia membuka pintu mobil dan bergegas duduk di dalamnya. Begitu juga Lulu, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi karena amat lelah.
"Kencan pertama yang mengesankan, bukan?" kata Lulu.
"Ya. Sangat mengesankan. Bahkan tidak akan pernah ku lupakan," jawab Drake.
"Bisa-bisanya mereka menirukanku seperti itu. Apa secara tidak sengaja aku sedang mengajari mereka cara berciuman? Ahaha,, konyol sekali,," lanjut Drake.
"Mungkin,, tapi apa kau lihat bibir monyet itu? Seperti ini, bukan?" Lulu menirukan gaya monyet tadi yang memonyongkan bibirnya.
GLEK
Drake ingin tertawa melihat kelakuan Lulu. Bisa-bisanya gadis itu menirukan ekspresi monyet yang jelek dan kocak.
"Akakaka!! Apa yang sedang kau lakukan?" Drake tertawa tak henti-henti.
"Menirukan monyet tadi," Lulu terkekeh.
__ADS_1
"Sudah tahu. Tapi menurutku kau salah. Aku rasa dia melakukannya begini," Drake ikut menirukan monyet itu dengan wajah lebih gila.
Melihat ekspresi Drake yang amat konyol, Lulu terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Ahahaha,, ya Tuhan. Aku tidak bisa berhenti tertawa," seru Lulu.
"Aku juga...hahaha..."
Satu jam kemudian, dua orang yang duduk di dalam mobil itu bersandar lesu di kursi mereka. Karena terus tertawa, mereka pun seakan kehabisan tenaga.
"Baiklah. Ayo kita pulang saja," Drake menegakkan posisi duduknya dan mulai menyalakan mobil.
"Aku rasa juga begitu.."
BRUMMM
Sesampainya di depan rumah Lulu, Drake mematikan mesin mobilnya.
"Drake. Mampirlah ke dalam untuk minum kopi," ajak Lulu.
"Em,," Drake melihat jam tangannya.
"Ayolah," ulang Lulu.
"Baiklah. Aku akan mampir."
TREK
Begitu di dalam rumah Lulu, Drake merasakan aura yang amat sunyi. Lebih sunyi daripada rumahnya.
"Kau tidak kesepian di rumah sebesar ini?" tanyanya.
"Kesepian. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Drake mengikuti langkah Lulu yang pergi ke lantai atas. Hingga mereka sampai di salah satu ruang yaitu ruangan dapur kering.
"Tunggu sebentar, ya."
"Hmm."
Drake duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil memperhatikan Lulu yang sedang membuat minuman untuknya.
Tak berapa lama kemudian, Lulu datang membawa dua buah cangkir berisi kopi.
"Silahkan minum. Aku ganti baju dulu, ya," ucapnya.
"Hmm."
Di lantai atas rumah Lulu, terdapat kamar utama serta ruang santai yang berdampingan dengan dapur kering. Dapur yang digunakan hanya untuk membuat minuman atau makanan kecil dan bukan masak besar.
"Oh ya, Drake. Karena kini kita pacaran, kau bisa datang kapanpun kau mau dan anggap rumahku sebagai rumahmu," kata Lulu begitu menghampiri Drake.
"Aahh.. B baiklah. Kalau begitu, kau juga bisa datang ke rumahku kapanpun kau mau," sahut Drake yang terpesona melihat pacarnya telah berganti baju.
"Hihihi, sungguh?"
"Ihihihi,, baiklah, kalau kau mengijinkannya,,," lagi-lagi Lulu tersipu malu.
"Em, tapi Drake. Untuk saat ini, bisakah kau merahasiakan hubungan kita?"
"Eh? Kenapa?" Drake terkejut sebab ia berencana mempublikasikan hubungannya di depan Luna dan Terra.
"Aku hanya tidak enak jika Terra mendengar kabar ini."
"Terra? Kenapa kau mesti tidak enak padanya?"
Lulu terpana, "Benarkah kau tidak tahu?"
"Soal apa?"
"Walaupun dia tidak memberitahuku, tapi aku tahu kalau Terra juga menyukaimu."
DEG
"Terra menyukaiku? Ahahaha,, tidak mungkin, dia sudah seperti adikku sendiri," jawab Drake terkekeh karena tidak percaya.
"Tapi tatapan matanya padamu bukan tatapan seperti pada kakaknya. Dia menyukaimu. Aku takut dia akan marah padaku nanti karena memacarimu."
Drake melihat kekhawatiran di wajah Lulu. Maka dengan cepat ia meraih tangan gadis itu.
"Dengar, Lulu. Itu tidak akan terjadi. Terra itu gadis baik, dia tidak akan marah padamu hanya karena kita berdua berpacaran. Lagipula, semua akan baik-baik saja selama aku menyukaimu."
"Kau yakin?"
"Hmm.."
"Tapi untuk saat ini, lakukan saja permintaanku, ya? Aku akan mempersiapkan diri lebih dahulu sebelum mengakui hubungan kita di depan mereka ."
"Begitu, ya? Baiklah aku mengerti. Aku akan menghargai keinginanmu. Tapi jika kau merasa sudah siap mempublikasikan hubungan ini, aku akan segera mempublikasikannya."
Lulu mengangguk.
••••••
TING KELINTING TUNG TING
Suara ponsel Drake berdering tepat jam enam pagi. Mendengar suara ponselnya, tangan Drake pecicilan meraih ponselnya dan buru-buru mengangkat telepon yang masuk.
"Ya, halo??"
"Apa kita bisa bicara, Drake? Aku ke rumahmu, tapi kau tidak ada di rumah. Apa... semalam kau tidak pulang ke rumah?"
"Aaah, kau Luna. Hmm, aku menginap di rumah teman. Apa yang sangat ingin kau bicarakan sampai menelepon pagi-pagi begini?" tanya Drake sambil menguap.
__ADS_1
"Em, aku tidak bisa bicara di telepon. Maukah kau menemuiku siang nanti?"
"Nanti siang?"
"Ya.."
"Baiklah. Kirim pesan saja kalau kau ingin bertemu di tempat lain selain mal," jawab Drake.
Setelah telepon ditutup, Drake celingukan. Ia menginap di rumah Lulu sejak kemarin malam. Namun ia tidak ingat apakah Lulu tidur bersamanya atau tidak.
"Hoahem. Apa aku benar-benar menginap di sini, semalam?"
SIUUHH....
Tiba-tiba Drake merasakan sentuhan di lehernya. Kemudian setelah itu, ia juga seperti merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Bahkan ia juga baru menyadari, ada hawa dingin yang berlawanan dengan hawa panas di tubuhnya tengah memendar di sekitar ruangan.
"Aih,, kenapa sejak tadi aku merasakan hawa dingin di sini? Bukankah aku tidak menyalakan AC?"
SRET
"Masa bodoh, aku tidur lagi saja,," Drake berusaha tidak memedulikannya.
Drake kembali memposisikan kepalanya pada bantal yang ada di bawahnya. Ia berniat tidur kembali jika Lulu tidak masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kau belum bangun, Drake?"
Mendengar suara Lulu, Drake menoleh dengan cepat. Ia melihat gadis itu seperti baru saja selesai mandi. Rambutnya basah dan mengenakan pakaian mandinya.
"Kau habis mandi?"
"Ya. Segar sekali airnya. Oh ya. Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?"
"Eh,, iya. Sangat nyenyak. Aku bahkan tidak terbangun pada tengah malamnya."
"Syukurlah. Itu artinya mereka menyukaimu dan kehadiranmu diterima di rumah ini."
"Mereka? Siapa?"
"Teman-temanku..." Lulu seakan tersenyum pada seseorang di sekitar Drake.
"Kau serius? Teman apa maksudmu?"
"Mereka semua roh tersesat."
GLEK
Drake langsung menelan ludah begitu mendengar penjelasan dari Lulu.
"Roh tersesat?"
Lulu mengangguk.
"B berapa banyak?"
"Enam orang. Semuanya wanita."
Drake mendelik terkejut, "J jadi. Apakah semua temanmu itu ada di dalam ruangan ini?"
Lulu mengangguk lagi, "Ya. Mereka sedang mengelilingimu."
Karena Lulu mengatakan itu, Drake jadi salah tingkah. Dan entah mengapa bulu kuduknya jadi berdiri.
HIYA!
Drake pecicilan menyingkir dari tempat tidurnya dan menghampiri Lulu kemudian berdiri di belakangnya.
"S sejak kapan mereka mengelilingiku? Apa wujud mereka berdarah-darah?"
"Hihihi,, apa kau takut?"
"B bukan begitu. Hanya saja, jika mereka berwujud seperti makhluk gentayangan di film-film, bukankah itu sedikit berlebihan.." Drake menyandarkan kepalanya ke bahu Lulu dari memeluknya dari belakang.
"Tidak apa. Mereka semua cantik dan baik hati. Aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Jadi mereka juga menganggapku sebagai keluarga."
Drake tarik napas. Ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cerita Lulu. Roh tersesat? Yang benar saja. Memiliki F5 di hidupnya saja sudah membuatnya teramat gila. Kini pacarnya juga memiliki makhluk serupa?
Wah wah wah,, perjodohan macam apa ini? Rupanya Tuhan sengaja mempertemukan keduanya yang hidup tidak normal untuk menjadi pasangan kekasih.
Tanpa Drake ketahui, roh-roh tersesat itu bertanya pada Lulu dengan antusias.
"Lulu. Apa dia pria yang sering kau mata-matai saat sedang mandi itu?? Dia lebih menggoda jika dilihat langsung, ya? Bolehkan aku menggigit bibirnya? Aah,, dia tampak lebih lezat dari bantal gulingku..."
Waduh?? Rupanya ada satu roh tersesat yang ingin menggigit Drake karena menyukainya seperti ia menyukai bantal gulingnya.
"***Jangan berani menggigitnya, pria yang amat tampan seperti dia harus diawetkan. Aku bisa membuatkan Lulu patung lilin dari tubuhnya."
"Aihh Aiihh.. jangan dong. Sayang sekali jika si tampan ini kalian jadikan mainan. Bagaimana kalau aku mencoba kekuatan fisiknya lebih dulu? Lihat, sepertinya dia pria yang perkasa,, Ihihihihi***...."
Sambung roh genit dengan tawa mengerikannya.
"Tidak boleh, nona-nona cantik! Kalian terlalu mengada-ada. Ingat! Jangan berani-berani menggangu ataupun menjahilinya. Sekarang dia pacarku. Jadi apapun situasinya, dia harus nyaman berada di sini. Oke! Jika kalian tidak menurutiku, aku terpaksa mengusir kalian dari sini. Paham semuanya??"
Jawab Lulu dengan cara telepati.
Karena Lulu sudah menekankan peraturan itu, mereka semua mengangguk dengan cepat. Mereka tentu saja akan menuruti Lulu karena gadis itu adalah penyelamat mereka.
Namun tetap saja, mereka akan tetap penasaran pada Drake. Karena dialah satu-satunya teman pria yang dibawa pulang oleh Lulu.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....