Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
55. Makam Raymond


__ADS_3

Siang harinya, Naura memilih untuk makan siang diluar. Dia tidak ditemani oleh siapa pun.


Saat ini dia sedang berada disebuah kedai makanan tradisional, dia melihat ke kanan dan ke kiri, menangkap sebuah pemandangan, seorang wanita yang sangat di kenalnya. Segera Naura berlari mengejarnya.


"Kak Rini" panggil Naura dari arah belakang.


Ya, yang di lihat oleh Naura adalah Rini kakaknya Raymond.


Rini pun terlihat senyum jahatnya.


"Ada apa adik ipar"


"O, oh salah! Yang benar mantan adik ipar" kekeh Rini menatap Naura.


Tersimpan rasa kesal dihati Naura, ingin sekali dia menampar Rini, hanya saja dia berpikir ini tidak boleh terjadi bagaimana pun ini kakaknya Raymond, orang yang sangat dia cintai.


"Kak, beritahu aku dimana makamnya Raymond, aku ingin bertemu dengannya" ucap Naura, dengan nada sedikit memohon.


"Tidak, aku sudah bilang tidak akan pernah memberitahu mu dimana makam adik ku!" jawab Rini dengan sinisnya.


"Kak, aku mohon kali ini saja, izinkan aku bertemu dengan Raymond" Naura terus saja memohon, dia ingin dapat melihat makam Raymond, setidaknya disana lah mereka bertemu.


Sepertinya otak jahat Rini sedang bekerja, dia memikirkan sesuatu dengan permohonan Naura.


"Baik, aku akan memberitahu mu" terang Rini dengan terus menatap Naura.


Naura seperti mendapat angin segar setelah Rini berkata akan memberitahunya.


"Tapi dengan syarat, beritahu aku siapa anak laki-laki yang bersama kau dirumah sakit saat itu" tanya Rini pada Naura.


"Siapa, aku tidak ada mengenal anak laki-laki dirumah sakit" bantah Naura.


"Katakan saja siapa anak itu?" tantang Rini.


"Jika kau cepat katakan maka, kau juga akan cepat mengetahui dimana makam Raymond" terang Rini.


"Sudah, jika tidak mau juga tidak apa-apa" jawab Rini, menarik ulurkan kata-kata Naura.

__ADS_1


"Kau juga tidak akan tau dimana makam Raymond" ancam Rini pada Naura.


Naura merasa gelisah, jika dia memberitahu Evano adalah anak Raymond, dia tau bahwa keluarga Raymond pasti akan merampas Evano darinya. Tetapi jika tidak pun maka dia tidak pernah akan tau dimana makam Raymond.


Akhirnya Naura memutuskan bahwa dia akan memberitahu siapa Evano.


"Baik, akan ku beritahu siapa anak itu" jawab Naura.


Dia menarik nafas panjang, berharap keputusan yang dia ambil ini tidak salah.


"Itu anak ku" ucap Naura.


"Anak mu dari mana?" tanya Rini.


"Menikah saja kau tidak ada" kekeh Rini.


"Katakan cepat, jika tidak aku pergi" ancam Rini, sungguh Rini sangat ingin tau siapa kah Evano.


Karena merasa tidak punya pilihan dan Naura tau jika keluarga Raymond berhak tau jika itu anaknya Raymond dengan terpaksa Naura pun mengatakannya.


"Itu anak ku dengan Raymond" jawab Naura pelan.


"Apa kau tidak bercanda, ceritakan bagaimana kau bisa hamil?" tanya Rini.


"Aku hamil ketika kalian dengan keji, kejam memaksa aku bercerai dengan Raymond" jawab Naura dengan nada sedikit ditekan.


Naura berharap jika keluarga Raymond akan menyesal jika tau dia melahirkan anak Raymond, selama berumah tangga dengan Raymond, dia selalu dihina tidak bisa hamil.


"Cepat katakan dimana makam Raymond" Naura balik lebih galak ke Rini.


"Baik, tenang saja aku tepat janji" ucap Rini dengan santainya.


"Ikuti aku" ajak Rini.


Rini pun menaiki mobil pribadinya, menyuruh Naura mengikuti belakangnya, sedangkan Naura saat ini seperti penguntit yang sedang mengincar mangsanya, Naura tentu membawa motornya sendiri.


Hampir 45 menit perjalanan yang Naura tempuh, kini mereka tiba disebuah pemakaman umum untuk orang yang mempunyai banyak uang.

__ADS_1


Rini pun turun dari mobilnya dengan gaya sombong, terus berjalan melewati beberapa makam dan Rini pun berhenti disalah satu makam.


"Hai adik ku, ini aku bawakan istri mu" sapa Rini pada makam itu.


"Sudah puaskan" tanya Rini kepada Naura.


Naura diam tidak ingin menjawab Rini.


"Aku pergi dulu" dengan cepat Rini pun pamit dengan Naura dan makam itu.


Kemudian Rini pun pergi meninggalkan tempat pemakaman.


Kembali Naura menitikkan air matanya ketika melihat makam itu bertuliskan nama Raymond, tanggal lahir dan kematian Raymond.


Saat ini Naura sungguh harus percaya jika Raymond telah tiada.


Naura pun menangis memeluk makam itu.


"Mengapa kamu begitu cepat pergi" teriak Naura didepan makam itu.


Untung saja pemakaman itu tidak ada orang lain. Hanya ada penjaga makam, menjadikan teriakkan Naura tidak menganggu orang lain.


"Ray-mond" sapa Naura dengan lirih.


"Anak kita sudah besar, dia sudah lima tahun, dia pintar"


"Harusnya kamu lihat itu, kamu lihat anak mu begitu pintar, anak yang kamu tunggu selama ini"


"Tapi kau sungguh saja tidak pernah melihat dia sekali pun" lirih Naura, menatap makam Raymond.


Naura terus memeluk makam Raymond, menitihkan air matanya diatas makam Raymond.


Hingga beberapa saat dia tersadar jika dia harusnya kembali bekerja, ketika dia melihat jam tangannya sudah menunjukan jam 2 siang.


"Astaga, aku harus bekerja, jika tidak aku tidak akan mendapatkan apa-apa" gumam Naura.


"Raymond maaf, aku harus pergi hari minggu nanti aku akan bawa anak kita, dia pasti senang bertemu dengan mu" ucap Naura pada makam Raymond.

__ADS_1


Naura pun segera pergi dari makam itu dan langsung menuju kantornya. Naura tau harus membedakan waktu dia untuk bersedih dan ada pekerjaan yang sungguh menumpuk untuk dia kerjakan.


Dia pun memilih untuk bergegas pulang ke kantor, melupakan kesedihannya, Naura juga tau dia akan kena marah karena menghabiskan waktu untuk diluar kantor, dia tau dia salah saat ini.


__ADS_2