
BAB 5
GREB!
Alan terdengar membanting pintu mobilnya. Ia pergi karena kesal sebab malam itu ia tidak berhasil mendapatkan tunangannya.
Gara-gara listrik padam itu, ia yang tidak diterima di rumah kedua kekasihnya pun geram.
"Sial sekali. Sepertinya aku harus memesan sebuah kamar hotel untuk tidur malam ini."
BRUUUMMM
Drake melihat Alan pergi dengan kesal. Karena usahanya dalam mengusir hama berhasil, ia pun menyeringai senang. Itu artinya satu poin untuknya. Ia bisa menyelamatkan Luna dari hubungan **** sebelum pernikahan.
"Hihihi,,, berhasil juga ngusir curut got," gumamnya seraya menggosokkan kedua telapak tangannya.
Sebelum masuk rumah, Drake mengawasi Luna sebentar. Ia memastikan gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Ketika lampu kamar Luna dimatikan, Drake pun masuk ke dalam rumah.
••••••
HUUUFFF....
HUUFFFFF......
Drake yang sedang tidur itu bermimpi berada di pantai dan diterpa angin topan. Hembusan angin dahsyat yang mampu menerbangkan dirinya beserta pohon-pohon kelapa itu bahkan membawa kapal pesiar berhamburan di udara.
"Tolooong!! Sepertinya ada yang salah dengan dunia ini! Langit mendung sekali. Terpaan anginnya juga tidak biasa! Ada bau keju yang bercampur bawang putih!"
POWWW! !
Tunggu!
Angin apa yang baunya keju dan bawang putih?
Drake yang di mimpi pun tertegun. Ia mematung di tengah terpaan angin kencang. Sambil menyilangkan tangan kanan di atas tangan kiri, ia membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh angin.
Lama kelamaan, angin itu bercampur air hujan. Bahkan muncul kepala setan berwarna hijau yang mengeluarkan asap bawangnya.
ROOAARRRR!!
Seketika asap hijau membumbung ke udara. Meracuni setiap makhluk bernyawa yang ada di sana.
"Setan bawang?"
BOOOEENGGG!
Drake berusaha untuk membuka mata. Baru kali ini ia merasa sangat kesulitan untuk bangun. Dirasakannya pula energi panas sedang berada di hadapannya.
"Uuuhh! Tidak! Mengapa ini sulit sekali!" pekiknya dalam mimpi.
KLIP
Ketika akhirnya ia berhasil membuka mata, ia kaget setengah mati. Ada sebuah penampakan sepasang lubang hidung tepat di depan matanya.
"Eh buset! S setan bawang!" teriak Drake spontan sambil terduduk takut.
PLAK
Luna memukul mulut yang mengatainya setan bawang.
"Hey! Kau mimpi apa barusan? Kenapa menyebutku dengan setan bawang???" Luna bertanya dengan posisinya yang merunduk di atas tubuh Drake.
"K kau Luna? Hosh.. Hosh.." Drake celingak-celinguk sambil terengah.
"Cari apa?"
"Setan... "
"Jangan ngawur! Mana ada setan pagi-pagi begini," ucap Luna sambil mengamati wajah sahabatnya itu.
Drake mengangguk. Namun sesaat kemudian ia melihat Luna sedang membungkuk di atasnya.
DEG
"Lu Luuna."
"Ya?"
"Bisakah kau menyingkir dariku?" Drake merasa risih ketika dada Luna begitu dekat dengan pandangannya.
"Ehh?? Hehe,, iya deh."
Luna turun dan kembali menyantap makanan yang ia bawa. Satu piring besar dadar telur dengan toping beef, keju dan bawang putih.
LIRIK
LIRIK
Drake melihat Luna begitu menikmati makanannya. Maka Drake bangun mendekatinya.
"Apa yang sedang kau makan?" tanyanya turun dari ranjang dan duduk di sebelah Luna.
__ADS_1
"Nih, cobalah.. " Luna buru-buru menyumpal mulut Drake dengan dadar telurnya.
GLUK
GLUK
BOOOOMMM!!
Dengan wajah bak keracunan, mulut Drake gemetaran. Matanya mendelik seketika itu juga. Untuk sesaat, ia merasakan nasib kehancuran dunia ada di tangannya. Sambil sesekali menggembungkan pipi, antara susah menelan dan takut untuk memuntahkan makanan itu kembali, ia membuang muka ke belakang.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," Drake ingin muntah.
"Bagaimana rasanya? Apa kau suka?"
"Yaaah," Drake mengangguk tanpa menelan makanan yang ada di dalam mulut.
Kakinya merapat menahan rasa tidak enak di mulutnya.
"Kalau kau suka, aku potongkan lagi, ya!" kata Luna tidak bisa membaca keadaan.
"Apa?? Oh tidak, jangan Luna! Kau meracuniku dengan makanan aneh ini, hmmppfft..."
Sekali lagi Drake menggembungkan pipinya karena rasa mualnya semakin menekan dada.
Begitu Luna mendekati meja dan memotong dadar telurnya, Drake dengan cepat memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya itu ke sebuah vas bunga. Lalu mengembalikan vas itu seperti semula.
"Nah,, buka mulutmu, Drake,,,"
SRET
Drake buru-buru berdiri. Ia berusaha menolak makanan Luna tanpa terlihat mencolok.
"Luna,,,"
"Kau mau ke mana? Duduk dulu, aku belum selesai bicara denganmu," Luna memaksa Drake duduk kembali.
"Tapi, aku harus..."
"Duduklah.." mata Luna menatap tajam pada Drake. Ia memegangi kuat tubuh sahabatnya itu.
Mendapat tatapan seperti itu, Drake menuruti Luna untuk kembali duduk.
"A ada apa?"
"Aaaakkk...." Luna kembali menyuapi Drake dadar telur.
HUP
Sekali lagi Drake merasa amat mual. Ia tidak bisa makan bawang putih sejak masih kecil. Sebenarnya, semakin dewasa ia bisa saja mentolelir bawang putih di dalam sebuah masakan dengan porsi yang sedikit tentunya. Namun, dadar telur Luna terlalu banyak bawang putihnya.
Gara-gara itu, Drake menjadi mual dan pusing dibuatnya.
"L Luna.. Aku harus mandi.."
"Husssttt.. makanlah.." wajah Luna dibuat-buat seperti peri cinta.
"Tapi Lun,,"
"Telan. Ayo telan..." Luna memastikan Drake untuk mengunyah dan menelan makanannya.
GLEK.
Drake tidak bisa berbuat banyak. Dengan terpaksa ia membiarkan bawang putih itu melewati tenggorokannya dan turun menuju ke dalam perutnya.
"Bagaimana rasanya? Enak?"
"I ini.. iyyyya,, inni eeenak, hehe" oh tidak. Drake ingin muntah lagi.
"Semalam itu, kerjaanmu kan?" Luna tiba-tiba membahas soal padamnya listrik semalam.
"Apa."
"Kau yang iseng memainkan sekering rumahku. Benar, bukan?"
Karena Luna terus menyudutkannya, Drake berdiri kembali. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan dan kabur ke dalam kamar mandi.
"Aaahh..benar. Aku masih ada kerjaan. L Luna, aku harus mandi sekarang. Thomas memintaku datang hari ini!"
Melihat sikap Drake yang gugup seperti itu, Luna tersenyum. Ia semakin yakin jika Drake adalah pelaku yang mengisengi dirinya dan Alan semalam.
••••••
TRUK
TRUK
TRUK
Drake berjalan melewati jalanan dekat rel kereta api yang kebetulan lengang. Ia berhenti sejenak sambil menggerutu soal makanan Luna tadi.
__ADS_1
"Hufff.. yang benar saja? Dadar telur??"
KHAH!
Drake membuang nafas kasar. Ia mendaratkan pantatnya ke besi pembatas dengan kasarnya. Diraihnya bungkus rokok di dalam saku lalu diambilnya sebatang. Sambil mulutnya tetap menggerutu, ia menyalakan rokoknya menggunakan pemantik api.
"Itu lebih mirip kuburan bawang putih."
"Tapi syukurlah. Akhirnya aku selamat dari bawang putih itu. Pantas saja. Mimpiku tadi terasa amat seram. Ternyata Luna membawakan dadar bawang putih yang mengerikan itu untukku."
Dihisapnya rokok yang ia nyalakan itu dengan perlahan. Lalu menghembuskan asapnya, "Lagian, ngapain sih Luna masak? Apa dia sengaja melakukan itu untuk membalas dendam padaku?"
HUFFF....
"Soal listrik padam semalam? Haiss! Yang benar saja! Apa dia menyesal karena tidak bisa bermesraan dengan Alan??" Drake bicara dengan diri sendiri dengan ekspresi yang amat kesal.
Kemudian ia kembali berjalan.
"Tunggu. Kenapa aku harus kesal dengan masalah itu?" Drake mengerjapkan matanya dengan cepat.
"A apa aku sedang cemburu??" ia menyadari sesuatu yang aneh dalam dirinya.
GYUT
Pada saat ia tidak sengaja menoleh ke arah seberang jalan, Drake melihat perpustakaan kota tempat ia bertemu dengan Lulu.
Maka ia pun teringat akan janjinya untuk mampir membaca di sana.
"Yah! Aku lupa punya janji padanya. Baiklah, ayo pergi temui dia, Drake!"
Serunya bersemangat.
ZIIINGG...
Sambil mematikan rokoknya, ia berjalan santai memasuki halaman perpustakaan yang cukup luas. Di halaman parkir tersebut, ia melihat sepeda milik Lulu tersimpan di sana.
"Aku rasa dia ada di dalam..." senyumnya.
Ia memandang ke sekeliling dan mencari sosok Lulu, gadis manis itu. Namun karena ia belum juga menemukannya, Drake mencoba melihat-lihat koleksi buku di tempat itu.
"Hmm..Hmm,, Hmm," ia bersenandung.
Kemudian berhenti saat melihat deretan buku karya Alfa One ada di sana.
"Whoaah! Novel-novel ini ada di sini juga?" matanya bersinar.
Karena ia menemukan bukunya, maka ia pun pergi ke meja tempat membaca dan duduk di sana.
Kebetulan, Lulu yang hendak mengembalikan buku ke rak, melihatnya dari jauh.
"Dia kan,, Kak Drake!" gumam Lulu.
"Dia benar-benar datang kemari untukku?" lanjut Lulu tersipu malu hingga membuat pipinya bersemu merah.
SRET
Lulu berlari dan bersembunyi ke balik sebuah rak. Kemudian diambilnya sebuah cermin kecil dari saku roknya. Beberapa gadis yang lewat di sana memperhatikannya dengan heran.
"Apa aku terlihat cantik?" Lulu bercermin sambil menggerakkan bibirnya yang seksi.
Setelah ia mengantongi kembali cerminnya, Lulu masih merasa deg-degan untuk muncul di hadapan Drake.
"Kau sudah cantik..." suara Drake yang tiba-tiba muncul di dekatnya, membuat Lulu terkejut.
"Ehh?? Hehehe," Lulu menoleh ke kanan. " K kak Drake? K kau datang ke sini?" tanya Lulu salah tingkah.
"Hmm. Aku mencarimu di meja pelayanan. Tapi tidak ada. Makanya aku berkeliling sebentar mencari buku bacaan," jawab Drake.
"Kau sedang membaca? Atau mencari sebuah judul buku? Katakan saja padaku, biar aku bantu carikan," kata Lulu.
"Tidak perlu. Aku sudah mendapatkannya," Drake menunjukkan buku yang sedang ia baca.
"Alfa One?"
"Ya."
"Apa kau sudah membaca sampai seri ke empat?"
"Ehem.." Drake tersenyum.
"Seru bukan? Aku rasa, villain sesungguhnya adalah dua dari sahabatnya sendiri..." Lulu mengomentari cerita Alfa One dengan bersemangat.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Yah,,, Troy terlalu mencurigakan untuk seorang sahabat. Aku rasa, dia menggunakan kepercayaan Zen untuk menutupi kejahatannya. Pasti begitu, kan?"
"Wuaahh.. rupanya aku bertemu penggemar yang bahkan mampu menebak pikiranku... Hebat!"
BERSAMBUNG......
__ADS_1