
Malam harinya dimana Naura dan keluarganya telah selesai makan malam, mama Ayu memilih untuk beristirahat terlebih dahulu, memasuki usia saat ini, untuk orang tua seperti mama Ayu memang mudah sekali lelah.
Naura yang seharian tidak bersama putranya, memilih untuk masuk kekamar anaknya. Untuk sekedar mengajaknya mengobrol atau membantu Evano mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya.
"Nak, lagi apa kamu?" Tanya Naura yang berada didepan pintu, setelah mengetuk pintu kamar Evano.
"Oh, ini ma lagi mengerjakan tugas menwarnai dari bu guru" jawab Evano dengan masih terus menwarnai kertas putih yang sudah ada garis berbentuk dengan gambar lindungan atau taman.
"Wahhh, kamu memang sangat berbakat menggambar ya!" Ucap Naura yang melihat warna yang anaknya pilih sangat indah.
Naura memang sangat beruntung memiliki anak yang cerdas dan mandiri seperti Evano, Evano tidak akan meminta bantuan mamanya jika dia benar-benar tidak kesusahan.
"Enggak ma, ini aku masih belajar biar jadi pelukis hebat" ucap Evano dengan santainya.
"Memang kamu mau jadi pelukis, katanya mau jadi pengusaha?" Goda Naura.
"Evano maunya, bisa apa saja ma"
"Belajar lah banyak hal kalau gitu!"
"Siap bos ku" ucap Evano dengan riang.
"Ma, tunggu dulu ya Evano selesaikan dulu, mama jangan keluar"
"Kenapa?" Tanya mamanya.
"Tunggu saja ma!"
"Evano mau tunjukan mama sesuatu!"
"Ya sudah mama tunggu!" Naura pun menunggu didalam kamar Evano.
Tidak lama menunggu, Evano pun sudah menyelesaikan tugas menwarnainya.
"Ma, dengar Evano nyanyi ya!"
"Kamu bisa nyanyi?" Tanya Naura seperti tidak percaya Evano bernyanyi.
"Baru belajar ma disekolah"
__ADS_1
"Ya sudah sini mama dengar kamu nyanyi buat mama ya!"
"Maaf ma, lagu ini buat papa dulu ya!"
"Kog buat papa?" Tanya Naura yang binggung.
"Iya buat papa yang di surga ya ma!"
Naura merasa terharu mendengar Evano berkata begitu, tetapi ia juga merasa bersalah karena selama ini Naura telah berbohong jika papanya telah tiada, tetapi memang sungguh Naura tidak mengetahui dimana papa kandung Evano berada, apa masih hidup atau pun tidak.
"Ma dengar ya!"
"Iya sayang!"
"Dimana, akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyayi"
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku" Evano sambil menarik nafasnya yang terlihat ngos-ngosan.
"Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi" suara Evano mulai terdengar suara parau, seperti akan menangis. Sambil memejamkan mata, menghayati lagunya Evano bernyanyi walau masih kondisi suaranya tidak pas dengan lagu, atau bisa di bilang fals.
"Lihatlah, hari berganti
Namun tiada seindah dulu
__ADS_1
Datanglah, aku ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi, untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi" Evano menyanyikannya hingga selesai.
Prok! Prok! Prok! Suara tepuk tangan dari Naura.
Saat ini terlihat jelas jika Evano sangat bersedih karena tidak mengenal sosok papanya.
Evano sangat terlihat sendu menyanyikan lagu tersebut.
"Papa dengar enggak ya ma, aku bernyanyi?" Tanya Evano.
"Maaf sayang kalau itu mama tidak tau, tetapi mama tau perasaan mu pasti tersampaikan ke papa mu!" Ucap Naura.
"Ma, kenapa papa enggak pernah datang ke mimpi ku ya!"
"Mungkin papamu disana sedang sibuk nak!"
"Bisa kah ma?" Tanya binggung dari Evano.
"Mungkin bisa nak, papa mendapat tugas dari Tuhan menjaga langit, jadi tidak bisa turun ke mimpi mu!" Dengan suara lemah Naura berkata.
"Aku berharap begitu ma, walau aku tidak mengenali papa ku siapa, setidaknya aku memang punya papa itu sudah cukup bagi ku ma!" Ucap Evano.
"Iya sayang"
__ADS_1
Kemudian Naura pun memeluk Evano dengan erat, menumpahkan kasih sayang dan kebanggaan. Kecuali kesedihan akan Naura bawa pergi untuk diri sendiri.