
BAB 45
Selain pusing, Drake menjadi mual. Sekarang ia benar-benar ingat, bahwa dirinya memang menyantap anjing maltipoo itu pada tengah malam lalu.
"Hoek! Hoek!" Drake tidak mampu menahan gejolak di dalam perutnya sehingga ia pun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan kuning.
Setiap ia melangkah keluar dari kamar mandi, bayangan tentang anjing jenis maltipoo yang ia telan ke dalam perutnya membuat rasa mual yang sejak tadi ia rasakan itu semakin menjadi-jadi.
"Oohhhh..." Drake keluar dari kamar mandi untuk yang kesekian kalinya.
Sambil memegangi perutnya dan berjalan terseok-seok, ia melangkah menuju mesin cuci. Ia menyalakan air untuk mengisi bak mesin cuci, lalu dicucinya pakaian yang berlumuran darah anjing itu dengan cepat. Ia tidak ingin siapapun melihat darah di pakaiannya.
"Kak Drake."
"Hik?" saking kagetnya, Drake menoleh ke belakang sambil cegukan.
"Kakak sedang mencuci, ya? Sepertinya kakak amat terkejut melihatku? Kenapa?"
"L-Lulu? Sejak kapan kau datang?"
"Baru saja," Lulu berbohong.
Sebenarnya ia sudah ada di sana sejak tadi dan menyaksikan tingkah Drake yang aneh.
"Apa kakak sedang sakit?"
"Tidak."
"Oh ya. Semalam, Terra mengirim pesan padaku. Katanya kita akan pergi ke taman hiburan untuk pesta terakhiran Joy di sini, ya??"
"Ahh, benar juga. Aku lupa mengirimimu pesan. Untung saja Terra melakukannya."
"Benar, ya? Itulah mengapa aku datang lebih awal. Aku tidak mau ketinggalan soal ini."
"Ya. Terima kasih karena sudah sangat bersemangat."
Drake menekan tombol untuk membuang air cucian yang jelas menjadi merah. Setelah airnya terbuang semuanya, ia menggantinya dengan air baru. Kemudian lanjut mencuci.
Setelah selesai dengan pewanginya juga, kini giliran Drake hendak mengeringkannya ke dalam tabung.
"Sini aku bantu melanjutkannya," ucap Lulu memaksa mengambil pakaian yang basah itu dan memindahkannya ke dalam tabung pengering.
"Eh, tidak tidak. Biar aku saja."
Karena mereka berebut mengambil pakaian basah tersebut, akhirnya lantai pun ikut basah. Drake yang kurang berhati-hati itu justru terpeleset dan jatuh terjengkang dengan pantat masuk ke dalam keranjang cucian hingga keranjang tersebut pecah begitu tertimpa bokongnya.
KRAKK!
Sialnya, terdengar juga suara "PREPEET" yang berbarengan kala Drake jatuh. Ternyata, celana yang dikenakan Drake sobek tepat di bagian tengah.
"Ughh," Drake yang masih belum sadar celananya sobek itu memegangi pinggang bagian belakangnya.
"Hieh?? K kak Drake.."
"Eh buset, Lulu. Tolongin dong,, jangan diam saja," ucapnya sambil mengulurkan tangan kirinya dengan meringis kesakitan.
"Eh, i iya, baik."
Lulu meraih tangan Drake dan mencoba menolongnya berdiri. Namun, karena lantainya licin, ia justru ikut terjatuh dan menimpa Drake. Lututnya tidak sengaja menimpa bagian selangk*ngan Drake dengan kerasnya.
"HIIYYYKK!!" suara Drake tercekik.
Menyadari kecerobohannya, Lulu segera menyingkirkan kakinya dan berlutut di sisi kiri Drake.
"Kak Drake! Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, ya," Lulu memasang wajah penuh sesal.
Ia melongokkan kepalanya menatap bagian yang baru saja ia injak dengan lutut itu.
"Wah, kak Drake. Apa kau menyimpan bola tenis di dalam celanamu," tangan kanan Lulu terulur hendak menyentuhnya.
KYAAAA!
Drake mendelik sambil tangannya menutupi bagian yang disebut bola tenis oleh Lulu itu, "Haiss! Apa yang kau lihat? Bantu bangunkan aku, cepat."
"Ihihihihi... habisnya, aku penasaran, apa kau benar-benar menyimpan bola tenis di dalam sana."
"Haiss. Bola tenis apanya. Sudah jangan bercanda."
"Kenapa?" Lulu membantu Drake bangun.
"Dia itu.. terlalu lugu atau hanya berpura-pura tidak tahu, sih? Apa jangan-jangan, dia sengaja bertanya soal itu untuk mengujiku?."
__ADS_1
"K Karena itu sesuatu yang memalukan untuk diobrolkan dengan seorang gadis."
Lulu tersenyum dan merasa geli. Ia berpikir, kalau Drake benar-benar pria yang manis.
TRAK
"Kalian lagi ngapain?" tanya Terra yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
"Eh, nggak lagi ngapa-ngapain kok, ihihii,," kata Lulu sambil terkekeh.
"Hmm.. gitu ya? Trus, gimana nih, apa kita jadi mau keluar ke taman hiburan?"
"Ayo paman, kita pergi ke taman hiburan sekarang," seru Joy yang berlari dari luar ke dalam.
"I iya. Baiklah. Kalian bersiap saja dulu. Aku mau selesaikan cucian ini," jawab Drake bangun dan berdiri.
"Oke. Kalau gitu aku pulang dulu. Em, Lulu,, apa kau mau ikut ke rumah? Kita siapkan bekal untuk nanti siang," ajak Terra.
"Boleh, ayo! Kak Drake, kami bersiap dulu, ya!" Lulu pun ikut dengan Terra untuk menyiapkan bekal makan siang nanti.
"Yaaa,, yaa, pergilah,,,"
•••••
SIIIINNGG
Matahari pagi sedikit mendung manakala rombongan Drake sampai di taman hiburan yang mereka kunjungi. Langitnya berwarna biru dengan awan putih yang cukup adem untuk bersenang-senang.
Drake, Lulu, Terra, Luna dan Joy berdiri dengan mulut menganga di depan pintu masuk taman hiburan yang sudah sangat ramai pengunjung. Mereka semua tak habis-habisnya menatap berbagai macam permainan yang menantang di depan mata mereka.
"Wah, lihatlah ke sana. Aku mau naik komidi putar dan bianglala itu," Joy begitu bersemangat.
"Aku juga tidak mau kalah, mari naik roller coaster bersama-sama," Terra mendorong punggung semuanya agar melangkah maju.
"Sepertinya, aku menunggu di bawah saja. Kalian bersenang-senanglah," kata Drake.
"Heh? Tidak bisa begitu, kakak harus ikut naik bersama kami," Lulu meraih dan menggandeng lengan Drake.
"Eh eh eh,," karena diseret oleh Lulu, Drake mengimbangi langkah Lulu yang cepat.
Di lain pihak, Luna memperhatikan kedekatan Lulu dan Drake. Ia sedikit terganggu karena hal itu. Entah mengapa ada sedikit kecemburuan di hatinya manakala mereka berdua melewatinya dengan ceria.
Di wahana komidi putar, Joy naik bersama Terra dan Lulu. Drake menunggu di bawah sambil mengambil video mereka.
"Lihat kemari anak-anak!" serunya memanggil Joy, Terra dan Lulu.
"Hay paman! Bibi! Hahahaha!" Joy melambaikan tangannya memanggil Drake dan Luna bergantian.
"Kakak, sayang sekali kau tidak ikut naik! Hihihi,, seru sekali loh!" seru Terra pada Luna.
Orang yang dipanggil hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Cukup lama menunggu yang lain turun dari komidi putar karena permainan itu belum berhenti.
"Em, Luna. Apa kau lelah? Kemarikan saja tas itu. Biar aku yang membawanya," Drake mencoba membuka obrolan dengan Luna.
"Tidak perlu menawarkan diri untuk membawakan tas ini. Aku bisa membawanya sendiri."
Jawaban Luna agaknya tidak mengharap bantuan dari Drake.
"Baiklah, tapi jika kau,-"
"Tidak perlu," jawab Luna memotong dengan cepat sambil berlalu pergi.
"Eh...."
Sambil menenteng tas berisi bekal makan siang, Luna berjalan mendekati sebuah bangku istirahat. Drake tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya dengan mengamatinya dari jauh. Ia takut membuat gadis itu marah mengingat hubungan mereka sedikit longgar karena pernyataan cintanya.
Begitu Luna duduk di bangku dekat patung miky mouse, dua orang pria datang menghampiri. Lagaknya, pria-pria itu mengganggu dan menggoda Luna sehingga Luna merasa tidak nyaman.
"Hai nona, sendirian saja?"
"Bukan urusanmu."
"Jangan sombong-sombong lah, nona. Bagaimana kalau bersenang-senang saja dulu bersama kami," ucap seorang yang bertopi.
Meski Luna belum setuju, pria itu hendak menarik Luna ikut dengannya.
"Singkirkan tanganmu atau kau akan mati," kata Luna.
"Ahahahah!! Dia bilang kita akan mati."
__ADS_1
"Tidak semudah itu, nona."
PLUK
Sebelum Luna bertindak, Drake datang dan menepuk pundak pria yang banyak omong itu.
"Siapa kau?"
"Aku pacarnya."
"Oh, kau pacarnya? Lalu, apa salahnya jika aku menginginkan pacarmu?" pria yang bertopi itu memang mencari gara-gara.
Akan tetapi, temannya berbisik di telinganya dan mengatakan bahwa dia mengenali Drake.
"Mungkin sebaiknya kita pergi saja, jangan membuat masalah dengan dia," bisiknya.
"Kenapa?"
"Dia itu petarung yang kita lihat di musim panas kemarin. Dan kita bertaruh padanya," sambung salah satunya.
Pria bertopi mengamati Drake dan menyadari bahwa memang benar apa yang dikatakan kawannya. Pria itu pun panik. Tanpa ba bi bu lagi, ia dan kawannya tersebut langsung kabur dan melarikan diri tanpa banyak alasan.
Begitu kedua orang itu pergi, Drake bertanya pada Luna.
"Apa kau,-"
"Sebenarnya, kau tidak perlu ikut campur. Aku bisa memukul mereka sendiri dengan tanganku," Luna cepat-cepat memotong.
"Aahh,, begitu, ya? Baiklah, maaf sudah ikut campur mengenai masalahmu," Drake berlagak terkekeh seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Dan jangan sembarangan pula mengatakan pada orang-orang kalau kau pacarku," Luna bicara dengan cara membelakangi Drake.
DEG
"I Iya, baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku minta maaf," jawab Drake seraya terus menatap Luna meski gadis itu memunggunginya.
WUUZZZZ.....
Lima belas menit kemudian, Terra, Joy dan Lulu akhirnya turun. Mereka berlomba menuju bianglala sambil berseru pada Drake.
"Paman, sekarang kami mau naik bianglala!" Joy berlari dengan riangnya.
"Ambil foto kami dulu, Kak Drake," kata Lulu.
"Ya, baiklah. Yuk lihat kemari dan ucapkan cheese."
CHEESE!!
Usai berfoto, mereka berlomba mengantri ke wahana bianglala. Namun Terra menghampiri Luna dan memaksanya ikut bersamanya.
"Ayo ikut naik bianglala! Jangan melamun sendirian saja," ucapnya.
"Eh, tapi itu tas bekal kita," Luna mencari alasan.
"Jangan pikirkan soal tasnya, bersenang-senanglah bersama mereka!" seru Drake setuju dengan apa yang dilakukan Terra.
•••••
KLIP
KLIP
Dari atas bianglala itu, Luna terus saja menatap jendela setiap kali kabin yang ditumpanginya bersama Terra, Lulu dan Joy bergerak ke bawah. Siapa lagi yang ia tatap selain Drake.
Aih, entah apa yang ada di dalam hatinya. Namun hal itu membuktikan bahwa hati wanita itu sulit diselami.
Jelas-jelas ia menolak cinta yang ditawarkan Drake karena ia mengira Drake ikut andil dalam masalah penjualan tanah roti ayahnya. Tapi di lain hal, ia juga tidak bisa melupakan saat Drake menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana sebenarnya? Apa dia juga mencintai Drake?
Tidak bisa. Dia sudah punya Alan. Mau dikemanakan pria itu? Mereka juga sudah bertunangan dan berniat untuk menikah. Tapi sungguh, begitu ia melihat Drake dekat dengan gadis lain, ia merasa tidak tenang.
Wah, wah, wah,,
Sepertinya Luna jadi serakah....
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG......