
Kenzie membawa mobil sambil terus memikirkan mengapa dia bisa mempunyai seorang mama dan kakak yang begitu jahat terhadapnya, hanya saja dia tau bagaimana pun jahatnya mereka, itu tetap mama dan kakaknya.
Sesekali Kenzie memukul setir mobilnya menandakan kekesalannya yang tidak mampu dia lampiaskan semua, hanya dapat dia tahan. Kenzie mencoba menenangkan dirinya, menepikan terlebih dahulu mobilnya.
Dia mematikan mesin mobil, kemudian membuat jok mobilnya lebih kebelakang sedikit untuk merenggangkan badannya, sesekali dia juga memegang kepala yang terasa sakit, seakan mau pecah kepalanya.
Kenzie menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya, dia melakukan berulang kali. Berharap dia lebih tenang. Setelah lebih tenang dia menjalankan mobilnya lagi.
Hingga tidak terasa dia berada disebuah rumah yang sederhana, hati dan pikirannya ternyata membawanya kerumah Naura. Kenzie sangat ingin bertemu Evano untuk menenangkan hatinya.
Kenzie menatap kedepan rumah Naura yang tertutup, karena hari juga sudah malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kenzie menatap penuh kerinduan orang-orang yang berada dalam rumah itu.
Dia pun segera memarkirkan mobilnya dan berjalan mendekati pintu utama dan mengetuknya.
"Pak Kenzie" Naura terkejut ketika membuka pintu, yang dia lihat adalah bosnya yang datang.
Walau Naura tau pak Kenzie adalah Raymond hanya saat ini dia tidak ingin menganggapnya begitu karena dia takut akan menjadi sebuah kesalahan.
"Ini sudah malam, untuk apa bapak kesini?" tanya Naura dengan sedikit kesal.
"Sssttt" jawab Kenzie didepan Naura.
"Siapa itu Naura?" tanya seorang tetangga yang ternyata sedang meronda malam.
"Agh, ini pak, saudara jauh saya!" jawab Naura dengan kikuk, karena merasa tidak enak menerima tamu diwaktu malam.
"Oh, ya sudah enggak apa-apa yang penting jangan sembarangan menerima tamu ya" teriak tetangganya tersebut.
"Iya pak, terima kasih" jawab Naura sambil tersenyum dilanjut dengan Kenzie yang juga ikut tersenyum.
Kenzie dan Naura pun dengan cepat melangkah masuk kedalam rumah Naura, didalam rumah tidak kelihatan Evano maupun mama Ayu.
"Pak" panggil Naura sedikit keras.
"Nak Kenzie kapan datang?" tanya mama Ayu yang keluar dari kamar karena mendengar suara sedikit ribut diluar.
"Om" sapa Evano yang juga ikut keluar dari kamar.
"Kog kalian keluar bersamaan sih?" tanya Naura binggung.
"Suara mama keras, berisik" jawab Evano dengan santai.
Kenzie mendengar percakapan mereka pun hanya dapat tersenyum, tentu senyum bahagia melihat mereka semua.
"Tante, maaf jangan panggil saya Kenzie lagi, tetapi panggil saya Raymond" ucap Kenzie sambil mencium punggung tangan kanan mama Ayu.
"Ray-mond" tanya mama Ayu terpatah, dia seakan tidak yakin.
__ADS_1
"Iya ma, ini aku menantu mu dulu sebelum aku dipaksa bercerai dengan Naura oleh keluarga ku dan walau aku tidak mengingat semua kejadian yang lalu tetapi hati ku berada disini" jawab Kenzie memberikan keterangan. Sambil menatap sekeliling rumah.
"Ini benar papaku" tanya Evano terkejut.
Naura hanya dapat terdiam, karena dia memang sudah mengetahui hal ini.
"Tapi, kemarin aku baru saja dari makam papa, mengirim doa ke papa, disana jelas tertulis nama Raymond" ucap Evano dengan polosnya.
"Apa?" kini malah Kenzie yang terkejut.
"Naura jelaskan apa maksud mu, apa yang dikatakan Evano benar!" tanya Kenzie pada Naura.
"Apa anak kecil suka berbohong" tanya Naura kembali kepada Kenzie.
"Naura nanti kamu jelaskan" ucap Kenzie.
Naura hanya dapat menarik nafasnya panjang dan menganggukkan kepalanya menandakan dia mengerti apa yang ingin diketahui oleh Kenzie.
"Nak, kalian selesaikan terlebih dahulu masalah kalian, mama sudah mengerti" ucap mama Ayu, dia tau, dia tidak boleh ikut campur lebih jauh masalah ini.
"Baik ma, bolehkan aku tetap memanggil mama saat ini" tanya Kenzie meminta izin.
"Boleh sekali nak, bukan saat ini saja! Buat selanjutnya juga boleh!" jawab mama Ayu sambil menepuk bahu kiri Kenzie kemudian dia pun berlalu pergi menuju kamarnya.
"Ma, jadi ini benar papa ku?" tanya Evano yang penuh tanda tanya.
Kenzie pun langsung merentang kedua tangannya, berharap Evano langsung memeluknya.
"Mama bohong sama aku selama ini" teriak Evano.
Mungkin saat ini Evano merasa dipermainkan oleh keadaan.
"Tidak nak, mama tidak pernah mengajarkan kebohongan, mama tidak akan berbohong pada mu" jawab Naura.
"Lalu siapa yang dimakam itu ma" tanya Evano sambil menatap Naura.
"Mama juga tidak tau nak, nanti mama jelaskan ya" Naura membujuk Evano untuk tidak berlarut kecewanya.
Kenzie yang merentangkan kedua belah tangannya merasa kecewa karena saat itu juga Evano tidak langsung berlari memeluknya. Padahal Kenzie sendiri sudah menahan rindu terhadap Evano.
"Evano sini peluk papa" bujuk Kenzie.
Evano nampak berpikir sesaat sebelum melangkahkan kakinya kedepan untuk memeluk Kenzie.
"Papa sayang sekali sama kamu, dari pertama melihat mu" ucap Kenzie sambil menahan air matanya yang sekarang berada diujung kelopak matanya.
Evano pun memeluk erat kepada Kenzie.
__ADS_1
"Papa sayang kamu nak" ucap Kenzie lagi kemudian meneteskan air matanya sambil terus mengelus bahu Evano.
Evano pun meneteskan air matanya, dia bahagia karena masih mempunyai papa dan papanya masih hidup.
Naura juga tentu meneteskan air matanya, Naura tau jika dulu Raymond sangat menginginkan kehadiran anak, dan anak itu sekarang adalah Evano.
"Evano bahagia, Evano masih punya papa" ucap Evano sambil sesegukan karena menangis.
"Evano juga sayang sekali dengan papa, walau Evano dari dalam perut mama tidak ditemanin papa" ucap Evano sambil terus menatap Kenzie/Raymond. Evano sangat bahagia, dia bahagia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Maafkan papa nak! Jika saja papa waktu itu lebih cepat baik, tapi yang terpenting saat ini. Papa akan selalu menemani mu" ucap Kenzie yang sangat merasa bersalah. Karena melewatkan masa-masa dimana awal kehadiran Evano.
Naura tidak bisa ikut larut berpelukkan dengan Evano dan Kenzie, karena dia tau saat ini hubungan dia dan Kenzie bukan lagi suami istri, melainkan mantan. Bagi Naura ini sangat tidak baik.
"Sudah-sudah, sudah malam saatnya istirahat" Naura ingin mengalihkan suasana haru yang terjadi didepan matanya.
Naura sendiri tidak bisa menahan air mata harunya, melihat anak dan orang yang dulu yang sangat dia cintai hingga saat ini pun masih dia cintai, hanya saja dia tidak bisa secara langsung mengungkapkannya.
"Evano mau tidur sama papa dan mama ya" pinta Evano kepada mamanya.
"Enggak" jawab Naura dengan cepat, tentu Naura masih statusnya.
"Kenapa ma, kan mama dan papa Evano" tanya Evano binggung.
"Pa" ucap Evano lembut kepada papanya dengan suara manja.
"Maaf sayang itu belum bisa, suatu saat akan bisa" jawab Kenzie sambil menatap mata Naura secara lekat, mendalam.
Naura hanya dapat melototkan matanya mendengar apa yang barusan Kenzie ucapkan.
"Evano tidur sama papa saja ya" ajak Kenzie yang merasa sangat bahagia saat ini.
"Tapi sebelumnya Evano ke kamar dulu ya, papa mau bicara sama mama" ucap Kenzie kepada Evano.
Naura hanya dapat tersenyum malas mendengar ucapan Kenzie, karena dia tau Kenzie menginginkan sebuah penjelasan.
"Baik pa, jangan lama-lama ya pa" jawab Evano.
Ketika Evano sudah memasuki kamarnya. Kenzie pun segera mendekati Naura dan meraih tangan Naura. Karena terkejut Naura pun menghentakkan tangannya.
"Maaf" ucap Kenzie.
"Naura jelaskan mengapa aku bisa dibilang telah meninggal" tanya Kenzie.
Naura yang awalnya enggan untuk menceritakan pun akhirnya dengan berat hati menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Cihh" gumam Kenzie, setelah mendengar cerita lengkap dari Naura soal dia yang dinyatakan telah meninggal dan ada makamnya.
__ADS_1
Terlihat Kenzie sangat kesal karena hal ini. Sungguh dia sangat tidak beruntung untuk terlahir di keluarganya.