Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
21. Di Taman Kota (2)


__ADS_3

Serli yang telah sampai diparkiran taman kota pun segera mencari keberadaan Naura, sedangkan saat itu dia sudah melihat motor Naura telah terparkir disana, Serli sangat mudah menghafal motor Naura.


"Dimana Naura ya?" Serli bermonolog sendiri.


Serli pun berjalan mengitari taman yang tampak indah tersebut terdapat pepohonan rindang juga disana.


Dari kejauhan Serli melihat wanita sepertinya Naura, hanya dia ragu karena wanita itu terlihat asik bermain bersama anaknya serta seorang pria, mereka terlihat tertawa bahagia.


Wanita yang Serli perkirakan itu Naura berada di kursi yang ada diujung, sedangkan Serli berada di bagian awal kursi, disana terdapat 3 kursi dan jarak diantara kursi itu berkisar 1,5 meter. Kursi tersebut berbentuk memanjang dengan panjang kira-kira 1 meter.


Serli yakin itu Naura dan berjalan mendekat, mendekati kursi yang kedua, disana terdapat dua orang ibu-ibu yang baru saja selesai berlari ringan. Karena usia ibu-ibu tersebut sudah diperkirakan memasuki usia 45 keatas, tidak bisa melakukan olahraga berat lagi.


Ibu-ibu tersebut saling berbicara.


"Keluarga serasi ya mereka!" ucap salah satu ibu tersebut.


"Iya, suka saya lihat anak muda yang begitu perduli keluarga, hari minggu ajak jalan anak istri" pembicaraan ibu-ibu ini tertuju pada Naura, Evano dan Yuno.


Serli juga tau kemana arah bicara ibu-ibu tersebut, karena ibu-ibu itu terus memandang kearah Naura dan Yuno berserta Evano.


Sesaat Serli merasakan seperti ada yang sesak didalam hatinya, perasaan seperti sakit tetapi entah apa yang harus disakitkan dari pembicaraan ibu-ibu yang tidak dia kenal.


Sebenarnya Serli juga mengakui, jika Naura, Yuno dan Evano memang terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, hanya Serli tidak ingin melihat hal itu.


"Seharusnya itu aku, aku sudah menunggu untuk bisa dekat dengan Yuno!" Batin Serli.


Serli juga ingin Naura memiliki pasangan lagi, dia selalu mendukung untuk Naura mencarikan papa untuk Evano. Hanya saja Serli tidak ingin jika itu harus Yuno yang dipasangkan dengan Naura.


"Hai!" Serli berjalan cepat kearah mereka.


"Eh, hai Ser, sudah sampai! Lama sekali kamu, aku tunggu!" Naura langsung mengceloteh terhadap Serli.


"Serli, kamu disini juga" sapa Yuno.

__ADS_1


Serli merasa jantungnya berhenti seketika mendengar Yuno menyapanya, tidak secara formal seperti biasanya.


"Serli mingkem" ucap Naura karena melihat mulut Serli yang terbuka lebar.


"Eh a-da pak Yuno" ucap Serli sedikit gugup setidaknya dia berpura-pura tidak tau jika dia dan Yuno memang sengaja diajak oleh Naura.


"Maaf Naura telat, biasa!"


"Ya, iya tau lah!" jawab Naura.


"Panggil saja Yuno, jika diluar begini biar kelihatan akrab dan seumuran juga kita" terang Yuno.


Perkataan Yuno membuat Serli semakin bahagia, jantungnya terasa berdebar kuat, ingin melarikan diri dari dada Serli.


"Tamannya bagus ya!" ucap Serli untuk membantunya menenangkan hatinya.


"Iya" jawab Yuno.


"Naura, sudah lama?" Serli bertanya kepada Naura.


"Agh, yak ampun aku sampai lupa menyapa anak tampan ini!"


"Hai, kamu pasti Evano!" Serli menyulurkan tangannya untuk menyalami Evano yang sedari tadi diam karena itu dia tau bukan urusan dia, itu bagian dari orang tua.


"Kog, tante tau nama ku?" Evano bertanya heran.


"Tau, karena mama mu sangat senang, bahagia jika bercerita tentang mu, di tempat kerja saja terkadang dia kepikiran kamu!" Serli menceritakan apa yang biasa Naura katakan kepadanya.


Evano pun langsung berlari kearah mamanya dan memeluk mamanya.


"Kenapa nak?" Naura binggung melihat tingkah Evano yang tiba-tiba memeluknya di depan teman-temannya ini.


Yuno sangat senang melihat, Evano begitu menyayangi Naura, juga Naura yang benar-benar telaten menjaga, merawat Evano.

__ADS_1


Yuno selama ini tidak merasakan kasih sayang dari mama kandungnya sedari karena mamanya meninggal ketika melahirkan Yuno. Dia besar ditangan perawat, ketika dia sudah besar, papanya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak pernah benar-benar menyayangi Yuno. Mama tirinya hanya menyayangi anak dari rahimnya sendiri.


"Aku sayang mama" ucap Evano kemudian kembali memeluk Naura dengan eratnya.


"Kenapa tiba-tiba begini, mama kira kamu takut sama tante Serli!"


"Enggak ma, Evano hanya terharu ketika tante Serli bilang mama juga kepikiran aku, ditempat kerja, Evano pikir mama melupakan Evano kalau bekerja!" Terang Evano.


Serli merasa terharu melihat Naura dengan Evano.


"Apa aku bisa jadi ibu yang baik nanti ketika aku punya anak!" Serli berkata dalam batinnya.


"Sudah, sekarang Evano mau es krim, mama belikan dulu, eh tapi, Evano ikut mama saja yuk biar pilih sendiri!" Naura mengajak Evano untuk dapat meninggalkan Yuno dan Serli berdua.


"Iya ma, ayo!" Evano sangat bahagia ketika mamanya bisa terus membelikannya es krim, karena ketika dulu Naura belum bekerja, mereka masih hidup diperkampungan, Naura benar-benar sangat jarang membelikannya es krim.


"Serli mau ikut" tanya Naura pura-pura sambil memberikan kode dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Enggak Naura!" Serli menjawab kode yang diberikan Naura, diawalnya dia tidak mengerti mengapa Naura mengedipkan matanya, ketika melihat mulut Naura yang mengarah ke Yuno baru dia mengerti.


"Yuno, aku beli es krim dulu ya, tunggu sini sama Serli dan aku titip Serli ya!" Naura berkata sambil berjalan menjauh.


Sebelum Yuno menjawab, Naura sudah berjalan, padahal Yuno sangat ingin ikut dan dia yang ingin membelikan es krim untuk Evano.


"Iya Naura, tenang saja!" Akhirnya hanya kalimat itu yang Yuno teriakkan ke Naura.


Naura berjalan terus sambil mengandeng tangan Evano dengan erat, tidak ingin terlepas sedikit pun, sesekali mereka pun bercanda bersama, hingga sampai ditempat jual es krim yang terlihat seperti gerobak kecil yang bisa dipindah sana sini dengan perabot beberapa bangku saja.


"Semoga berhasil!" batin Naura.


Naura sangat ingin melihat Serli berhasil mendapatkan pasangan, sedangkan dia belum kepikiran jika ingin mempunyai pasangan lagi. Tapi juga tidak menampik jika suatu saat Naura menerima pria lain dalam hidupnya.


Naura juga tidak ingin jika dia menikah nanti, anaknya tidak mendapat kasih sayang yang tulus dari pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2