Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
42. Evano Sakit (2)


__ADS_3

Naura terus saja terjaga untuk mengecek kembali panas tubuh Evano, dengan terus siaga menganti kompresnya jika sudah dingin, Naura sudah bolak balik beberapa kali mengganti air tersebut.


Hingga Naura benar-benar kelelahan dan tertidur disamping ranjang Evano, dengan terduduk dilantai dan hanya kepala saja yang menampung di ranjang Evano.


Evano juga terlihat tidur dalam kondisi baju sampingnya sedikit basah karena keringatnya yang berkeluaran.


"Ma, sakit perut" lirih Evano saat terbangun di subuh hari.


Naura yang masih tertidur pun merasa terkejut dan langsung mengangkat kepala tegak melihat kearah Evano, dengan mata Naura yang masih berwarna merah khas orang bangun tidur, pandangan masih buram, Naura langsung meraba bagian telingga dan kening Evano. Walau mata Naura masih ngantuk karena kurangnya tidur, hanya untuk Evano maka mata Naura langsung terbuka lebar.


"Kamu panas sekali" seru Naura terkejut setelah meraba kening dan belakang telingga Evano.


Naura pun saat ini terlihat panik dan meraba perut Evano, kemudian memberikan Evano minyak kayu putih ke arah perut Evano, dekat dengan pusarnya.


"Mama tinggal sebentar ya" Naura pun segera berlalu keluar dari kamar Evano menuju kamar sang mama.


"Naura ayo cepat bawa Evano kerumah sakit" seru mama Ayu.


Mama Ayu sangat mengkhawatirkan keadaan sang cucu sekarang, jantungnya berdebar kencang, hingga dia terasa mau sesak nafas, saat ini mama Ayu sedang mengontrol dirinya agar tidak terlalu panik karena itu juga memang tidak baik bagi diri dia sendiri.


"Iya ma" jawab Naura dengan mengangkat tubuh Evano.


Evano sudah terlihat sangat lemah, wajah memucat, tapi memang dasarnya Evano adalah anak yang kuat, dia tidak banyak mengeluh tentang sakitnya, dia hanya pasrah ketika Naura sudah mengendongnya untuk dibawa kerumah sakit.


Naura memanggil ojek online khusus mobil, dia tidak berani membawa Evano keluar dengan motornya, padahal jika dia mau itu bisa saja, hanya Naura memikirkan kesehatan anaknya.

__ADS_1


Sesampainya dirumah sakit Naura dan mama Ayu segera membawa Evano keruang gawat darurat untuk penangganan pertama, mereka terlihat sangat cemas melihat keadaan Evano yang semakin melemas saja.


"Dimana keluarga atas nama anak Evano?" tanya seorang suster.


"Saya sus, mamanya, ini neneknya!" jawab Naura segera.


"Ibu bisa meminta suami ibu untuk mengurus adminitrasi anda dan sang nenek boleh berada disini" terang suster tersebut.


Naura binggung dengan ucap sang suster.


"Suami?" batin Naura yang kebinggungan.


"Ayo pak, ikut saya" ajak sang suster melihat seorang laki-laki yang selalu berada di samping Naura dan mama Ayu, bahkan ikut berdiri, jika duduk dia pun ikut duduk.


"Maaf bang, saya lupa, saya panik" ucap Naura sangat malu terhadap seorang laki-laki yang dibelakangnya.


"Iya mbak, enggak apa-apa saya ngerti!"


Setelah mendapat apa yang dia mau, laki-laki itu pun segera pergi, sang suster yang sedang menunggu keluarga Evano mengisi formulir untuk pendaftaran pasien pun merasa dia seperti tidak di ikut.


"Kamu enggak bayar tadi?" tanya mama Ayu kebinggungan.


Dengan terkekeh Naura pun menjawab sang mama.


"Lupa ma"

__ADS_1


"Kamu ini buat malu saja" tegur mama Ayu.


Naura sendiri merasa tidak malu, karena dia bukan berniat tidak bayar, tetapi dia benar-benar dalam keadaan panik, hingga lupa segalanya.


*****


Seorang pria dengan berpakaian jas putih, kata mata terpampang di mukanya, menampakkan betapa tampannya sang dokter.


"Keluarga Evano" tanya sang dokter.


"Saya dok, mamanya!" Naura berdiri dengan mengangkat tangannya.


"Bagaimana keadaan cucu saya dok?" Tanya mama Ayu yang sudah terlihat panik sekali, badannya saja terasa bergetar karena dia takut.


"Maaf cucu ibu masih dalam pengecekan" ucap sang dokter.


"Hanya demam biasa kan dok?" tanya Naura yang melihat ke name tag milik dokter tersebut, ternyata sang dokter bernama dokter Ali.


"Ibu tenang ya, anak anda sudah dalam penangganan, tetapi saya hanya bisa menarik kesimpulan jika anak anda terkena" kata-kata sang dokter terputus ketika seorang suster mengantarkan hasil rekap kesehatan Evano.


"Bagaimana saya bisa tenang, anak saya terbaring sakit begitu" Naura melihat kearah tangan kiri Evano sudah terpasang infus dengan jarum yang tertusuk di punggung tangan kirinya.


"Kami sudah melakukan cek darah"


Naura hanya bisa pasrah dengan kata-kata sang dokter, Naura berharap jika anaknya tidak akan kenapa-kenapa.

__ADS_1


__ADS_2