
Hari ini Naura masuk kerja dengan suasana hati tenang, karena tidak terlalu memikirkan Evano yang berada disekolah, hari ini Evano telah libur semester.
Begitu juga Yuno yang datang kekantor dengan senyum mengembangnya, membuat Serli yang melihatnya, makin terpesona oleh Yuno, sayangnya sikap Yuno tetap biasa saja terhadap Serli. Hingga Serli kembali ingin meminta bantuan Naura untuk mendekati Yuno lagi.
Pak Kenzie, direktur mereka ini datang dengan wajah yang tidak bisa ditebak, sepertinya terlihat datar saja, tapi menyimpan sesuatu.
*****
Naura memasuki ruang kerjanya dengan senyum lega, karena hari ini dia juga tidak terlambat, motornya sudah bisa berjalan seperti semula, menjadi kaki yang kuat untuk Naura kemana saja.
"Pagi Serli!" sapa Naura.
"Pagi juga Naura, ceria sekali kamu!" jawab Serli.
"Agh enggak biasa saja"
"Nauraaaaa" panggil manja dari suara Serli.
"Ada apaaaa Serliiiiiiii" suara manja juga yang Naura lemparkan ke Serli.
"Iiiiiihhhh, kamu buat aku gemes saja!" seru Serli.
"Kamu tu yang kenapa!" ucap Naura.
"Aku" ucapan Serli terpatahkan.
"Aku"
"Ehm" Serli sebenarnya sedikit malu dan merasa tidak enak jika dia mengungkapkan keinginannya.
"Apa bah?" tanya Naura sudah mulai tidak sabaran mendengar apa yang ingin Serli katakan.
__ADS_1
"Begini, itu loh soal Yuno!"
"Kenapa?" tanya Naura.
"Bisa atur rencana lagi buat bisa dekat Yuno" ucap Serli dengan malu-malu.
Serli sebenar sangat takut jika dia dikatakan wanita agresif, wanita yang seperti tidak ada pria lain untuk didekati, selalu saja ingin dengan Yuno. Serli hanya memantapkan hatinya dengan satu pilihan, dia ingin menjalankan sesuai dengan pilihan hatinya saat ini yang memang belum goyah oleh orang lain.
"Oh, itu bisa donk!" jawab Naura Girang.
"Kamu yang terbaik Naura!" teriak Serli yang kuat sekali karena dia bahagia, hingga ketika dia sadar dengan cepat dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, karena takut akan menganggu ruangan kerja lain dengan suara dia.
"Ssstttt" Naura memberikan kode agar Serli bisa lebih tenang.
"Ups, sorry" ucap Serli pelan.
"Serli, Naura" seketika melihat kearah suara.
"Kan" batin Naura melihat kedatangan bosnya.
"Kalian ini pagi-pagi ribut sekali" tegur Yuno.
"Maaf pak" ucap Naura pelan sambil menundukan kepalanya karena dia tau, dia dan Serli memang salah.
"Maaf pak" jawab Serli.
"Mati kita, apa Yuno dengar pembicaraan kita" batin Naura ke Serli dengan mata saling memandang sesaat, seperti ada ikatan batin saja mereka berbicara, Serli terlihat mengeleng-gelengkan kepalanya, padahal disana, maksud Serli dia tidak mengerti apa maksud kedatangan Yuno, Serli yakin Yuno tidak mendengarkan pembicaraan mereka tadi, kecuali soal kalimat terakhir Serli yang disertai suara teriak.
"Naura, kami ikut saya keruangan pak direktur!" perintah Yuno.
"Baik pak" jawab Naura, tetapi dengan beberapa pertanyaan kenapa harus dia yang dipanggil oleh pak Kenzie.
__ADS_1
Naura mengikuti arah Yuno berjalan, dengan perasaan deg-degan. Karena Naura tau jika sudah dipanggil begini pasti ada suatu masalahnya.
Sesampainya Naura dan Yuno di ruangan pak Kenzie.
Pak Kenzie terus memperhatikan Naura.
"Pak" ucap Yuno pada bosnya.
"Lanjut saja!" ucap pak Kenzie.
"Naura, kamu saya panggil kesini karena pak Kenzie ingin kamu menjadi sekertaris pribadinya" terang Yuno.
"Apa pak" seru Naura dengan suara sedikit tinggi, dia merasa terkejut dengan kata-kata yang Yuno ucapkan, karena itu tidak pernah ada dalam pikirannya.
Yuno dan pak Kenzie sama-sama melotot ke Naura, ketika suara Naura sedikit lebih tinggi.
"Eh, maaf pak" ucap Naura salah tingkah, karena sudah berbuat tidak sopan kepada atasannya, bahkan dua atasannya disini.
Yuno melihat Naura merasa gemas, karena tingkah polos Naura keluar secara mendadak begitu.
"Iya, kamu jadi sekertaris pribadi pak Kenzie!" ulang Yuno.
"Tapi, maaf pak! Bukannya pak Kenzie sudah memiliki sekertaris" Naura menolak secara halus.
"Saya ingin punya sekertaris yang lebih baik, baik dalam kerjaan, sopan santun, tata kramanya dan saya lihat itu cocok di kamu" terang pak Kenzie yang dari tadi diam, kini memberikan suaranya.
"Tapi pak, saya hanya lulusan sekolah menengah kejuruan, tidak sampai sarjana!" Naura memberikan alasannya.
"Pendidikan tidak saya masalahkan, karena masih bisa untuk diajarkan, betul tidak Yuno!"
"Benar pak" Yuno membenarkan apa yang dikatakan bosnya.
__ADS_1
Naura melihat kearah Yuno seperti meminta pendapat, Yuno hanya dapat mengangguk-anggukan kepalanya, memberi jawaban diambil saja posisi ini.
Naura masih sangat ragu dengan posisinya sekarang, dia sudah nyaman berada di pembukuan, tetapi menjadi sekertaris tentu gajinya akan lebih bagus, itu juga yang menjadi pertimbangan Naura.