Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
34. Liburan (2)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah setelah dimana kemarin sore mereka karyawan dari Sinar Jaya langsung menikmati sore dan malam mereka di pantai, rasa lelah mereka terbayarkan oleh indahnya Pantai Pink ini.


Pulau Lombok memang menyajikan wisata alam yang mempesona, menjadi tempat yang dapat membuang rasa jenuh, jauh dari kebisingan yang ada dikota.


Naura bersama teman-temannya sangat merasa bersyukur atas nikmat yang di berikan oleh yang maha kuasa melalui bos yang baik hati , untuk mengajak mereka berlibur.


Pagi ini Naura dan Evano sedang berjalan pagi mengelilingi tempat penginapan mereka, jauh dibelakang mereka ada seorang pria sedang memperhatikan mereka.


Setiap kali pria ini melihat Naura, maka jantungnya akan berdebar kuat, membuat hatinya menjadi tidak enak jika berada dijarak dengan dengan Naura, tetapi jika jauh dari Naura maka dia balik ke hati dia, dimana dia memikirkan istrinya yang kini sedang berada jauh darinya, perasaan seperti ini, sungguh membuatnya frustasi, hingga dia berusaha mencari jati dirinya kembali, siapa lagi kalau dia bukan si bos, si direktur pak Kenzie.


"Mengapa Naura begitu menguncang hatiku" batin pak Kenzie.


Melihat Naura sedang bercanda dengan Evano membuat pak Kenzie segera ingin bergabung, memikirkan cara yang tepat untuk bergabung.


Pak Kenzie pun berjalan dengan pelan, menoleh kanan dan ke kiri dengan meletakan kedua tangan disaku celana. Dengan hati yang kuat, tenang, dia pun coba berkata.


"Wah seru ya ibu dan anak ini!" suara pak Kenzie terdengar santai menghampiri Naura dan Evano.


"Apa boleh saya bergabung?" tanya pak Kenzie basa basi.


Naura dan Evano melihat kearah sumber suara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Boleh pak!" jawab Naura.


"Boleh kog om, sini! Tapi ini sudah sempit!" jawab Evano melihat kebelakang dia, bangku yang memanjang itu sudah tidak ada ruang kosongnya.


"Sini kamu, om pangku ya!" jawab pak Kenzie, sambil mengangkat Evano setelah dia berusaha untuk duduk di bangku.


"Kamu berat juga ya, rasanya pinggang om mau patah" ejek pak Kenzie ke Evano, Naura hanya tersenyum melihat mereka.


"Evano kan makan om ya jadi berat, gitu mama bilang harus banyak makan biar berat" ceplos khas anak kecil keluar dari mulut Evano.


"Sayang" tegur Naura kepada Evano.


"Bapak kenapa terdiam?" tanya Naura yang menatap ke pak Kenzie.


Naura sendiri juga sangat penasaran dengan pak Kenzie, karena dari awal mereka kenal, sepertinya pak Kenzie mempunyai sesuatu daya tarik, namun Naura tidak mengerti daya tarik apa yang ada di pak Kenzie, bukan lah soal harta, tahta dan paras yang pak Kenzie miliki.


Tapi Naura merasa melihat pak Kenzie melihat suatu kehidupan yang diwakilkan.


Sesuatu yang dirindukan kembali, tetapi Naura sadar jika pak Kenzie adalah bosnya dan juga sudah mempunyai istri, walau dia tidak mempunyai istri, Naura pun tidak pernah berniat sedikit pun untuk mendekati pak Kenzie. Naura sadar jika dirinya siapa, dia menghargai status dia sendiri.


Menjaga statusnya agar orang diluaran sana tidak selalu memandangnya jelas dengan status dia.

__ADS_1


"Saya terdiam, karena merasa ternyata begini ya mengendong seorang anak!" jawab pak Kenzie asal.


Naura juga mengetahui desas desus jika pak Kenzie selama beberapa tahun menikah belum mempunyai anak, jadi disini saat ini, bagi Naura, pak Kenzie seperti mengobati sebuah rindu rasa mempunyai anak.


"Kamu tampan ya" ucap pak Kenzie.


"Tentu om, aku tampan seperti papa ku!" jawab Evano riang.


"Dan aku harap papa enggak cemburu melihat ku dipangku sama om seperti ini, karena dari aku lahir papa enggak pernah memangku atau mengendongku seperti ini" ucap Evano pelan.


"Ya sudah kamu jadi bayinya om saja, nanti om yang gendong-gendong kamu ya" tawar pak Kenzie.


"Walah ini bukan bayi lagi pak, tapi anak-anak" tawa Naura.


"Evano mau cepat besar om, bantu mama cari uang saja, bahagiakan mama" jawab Evano.


Naura yang mendengar perkataan Evano merasa terharu karena anak sekecil Evano ternyata memikirkan hidup mamanya dan masa lebih kedepan. Atau Naura juga takut Evano terlalu cepat menjadi dewasa, karena sedari kecil Evano hidup mandiri.


Naura memang tidak ingin jika anaknya menjadi orang yang lemah dalam kehidupan, karena jika diluar sana, kehidupan Evano akan lebih berat lagi.


Naura tau dia sebagai orang tua harus memberikan bekal kepada anaknya untuk melepasnya ketika anak itu sudah cukup besar. Dia mendidik anaknya sebaik mungkin agar anaknya bisa dia lepas dengan bekal yang sudah penuh, melanjutkan kehidupan selanjutnya, agar Evano bisa melanjutkan hidupnya dengan bekal tambahan diluar sana nanti.

__ADS_1


__ADS_2