Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
40. Hasil Tes


__ADS_3

Hari sudah berganti, Danita sudah tidak sabar menunggu hasil tes kesuburannya, dia berharap akan semakin baik hasilnya, karena selama ini mereka sudah melakukan pola hidup sehat, untuk mendapatkan seorang saja anak.


"Kenzie, kita pergi kerumah sakit ya! Lihat hasil tes kita" ajak Danita.


"Kamu saja, aku sedang sibuk hari ini, kami akan mengadakan pertemuan penting di hotel Extra" terang pak Kenzie.


Pak Kenzie tidak ingin lagi Danita melakukan kesalahan dengan mengira pak Kenzie jalan dengan Naura seperti kejadian waktu lalu. Sebenarnya yang pak Kenzie jaga saat ini perasaan Naura, karena dia tidak ingin jika sampai Naura berusaha untuk mundur menjadi sekertarisnya hanya karena masalah salah paham saja.


"Sekertaris mana yang kamu bawa!" tanya Danita dengan sedikit kecemburuan.


"Untuk apa kamu tanya kan ini, ini urusan ku dikantor" jawab pak Kenzie dengan nada sedikit tinggi.


"Aku hanya tanya, jangan ngegas gitu jawabnya" jawab Danita sambil mendelik matanya kearah pak Kenzie.


Pak Kenzie menarik nafas sejenak kemudian menjawab pertanyaan Danita.


"Aku membawa Naura, karena dia punya sopan santun yang tinggi" jawab Pak Kenzie teringat Naura.


"Puji saja sekertaris baru mu itu" sindir Danita.


"Agh, sudah aku mau pergi kerja" jawab Pak Kenzie kemudian mengambil tas dan kunci mobilnya segera berangkat ke kantor.


"Huuuuu" Danita mengerutu kesal.

__ADS_1


"Awas saja kalau ada apa-apanya" masih saja Danita mengerutu sendirian.


Danita teringat akan waktu janjiannya dan dia pun segera berangkat kerumah sakit tempat dia dan pak Kenzie melakukan tes kesuburan untuk kesekian kalinya.


*****


"Bagaimana Hen" tanya Danita pada dokter Hendra, kali ini dia tidak memakai lagi embel-embel dokter yang terdapat di nama dokter Hendra. Dokter Hendra juga tidak mempermasalahkan hal ini, dia bahkan lebih senang di panggil Hendra oleh Danita, menjadi merasa lebih dekat.


"Aku buka ya, ini tersegel ya dari laboratorium" terang dokter Hendra.


"Iya, agh bertele-tele" cetus Danita.


"Bukan bertele-tele Danita, aku ini dokter ada tata krama kerjanya" terang dokter Hendra.


Dokter Hendra mengeleng-gelengkan kepalanya setelah membaca.


"Maaf Danita, ini kabar buruk"


"Apa sih Hendra" kesal Danita, karena dia mengira dokter Hendra sedang bercanda dengannya.


"Danita, aku saat ini sebagai dokter kandungan mu ya" terang dokter Hendra mulai serius.


"Ini hasilnya, suami mu dinyatakan mandul dan kamu dinyatakan tingkat kesuburan yang mencapai hanya 70%, maka selama ini kamu tidak bisa mengandung, kecuali suami mu masih memiliki tingkat kesuburan 50% dan kamu 70 % kemungkinan kamu hamil masih ada!" terang dokter Hendra.

__ADS_1


Membuat Danita terdiam sesaat dan tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan oleh dokter Hendra temannya ini.


"Tapi Hen, selama ini kami selalu mengecek, tapi Kenzie selalu dinyatakan sehat sama dokter" terang Danita.


"Aku enggak percaya" ucap Danita dengan suara yang sudah sedikit berubah dan ingin menangis.


"Tapi ini kenyataan Danita, suami mu akan sulit memberikan keturunan, bisa kamu dibuahi hanya akan sangat-sangat sulit dengan keadaan dia sekarang" terang dokter Hendra.


Danita meneteskan air matanya tepat didepan dokter Hendra, dokter Hendra binggung saat ini ada seorang wanita yang menangis didepannya.


Kemudian dokter Hendra pun maju kedepan, menghampiri Danita yang tadi duduk dikursi depan mejanya, dokter Hendra mengusap-ngusap bahu Danita.


"Hendra, aku selama ini bersabar menanti, ternyata selama ini aku dibohongi, aku sangat kecewa" tangisnya pecah kemudian dia berdiri dan memeluk dokter Hendra, menumpahkan semua air matanya dibahu dokter Hendra.


"Sudah, sabar ya, jika suatu saat kalian dikasih keajaiban kalian masih bisa mempunyai anak asal kalian terus saling mencintai" terang dokter Hendra membuat Danita menatap mata dokter Hendra dengan sangat dalam.


"Bagaimana bisa, Kenzie tidak pernah sedikit pun mencintai ku" batin Danita.


"Maaf, aku sudah merepotkan mu dan terima kasih untuk bahu mu"


"Tidak apa-apa, aku senang jika kamu sudah tenang" jawab dokter Hendra.


Danita hanya mampu tersenyum didepan dokter Hendra, tetapi di dalam hatinya tersimpan kekesalan pada seseorang.

__ADS_1


Danita dan dokter Hendra adalah teman masa kecil, mereka bersahabat. Maka pada saat ini dia sangat tenang jika bersama dokter Hendra.


__ADS_2