
Diwaktu sore, diruangan rawat inap Evano, aroma obat-obatan benar-benar tercium, khas rumah sakit.
Mama Ayu telah berada diruang rawat inap dimana Evano cucunya berada. Saat ini Naura sedang bersiap-siap untuk pulang sebentar hanya sekedar membersihkan diri ataupun menrapikan rumah dimana tempat mereka berlindung selama ini.
Yuno yang akan menemani Naura untuk pulang kerumahnya, awal pertamanya Naura tidak ingin jika diantar oleh Yuno karena bagi Naura nanti dia akan menyusahkan orang lain.
Jauh disana seorang pria yang telah pulang kerumah, sedang berada teras rumahnya yang berada dilantai dua, termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Kenzie kamu lagi apa disana!" Tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Danita istrinya.
Setelah perdebatan tentang hasil tes yang belum jelas pastinya, mereka memilih untuk saling mengintropeksi diri, atau memberikan ketenangan batin untuk sesama.
"Tidak, aku hanya ingin sendiri! Jangan ganggu aku!" perintah pak Kenzie kepada Danita.
Pak Kenzie sedang memikirkan, bagaimana jika dia pergi melihat Evano, apakah ada pandangan buruk, sedangkan dia seorang direktur, melihat anak bawahan, dia sangat takut akan menimbulkan kecemburuan sosial antara karyawannya dan tentu Naura akan berimbas disana.
Hanya saja hati pak Kenzie sangat ingin segera kesana, untuk melihat Evano, hatinya merasa tidak tenang jika tidak melihat Evano secara langsung. Pak Kenzie saat ini sangat binggung merasakan hatinya mengapa harus sampai segitunya dia sayang terhadap Evano, padahal dia baru saja melihatnya beberapa kali, tapi dari kejadian di pantai, dia benar-benar selalu teringat senyum tampan dari Evano. Evano seperti sumber kekuatannya.
*****
Dirumah Naura, terlihat sedikit berantakan.
Dia tidak perduli jika saat ini Yuno sedang berada didepan teras menunggunya, Yuno tidak ingin masuk kedalam rumah Naura karena tidak ingin sampai orang-orang atau tetangga lainnya memandang Naura berbuat hal yang tidak benar. Karena saat ini rumah Naura benar-benar hanya dia dan Yuno saja yang ada, mereka tentu takut jika sampai tetangganya berprasangka buruk terhadap mereka.
Naura selalu mengingat status dia, karena dari status saja orang terkadang sudah menilainya buruk, walau tidak semua orang begitu. Tidak semua orang tau, mengapa sampai Naura mendapatkan status itu.
1 jam kemudian Naura telah selesai dengan segala kegiatannya dan saat dia akan keluar, Naura baru tersadar jika dari tadi Yuno menunggunya, hanya saja dia melupakan Yuno, bahkan memberi Yuno minum saja tidak ada, Naura merasa sangat bersalah, dia benar-benar larut dalam pekerjaannya.
"Maaf Yuno, aku sampai melupakanmu karena pekerjaan rumah ini!" ucap Naura saat melihat Yuno yang baru membuka matanya setelah mendengar langkah kaki.
__ADS_1
Ternyata Yuno menunggu hingga ketiduran.
Tetapi Yuno senang melakukan ini, menunggu Naura baginya itu tidak berat, malah ini menjadi kebanggaannya bisa menunggu Naura.
"Agh, enggak apa-apa Naura" jawab Yuno sambil merentangkan kedua tangannya meluruskan tinggi keatas, merentangkan tulang punggungnya juga.
"Ehum" Naura ingin tertawa tetapi ditahan hingga seperti tawa tersembunyi yang hampir membuatnya seperti akan menyembur.
"Kamu kenapa?" tanya Yuno binggung.
Yuno merasa sesuatu dibibirnya sedikit basah. Segera dia mengelapnya dan sesaat kemudian mukanya sudah memerah bagai udang yang direbus.
"Astaga aku ileran didepan Naura, mau taruh dimana muka ku, pantesan dia mau tertawa tapi tidak berani" batin Yuno yang masih sangat malu dengan dirinya sendiri, seperti tidak mendukung perfectsionalitasnya.
"Ini masih dikit" Naura menunjuk bibirnya sendiri dibagian ujung sedikit. Untuk memberitahu letak tersisa dimana untuk wajah Yuno.
"Hahahahaha" akhirnya Naura tertawa lepas, dari semenjak Evano sakit Naura tidak dapat tertawa.
"Maaf, aku malu sekali!" ucap Yuno sambil menutup mukanya sendiri dengan kedua belah tangannya.
"Sudah, biasa saja dari sekolah dulu juga suka lihat kamu ileran kalau ketiduran disekolah" Naura mengulang kisah di sekolahnya.
"Itu beda Naura, itu masih kecil belum tampan sekali, sekarang sudah dewasa, tampan, aku sungguh malu didepan kamu lagi" terang Yuno yang memang masih merasa malu, karena posisi tidur Yuno lah yang memiring kesamping menyebabkan dia ileran.
"Sudah, kamu tetap kamu" kata Naura yang masih saja tertawa membayangkan Yuno dijaman sekolah dan saat ini.
"Sudah, ayo kerumah sakit kasihan mama mu sudah menunggu lama" ajak Yuno untuk kembali lagi kerumah sakit.
"Iya, sampai lupa gara-gara iler mu!" ejek Naura.
__ADS_1
"Tu kan" tegur Yuno.
"Agh, iya enggak kog" ejek Naura lagi.
Kemudian Yuno pun menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, karena sesuai rencana mereka, setelah Naura sampai dirumah sakit, maka Yuno akan mengantar mama Ayu untuk pulang kerumah, tentunya untuk beristirahat.
Yuno mengatakan bahwa dia akan menemani Naura di rumah sakit, hal ini membuat mama Ayu merasa lebih tenang.
Didalam perjalanan terjadi suatu keheningan didalamnya, Yuno seperti memastikan dirinya untuk memulai percakapan.
"Naura" panggil Yuno dengan suara sedikit bergetar, ada keraguan dihatinya untuk memanggil Naura.
"Hm" Naura sedang memikirkan keadaan Evano saat ini.
"Aku mau ngomong boleh?" tanya Yuno melihat Naura yang masih menatap lurus kedepan.
Tringggg! ponsel Naura berbunyi, Naura pun segera mencari keberadaan ponsel didalam tasnya. Saat dia melihat ternyata mama Ayu yang meneleponnya.
Naura segera mengangkatnya.
"Ada apa ma!" tanya Naura yang sempat khawatir mamanya menelepon.
"Enggak, ini dokter suruh tebus obat!" Terang mama Ayu.
"ooh, aku sudah dijalan sebentar lagi sampai, tunggu ya ma!"
"ok!" jawab mama Ayu.
Kemudian sambungan telepon pun terputus.
__ADS_1