
Beberapa hari bekerja, Naura merasa sudah mulai terbiasa. Dia juga semakin lebih banyak mengobrol dengan Serli. Ketika mereka sedang berada diwaktu istirahat, Serli memilih memesan makanan dan makan diruangan bersama Naura.
"Ser, siapa sih bagian pengecekkan pembukuan kita?" Tanya Naura.
"Bu Endang, kenapa?" Tanya balik Serli.
"Tidak, aku rasa"
"Ada hal yang dia tidak suka dari aku!" Cerita Naura murung.
"Kenapa kamu berkata begitu!"
"Pekerjaan ku selalu disalah-salahkan disuruhnya ulang!" Jawab Naura cemas.
"Kamu sabar saja ya, ikutin saja apa maunya dia!" Jawab Serli.
"Iya pasti Ser, Aku sangat butuh gaji ku untuk biaya hidup kami!"
"Kami?" Tanya Serli binggung.
"Iya lah kami, aku, anakku dan mamaku!"
"Hah, kamu sudah punya anak?" Tanya Serli penasaran.
"Sudah, Evano namanya!" Membayangkan wajah Evano yang riang.
"Laki-laki?"
"Iya!"
"Lalu dimana suami mu?" Tanya Serli
"Kapan-kapan saja aku ceritakan"
"Yang pasti aku seorang janda" Naura mengaku secara jujur tentang status dia.
"Enggak ada salahnya janda kog" jawab Serli sambil tersenyum.
"Siapa bilang, kalau orang yang tidak berpikiran sempit si iya, tidak salah! Tapi kalau orang yang berpikiran sempit dia akan menganggap janda itu status paling buruk, menganggu, tidak benar!" Senyum Naura yang terbayang ketika bagaimana dia dipaksa untuk menjadi janda.
"Aku yakin kamu menjanda pasti ada alasannya, ada cerita dibaliknya"
"Iya" jawab Naura.
"Anak mu usia berapa?"
"5 tahun, baru masuk taman kanak-kanak"
"Kamu usia 27 tahun, tapi anak mu sudah besar! Lha aku juga sama kayak kamu 27 tahun tapi belum ada anak" senyum geli buat diri sendiri bagi Serli.
"Nikah muda aku"
"Hehehe" jawab Naura ketawa.
"Menikah, memang banyak tantangan ya!" Tanya Serli.
"Banyak, ada dimana kita mendapat suami baik tapi belum tentu keluarganya atau saudara dia yang lain baik" cerita Naura.
"Ada juga orang yang sudah tau lelaki pilihannya kurang baik, buruk tetapi tetap mau menikah dan berpikir bisa membuat sifat suami berubah dengan waktu"
"Ada juga yang menikah karena dipaksa orang tuanya, malah mendapat suami yang baik, sayang sama dia, seperti di novel-novel loh, tapi dunia nyata enggak semua begitu, ada kalanya orang tua, salah dalam menjodohkan anaknya, membuat anaknya menderita setelah dijodohkan atau menikah"
"Ada lagi, menikah suaminya bersikap baik awal pacaran, setelah nikah semua sikap suami keluar tapi keluarga suami baik sama dia"
Serli mendengarkan semua yang diucapkan Naura, dia berharap belajar dari situ.
"Tapi enggak juga suami atau pria yang bersalah di pernikahan, ada juga wanitanya, karenakan kita hanya manusia, berbagai sifat yang mereka miliki, termasuk aku sendiri bisa bercerai karena punya banyak kekurangan" cerita Naura sambil tersenyum.
Apa yang Naura ucapkan hanya sebagai pemikirannya saja, terkadang dia mendengar dari cerita orang-orang sekitarnya, karena didalam setiap kehidupan pernikahan tidak ada yang sama. Karena cerita-cerita itu Naura pun tidak terasa menghabiskan waktu untuk makan siangnya.
"Kata-katamu akan ku jadikan pelajaran, masing-masing memang orang memang memiliki hidup yang berbeda, tidak akan ada yang sama!" Jawab Serli.
"Tapi sebenarnya kamu tau enggak?" Naura bertanya.
__ADS_1
"Tau ap, kamu belum kasih tau" lirik Serli.
"Lanjut" ucap Serli pada Naura.
"Kalau sebenarnya wanita yang paling beruntung bukanlah wanita yang punya suami kaya harta, melainkan wanita yang beruntung ialah dia yang memiliki suami yang bertanggung jawab dan setia!"
Sejenak Naura terdiam, memikirkan kembali kata-katanya barusan, hingga terdengar bunyi
"Kruk, kruk, kruk" bunyi perut Naura yang dimana para cacing sudah mendemo meminta makanannya.
"Aih, lapar" gumam Naura.
"Kan, gara-gara cerita, waktu makan siang kita mau habis" ucap Naura yang baru saja melihat jam kecil dimejanya sudah menujukan waktu istirahat mereka akan habis.
"Oh, iya! Ayo kita makan" ucap Serli dengan cepat.
"Makan yang banyak supaya kenyang, biar kita kuat dan semangat bekerja lagi" seru Naura.
Kini ruangan itu menjadi hidup, dahulu sebelum Naura bekerja disana, Serli selalu sendiri, karena Serli termasuk pendiam, hanya dengan Naura, Naura orangnya aktif jadi Serli pun terbawa suasana.
"Yak ampun lambat sekalian kalian makan!" Teriak seseorang yang baru masuk keruangan Naura dan Serli.
Naura dan Serli pun langsung mengangkat kepalanya menoleh ke arah suara dan langkah kaki yang datang.
"Mati aku" batin Naura.
"Kamu baru saja makan bu, baru istirahat" jawab Serli kesal melihat kedatangan bu Endang yang bagi dia mengganggu jam istirahat mereka saja.
"Naura, apa yang kamu kerjakan, lihat ini nominal saja salah!" Seru bu Endang.
"Maaf bu, akan saya perbaiki segera!" Ucap Naura sedikit perasaan takut, jantungnya merasa berdebar.
"Kamu bisa kerja enggak sih" bentak bu Endang.
Seketika rasa jantung Naura akan lepas saja karena dibentak oleh bu Endang. Karena selama ini dia sangat jarang menerima bentakkan dari orang lain. Mamanya saja sangat jarang membentaknya.
Serli yang mendengar bentakkan bu Endang pun seketika langsung melotot.
"Aduh bu, ngomong kog gitu amat, disini kita masih sama-sama makan gaji" cetus Naura yang tiba-tiba rasa beraninya mulai naik.
"Oh, kamu melawan!" Kesal bu Endang.
"Maaf bu, tapi itu kenyataannya!" Cetus Naura.
Tak! Tak! Tak! Suara bunyi sepatu laki-laki yang terlihat gagah.
"Ada apa ini" seru laki-laki itu dengan suara tegasnya sembari membetulkan dasinya yang berwarna biru navi, dipadu padankan dengan kemeja berwarna putih, terlihat jam tangan mewahnya disebelah kanan.
"Waduh bos datang" batin Selfi.
Bos yang dimaksud adalah manager diperusahaan tempat mereka bekerja, dikenal sebagai bos yang memang sangat memperhatikan keadaan anggotanya. Tidak akan memihak siapa pun, hanya akan menilai dari sisi baik saja dan kebenaran. Manager ini baru saja masuk kembali setelah cuti.
"Oh maaf pak, ini saya lagi meminta Naura untuk membetulkan nominal yang tertera didata ini!" Tunjuknya langsung kepada manager perusahaan tersebut, mendekat disebelah kanan manager, tetapi manager tersebut tidak memperdulikan tingkah bu Endang yang terkenal sedikit mengincar lelaki mapan.
"Saya sudah dengar semuanya, saya harap kamu segera perbaiki sikapmu terhadap karyawan baru, saya tidak suka disini ada sesama rekan kerja sok mengatur, disini kalian ada batasannya" ucap manager tersebut dengan tegas, dia tidak menyebut nama orang yang dia tuju, tetapi itu sudah pasti untuk bu Endang.
Naura hanya diam mendengarkan, dia menunduk melihat kebawah lantai keramik yang berwarna putih, melihat sepatu yang dia gunakan.
"Sudah sobek depan" batin Naura, melihat sepatunya sudah sedikit tersobek bagian depan, dia enggan membeli sepatu baru selagi sepatu itu bisa dipakai atau diperbaiki ulang, seperti di lem.
"Baik pak" jawab semuanya serempak dengan suara pelannya, mereka menunduk kebawah tanpa berani benar-benar untuk menatap pak managernya.
Kecuali Naura yang masih sibuk memperhatikan sepatunya yang sobek.
"Hei kamu" panggil manager tersebut.
"Aku" jawab Naura sambil menunjuk dirinya sendiri
"Ikut saya sekarang" perintah manager tersebut.
"Dia siapa?" Tanya Naura dengan polosnya kepada Serli sambil berbisik.
"Dia, manager kita! Pak Yuno" jawab Serli sedikit tegang, karena takut dia akan kena imbasnya.
__ADS_1
"Pergi cepat, ikut pak Yuno" usir Serli.
"Yuno" batin Naura.
"Seperti nama yang aku kenal" Naura masih membatin.
"Tidak mungkin, lupakan saja" Naura
Pak manager tersebut pun segera pergi meninggalkan mereka semua, bu Endang yang merasa malu pun, dengan secepat kilat meninggalkan ruangan pembukuan, ruangan Naura dan Serli berada. Tanpa menoleh kanan dan kiri bu Endang berjalan dengan langkah lebar.
Naura pun berjalan mengikut kemana arah jalan pak Yuno, dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, terlihat gagah.
"Permisi" ucap Naura ketika sudah memasuki ruangan pak Yuno, walau pak Yuno sendiri padahal baru saja masuk.
"Kamu kira disini ruang kosong pakai permisi segala" pak Yuno memikirnya ke arah mistis.
"Ah, enggak pak maaf" jawab Naura dengan salah tingkah, dia takut akan dipecat saat ini.
"Kamu karyawan baru?" Tanya Pak Yuno dengan menatap lurus ke Naura memperhatikan setiap lekuk wajah Naura.
"Tidak banyak berubah" batin pak Yuno.
"Saya Naura, pak!" Senyum Naura.
"Senyumnya masih sama" batin pak Yuno sambil melihat kearah Naura.
"Apa kamu tidak ingat saya?" Tanya pak Yuno, yang berharap sesuatu dari Naura.
"Memangnya siapa? Yang saya tau anda manager saya" jawab Naura binggung.
"Hei, ini aku Yuno Mahardika!"
"Hah, masak" seru Naura tidak percaya sekaligus melototkan matanya, saat ini situasi tegang banyak berubah karena pertanyaan yang beda.
"Ehm" suara Pak Yuno.
"Eh, maaf pak" jawab Naura merasa malu karena dia menjadi heboh sendiri.
"Iya, aku Yuno yang dulu suka dijauhi oleh teman-teman waktu masih Sekolah Dasar!"
"Tapi enggak mungkin anda Yuno, pak!" Naura masih tidak percaya jika itu Yuno yang Naura kenal.
"Dulu, kata teman-teman! Aku ini sudahlah hitam, gendut, hidup lagi!" Pak Yuno sungguh mengingat masa lalunya.
"Dan kamu benaran Yuno?" Naura seakan tidak percaya bisa bertemu temannya ini.
"Iya" jawab Pak Yuno.
"Dulu kamu kemana, pindah begitu saja!" Tanya Naura yang mulai melonggarkan kekhawatirannya pada kondisi saat ini.
"Aku ikut orang tua ku pindah dan lain kali saja ceritanya"
"Sekarang balik lagi ya ke pokok awal kita, sekarang saya disini sebagai manager mu, diluar saya akan tetap sebagai Yuno temanmu dulu" ucap Yuno.
Yuno mulai memposisikan dirinya lagi sebagai manager diperusahaan itu.
"Kamu tadi mengapa bisa berselisih paham dengan Endang?"
"Aku tidak tau pak, tapi memang tidak ada apa-apa kog" jawab Naura.
"Baik lah, kalau kamu ada kesulitan silakan hubungin pak Trisna, hrd kita"
"Baik pak!"
"Saya boleh keluar pak!" Tanya Naura.
"Ya silakan"
Naura pun keluar masih dalam tidak percaya jika itu Yuno.
"Bagaimana Yuno bisa berubah banyak!" Batin Naura.
Naura pun akhirnya kembali bekerja keruangannya.
__ADS_1