HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
KEMEJA KOTOR


__ADS_3

BAB 35


TRATAK TRATAK


Di atas kompor, sebuah panci berisi bubur yang meletup-letup dan hampir meluap isinya itu membuat Drake yang baru saja selesai mandi dan tengah mengenakan kemejanya berlari dari kamar mandi untuk membuka tutupnya dengan cepat.


Sebelum mendekati kompor, ia meraih celemek waterproof dan menggunakannya di bagian depan tubuhnya.


"Ups! Hampir saja," gumamnya.


"Kenapa berlari?" tanya F5 heran.


"Kau tidak lihat barusan, buburnya hampir saja meluap keluar?"


"Lihat."


"Lalu ngapain masih nanya?"


"Kau kan bisa, pakai kemampuan jarak jauhmu??"


NGEK


"Eh?? Iya juga ya. Ngapain tadi aku buru-buru berlari?" Drake memikirkan kebodohannya


"Nah, kan..."


"Lalu kenapa tidak memberitahuku dari tadi?" Drake menyalahkan F5.


"Buat apa, kau juga sudah berlari."


"Hmphh,,, iya deh,,"


Sambil mengaduk bubur buatannya, Drake membuat mie kuah instan untuk dirinya.


"Asik, mie kuah," kata F5.


"Ngapain asik asik?"


"Senang dong. Kan mau makan mie kuah," jawab F5.


"Yee, enak saja. Aku yang makan. Kau nonton saja," Drake tidak mau berbagi dengan kawan mulutnya itu.


"Pelit."


"Biarin."


Dimatikannya api yang memasak bubur dan mie instan. Kemudian diangkatnya panci berisi mie kuah menuju meja makan.


TREK


"Sudah matang," Drake menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebab sudah tidak sabar menikmatinya.


Setelah meletakkan panci tersebut ke atas meja, ia mengambil sumpit dari tempat sendok. Baru saja ia mau menyuapkan ke dalam mulut, suara seseorang membuatnya menoleh.


"Hmm.. Mie kuah pedas, ya?? Kelihatannya lezat."


Drake terkejut melihat Luna datang dan mengajaknya bicara seakan sudah melupakan masalah diantara mereka.


"L Luna??"


Orang yang dipanggil pun mendekati meja makan dan merebut sumpit yang ada di tangan Drake.


"Eh..."


Drake tidak bisa berbuat apa-apa saat Luna merebut sumpit itu dari tangannya. Bahkan saat Luna menyuapkan mie instan buatannya itu ke dalam mulut beberapa kali, Drake hanya bisa menatapnya bengong. Lucunya, mulut Drake ikut bergerak seakan sedang mengunyah.

__ADS_1


Ya. Mengunyah,,, mengunyah angin maksudnya. Hik hik hik...


SLURRPP


"Aaaaarrggkk... lezatnya.." Luna bersendawa kencang setelah menghabiskan separuh mie intant buatan Drake.


Drake masih saja mematung menatap Luna dengan pandangan heran. Jujur saja, ia memberikan tatapan khusus pada bibir Luna yang berminyak dan memerah karena makanan pedas yang baru saja ia makan.


Apalagi Luna terus saja menghembuskan nafas karena kepedesan.


"Sss hah,, sss hah.." Luna membuang udara dari dalam mulutnya.


GLEK


Di matanya, bibir Luna semakin seksi saat bergerak-gerak seperti saat itu. Ah, pemandangan yang panas dan membuatnya gerah itu tidak mudah untuk ia lewatkan.


"Kenapa bengong??"


"Em, anu,, itu,,," Drake buru-buru mengalihkan perhatiannya sebab hampir saja darah mimisan keluar dari hidungnya.


Untuk meredam perasaannya, Drake meraih sumpit yang sudah diletakkan Luna di atas mangkuk. Kemudian ia mengisi mangkuk tersebut dengan mie yang tersisa sedikit dan hampir mengembang.


KLIP


Pada saat ia hendak menyuapkan mie tersebut ke dalam mulutnya, tangannya pun berhenti sejenak. Namun begitu, ia tetap melahap makanan yang disisakan Luna untuknya itu.


Sesekali ia melirikkan mata untuk melihat Luna. Gadis itu masih saja membuang udara dari mulutnya. Aiihh,,, Drake makin merasakan gerah!


"Heh, Drake? Kau mimisan!" seru Luna.


"Apa??" Drake terkejut dan langsung menyeka darah dari hidungnya."


Benar saja, ia mimisan karena memandangi bibir Luna dengan perasaan yang tidak biasa.


"Dengar-dengar,, orang yang tiba-tiba mimisan seperti itu tu, karena dia sedang memikirkan sesuatu yang berbau vorno di dalam otaknya."


Drake keselek-selek. Mie yang seharusnya masuk ke dalam perut itu justru keluar lagi.


"Kenapa dengan reaksimu? Apa kau benar-benar sedang memikirkan hal vorno tentangku?" Luna menyentuh pundak Drake.


Saat itu, entah mengapa Drake merasakan aliran listrik yang menjalar ke tubuhnya begitu Luna menyentuh pundaknya.


GRETEK


Drake mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri dengan cepat sambil melepas celemeknya, "Jangan ngaco. Tubuhku hanya sedang tidak sehat saja."


"Tapi reaksimu itu berlebihan. Aku curiga,,, kalau kau,,," Luna meraih kedua lengan Drake dan memaksanya menghadapi dirinya.


"A apa?"


"Apa kau menyukaiku?" Luna mendekatkan wajahnya.


DEG


Saat Luna mengatakan hal yang benar-benar menggambarkan hatinya itu, Drake jadi tidak bisa bicara. Ia takut mengatakan sesuatu yang salah ketika jantungnya benar-benar akan meledak.


Akhirnya, mereka bertatapan cukup lama. Drake memang menyukai Luna sejak ia tinggal di rumah mereka. Saat itu, Luna masih satu SMA.


Karena ia menyukai anak perempuan paman Gibson, Drake membantu keuangan ayah Luna tersebut dengan membeli kembali toko tempat usaha mereka yang disita pemilik tanah karena telat membayar sewa.


Selama hidup bersama keluarga Luna, Drake berusaha mendapatkan uang dengan mengikuti beberapa pertandingan di kasino bawah tanah. Semua itu ia lakukan agar Luna dan Terra tetap bisa melanjutkan sekolahnya.


Bahkan saat Luna lulus dan mencari pekerjaan, Drake selalu ada dan selalu mendukungnya. Ia menjadi teman dan sahabat terbaik untuk Luna mintai bantuan.


Lalu pada suatu hari, saat gadis itu diterima bekerja di mall milik orang tuanya, ia begitu senang mendengarnya dan selalu menyempatkan diri untuk menjemputnya waktu pulang malam.

__ADS_1


Tapi setelah bekerja beberapa bulan di sana, Luna bertemu dengan Alan, seorang manager operasional. Sejak itu, Luna sering membicarakan Alan saat sedang bersama Drake.


Seiring berjalannya waktu, Alan juga semakin dekat dengan Luna dan menyatakan perasaannya. Drake yang menghargai kedekatannya dengan Luna sebagai seorang teman pun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung hubungan mereka ketika Luna mengaku jatuh cinta pada Alan.


Dan sampai saat ini, lebih tepatnya sudah delapan tahun lamanya, ia menyimpan perasaannya di dalam hati.


"Ahahaha,,, Suka? Siapa yang akan menyukai wanita sepertimu?" jawab Drake bohong sambil membuang muka ke samping.


Ia meletakkan celemeknya ke atas meja begitu saja.


"Cih,, tidak mau ngaku..."


"Apanya yang perlu diakui,," Drake menyingkirkan kedua tangan Luna.


Ia berbalik dan pergi membawa panci berisi mie sisa ke wastafle untuk ia cuci. Tapi belum sampai ke tempat tujuannya, baju bagian belakangnya ditarik paksa oleh Luna.


Alhasil Drake ketarik ke belakang dan panci berisi kuah mie pedas berwarna merah itu tersiram ke baju yang dikenakan Drake.


CRATT!


Seketika bajunya Drake kotor oleh kuah merah pedas dari panci.


"Aaiihh,, apa yang kau lakukan? Ini baju mahal, tau?? Kenapa kau merusaknya!" Drake sedikit kesal dan secara spontan berucap dengan nada agak tinggi namun sedih seperti ingin menangis.


"Sowriy,, tidak sengaja.." jawab Luna menggunakan bahasa lebay dan alay. "Lagian seberapa mahalnya sih, biar aku ganti besok. Di tempat kerjaku pasti banyak baju seperti punyamu," lanjut Luna meremehkan.


Namun ia tidak tahu. Baju itu adalah barang eksklusif yang diberikan pada Drake secara langsung dari perusahaan sebagai ucapan terima kasih atas ketersediaannya menjadi BA produknya.


"Tidak akan ada lagi.." jawab Drake berdiri lesu.


"Tidak akan ada lagi bagaimana maksudmu? Baju seperti ini sih, di pasar loak pun banyak," Luna meremehkan sambil menarik kerah baju Drake untuk melihat merek.


Karena Drake lebih tinggi dari Luna, maka ia terpaksa merendahkan badannya saat Luna memaksa melihat label baju yang ia kenakan.


"Burberry? Ahahaha,, merek apa itu,, terdengar seperti bluberry,, atau strowberry,," ucapnya sambil tertawa cekikikan.


Meski bekerja di mall besar, Luna tidak tahu merek-merek baju yang mahal dan asli. Apalagi, ia bekerja di bagian informasi atau pengumuman. Seperti memberitahukan keadaan mall atau laporan anak hilang.


"Kau tidak bisa menggantinya meski dengan gajimu setahun."


"Apa? Cih, tak usah berlebihan gitu lah,," jawab Luna sewot.


"Itu barang eksklusif yang khusus dikirim untukku. Ah! Sudahlah, kau tidak akan mengerti jika ku beri tahu," Drake tidak ingin meributkan hal itu dengan Luna.


Sambil melepas kemejanya, ia berjalan ke mesin cuci untuk mencuci bajunya yang kotor terkena kuah merah.


Selama mencuci pakaiannya, Drake hanya berdiam diri dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia masih kesal sebab baju yang ia kenakan untuk pemotretan itu tidak bisa ia selamatkan.


Bahkan ia sendiri pun menyesal. Mengapa ia melepas celemek yang sedari awal ia gunakan untuk melindungi pakaiannya?


Jadi sekarang, jika pakaian itu kotor, itu juga karena salahnya sendiri. Huff.. benar-benar kesialan yang tidak terduga.


"Tenang saja! Aku akan mengganti bajumu yang kau bilang eksklusif itu, jadi jangan khawatir!" seru Luna sambil berlari keluar rumah Drake.


Drake menoleh dan menghela nafas. Sebenarnya ia tidak bermaksud marah pada Luna. Namun,,, waktu pemotretan sebentar lagi. Dari mana ia dapatkan baju ganti yang sama?


Luna berjalan pulang ke rumahnya sambil menggerutu.


"Eksklusif kau bilang? Eksklusif apanya,, kemeja biasa saja seperti itu banyak dijual di pasar kok. Yah, walaupun benar bahan milikmu sedikit lebih halus dan lembut dari kemeja-kemeja milik Alan, tapi aku rasa, aku bisa menemukan satu di mall nanti," gerutu Luna sambil menoleh ke rumah Drake.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2