Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
66. Sebuah Amplop


__ADS_3

Hari ini Raymond tampak bahagia sekali, seperti hal yang pertama dalam hidupnya, setelah berpamitan dengan Naura, mama Ayu dan Evano, dia pun pergi dari rumah Naura. Raymond bertujuan ingin pulang kerumahnya untuk mengambil berkas penting yang ada dirumahnya.


Padahal saat ini Raymond sangat tidak ingin untuk pulang kerumah, dia malas jika bertemu dengan mama dan kakaknya.


Dengan langkah berat Raymond memasuki rumahnya sendiri, ternyata didalam rumah hanya ada istrinya Danita yang baru terlihat. Raymond merasa sedikit lega tidak melihat mama dan kakaknya dirumah untuk saat ini.


"Kemana saja kamu, aku sudah menunggu lama?" tanya Danita bukan dengan pandangan manja atau pandangan memohon kasih sayang lagi.


Danita menatap datar kehadiran Raymond.


Raymond berjalan mendekati Danita.


"Maafkan aku, mama dan kakak ku" ucap Raymond yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


Danita kemudian memutar tubuhnya, mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat muda.


"Ini" Danita memberikan amplop tersebut kepada Raymond.


"Kenzie" ucap Danita ingin mengatakan sesuatu tetapi masih terlihat berpikir.


"Panggil aku Raymond saja, kau juga tau namaku yang sebenarnya, aku lebih suka dipanggil Raymond" jawab Raymond kepada Danita.


"Baik" jawab Danita.


"Boleh aku memeluk mu sebentar?" tanya Danita.


"Boleh" jawab Raymond datar.


Danita pun memeluk erat Raymond, setelah merasa puas dia pun melepaskan pelukan tersebut.


"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Raymond.

__ADS_1


"Aku akan keluar negeri untuk hidup baru" jawab Danita sambil memberikan sedikit senyum kepada Raymond.


"Baik-baik lah disana semoga kau akan lebih baik, maaf selama ini aku selalu menyusahkan mu" ucap Raymond.


"Tidak apa-apa, aku juga bersalah" Danita menjawab Raymond.


"Ya aku mengerti" jawab Raymond yang menatap Danita dengan datar.


"Aku pergi" ucap Danita kemudian mengambil tasnya dan melangkah pergi, terdengar suara sepatunya yang berbunyi keras.


Raymond hanya menatap Danita yang keluar dari pintu utamanya.


Kemudian Raymond membuka amplop tersebut dan tersenyum dengan amplop tersebut.


Tertulis dalam kop surat tersebut dengan huruf besar, pengadilan negeri menyatakan surat cerai yang telah siap Raymond tanda tangani.


Flashback On


Danita dan Raymond saat diruang kerja Raymond. Mereka terlihat sangat serius, apalagi Raymond, dia sangat serius menatap ke Danita.


"Apa ini" tanya Danita yang masih saja binggung.


"Buka dan jelaskan" ucap Raymond.


Danita menatap Raymond, dengan ragu dia membuka sebuah amplop kecil berwarna putih. Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia tau jika dia melakukan sebuah kesalah, maka Raymond yang waktu itu masih sebagai Kenzie tidak akan segan-segan untuk menghadapinya.


Raymond menatap tajam ke arah Danita.


"Apa yang bisa kamu jelaskan?" tanyanya.


"Ini bukan aku!" jawab Danita terlihat gugup.

__ADS_1


"Bagaiman mungkin ini bukan kamu, kamu selalu berbohong jika kamu keluar negeri, padahal kamu hanya berada dikota yang berbeda dengan orang ini" ucap Raymond.


"Jawab" bentak Raymond dengan memukul meja di depannya.


"Aku capek Kenzie, aku capek dengan segala kebohongan keluarga mu dari awal menikah hingga saat ini. Aku juga capek kau tidak pernah memberi hati mu untuk ku, walau kau lupa ingatan tetapi hati mu selalu untuk wanita itu" jawab Danita yang sudah hampir menangis.


"Sudah berapa lama aku menunggu kau untuk bisa mencintai ku, tapi apa kau sama sekali enggak membuka hati mu" ucap Danita sedikit meneteskan air matanya.


"Mama dan kakak mu hanya memanfaatkan kekayaan yang aku miliki hanya untuk dapat menjadi lebih jaya" ucap Danita.


"Aku memang teman kecil mu yang tidak terlalu lama mengenal mu, tapi aku menyimpan rasa terhadap mu sangat lama, ketika aku bertemu kembali dengan mama dan kakak mu, disana mereka yang membawa aku ke kamu lagi, tapi ternyata semua itu salah. Yang aku dapat saat ini hanya sakit dihati ini" ucap Danita dengan lirih.


Raymond hanya dapat terdiam, mendengar jawaban dari Danita, ternyata dia juga selama ini menjadi korban dari orang tua dan saudaranya. Raymond pun tidak bisa untuk marah terhadap Danita.


"Dan laki-laki ini" tunjuk Danita pada foto laki-laki itu didepan Raymond.


"Dia, laki-laki yang bisa mengisi kekosongan hati ku" jawab Danita dengan menarik nafasnya.


"Tetapi kau tetap saja melakukan kesalahan Danita" ucap Raymond.


"Apa bedanya dengan kau, aku masih istri mu dan kau malah memikirkan wanita itu, aku sakit melihatnya" jawab Danita yang tidak ingin disalahkan.


"Aku tau aku salah, tetapi aku tidak bisa menghindar dari hal itu, walau aku tidak mengingatnya tetapi hati ku yang membawaku kepada mereka" jawab Raymond dengan pelan.


Raymond dan Danita juga korban dari sebuah keserakahan keluarga Raymond. Bahkan bukan mereka saja tetapi juga termasuk Naura dan Evano.


"Maaf Danita, aku sudah tidak ingin bersama mu, kita pisah saja" ucap Raymond menatap mata Danita.


"Aku juga memang sudah memutuskan akan meminta cerai dari mu, aku tidak ingin berlama-lama lagi terbelenggu dengan pernikahan ini, pernikahan yang tidak ada artinya" jawab Danita.


"Baik, kau gugat lah aku" ucap Raymond.

__ADS_1


Danita yang memang sudah menyakinkan hatinya untuk bercerai pun hanya mengangguk sebagai jawaban dari apa yang Raymond katakan.


Flash back Off


__ADS_2