Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
52. Hati, Pikiran Naura Hanya Untuk Raymond


__ADS_3

Naura pulang keruang rawat inap Evano dengan perasaan yang sungguh sangat sedih, selama ini bagi dia, dia sangat ingin melihat Raymond bisa hidup, walau dia bercerai dari Raymond dengan cara yang sangat keji bagi seorang wanita dan dipaksa oleh wanita yang melahirkan suaminya sungguh membuat hidupnya sangat miris.


Naura pun merasa sangat bersalah karena selama ini dia selalu berkata kepada Evano jika papanya telah meninggal, ini menjadi doanya Naura untuk Raymond.


"Dia telah meninggal" batin Naura.


Terlihat pandangan Naura hanya lurus kedepan, matanya telah bengkak karena menangis, untung saja keadaan suasana rumah sakit sepi karena sudah malam.


Naura membuka pintu kamar rawat inap Evano, seketika mama Ayu dan Evano pun melihat kearah Naura yang baru datang, tentu menjadi seorang ibu yang sudah puluhan tahun, mama Ayu mengetahui jika Naura barusan menangis dan dalam masalah, walau saat ini Naura menampakkan senyum cantiknya.


"Belum tidur nak?" tanya Naura kepada Evano dan mengelus kepalanya dengan sayangnya.


Kemudian Naura memilih untuk duduk dikursi sofa yang telah disediakan diruangan ini, Naura sedang memikirkan juga saat ini, siapa pak Kenzie hingga mama Vani dan kak Rini datang melihatnya.


"Belum ma, bentar lagi" jawab Evano menatap mamanya, perasaan Evano juga mengatakan jika mamanya sedang dalam keadaan tidak baik.


"Cucu nenek tidur ya! Sudah malam ini sayang!" bujuk sang nenek kepada Evano.


"Mau nenek ceritakan dongeng?"


"Mau nek!" jawab Evano dengan cepat.


Mama Ayu ingin Evano segera tidur. Mama Ayu ingin Naura dapat menceritakan keluh kesahnya.


"Dongeng ini judulnya Kancil dan Buaya ya!"


"Ok nek!"


Mama Ayu pun memulai ceritanya.


"Suatu hari, ada seekor kancil yang sedang berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Karena makanan di sekitar kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pun pergi untuk mencari di luar kawasannya. Di tengah jalan, ia harus menyeberang sungai yang dihuni banyak sekali buaya besar yang sangat lapar. Kancil pun berpikir sejenak, lalu ia mendekat ke tepi sungai"


"Hai buaya, apakah kau sudah makan siang?" tanya kancil dengan suara yang dikeraskan.


Tak lama kemudian, munculah seekor buaya dari permukaan air, "Siapa yang berteriak siang-siang begini? Mengganggu tidur saja."


"Hai kancil, diam kau! Kalau tidak, aku makan nanti kamu," timpal buaya yang lain.

__ADS_1


"Aku datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari raja hutan, jadi janganlah kau makan aku dulu," jawab kancil.


"Ada apa sebenarnya kancil, ayo cepat katakan," kata buaya.


"Baiklah. Raja hutan memintaku untuk menghitung jumlah buaya yang ada di sini. Raja hutan hendak memberikan hadiah untuk kalian," ujar kancil.


"Jadi sekarang, panggil semua temanmu," lanjutnya.


Mendengar hal itu, buaya sangat senang dan langsung memanggil semua kawannya untuk berbaris berjajar di permukaan sungai. Namun, mereka semua ternyata hanya diperdaya oleh si kancil.


"Kancil nakal ya nek!" celah Evano.


"Bukan nakal tetapi dia cerdik" jawab mama Ayu.


"Dengan cerdik, si kancil langsung pergi setelah menghitung buaya terakhir di ujung sungai dan lolos dari cengkraman buaya yang lapar"


"Dari kisah kancil dan buaya mengajarkan bahwa kecerdikan dapat mengalahkan kekuatan. Meskipun berada di situasi sesulit apapun. Meski begitu, berbohong juga tidak patut dibenarkan ya nak" terang mama Ayu pada cucunya.


"Baik nek, Evano mengerti!"


"Sekarang kamu tidur ya, nenek sudah menceritakan satu cerita, besok lagi nenek bercerita lagi"


"Malam cucu kesayangan nenek, cepat sembuh" mama Ayu pun mengangkat sedikit tubuhnya lalu menciumi kening Evano.


Naura yang diajak berbicara oleh Evano pun tidak merespon sama sekali.


"Sudah tidur ya!" perintah mama Ayu pada cucunya.


Tidak berapa lama menunggu Evano yang memang sudah keadaan mengantuk akhirnya pun memilih untuk cepat tertidur.


*****


Mama Ayu terus memperhatikan Naura, yang terlihat seperti merenung.


Ketika Naura melihat ke arah mama Ayu, Naura sudah tau jika mama Ayu menantikan dia membuka suaranya untuk bercerita.


"Maaaaa" seru Naura ketika mama Ayu berada disampingnya, duduk di sofa yang sama dengannya.

__ADS_1


Naura lagi-lagi menurunkan air matanya, kesedihan hatinya masih belum bisa berlalu, dia masih mengenang Raymond.


"Ma, Raymond ternyata benar sudah meninggal ma!" tangis Naura kian pecah.


"Kamu yakin?" tanya mama Ayu menyakinkan Naura.


"Yakin ma pasti, tadi aku bertemu dengan kak Rini di kamar rawat milik pak Kenzie!" Naura berkata dengan suara paraunya.


"Bagaimana bisa mereka berada disini, apa hubungannya dengan pak Kenzie!" tanya mama Ayu penuh selidik.


"Aku enggak tau ma, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini, aku tidak berpikir sejauh itu ma, saat itu aku hanya berfokus mencari tau keberadaan Raymond" ucap Naura dengan pelan.


"Maaf ma, selama ini aku masih memikirkan Raymond dalam diam ku, aku masih sangat mencintai dia, dia adalah yang terbaik bagi ku ma"


"Tidak apa-apa mama mengerti, bagaimana pun Raymond pernah menjadi bagian hidup mu" jawab mama Ayu.


"Ketika itu, kak Rini berkata aku penyebab kematian dari Raymond ma! Aku jahat ma, aku sudah membunuh Raymond, ayah dari anak ku"


Teriris hati mama Ayu mendengar Naura berkata begitu.


"Jangan kamu pernah berkata begitu, ini sudah takdir"


"Ma, aku besok mau ke makam Raymond, aku harus tau dimana makam Raymond, setidaknya ini untuk Evano. Aku akan tanyakan ke kak Rini" ucap Naura dengan tekad bulatnya.


"Kamu masih mau berurusan dengan keluarga mereka, keluarga tidak punya perasaan itu?" tanya mama Ayu.


"Ma, aku hanya ingin tahu dimana makam Raymond ma, izin kan aku ma!" Naura memohon izin kepada mamanya, untuk terlibat sekali lagi dengan keluarga Raymond.


Mama Ayu hanya dapat mengambil nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Baiklah, mama izinkan tapi setelah Evano sembuh total terlebih dahulu, mulai malam ini kamu jangan pikirkan mereka dahulu, kita fokus mengurus Evano terdahulu" mama Ayu membuat kesepakatan.


"Baik ma, aku mengerti" jawab Naura dengan datar.


"Sekarang kamu istirahat" perintah mama Ayu.


"Iya ma!"

__ADS_1


Naura merasa sedikit lebih lega ketika sudah menceritakan apa isi hati dia dan pikiran dia. Bagi Naura dukungan mamanya adalah ya utama.


__ADS_2